Tag Archives: Etnis Tionghoa

Gusdur, Tokoh Muslim Tionghoa Yang DIHORMATI Etnis Tionghoa di Indonesia

Mengutip pernyataan Abdurrahman Wahid, atau biasa dipanggil Gusdur (1940-2009), seorang tokoh Muslim yang sangat DIHORMATI oleh seluruh etnis Tionghoa di Indonesia; karena pada 17 Januari 2000 Beliau mengeluarkan Instruksi Presiden No. 6/2000 yang isinya mencabut Instruksi presiden No. 14/1967.

Pencantuman Nama Tionghoa di Passport Amerika dan di Negara-negara Barat

Ada Pertanyaan yang datang dari sdr Edwin Li pada 13 Juli 2016 lalu sebagai berikut : Permisi admin, numpang tanya, nama mandarin saya Li Hui An (李輝安), koko saya Li Hong An dan sepupu saya Li Yung An. Setahu saya nama generasi itu ditaruh di tengah, tetapi mengapa keluarga saya menaruh nama generasi dibelakang? Mohon pencerahannya, terima kasih.

Inilah 8 Hal Yang Belum Anda Ketahui Tentang Tionghoa Benteng

Tionghoa Benteng adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan etnis Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, Provinsi Banten. Nama “Tionghoa Benteng” (dulunya disebut Cina Benteng) berasal dari kata “Benteng”, nama lama kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang, tepatnya di pinggir sungai Cisadane, yang difungsikan sebagai pos pengamanan untuk mencegah serangan dari Kesultanan Banten. Benteng ini merupakan garis terdepan pertahanan pemerintah kolonial Belanda di wilayah pulau Jawa saat itu. Masyarakat keturunan Tionghoa Benteng telah berlangsung beberapa generasi, yang awalnya tinggal di Tangerang kini telah menyebar ke berbagai kota lain di Indonesia.

7 Hal Yang Hanya Dipahami Oleh Keturunan Tionghoa di Indonesia

Menurut catatan sejarah, etnis Tionghoa sudah berada di Indonesia sejak abad ke 4. Sejarah panjang etnis Tionghoa di Indonesia juga ada pasang surutnya, termasuk mengalami diskriminasi. Salah satu titik terkelam adalah pada saat orde baru, dimana seluruh kegiatan dan atribut yang berbau “kecinaan” wajib ditinggalkan

Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah? Kajian Historis Pemukiman Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian I)

Masih lekat dalam ingatan kita apa yang terjadi ketika Kerusuhan Mei 1998 melanda kota Jakarta. Sebagian orang mengikutinya lewat berbagai media massa, terutama televise dan radio, yang melakukan reportase perkembangan keadaan dari menit ke menit. Sebagian lain bahkan menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri karena tepat berada di lokasi kejadian.

Sepakbola; Sebuah Alat Pemersatu Bangsa

Hingar bingar SEAGAMES Singapura 2015 ini benar-benar sangat terasa. Dimana-mana orang mengikuti info perkembangan Sea Games ke-28 ini lewat berbagai media cetak maupun online. Apalagi panitia penyelenggaraan kali ini menyediakan sebuah account resmi YOUTUBE yang menyediakan cuplikan-cuplikan hasil pertandingan dan LIVE STREAMING atau siaran langsung pada beberapa cabang olahraga. Salah satu cabang olahraga yang paling diminati (ditonton) oleh masyarakat pemirsa tentu saja adalah SEPAKBOLA.

Korban Mei 1998 : Mengapa Harus Perempuan Tionghoa?

Apabila menilik sejarah dari hubungan antara masyarakat yang mengaku asli Indonesia dan didefinisikan serta mendefinisikan diri sebagai pribumi dengan masyarakat pendatang yang berasal dari negeri Tiongkok, maka dapat dikatakan bahwa sentimen yang muncul diakibatkan oleh adanya pengklasifikasian struktur sosial oleh kolonial Belanda pada waktu itu. Bangsa Tiongkok yang datang ke Indonesia kebanyakan bertujuan untuk berdagang, mereka melakukan perdagangan dengan Indonesia yang terkenal dengan rempah-rempah dan tembakau yang menjadi komoditas mahal di dunia.

Tionghoa.INFO : Antara Pro Pembauran vs Anti Pembauran

Ada pihak-pihak tertentu yang keberatan dengan blog Tionghoa.INFO yang dianggap PRO PEMBAURAN. Sebenarnya “Pembauran” seperti apa yang dimaksud? Kalau merujuk Nomina, pembauran (peng-an + baur) berarti :

Tionghoa dan Kawin Campur

Bagi orang tionghoa ada 5 (lima) peristiwa penting dalam kehidupan seseorang yaitu : saat kelahiran, saat lulus pendidikan tinggi (zaman dahulu lulus ujian kerajaan), saat menikah, saat melahirkan (untuk wanita) dan saat meninggal.

Masalah Tionghoa : Asimilasi Vs Integrasi

Secara umum hubungan sosial antara Pribumi dengan Kelompok Etnis Tionghoa di Indonesia memperlihatkan perkembangan yang positif, khususnya setelah peristiwa Mei Kelabu 1998. Integrasi dan asimilasi berkembang secara sejajar. Kesadaran orang Tionghoa sebagai satu kelompok etnik yang khas, yang berbeda dari etnik lain, makin terlihat dalam perilaku sehari-hari. Gejala ini adalah tanda-tanda dari proses integrasi. Sebaliknya perkawinan campuran Pribumi dengan Non Pribumi, dalam pengamatan umum, makin berkembang. Hambatan-hambatan kultural dari orang tua yang beraliran tradisional terhadap perkawinan seperti ini makin lemah. Gejala ini adalah tanda-tanda dari proses asimilasi.

Loading...