Last Updated on 1 May 2021 by Herman Tan

Siapapun pasti mengenal sosok Insinyur Ciputra, seorang pengusaha etnis Tionghoa yang sukses dalam bidang properti di tanah air. Ciputra yang biasa disapa dengan panggilan “Pak Ci” ini memiliki nama asli Tjipoetra (ejaan lama) atau Tjie Tjin Hoan (ejaan Hokkian).

Lewat perusahaan keluarga Ciputra Group, beliau berfokus pada proyek2 pembangunan dan pengembangan kawasan perumahan, serta pendidikan (Sekolah & Universitas Ciputra).

Biografi Ir. Ciputra

Nama Lengkap  : Ir. Ciputra (Tjie Tjin Hoan; ejaan Hokkian)
Nama Mandarin : 徐清華 (Xu Qinghua)
Tempat/Tanggal Lahir : Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931 (usia

Pasangan : Dian Sumeler
Anak : Rina Ciputra Sastrawinata, Junita Ciputra, Cakra Ciputra, Candra Ciputra
Almamater : Institut Teknologi Bandung (ITB)
Pekerjaan : Pengusaha

A. Kehidupan Awal Pak Ciputra

Pak Ciputra lahir di Sulawesi, 24 Agustus 1931. Beliau lahir dari pasangan Tjie Siem Poe dan Lie Eng Nio, yang keduanya datang.berasal dari propinsi Fujian, Tiongkok. Ciputra bukanlah lahir dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan saat kecil pun ia tidak tinggal di rumah yang layak.

Di usia 12 tahun, Ciputra kehilangan ayahnya. Ayahnya meninggal  saat berada di sel tahanan tentara Jepang tahun 1944, atas tuduhan palsu yang dianggap menjadi mata-mata Belanda. Pahitnya masa kecil yang dialami pak Ciputra menimbulkan tekad yang kuat dalam dirinya, demi masa depan yang lebih baik dan terbebas dari kemiskinan.

Dari hal tersebut, beliau mempunyai mimpi dan impian besar dalam hidupnya, yakni mengembangkan pendidikan di tanah air.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia seutuhnya; termasuk membangun moral, mendorong kreativitas dan mendidik karakter mandiri siswa-siswinya. inilah yang disebut sebagai sekolah kehidupan yang membuat setiap orang tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Itulah pendapat Ciputra mengenai pendidikan.

B. Perjalanan Awal Karir Pak Ciputra

Pak Ciputra

Ketika beranjak remaja, Pak Ci bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari SMA, beliau merantau menuju Jawa untuk mengejar impiannya.

Impiannya tersebut dicicil sedikit demi sedikit dengan menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil Jurusan Arsitektur pada tahun 1950-an.

Pada saat beliau mencapai mahasiswa tingkat IV, bersama kedua rekannya yang bernama Budi Brasali dan Ismail Sofyan, mereka mendirikan usaha konsultan Arsitektur bangunan yang bernama PT. Daya Cipta, dimana saat itu kantornya terletak di sebuah garasi.

Meski begitu, mereka sudah memperoleh kontrak kerja yang cukup baik dibanding perusahaan sejenis lainnya. Proyek pertama yang mereka tangani waktu itu adalah perencanaan Gedung bertingkat sebuah Bank di Banda Aceh. Lalu di tahun 1960, setelah meraih gelar Insinyur Pak Ciputra berpindah ke ibukota Jakarta.

Keputusan untuk pindah ke ibukota menjadi tonggak yang menentukan jalan hidupnya bersama kedua rekannya. Hal itu terbukti setelah beliau memenangkan proyek bergengsi pertamanya, berupa pembangunan pusat perbelanjaan di kawasan senen dari PT. Perentjaja Djaja IPD.

C. Berkarir di Perusahaan Pemda DKI Hingga Mendirikan Ciputra Group

Ciputra mengawali karirnya dengan bekerja di Jaya Group sebagai seorang direksi. Beliau mengabdikan dirinya sampai dengan usia 65 tahun. Jaya Group merupakan perusahaan besar milik Pemda DKI. Usai menjadi direksi di Jaya Group, Pak Ciputra kemudian beralih tugas sebagai seorang penasihat perusahaan.

Selama di perusahaan Jaya Group, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi dan berkreasi, diantaranya seperti merencanakan pembangunan untuk proyek2 yang berlokasi di wilayah Jakarta Utara, terutama di sekitar pantai Ancol. Proyek monumental Ciputra selanjutnya adalah pembangunan Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya.

Disamping itu, saham milik Pemda DKI meningkat pesat, mencapai 40%. Dengan modal 10 Juta Rupiah di tahun 1961, kini Jaya Group memiliki asset sebesar 5 Triliyun! Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kualitas sebagai seorang entrepreneur professional, juga handal dalam menghimpun berbagai sumber daya yang ada.

Di tahun 1996, Ciputra mengundurkan diri dan menjadi komisaris aktif. Dan saat ini Ciputra adalah pemegang saham terbesar di Jaya Group setelah Pemda DKI. Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya ia meletakkan loyalitas utamanya kepada Jaya dibanding kelompok2 usahanya yang lain. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya dimulai.

Beliau mendirikan perusahaan Metropolitan Development Group pada tahun 1970-an bersama kedua rekannya dan beberapa mitra lainnya, seperti Sudono Salim, Sudwikatmono, Budi Brasali dan Ibrahim Risjad.

Disana beliau menjabat sebagai presiden komisaris. Perusahaan ini mengembangkan Perumahan Pantai Indah Kapuk dan Perumahan Pondok Indah.

Setelah itu, beliau mendirikan PT. Bumi Serpong Damai, yang dibentuk pada awal tahun 1980-an. Perusahaan ini bekerja sama dengan perusahaan2 properti lainnya, sehingga menjadikan sebuah perusahaan konsorsium yang terdiri dari gabungan 10 pengusaha terkemuka.

Ciputra mengembangkan proyek kota mandiri Bumi Serpong Damai dengan luas 6.000 hektar tanah, serta proyek jalan tol nya dari BSD, Bintaro, Pondok Indah, Serta Lapangan Golf Damai Indah Golf.

Ciputra Development

Kelompok usahanya yang terakhir adalah perusahaan keluarga Grup Ciputra. Berawal dari PT. Citra Habitat Indonesia, perusahaan ini diakui seluruh sahamnya pada awal tahun 1990. Kemudian perusahaan ini diubah namanya menjadi Ciputra Development (CD).

Pertumbuhan laju perusahaan Ciputra Development terasa menonjol dibandingkan kelompok usaha Ciputra yang lainnya. Pada Marer 1994, Ciputra Development menjadi yang pertama Go Public di pasar modal.

Beberapa bulan kemudian, Jaya Real Property menyusul meluncur di pasar modal. Total aktiva Ciputra Development pada bulan Desember 1996 berkisar Rp. 2,85 triliun, dengan laba maksimum pada tahun yang sama mencapai sebesar Rp. 131,44 Miliar.

Kini, Ciputra Development (CD) memiliki beberapa proyek dengan skala besar, ditambah proyek lainnya seperti Hotel Ciputra dan Mall Ciputra yang sementara dikembangkannya.

Group Jaya juga mengembangkan Citra Westlake City, dimana luasnya mencapai 400 hektar, berlokasi di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pembangunan tersebut diproyeksikan selama 30 Tahun, dengan total investasi sebesar US$2,5 Miliar. Sementara Ciputra Development juga terjun ke dalam bisnis keuangan, seperti century 21.

D. Nyaris Bangkrut di Saat Krisis Moneter

Di tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi (krismon), karena nilai dolar yang naik mencapai 17 ribu. Krisis ekonomi tersebut menyebabkan 3 Grup Ciputra (Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group) ditutup oleh pemerintah pusat karena tidak memungkinkan.

Selain itu, Bank Ciputra yang baru didirikannya beberapa tahun sebelumnya juga ditutup oleh Pemerintah karena terindikasi bank tidak sehat. Bahkan, asuransi jiwa dari Ciputra Allstate yang baru diluncurkan beberapa bulan sebelum krisis terjadi juga ditutup.

Baca juga : Benarkah Krisis Moneter di Indonesia Ada Hubungannya Dengan Para Naga?

Dengan kebijakan moneter dari pemerintah dan keringanan bunga pinjaman dari beberapa bank, Pak Ci memiliki kesempatan untuk me-restrukturasi hutang-hutangnya kembali, sehingga akhirnya grup-grup perusahaannya yang nyaris bangkut tersebut mampu bangkit.

Kini, Pak Ciputra juga mampu mengembangkan sayap usahanya di dalam maupun di luar negeri.

E. Kehidupan Pribadi Pak Ciputra

Ciputra menikah dengan Dian Sumeler. Ciputra dikaruniai 4  orang anak yakni Rina Ciputra Sastrawinata, Cakra Ciputra, Candra Ciputra dan Junita Cipurta.

Sosok Ciputra dibalik kesuksesannya dalam sebuah grup properti sangat dikenal oleh masyarakat. Menurut majalah bisnis Forbes pada edisi 2015, Ciputra berada di urutan ke-23 dari daftar orang terkaya di Indonesia. Ciputra tercatat memiliki kekayaan bersih sekitar mencapai US$ 1,34 Miliar, atau setara dengan Rp 19,5 Triliun Rupiah.

Ciputra yang bukan terlahir dari keluarga berkecukupan ini mampu mengubah hidupnya dengan kegigihan dan kemauan yang kuat. Berkat visi, kecerdasan, keyakinan dan kerja kerasnya, beliau mampu melahirkan banyak karya di tanah air.

Universitas Ciputra

Di usia nya yang ke-75 tahun, tepatnya tahun 2006 Ciputra memilih untuk mengembangkan bidang pendidikan. Ia mendirikan Universitas Ciputra yang berlokasi di Surabaya. Universitas yang didirikannya ini menitikberatkan pada kewirausahawan, dan dibangun untuk menyiapkan lulusan yang nantinya akan menjadi pengusaha.

Selain di level Universitas, Ciputra juga mulai membuka Sekolah Ciputra di Surabaya (setingkat SMP – SMA) dan beberapa kota besar di Indonesia, dengan nama-nama lain seperti Sekolah Citra Kasih, Sekolah Dian Harapan, dsb, namun semuanya terafiliasi ke Ciputra, agar pendidikannya lebih berjenjang.

Ciputra dikenal sebagai seseorang penyebar kewirausahaan di Indonesia, karena beliau selalu menanamkan pentingnya sikap kewirausahawan dan jumlah pelaku entrepreneur yang minimal 2% dari total penduduk, untuk kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.

Tercatat 2 Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) telah dibukukan beliau sebagai seorang Wirausahawan, yakni :

1. Sebagai peraih penghargaan bisnis terbanyak di berbagai bidang,

2. dan sebagai penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan terbanyak kepada dosen. Tercatat melalui Universitas Ciputra Enterpreneurship Center (UCEC) yang didirikannya, beliau memberikan pelatihan  entrepreneurship kepada > 1.600 dosen dalam Negeri, sehinga ia dinobatkan sebagai Enterpreneur of The Year 2007 Versi Ernest & Young.

Pada tahun 2008, Ciputra mendapat pengakuan dan Gelar Doktor Honoris Causa (DR.H.C) dari Universitas Tarumanegara yang terletak di Jakarta atas Visi dan semangatnya dalam mengembangkan usaha properti di Indonesia. Sehingga tidaklah heran, apabila banyak yang menyebutnya sebagai Begawan properti Indonesia.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: eitss, mau apa nih?