Tjhai Chui Mie : Walikota Wanita Tionghoa Pertama di Indonesia, Ahoknya Versi Wanita!

Saya termasuk yang bersemangat sekali. Untuk ke Singkawang Minggu lalu (Februari 2019). Terutama karena ini : ada peletakan batu pertama pembangunan bandara Singkawang.

Bertemu siapa pun (dari Kalbar utara) saya selalu titip itu: perlunya ada di bandara di sana. Pun ketika Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili ke rumah saya. Yang hafal Al-Quran itu. Saya yakinkan perlunya Sambas membangun bandara. Saya sarankan bekerjasama dengan Wali Kota Singkawang. Satu bandara untuk Sambas dan Singkawang. Kabupaten lain ikut dapat manfaatnya.

Biografi Walikota Wanita Keturunan Tionghoa Pertama di Indonesia; Walikota yang menyandang triple minority di Indonesia : Wanita, Tionghoa, Buddha.

Tjhai Chui Mie : Walikota Wanita Tionghoa Pertama di Indonesia, Ahoknya Versi Wanita!

Nama : Tjhai Chui Mie (Hanzi : 蔡翠媚, Pinyin : Chai Cuimei)
Etnis : Hakka (Tionghoa)
TTL : Singkawang (Kalimantan Barat), 27 Februari 1972 (47 tahun)
Suami : Liem Hook Nen (林學能)

Loading...

Orang tua (ayah & ibu) : Cong Kim Chong (張錦昌, Zhang Jinchang), Tjhai Lin Ngo (蔡靈娥, Cai Ling’e)
Anak-anak : Mulia Harverry, Mulia Hardy, Cherry Desy Bungdiana, Ahrens Bungdiono, Carissa Bungdiana, Leticia Bungdiana
Pendidikan : Sarjana Ekonomi

Agama : Buddha
Partai Politik : PIB (2009-2014), PDI-Perjuangan (2014 s/d sekarang)
Media sosial : @tjhaichuimie (instagram)

Riwayat Jabatan :

1. Anggota DPRD Kota Singkawang masa bakti 2009-2014.
2. Ketua DPRD Kota Singkawang masa bakti 2014-2019 (mengundurkan diri tahun 2016, karena mencalonkan diri sebagai calon wali kota Singkawang bersama Drs. H. Irwan, M.Si. pada pilkada 2017).
3. Walikota Singkawang masa bakti 17 Desember 2017-17 Desember 2022.

Demografi Kota Singkawang :

Nama Mandarin : San Keuw Jong (hanzi: 山口洋; pinyin: Shānkou Yáng)
Jumlah penduduk : 246.306 (sensus 2011)
Luas wilayah : 504 km²
Agama : Islam (53,8%), Buddha (29,69%), Khatolik (7,97%), Protestan (5,21%), Konghucu (2,68%), lainnya (sisanya).
Etnis : Tionghoa (71,15%), Melayu (15,2%), Dayak (7,25%), Jawa (5,4%), lainnya (sisanya).
Bahasa : Khek (orang hakka, bahasa kesehariannya), Indonesia, Dayak, Melayu.

Ternyata Wali Kota Singkawang Tjhai Chun Mie yang start duluan. Meski baru setahun menjabat wali kota. Juga sebagai yang pertama di Indonesia : Walikota Wanita Tionghoa.

Berarti Bupati Sambas tidak perlu lagi memikirkan bandara. Ikut Singkawang saja.

Saya berada dalam satu pesawat dengan Tjhai Chun Mie hari itu. Bersama tokoh-tokoh Budha Tzu Chi dari Jakarta. Yang akan membangun sekolah megah di Singkawang.

Kami sama-sama menunggu di bandara Cengkareng, Jakarta. Lama. Berjam-jam. Saya bisa ngobrol panjang dengan Tjhai Chun Mie. Sesekali Chun Mie menerima telepon. Dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Termasuk info yang paling kami tunggu: apakah bandara Pontianak sudah bisa didarati. Setelah terhalang pesawat Lion. Yang terperosok ke rumput di ujung landasan.

“Sebenarnya dalam visi misi saya tidak memprioritaskan bandara,” ujar Tjhai Chun Mie. “Saya takut tidak bisa merealisasikan,” tambahnya.

Dia tahu. Sudah 3 wali kota menjanjikan bandara. Tidak ada yang bisa.

Loading...

Chun Mie merasa beruntung. Punya waktu yang cukup untuk membuat perencanaan. Dia sudah resmi terpilih. Tapi pelantikannya baru 9 bulan kemudian. Pilkada serentak adalah penyebabnya.

Selama penantian itu dia manfaatkan untuk mendalami persoalan. Menemui banyak orang. Akhirnya Chun Mie tahu. Ada peluang membebaskan tanah untuk bandara seluas 160 hektar, dengan cara yang sangat murah.

Wali kota ini memang ramah. Cukup rendah hati. Kalau bicara jelas. Padat. Tidak bersayap. Tidak muter-muter. Tapi juga tidak ngotot. Dia adalah Ahok versi wanita! Dengan kelebihan : bicaranya lebih terkontrol.

Perawakannya langsing berisi. Pembawaannya lincah. Cekatan. Wajahnya agak lonjong. Rambutnya dinaikkan di depan. Lalu dibiarkan tergerai ke samping-samping. Sedikit melebihi bahunya. Bajunya putih lengan setengah tiang. Celana panjangnya merah juga agak setengah tiang. Begitu kira-kira gambaran wanita ini dalam benak Dahlan Iskan.

Tjhai Chui Mie ketika berdialog dengan Dahlan Iskan

Tjhai Chui Mie ketika berdialog dengan Dahlan Iskan

Chun Mie adalah tipe orang yang mudah akrab. Dia bisa diterima banyak kalangan. Termasuk kalangan Islam di sana.

Dari namanya terlihat Tjhai Chun Mie dari suku Tionghoa Hakka. Dalam bahasa Mandarin namanya akan ditulis Cai Cui Mei (蔡翠媚).

Orang Hakka memang mayoritas di Singkawang. Jumlahnya hampir 80% dari total penduduk asli. Di telepon pun dia lebih sering bicara dalam bahasa itu.

Orang Hakka banyak jadi pejabat. Lee Kuan Yew, perdana menteri Singapura, adalah Hakka. Thaksin Shinawatra, perdana menteri Thailand juga orang Hakka.

Pernah Chun Mie diajak temannya ramai-ramai mengubah nama. Saat Chun Mie di SMA PRATIWI Singkawang. Dia tidak mau. ”Orang tua saya susah-susah cari nama. Kok mau ganti,” kenangnya.

Bagi orang Tionghoa nama itu sangat penting. Huruf pertama adalah marga. Tidak bisa diganggu gugat!

Huruf ke-2 (nama tengah) harus punya arti baik. Bunyi baik. Nada baik. Juga untuk membedakan nama wanita atau laki-laki.

Huruf ke-3 juga harus baik dari segala sudut. Juga harus serasi dengan huruf ke-2. Seorang ayah biasanya sudah mencari nama sejak anaknya masih di kandungan. Dengan upaya khusus. Termasuk bertanya ke ”konsultan langit”.

“Tjhai itu marga ibu saya,” ujar Chun Mie.

Hah? Marga ibu? Bukan marga bapak? Ada apa?

”Orang tua saya kan tidak punya surat nikah,” katanya. ”Waktu itu cari surat nikah sangat sulit. Untuk orang Tionghoa,” tambahnya, mengenang masa Orde Baru. Marga ayahnya sendiri Zhang (ejaan khek : Cong).

Kebiasaan Chun Mie berorganisasi membuatnya tidak canggung tampil di publik. Sejak muda Chun Mie sudah aktif di Permasis (Perkumpulan masyarakat Singkawang dan sekitarnya). Di Kalbar memang sangat banyak organisasi kelompok masyarakat seperti itu. Dari kalangan Melayu saja ada beberapa. Ada Dayak, Madura, Jawa, dan masyarakat adat.

”Sebenarnya saya tidak mau masuk politik,” kata Chun Mie pada saya. ”Keluarga saya tidak ada yang di politik,” katanya.

Pun keluarga suaminya. ”Paling tinggi hanya pernah jadi ketua RT,” guraunya. Itulah jabatan ‘politik’ bapaknya. Yang sehari-hari berdagang susu perah.

Keterlibatan Chun Mie ke politik hanya karena pertemanan. Saat banyak partai baru berdiri. Banyak yang kesulitan cari caleg. Chun Mie dirayu jadi caleg. Dari partai PIB (Partai Indonesia Baru), untuk DPRD Singkawang. Sekadar info, Ahok juga memulai jalan politiknya lewat partai ini.

Chun Mie terpilih. Mewakili partai yang dipimpin ekonom terkemuka itu: Syahrir. Almarhum.

Dia mendapat suara terbanyak. Untuk seluruh Singkawang. Sampai suaranya meluber ke calon lain. PIB sampai mendapat 6 kursi di Singkawang.

Tapi partai itu hanya mendapat suara kurang dari 2% secara nasional. Jadi tidak bisa ikut pemilu berikutnya (tahun 2009).

Namun nama Tjhai Chun Mie sudah terlanjur top. Sebagai pendulang suara. Apalagi dia tidak “cacat” selama menjadi wakil rakyat.

PDI Perjuanganlah yang berhasil merayunya ntuk pemilu berikutnya. Dia kembali mendapat suara terbanyak, lalu terpilih sebagai ketua DPRD.

Chun Mie sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya : diincar jadi calon wali kota. Pagi-pagi dia sudah memberi sinyal untuk tidak berminat. Dia buat pernyataan bermeterai : tidak bersedia dicalonkan siapa pun. Dia edarkan surat pernyataan itu.

Tapi Chun Mie luluh di tangan Megawati. Jadilah wali kota seperti sekarang. Mengalahkan 3 pasang lainnya. Dengan suara mendekati 40%.

Pertemuan Dengan Komunitas Tionghoa Surabaya

Tjhai Chui Mie saat dilantik menjadi walikota Singkawang

Dalam penantian pelantikan itu, Chun Mie ingin ke Amerika. Visanya harus diurus di konsulat Surabaya. Dia tidak begitu mengenal kota Pahlawan itu. Meski sudah tahu wali kotanya juga wanita, hebat pula.

Namun masyarakat Tionghoa Surabaya sudah mendengar Chun Mie terpilih menjadi wali kota. Mereka ikut bangga saat mendengar Chun Mie mau ke Surabaya. Maka diaturlah satu acara untuk bisa makan malam bersama.

“Saya pikir makannya hanya dengan 1-2orang. Ternyata ratusan orang. Diacarakan pula di gedung pertemuan,” kenang Chun Mie.

Chun Mie sangat terkesan dengan sambutan di Surabaya itu. Dia ceritakan pada saya dengan semangatnya. Terutama banyaknya orang yang ingin membantu dirinya, agar bisa menjadi walikota yang sukses.

“Ada yang secara spontan membantu menaikkan haji warga Singkawang. Tiap tahun 5 orang,” kata Chun Mie. “Tahun ini sudah bisa berangkat haji. Saya pilih pengurus masjid yang benar-benar miskin,” tambahnya.

Chun Mie juga meminta stafnya untuk memotret wajah donatur tersebut dari berbagai sudut. “Fotonya sering saya lihat. Agar ingat wajahnya,” kata Chun Mie. “Saya malu kalau ketemu di jalan tidak ingat beliau,” tambahnya.

Kalau orang Singkawang, ingat semua. “Ini kan orang Surabaya. Yang begitu asing bagi saya,” katanya.

Ada lagi yang membantu membebaskan tanah untuk bandara. Chun Mie tidak akan lupa namanya. Juga wajahnya : Hartono Wira Tanik. Pengusaha emas Surabaya : HWT Emas.

Dari Surabaya itulah ia merasa dapat jalan keluar. Siap membangun bandara. Dia pun melobi pemerintah pusat. Dengan modal tanah yang sudah tersedia.

Ini dia gaya Tjhai Chui Mie ketika sedang berbicara. Sudah mirip Ahok belum? 🙂

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Tjhai Chui Mie (@tjhaichuimie) on

Tjhai Chui Mie (蔡翠媚), walikota Singkawang periode 2017-2022, sekaligus walikota perempuan Tionghoa pertama di Indonesia. Tampaknya jauh lebih CINA daripada AHOK, sekaligus mewakili / representatif double triple minority di Indonesia : Wanita, Tionghoa, dan Buddha!

Puncaknya Senin, 18 Februari 2019 itu. Pembangunannya pun dimulai. Menteri Perhubungan Budikarya ikut meletakkan batu pertamanya. Sistem pelaksanaannya PPP (Public Private Partnership), alias kerjasama pemerintah dan swasta. Sebentar lagi akan ditender. Siapa yang paling berhak menjadi investornya.

Tidak akan ada APBN di dalamnya. APBD pun hanya terkait dengan pembebasan lahannya. Itu pun murah sekali. Chun Mie bisa cari akal berhemat. Khas wanita. Seperti juga Wali Kota Surabaya. Yang apa pun pasti akan dihemat habis-habisan.

2 tahun lagi bandara itu diperkirakan akan selesai. Dibuat bertahap. Nanti awalnya bisa didarati ATR dan Bombardier dulu. Baru tahap berikutnya untuk kelas 737.

Kalau bandara Singkawang jadi, maka Kalbar tidak terisolasi lagi. Pun kalau ada pesawat tergelincir di Pontianak, atau ada cuaca yang buruk. Singkawang bisa jadi tempat divert yang dekat.

Singkawang pun akan menjadi kota yang berkembang. Terbuka ke dunia luar. Apalagi dengan atraksi Cap Go Meh nya yang setiap tahunnya selalu menyedot ribuan wisatawan itu. Selama ini jarak Pontianak Singkawang selalu jadi penghambat. Terutama kondisi jalannya yang sangat sempit. Dengan lalu lintas yang amat padat.

Tapi itu juga berarti beban tambahan bagi Chun Mie. Membuat kota Singkawang tidak semrawut lagi. Tidak kotor lagi. Tidak gersang lagi. Dan ‘tidak tidak’ lainnya lagi.

Entah duluan mana : bandaranya jadi duluan, atau kotanya tertata duluan (dahlan iskan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *