Last Updated on 16 May 2021 by Herman Tan

Kepastian mengenai kasus-kasus pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa ketika itu memang terkesan ditutupi, dianggap belum jelas, dan hanya dianggap sekadar gosip. Bahkan B.J.Habibie, sebagai presiden yang menggantikan Soeharto kala itu juga tidak sepenuhnya percaya bahwa pemerkosaan massal itu benar-benar terjadi.

Siapa sebenarnya para pelaku pemerkosaan pada Kerusuhan Mei 1998?

Baca juga : Peristiwa Mei 1998 di Jakarta; Titik Terendah Sejarah Etnis Tionghoa di Indonesia

Meskipun pada akhirnya, Beliau akhirnya mengakui, dan membentuk TGPF – Tim Gabungan Pencari Fakta yang diresmikan pada tanggal 23 Juli 1998.

Sebagai info, TGPF ini sejatinya dibentuk atas desakan & tekanan berbagai pihak asing, yang menginginkan pemerintah untuk membentuk tim independen, untuk mengumpulkan berbagai fakta atas kejadian Mei 98 ini.

Ita Marthadinata Haryono (remaja kelahiran 1980), korban perkosaan Mei 1998.  Melihat saudari seperantauan diperlakukan seperti ini, fakta itu memang pedih, bung

Baca juga : Pemerkosaan Perempuan Tionghoa Mei 1998 di Jakarta

Pemerintahan yang baru pasca Soeharto lengser SEJATINYA tidak ingin “memperpanjang” masalah ini. karena menganggapnya sebagai bagian dari TUMBAL REFORMASI YANG HARUS ADA!

Namun, pembentukan tim ini tidak serta-merta membuat masalah menjadi lebih jelas. Nyatanya, tim TGPF tidak mampu untuk mengusut dan menemukan siapa saja pelaku pemerkosaan. Dan kasus pemerkosaan ini perlahan-lahan semakin memudar setelah kasus pembunuhan terhadap Ita Martadinata.

Ita Martadinata Haryono (1980) adalah seorang siswi kelas 3 SMA Paskalis, Jakarta, berasal dari kalangan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, yang menjadi salah satu korban pemerkosaan pada tanggal 15/16 Mei 1998.

Ia dibunuh 4 hari (9 Oktober 1998) sebelum keberangkatannya ke New York, Amerika Serikat, guna memberi kesaksian testimoni di hadapan kongres PBB, pembela hak asasi Internasional!

Sebelum dibunuh, diduga pelaku sempat memerkosa Ita di dalam rumah / kamarnya sendiri. Darahnya berceceran di lantai dan tembok rumah. Jenazahnya sendiri ditemukan telanjang, dan lehernya hampir putus (digorok dengan pisau tua), kemudian (maaf) di duburnya terdapat kayu yang ditancapkan. Di kamarnya, darah sudah menggenang banyak di lantai.

Dari hasil visum rumah sakit RSCM, selain lehernya digorok, Ita juga menderita luka-luka tikaman di bagian perut, dada, dan lengan kanan sebanyak 10 kali. Pelakunya b*ngs*t memang!

Ita Marthadinata Haryono (1980-1998)

Baca juga : Kerusuhan Mei 1998 : “Apa Salah Kami, Sampai Harus Diperkosa dan Dibunuh?”

Ita sejatinya akan pergi ke New York bersama Ibunya, Wiwin Haryono, dan beberapa korban perkosaan Mei 98 lainnya pada Oktober 1998. Tiket dan paspornya sudah diurus, dan seminggu sebelum keberangkatan, dia masih diberikan coaching / pelatihan oleh tim relawan, mengenai bagaimana berbicara di depan kongres PBB.

Baca Juga :  Tahukah Kamu? Timeline Etnis Tionghoa di Indonesia

Ita dibunuh, karena diduga merupakan salah satu korban kunci perkosaan Mei 1998. Peristiwa pembungkaman ini diduga, karena Negara ada pihak yang terlalu takut mendengar akan kebenaran yang akan diungkapkannya.

Kesaksian relawan Romo Sandyawan (rohaniwan / Anggota TGPF Kasus Mei 1998) :

“Setibanya jenazah di RSCM, tubuh Ita Martadinata penuh luka, tapi sudah dijahit. Sebelumnya sejak di lokasi TKP, ketika di ruang atas itu (kamar Ita), sudah ditata oleh para intel,  jenazah dipakaikan kaos hitam, karena dia tidak berpakaian. Lalu dirancang disitu, bagaimana itu akan dikatakan sebagai orang yang biasa melakukan sodomi. Itu sudah sejak di loteng!”.

Beberapa orang berpendapat bahwa pembunuhan terhadap Ita adalah sebuah BENTUK TEROR. Meskipun sebelumnya juga terdapat berbagai teror terhadap para relawan, untuk tidak mengusut lebih jauh mengenai kasus pemerkosaan, tetapi kasus pembunuhan Ita lah yang menjadikan teror itu terasa lebih jelas.

Ita Martadinata Haryono, korban kasus perkosaan Mei 1998. Ita dibungkam seminggu sebelum keberangkatannya, ketika akan memberikan kesaksian di kongres PBB, Oktober 1998.

Baca juga : Siapakah Provokator dan Rekayasa Peristiwa Mei 1998?

Sejak kejadian itu, baik korban, orang tua korban, dan komunitas Tionghoa langsung TUTUP MULUT …

Meskipun kepolisian mengatakan, bahwa pelaku pembunuhan terhadap Ita Martadinata adalah tetangganya sendiri yang bernama Suryadi, yang kecanduan obat-obatan (obat bius/narkoba), yang hendak merampok rumahnya. Tetapi masyarakat tahu, bahwa tindakan tersebut adalah suatu BENTUK TEROR.

Sebab, siapa tetangga itu, dimana tetangga tersebut, dan bahkan bagaimana nasib tetangganya tersebut, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui. Kasus ini pun ditutup kepolisian, dan dianggap sebagai kasus kriminal biasa.

Source : Wawancara TEMPO.CO, media terpercaya sejak orde baru. Tonton bagaimana penuturan para relawan yang berbicara dengan Ita Martadinata sebelum meninggal.

Baca juga : Korban Mei 1998 : Mengapa Harus Perempuan Tionghoa?

Menurut Ita Fatia Nadia, Relawan Mei 98 / Mantan Direktur LSM Kalyanamitra :

“Kasus Ita Martadinata menjadikan seluruh proses Mei 98, terutama perkosaan itu menjadi selesai, berhenti total. Jadi kami menganalisisnya, bahwa Ita Martadinata ini adalah TEROR, untuk Hei kepada kamu, siapa saja yang akan bicara tentang siapa pemerkosa, ini loh, akibatnya seperti ini, (dibantai) kayak Ita Martadinata!”.

Pada kasus Ita Martadinata, tim relawan berpendapat bahwa peristiwa ini sesungguhnya dimaksudkan sebagai ancaman kepada mereka2 yang terlibat di dalam aktivitas kemanusiaan, untuk segera menghentikan kegiatan mereka.

Sebelumnya, tim relawan sempat mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan bahwa beberapa dari mereka telah menerima pesan ancaman. Isinya?

Baca Juga :  Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah? Kajian Historis Pemukiman Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian I)

Mereka akan dihabisi apabila tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran pada sejumlah korban perempuan Tionghoa, dalam kaitannya dengan Kerusuhan Mei 1998.

Atas keberaniannya, Ita Martadinata diannggap sebagai seorang Aktivis HAM Indonesia.

Baca juga : Kerusuhan Mei 1998 : Inilah Harga Yang Harus Dibayar Oleh Etnis Tionghoa di Indonesia!

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!