Last Updated on 2 February 2022 by Herman Tan

Pada awal September 2020, Studio Disney resmi merilis film ”Mulan” (yang diperankan artis Liu Yifei). Pada tahun 1740, di pulau Jawa terdapat kisah serupa, dimana seorang gadis Tionghoa yang ikut berperang melawan VOC (Kongsi Dagang; Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau kompeni Belanda, dalam peristiwa Perang Geger Pecinan.

Dalam film Mulan, bercerita tentang seorang pahlawan wanita dalam sejarah Tiongkok abad ke-4 Masehi, dimana dia menyamar menjadi seorang lelaki untuk menggantikan ayahnya dalam menjalani dinas militer dan berperang melawan musuh di wilayah utara Tiongkok.

Ternyata di pulau Jawa ada kisah serupa. Kisah ini terjadi pada tahun 1740. Seorang gadis Tionghoa yang bernama Tan Peng Nio, kelak menikah dengan bangsawan Jawa dan ikut berperang melawan VOC Belanda dalam Perang Geger Pecinan.

Perempuan tersebut adalah RA Tan Peng Nio¹, istri dari KRT Kolopaking III¹ (Sulaiman Kertowongso).

Novelis Seno Gumira Aji Darma menyebut Tan Peng Nio sebagai ”Mulan van Java”.

Tan Peng Nio disebut2 sebagai kerabat Kapitan Sepanjang, Panglima Pasukan Tionghoa yang bertugas di bawah Raden Mas Garendi, atau Sunan Kuning dalam perang gerilya melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur pada masa itu.

Keberadaan Tan Peng Nio sebagai seorang petempur perempuan, memberi warna dalam historiografi Nusantara dan Jawa tentang hubungan antara masyarakat Jawa dan Tionghoa sebagai teman seperjuangan.

Sejarawan dari Pura Mangkunegara, KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, yang menulis buku Geger Pecinan 1740 – 1743 “Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC“, menjelaskan, Tan Peng Nio menjadi bagian dari pasukan Kapitan Sepanjang, dan bertempur di garis depan dalam perang gerilya masa itu.

Kisah RA Tan Peng Nio, Mulan dari Tanah Jawa.

Baca juga : Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia

Para prajurit Tionghoa yang bergerak bersama para prajurit Mataram (Jawa) sama2 mengenakan busana hitam-hitam, dan bergerak dari satu pertempuran ke wilayah pertempuran lainnya, membuat pihak kompeni Belanda dan tentara bala bantuan yang didatangkan (terutama dari Sumenep, Madura) kewalahan.

Kisah tentang prajurit2 perempuan dan kepiawaian mereka dalam berperang, juga diabadikan dalam ragam tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta.

Sebagai contoh, tarian Retno Tinandhing yang diilhami olah gerak prajurit perempuan Jawa, masih ditampilkan di Keraton Surakarta.

Sejarawan Ann Kumar dalam bukunya “Prajurit Perempuan Jawa“, mengutip keterangan utusan VOC dari Batavia, Rijklof van Goens pada pertengahan abad ke-17 di Keraton Mataram di Kartasura, telah menyaksikan kepiawaian ”Prajurit Estri”, yakni 150 prajurit perempuan dalam menggunakan senjata, menyanyi, menari, dan memainkan alat musik.

Selang beberapa waktu kemudian, pada abad ke-18 semasa berjuang dalam Perang Geger Pecinan, Tan Peng Nio berkenalan dengan KRT Kolopaking III, alias Sulaiman Kertowongso.

Keluarga Kolopaking adalah keluarga bangsawan yang berkuasa di wilayah Banyumas, dekat perbatasan Jawa Barat.

Sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, yang mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro sejak tahun 1970-an, mengatakan bahwa keturunan keluarga Kolopaking pasca Perang Geger Pecinan (1740-1743), pada masa Perang Diponegoro (1825-1830) juga ikut bertempur bersama Pangeran Diponeogoro.

Menurut Peter Carey, keberadaan prajurit2 perempuan di tanah Jawa dikenal karena kemampuan mereka dalam berkuda dan menggunakan berbagai senjata.

Setelah Perang Geger Pecinan berakhir, diketahui bahwa Tan Peng Nio (yang dinikahi KRT Kolopaking III) telah diberi gelar Raden Ayu (RA) sebagai tanda merupakan bagian dari keluarga bangsawan Jawa, yang menetap di Kutowinangun, Kebumen.

Makam RA Tan Peng Nio.

Baca juga : Mengapa Makam Tionghoa Berukuran Besar? Berikut 7 Fakta Tentang Makam Tionghoa Yang Banyak Tidak Diketahui Orang

Pada batu nisan (bongpay) RA Tan Peng Nio, terdapat daftar nama anak dari pernikahannya dengan KRT Kolopaking III :

1. KRT Endang Kertawangsa
2. RA Mulat Ningrum dan menantu RA Jati Arum
3. R Tjondro Dahono
4. R Kertalaksana

Daftar nama para cucu :

5. R Kertawangsa Gandawijaya
6. R Kertawangsa Tjandrawijaya
7. RA Eguningrum
8. R Bintara Ajiwijaya
9. R Harjo Jadmiko

KRT Kolopaking III sendiri memiliki wilayah kekuasan di daerah Panjer, Kebumen, Jawa Tengah.

Pada makam RA Tan Peng Nio di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, dibangun dengan gaya makam khas etnis Tionghoa. Makamnya terletak di tengah persawahan, dan masih sering diziarahi orang hingga hari ini.

Raden Ayu Tan Peng Nio sendiri adalah Istri kedua dari K.R.A.T. Kolopaking III (Sulaiman Kertowongso). Ke-4 istri dari Kolopaking III masing2 bernama :

1. Raden Ayu Sekar Mayang Sari (putri Kyai R. Ngabei Reksoprojo II)
2. Raden Ayu Tan Peeng Nio (putri dari Champa², anak dari Jenderal Tan Wan Swee)
3. Raden Ayu Ambini (putri K.R.T. Arung Binan II)
4. Raden Ajeng Sekar Lasih (putri K.R.A. AryoDanurejo II)

Film Mulan (2020), sebagai pengingat Tan Peng Nio, seorang prajurit perempuan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Secara tidak langsung, tayangnya film Mulan (2020) bisa menjadi pengingat, bahwa di bumi nusantara ini dulunya terdapat seorang perempuan berdarah Tionghoa, yang pernah ikut berperang bersama pasukan Jawa dalam melawan tentara VOC Belanda pada abad ke-18.

Perang itu berdampak pada perjanjian Giyanti tahun 1757, ketika Keraton Surakarta dan Keraton Yogjakarta berbagi wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Mataram, serta dampak politiknya yang berujung pada Perang Jawa, atau Perang Diponegoro 1825-1830.

Baca juga : Kisah Hidup Hua Mulan (花 木兰), Pahlawan Wanita Tiongkok Kuno

Konklusi

Tan Peng Nio adalah anak dari Jenderal Tan Wan Swee, yang berselisih pendapat dan melakukan pemberontakan yang gagal terhadap Kaisar Qian Long (25 September 1711-1799) dari Dinasti Qing.

Jenderal Tan Wan Swee lalu menitipkan putrinya yang bernama Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri. Saat kudeta gagal, Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Singapura, kemudian berpindah ke Sunda Kalapa (Jakarta).

Pada tahun 1740, terjadi huru-hara yang terkenal dengan nama Geger Pecinan, dimana terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa oleh tentara VOC Belanda. diceritakan bahwa Lia Beeng Goe dan Tang Peng Nio mengungsi ke arah Timur, hingga tiba di Kutowinangun (Kebumen, Jawa Tengah) dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.

Ketika terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun (1741-1757) oleh Pangeran Garendi, Tan Peng Nio dikabarkan ikut bergabung ke dalam 200 pasukan bentukan KRAT³ Kolopaking II, yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi.

Tan Peng Nio juga dikabarkan sempat menyamar menjadi seorang prajurit laki-laki. Peperangan kemudian berakhir dalam perundingan Giyanti, pada tanggal 13 Februari 1755.

Putra KRAT Kolopaking II (Raden Sulaiman Kertowongso) juga pernah tergabung dalam 200 pasukan Panjer Rina, yang dikirim untuk bergabung dengan pasukan Pangeran Garendi, pada akhirnya menikahi Tang Peng Nio. Beliau kemudian menggantikan ayahnya menjadi KRAT Kolopaking III.

Buku Geger Pacinan (1740-1743) Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC.

Sumber referensi :

1. R. Tirto Wenang Kolopaking dalam catatan Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Kiai Geng Mangir – Kolopaking – Arung Binang, Trah Kolopaking, 2005:256).
2. Raden Ayu Tan Peng Nio, ”Mulan” dari Tanah Jawa
3. Grup Facebook Indonesia Tempo Doeloe

Catatan :

1. Raden Ayu (RA), Kanjeng Raden Tumenggung (KRT).
2. Champa : orang2 beretnis Melayu di selatan Vietnam, dan di provinsi kampong Cham di Kamboja.
3. Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT).

Foto ilustrasi :

Foto kiri : Eveline Tan Ping Nio (bukan Tan Peng Nio), foto kanan : Bettie Tan Eng Nio (kakak dari Eveline) (1903-1989). Keduanya adalah cucu dari Tan Goan Piauw, Kapitein der Chinezen Buitenzorg (sekarang Bogor), yang juga pemilik Gedong Dalem.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: eitss, mau apa nih?