Last Updated on 14 July 2020 by Herman Tan

Menjelang Imlek, biasanya ada beragam kue atau penganan khas yang wajib disajikan; salah satunya adalah Kue Keranjang atau biasa disebut Nian Gao (年糕). Di beberapa daerah di Indonesia, kue keranjang juga sering disebut dodol cina.

Disebut Kue keranjang karena mendapat nama dari bentuk wadah cetakannya yang berbentuk keranjang. Kue keranjang sendiri terbuat dari tepung ketan dan gula merah yang dicampur air; setelah itu diaduk hingga kental lalu dicetak dan dikukus.

Kue ini bertekstur yang kenyal dan lengket serta berbentuk bulat yang bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan memiliki tekad yang bulat dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Menurut dongeng cerita rakyat Tiongkok, Kue keranjang ini awalnya dimaksudkan sebagai hidangan/sesajian untuk sembahyang Dewa Dapur (Hanzi : 竈君公; Hokkian : Cau Kun Kong).

Hal ini dipercaya sebagian orang Tionghoa dengan tujuan agar sang Dewa Dapur susah untuk berbicara saat melaporkan hasil catatannya karena mulutnya lengket kepada sang Kaisar Langit (Hanzi : 玉皇上帝; Hokkian : Giok Hong Siang Te).

Setelah itu kemudian kue keranjang juga dipergunakan sebagai sesajian pada upacara sembahyang leluhur yang dilakukan sehari sebelum Imlek, sampai pada puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek.

Terdapat kebiasaan pada saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.

Nian Gao sendiri terdiri dari dua kata, yakni kata ‘Nian‘ yang berarti tahun dan ‘Gao‘ berarti kue. Kata ‘Gao‘ sendiri juga bisa berarti ‘tinggi’ jika diucapkan dengan nada intonasi yang berbeda.

Oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat; makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, sehingga memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.

Kue keranjang juga biasanya disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol kehidupan yang manis, kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Kue keranjang sendiri mempunyai makna sebagai perekat ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan pertemanan.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO