Saat mendengar kata Barongsai (舞狮; Wu Shi) pasti yang terlintas dalam bayangan pembaca adalah kemeriahan tahun baru Imlek dan perayaan Cap Go Meh; dimana kita dapat melihat adanya pertunjukan atraksi Barongsai, baik itu berupa atraksi di jalanan, ataupun di dalam mall.

Di Indonesia, Barongsai itu identik sebagai ciri khas atraksi hiburan, yang hanya ditampilkan pada saat2 tertentu, seperti Tahun Baru Imlek atau perayaan Cap Go Meh saja. Tetapi di balik itu semua, sebenarnya Barongsai ini tidak hanya dikhususkan untuk perayaan2 seperti itu saja.

Barongsai masuk Istana, para acara HUT Proklamasi ke-65 tahun 2010 silam

Faktanya, Barongsai itu sebenarnya bisa juga kalian undang, untuk ditampilkan di acara2 lain, misalnya peresmian rumah, hotel, kantor, toko, mall, restoran, atau saat upacara syukuran pernikahan, syukuran kelenteng, dan acara-acara festival lainnya, yang bertujuan untuk mengusir roh jahat serta mendatangkan keberuntungan, kemakmuran dan kedamaian.

Dalam Fengshui, kehadiran barongsai juga memiliki beberapa manfaat, yakni dapat menambah aura positif di sebuah lokasi :

1. Menghilangkan energi negatif : Suara yang nyaring dari tabuhan drum dan gembrengan, akan menyucikan atau membersihkan sebuah tempat yang memiliki chi/energi negatif yang jelek, menjadi energi yang lebih bagus.

2. Mengusir roh halus yang tidak baik : Kekuatan dari tarian dan keberadaan dari barongsai sendiri, dipercaya mampu untuk mengusir roh jahat keluar dari lokasi, dan memastikan bahwa usaha yang dikerjakan akan lebih sukses.

3. Membawa Keberuntungan : Barongsai dipercaya sebagai simbol kekuatan dan membawa keberuntungan.

Baca juga : Tim Barongsai KHH Diundang Tampil di Istana Negara saat Proklamasi RI ke-65

A. Barongsai : Lambang Alkulturasi Budaya Tionghoa – Indonesia

Atraksi Barongsai ini awalnya diperkenalkan ke masyarakat Indonesia oleh perantau orang Tionghoa, yang pertama kali melakukan migrasi besar-besaran dari wilayah Tiongkok selatan (Guangdong), sekitar abad ke 17. Pada masa itu, Barongsai disebut sebagai Sam Sie dan dipopulerkan oleh perkumpulan Tiong Hoa Hwe, yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Pada tahun 1965, dengan adanya peristiwa Gerakan 30 S/PKI, membuat situasi politik di Indonesia memanas, sehingga melarang semua bentuk kebudayaan yang berkaitan dengan negeri Tiongkok; termasuk Sam Sie ini. Semenjak itu, kalaupun ada yang membuat kepala barongsai, harus dilakukan secara diam-diam dan TIDAK BOLEH dipertunjukkan di depan umum.

Hingga berakhirnya rezim ORDE BARU hingga ke masa transisi ORDE REFORMASI (awal tahun 2000) barulah kebudayaan etnis Tionghoa diperbolehkan kembali EKSIS. Melalui Bapak Gusdur, Barongsai bisa diterima oleh masyarakat kita, karena beliau yang memberikan nama pertunjukan itu, untuk selanjutnya disebut sebagai “Barongsai”, untuk mencerminkan bentuk alkulturasi Indonesia- Tionghoa.

Kata “Barongsai” terdiri dari kata “Barong” yang diambil dari kata Barong Bali, dan kata “Sai” yang artinya Singa dalam Bahasa Hokkian. Hal ini dikarenakan adanya persamaan Barong Bali dengan “ Sam Sie”, yaitu keduanya merupakan bentuk kesenian boneka singa yang dimainkan oleh manusia didalamnya, dan terkadang disakralkan sebagai sebuah bentuk kepercayaan.

B. Barongsai Terinspirasi Dari Hewan Singa

Apabila pembaca memperhatikan atraksi Barongsai, pasti mengetahui bahwa gerakan tariannya menirukan tingkah laku dan karakter hewan singa.

Tampak pengiring musik tarian barongsai di di Vihara Budha Sakyamuni, Peunayoung, Banda Aceh (Foto : kanalaceh.com).

Baca juga : Barongsai di Masa Kini

Berdasarkan catatan Golden Horde yang berjudul “Sepintas Tentang Barongsai”, pada jaman dahulu, terdapat Jalur Sutra yang terkenal, dimana para pedagang asing yang ingin melakukan perdagangan melalui jalur itu, memiliki kebiasaan membawa hadiah dari tempat mereka berasal, untuk dipersembahkan kepada sang Kaisar agar diperlancar dalam perjalanan dan bisnis mereka.

Konon bahwa binatang singa ini pertama kali didapatkan dari pedagang Persia, yang mengirimkan beberapa ekor binatang buas tersebut untuk sang Kaisar. Sang Kaisar pun sangat mengagumi binatang eksotis itu. Maka sosok binatang singa pun dipakai untuk mengekspresikan semangat, harapan, optinisme, keberanian dan persatuan.

Kemudian, karakteristik binatang singa pun banyak diadopsikan ke dalam tradisi kepercayaan dan kebudayaan negeri Tiongkok. Seiring waktu, sosok binatang singa ini dipercaya sebagai sosok yang memiliki kekuatan mistis dan magis, yang sanggup membantu mereka mengusir roh jahat, serta mendatangkan keberuntungan dan kedamaian.

Lantas kenapa tidak mirip dengan binatang singa asli?

Hal ini dikarenakan pada masa itu, tidak semua orang disana dapat melihat secara langsung sosok binatang singa tersebut seperti apa. Mereka menciptakan Barongsai hanya berdasarkan imajinasi dan kepercayaan, sebagaimana mereka menyakini sosok binatang singa, sesuai dengan yang mereka dengarkan.

Alhasil, terciptalah bentuk wujud Singa Selatan (舞狮; Wu Shi) yang sangat popular di Indonesia.

C. Fakta Seputar Wushi, a.k.a Barongsai

1. Asal-Usul Barongsai : Berasal dari kepercayaan leluhur China. Mereka percaya setiap awal tahun baru adalah masa dimana para Dewa-Dewi kembali ke kahyangan untuk melapor ke Kaisar Langit. Maka saat ini roh-roh jahat di dunia menjadi semakin ganas karena tidak ada yang mengendalikan mereka ketika Dewa-Dewi berada di kahyangan.

2. Warna merah dan Musik meriah : Dipercaya setiap tahun baru ada makhluk jejadian bernama nien, yang suka menyerang manusia, khususnya anak-anak. Konon makhluk jejadian tersebut takut kepada warna merah dan bunyi yang keras, seperti petasan dan bunyi dari alat musik (seperti gong dan tambur) nan meriah.

3. Barongsai Adalah Nama Asli di Indonesia : Nama barongsai sendiri merupakan cerminan akulturasi budaya China di Indonesia. “Barong” berasal dari kesenian boneka Bali, yang dimainkan oleh orang di dalamnya. Sementara “Sai” dalam bahasa Hokkian yang berarti Singa Nama asli kesenian ini di China adalah WUSHI (舞狮), sementara Negara barat menyebutnya LION DANCE.

Fakta seputar barongsai (Ilustrasi : Kompas.com)

Fakta Seputar Barongsai :

♦ Tanduk : Digambarkan seperti burung yang merupakan simbol untuk hidup dan regenerasi serta mewakili unsur perempuan (Yin).
♦ Telinga dan Ekor : Mempunyai bentuk seperti makluk mistis mewakili kebijaksanaan dan keberuntungan.

♦ Punuk Belakang Kepala : Menyerupai rupa kura-kura yang berarti umur panjang.
♦ Dahi dan Jenggot : Diambil dari rupa Naga, yang berarti kepemimpinan dan unsur laki-laki (Yang).

♦ Tulang Belakang : Merupakan gambaran ular yang menjadi simbol pesona dan kekayaan.

Perbedaan Warna Pada Bulu Barongsai Melambangkan Umur dan Karakter Sang Barongsai :

♦ Barongsai berwarna putih : Adalah barongsai yang paling tua. Warna putih melambangkan kesucian.
♦ Barongsai berwarna kuning : Adalah barongsai dengan umurnya tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda. Warna kuning melambangkan keberuntungan dan ketulusan hati.

♦ Barongsai berwarna hitam : Adalah barongsai dengan umur yang paling kecil. Karakternya dimainkan dengan gerakan yang amat lincah.
♦ Barongsai berwarna emas : Melambangkan kegembiraan.

♦ Barongsai berwarna hijau : Melambangkan pertemanan.
♦ Barongsai dengan bulu warna merah : Melambangkan keberanian, keberuntungan, kemeriahan dan kehangatan.

D. Aliran (Style) Barongsai di Dunia : Utara vs Selatan!

Ada berbagai macam Barongsai di dunia ini. Di Tiongkok, dalam bahasa Mandarin disebut sebagai 舞狮  (WǔShī) yang berarti tarian singa. Disebut demikian karena Barongsai adalah wujud atraksi tarian yang menirukan tingkah laku binatang singa, dan awal mula terbentuknya juga dibuat menurut gambaran binatang singa.

Dalam bahasa internasional, Barongsai disebut dengan Lion Dance, yang diambil dari terjemahan langsung Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris. Awal mulanya, Wu Shi hanya dibedakan menjadi 2 aliran, yaitu :

1. 北狮 (Bei shi, Peking Sai) atau Northern Lion, yang berarti Singa Utara, berupa tiruan singa yang dikembangkan dari gambaran anjing Peking.
2. 南狮 (Nan shi, Barongsai) atau Southern Lion, yang berarti Singa Selatan, berupa tiruan singa yang bertanduk satu.

Nah, di Indonesia sendiri, kita sebenarnya mengadopsi langsung kedua aliran tersebut. Namun berhubung imigran orang-orang Tiongkok waktu dulu itu kebanyakan berasal dari etnis orang Tionghoa Selatan (Guangdong, Fujian), maka tak heran kalau Barongsai kita temui merupakan Barongsai Selatan (南狮 Nán shī atau Southern Lion). 

Selain ke-2 aliran diatas, muncul pula Singa Hijau atau Green Lion yang berwana hijau, dengan perawakannya mirip dengan singa selatan, namun mukanya dibuat semacam topeng yang divisualisasikan dengan gambaran singa yang ganas.

Satunya lagi adalah Singa Qilin (Kilin) yang dikenal juga sebagai Unicorn Lion yang tiruan singanya dibuat berdasarkan gambaran makhluk mitologi Qilin (Kilin).

Dalam perkembangannya, Barongsai atau Lion Dance juga berakulturasi dengan budaya lokal.

Berbagai macam versi barongsai di dunia

Baca juga : Kesenian Barongsai

Seperti Lion Dance dari Vietnam (Vietnamese Lion) yang diadopsi dari Singa Selatan, namun bedanya tanduknya dihilangkan. Ada juga Lion Dance dari Jepang (Japanese Lion) yang tampilan singanya divisualkan dengan sederhana, dimana kepala singanya terbuat dari ukiran kayu, sementara badannya hanya berbalut kain saja.

Ada juga Lion Dance dari Korea (Korean Lion) yang gambaran singanya bermuka topeng datar. Lalu Lion Dance dari Tibet (Tibetan Lion) atau Snow Lion, yang gambaran singanya berciri khas warna putih. Terakhir, tarian Barong dari Bali pun masuk dalam kategori Lion Dance yang terkenal di dunia.

E. Perkembangan Barongsai di Indonesia : Lahirnya FOBI, Hingga Dipertandingkan di PON 2016 (Eksibisi)!

Fakta menarik lainnya yang perlu pembaca ketahui adalah, Barongsai bukan sekedar bentuk wujud dari kebudayaan dan kesenian saja, tapi juga salah satu cabang olahraga yang paling bergengsi di dunia!

Barongsai dianggap sebagai salah satu cabang olahraga di dunia, sejak diadakannya perlombaan Barongsai bertaraf internasional Genting World Lion Dance Championship, yang pertama kali diselenggarakan Malaysia pada tahun 1994.

Saat ini, meskipun telah diadakan berbagai macam ajang perlombaan Barongsai bertaraf internasional lainnya, namun perlombaan Genting World Lion Dance Championship dianggap ajang perlombaan Barongsai TERTUA, dan PALING BERGENGSI diantara Negara2 partisipan. Hingga saat ini, Malaysia secara rutin menyelenggarakan perlombaan tersebut setiap 2 tahun sekali.

Tampak barongsai nomor lantai, yang dimainkan salah satu tim SMA di Singapore (Foto : doc.penulis)

Di Indonesia sendiri, kesenian Barongsai bernaung dibawah federasi FOBI – Federasi Olahraga Barongsai Indonesia, yang terbentuk pada tanggal 9 Agustus 2012. Barongsai juga dianggap sebagai sebuah CABANG OLAHRAGA, yang masuk dalam KONI – Komite Olahraga Nasional Indonesia pada tanggal 11 Juni 2013, dan DIAKUI sebagai salah satu cabang olahraga Indonesia.

Semenjak itulah, para pemain Barongsai disebut sebagai ATLET BARONGSAI. Bapak Dahlan Iskan sendiri dianggap merupakan founding fathers nya FOBI (saat ini masih terus menjabat periode ke-2, yang juga merupakan ketua umum PERSOBARIN – Pemersatu Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia sejak tahun 1999.

Beliau menyatakan, bahwa mereka membutuhkan perjuangan waktu 10 tahun lamanya agar olahraga Barongsai ini bisa masuk dalam daftar list KONI.

Olahraga Barongsai juga sudah dipertandingkan pada ajang PON – Pekan Olahraga Nasional ke-19 tahun 2016 lalu di Bandung, sebagai cabor nomor kategori EKSEBISI (percobaan, perolehan medali belum diakumulasikan dengan medali olahraga lainnya). Pada PON ke-20 di Jayapura tahun 2020 nanti, olahraga Barongsai statusnya akan dinaikkan sebagai olahraga resmi yang dipertandingkan.

Baca juga : Hasil Akhir Cabang Olahraga Eksibisi Barongsai PON XIX Jabar 2016

F. Nomor-Nomor Dalam Barongsai : Lantai dan Tonggak

Dalam pertandingan, umumnya barongsai dibagi 2 kategori, yakni :

A. Barongsai nomor lantai (Tradisional) : Merupakan dasar dari permainan barongsai. Barongsai ini sering kita sebut sebagai barongsai nomor tradisional. Permainan barongsai lantai dilakukan diatas lapangan yang berukuran 8×8 m² untuk barongsai tunggal, dan ukuran 10×10 m² untuk barongsai kembar.

Tarian barongsai umumnya mempunyai alur cerita, dan terkadang menggunakan beberapa alat/media peragaan pendukung lain, seperti kursi, meja, guci, jembatan, dan sebagainya. Barongsai nomor lantai biasanya dimainkan oleh 6-11 pemain, termasuk 2 pemain kepala dan ekor yang tidak boleh diganti selama permainan.

B. Barongsai nomor tonggak (Internasional) : Merupakan barongsai yang dimainkan diatas deretan tiang tonggak, yang tingginya berkisar dari 80 cm hingga 3 meter! Sementara panjang dari deretan tonggak (untuk menampilkan sebuah alur cerita) minimal 3 meter, dan maksimal 15 meter. Dalam pertandingan2 internasional seperti Genting Malaysia, nomor tonggak inilah yang dipertandingkan.

Teknik permainan barongsai tonggak ini cukup sulit, karena pemain harus melakukan berbagai gerakan akrobatik diatas tonggak, yang diameternya sekitar 30 cm². Pemain barongsai nomor tonggak berjumlah 6-8 pemain, termasuk 2 pemain kepala dan ekor yang tidak boleh diganti selama permainan.

Tampak salah satu aksi barongsai nomor tiang/tonggak, dari Kong Ha Hong Jakarta (Foto : Kong Ha Hong)

Sementara Nomor2 yang dipertandingkan pada PON ke-19 tahun 2016 sendiri, mengacu ke nomor2 yang diperlombakan secara internasional IDLDF – International Dragon and Lion Dance Federation, yakni :

♦ Kategori Barongsai Taolu Bebas (Nomor tonggak)
♦ Kategori Barongsai Tradisional (Nomor lantai)
♦ Kategori Barongsai Kecepatan

♦ Kategori Barongsai Halang Rintang
♦ Kategori Naga (Wulong) Taolu Bebas
♦ Kategori Naga (Wulong) Kecepatan

♦ Kategori Naga (Wulong) Halang Rintang
♦ Kategori Pekingsai Taolu Bebas
♦ Kategori Pekingsai Kecepatan

Tim barongsai dari Indonesia juga telah meraih banyak prestasi di kejuaraan dunia.

Prestasi terbesar dimulai dari team Barongsai Padang HBT (Himpunan Bersatu Teguh) yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di perlombaan Genting World Lion Dance Championship 2000. Lalu ada juga tim Barongsai PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) yang meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia lainnya, yang diadakan di Surabaya tahun 2006.

Salah satu tim Barongsai yang cukup dikenal di Indonesia adalah Kong Ha Hong (Jakarta). Mereka membuktikan, bahwa atlet2 Barongsai Indonesia juga mampu bersaing di dunia internasional.

Baca juga : Indonesia Raih Peringkat 3 Kejuaraan 11th Genting World Lion Dance Championship

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

One thought on “Simak 6 Fakta Seru Mengenai Barongsai a.k.a Tarian Singa di Indonesia!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?