Mendengar kata Dan Bi Shi (丹陛石) mungkin masih banyak orang yang merasa asing, bahkan belum pernah mendengar kata ini. Jujur saya sendiri belum menemukan padanan kata yang tepat untuk mengartikan kata ini. Namun untuk memudahkan imajinasi kita, mungkin boleh juga disamakan dengan “Stone Carving” atau “platform batu yang diukir”.

Mungkin banyak di antara kita semua yang pernah pergi ke bangunan2 berarsitektur Tiongkok kuno, dan kebetulan melihat batu persegi panjang berukuran besar yang ada ukirannya.

Setiap potongan batu berukir itu berukuran kira2 panjang 2 meter dan lebarnya 1 meter. Batu persegi panjang itu di pasang di tengah2 anak tangga, yang terletak di sebelah kanan kirinya. Nah, batu itulah yang dinamakan Dan Bi Shi (丹陛石).

Dan Bi Shi sebenarnya bukanlah sebuah stone carving biasa, yang hanya dianggap sebagai barang hiasan untuk mempercantik rumah saja. Tapi pada jaman dulu, batu Dan Bi Shi yang biasanya terdapat di antara tangga depan istana ini merupakan simbol dari Kaisar atau Langit.

Makanya, hanya di istana2 kekaisaran atau di kuil2 saja yang boleh memasang benda ini. Pada umumnya, ukiran2 yang terdapat pada Dan Bi Shi ini adalah Naga, karena hewan Naga adalah lambang dari seorang Kaisar (yang mengepalai sebuah Dinasti/Negara).

Oleh karena itu, pada jaman dahulu Dan Bi Shi ini sama sekali tidak boleh dilewati oleh orang lain selain Kaisar!

Tampak batu Dan Bi Shi yang berada di tengah, di antara kedua anak tangga.

Baca juga : 5 Jenis Gaya Arsitektur Tiongkok di Jaman Dulu; Istana Kekaisaran, Dinding Pertahanan, Pagoda, Kuil dan Mausoleum

Pada perayaan2 atau upacara2 khusus kerajaan, alih2 berjalan dengan kakinya, sang Kaisar biasanya digotong dengan menaiki tandu, sementara para pemanggul tandu, menteri, dan para pejabat harus berjalan menaiki anak tangga yang berada disisi kanan dan kiri “Dan Bi Shi” tersebut.

Hal ini berbanding terbalik dengan yang digambarkan pada serial film Ruyi’s Royal Love in the Palace 2018 (如懿传), dimana sang Kaisar di berjalan langsung diatas batu Danbi (referensi).

Pembaca pasti sudah tahu, atau minimal pernah mendengar Forbidden City, atau Kota Terlarang (紫禁城; Zi Jin Cheng). Tempat ini begitu terkenal sebagai salah satu destinasi wisata wajib ketika kita mengunjungi Beijing.

Masyarakat di negeri tirai bambu, khususnya penduduk Beijing lebih sering menyebut istana ini dengan sebutan “Gu Gong Bo Wu Guan” (故宫博物馆), yang artinya “museum istana”. Di museum istana terlarang ini menyimpan cerita sejarah yang menarik tentang Dan Bi Shi.

Oh ya, sebelumnya perlu diketahui bahwa istana kekaisaran forbidden city ini sangat luas, dimana luasnya mencapai 720 ribu meter². Di dalamnya terdapat banyak sekali bangunan, yang berjumlah ±980 bangunan.

Beberapa yang terkenal yaitu Hall of Supreme Harmony (太和殿; Tai He Dian) atau “istana yang paling besar”, Hall of Central Harmony (中和殿; Zhong He Dian), dan Hall of Preserving Harmony (保和殿; Bao He Dian). Ke-3 bangunan tersebut dulu digunakan saat upacara atau acara2 besar kerajaan.

Menurut sejarah, “Batu Dan Bi” atau Dan Bi Shi yang terdapat di istana2 ini dibuat pada masa Dinasti Ming (1368-1644). Namun Han Bai Yu (汉白玉), atau batu marmer putih yang digunakan sebagai bahan baku utama harus diambil dari lokasi yang jauh, yang terdapat di pinggiran kota Beijing.

Batu ini beratnya lebih dari 2000 ton, sehingga sangat sulit untuk mengangkut batu marmer ini ke dalam istana. Akhirnya  dikerahkanlah lebih dari 10 ribu pekerja dan 6 ribu prajurit untuk mengangkut batu marmer putih itu.

Namun usaha keras tidak cukup sampai disitu. Untuk membawa batu ini ke istana, mereka bahkan harus menunggu tibanya pertengahan musim dingin, di saat air sungai mengeras menjadi es, lalu mengerahkan 20 ribu orang lagi untuk menggali parit di sepanjang rute ke istana.

Kemudian setiap jarak 1 Li (ukuran mil menurut standar Tiongkok jaman dulu, dimana panjangnya = 0,5 kilometer) dibuat sumur2. Parit2 itu kemudian diisi air dari sumur, hingga airnya membeku menjadi es keras, dan bisa dipakai untuk menarik batu batu marmer.

Dengan cara seperti diatas barulah masalah transportasi pengiriman bahan baku bisa teratasi. Meskipun demikian, mengingat jaraknya, ternyata masih diperlukan waktu hingga 28 hari untuk membawa batu2 marmer ini sampai ke istana. Bisa Anda bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka kala itu.

Batu marmer putih merupakan bahan utama pembuatan Dan Bi Shi yang asli. Karena langka, per potong harganya saat ini sangat mahal.

Baca juga : Arsitektur Kayu Bangunan Tradisional Tiongkok : Mengapa dan Bagaimana Kayu Digunakan Pada Bangunan?

Masih ada satu cerita menarik tentang batu Dan Bi ini. Kisah ini terjadi pada tahun2 menjelang keruntuhan Dinasti Qing (Manchu) (~1912).

Pada masa itu, Kaisar diperlakukan laiknya boneka saja, karena kekuasaan yang sesungguhnya dikendalikan oleh seorang Janda Permaisuri yang bernama Ci Xi (慈禧太后).

Nama ini mungkin pernah kita dengar, karena sering disebut di buku2 sejarah Tiongkok, bahkan di film pemenang piala Oscar yang berjudul The Last Emperor (1987).

Film ini menceritakan dimana Janda Permaisuri Ci Xi mengangkat Kaisar Xuantong (Pu Yi) yang masih bocah (2 tahun 10 bulan) menjadi Kaisar terakhir dalam sistem perdinastian Tiongkok.

Nah, kisah menariknya adalah suatu ketika Ci Xi ingin membangun ulang mausoleum (makam) Pu Tuo Yu (普陀峪) di Ding Dong (定东). Dinamai demikian, karena terletak di sisi timur makam Kaisar Xianfeng (咸丰). Ketika itu, Ci Xi menyuruh ahli ukir untuk mengganti batu Dan Bi (Dan Bi Shi) yang terletak di depan aula Long En (隆恩殿; Long En Dian).

Menurut aturan sejak dulu di Tiongkok, batu Dan Bi umumnya diukir dengan gambar Naga dan burung Phoenix yang sedang bermain2 dengan mutiara.

Dimana seharusnya ukiran Naga posisinya selalu diatas burung Phoenix, karena Naga melambangkan “Kaisar atau langit” sedangkan burung Phoenix sebagai simbol dari “ratu atau bumi”. Artinya Kaisar adalah langit, sementara Ratu adalah bumi.

Namun karena ambisi kekuasaaannya yang begitu tinggi, sampai2 sang Janda Permaisuri berani merubah aturan tersebut, dan memerintahkan ahli ukir istana untuk mengukir burung Phoenix di atas posisi atas, dan Naga justru dibawah.

Hal ini membuat sang ahli ukir merasa tidak puas dengan tindakan Ci Xi yang ambisius. Maka ahli ukir itu diam2 membuat satu sindiran halus, dengan mengukir seekor cecak yang sangat kecil di bagian bawah batu Dan Bi, tepatnya di bagian pola “Tebing Shuijiang” (海水江崖).

Namun nasib malang menimpa si pengrajin itu. Ketika batu itu akan dipasang di depan aula Long En, Janda Permaisuri Ci Xi menemukan anomali gambar cecak kecil ini. Akibatnya, Ci Xi langsung memenggal kepala pengrajin itu, dan memerintahkan ahli ukir lain untuk membuat ulang corak batu Dan Bi tersebut.

Inilah batu Dan Bi bersejarah yang dibuat pengrajin sewaktu Janda Permaisuri Ci Xi berkuasa, dimana Burung Phoenix diatas posisi Naga, yang berarti sang Ratulah yang memegang tampuk Kekaisaran.

Baca juga : 4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Pagoda : Sejarah, Arsitektur, dan Filosofinya!

Bagi orang awam, cecak itu hanyalah sebuah hiasan kecil, tetapi maknanya tidak sesederhana itu. Dikatakan bahwa cecak banyak  dikembangbiakkan di istana pada jaman dulu, dan cecak ini kebanyakan makan di tanah berpasir.

Cecak ini kemudian dibunuh dan dikeringkan menjadi bubuk, dan selir2 muda yang baru saja memasuki istana menggunakan bubuk ini untuk membubuhi dahi mereka, yang disebut “Shougong” (守宫). Meski tidak ada tokek di Kota Terlarang di masa Dinasti Qing. tapi mereka percaya pada praktik ini (referensi).

Batu Dan Bi bersejarah yang ditengahnya diukir dengan pola Phoenix Yinlong (凤引龙), yang panjangnya 3 meter dengan lebar 1,6 meter ini masih tersimpan dan terawat dengan baik sampai sekarang.

Begitulah informasi mengenai batu Dan Bi ini. Bagi pembaca yang penasaran ingin melihat langsung seperti apa batu Dan Bi ini, mungkin masih ada beberapa tempat ibadah, seperti Kelenteng atau Vihara di indonesia yang memasangnya di tengah anak tangga, di depan pintu masuk ruang sembahyang utama.

Meskipun tentu saja sudah tidak menggunakan marmer putih yang mahal ya. Biasanya cukup menggunakan batu sungai yang diukir Naga atau simbol gambar lainnya.

Baca juga : Arsitektur Atap Tradisional Tionghoa dan Filosofinya

Ada satu tempat yang saya masih ingat, yaitu di Vihara Avalokiteswara Watugong, di jalan Setiabudi kota Semarang, masih ada batu Dan Bi ini. Letaknya persis di anak tangga di depan ruang utama pagoda Watugong.

Penulis : Tjahja Santoso @cuncun.sant0so

By Tjahja Santoso

Saat ini bekerja di sebuah perusahaan Swasta. Pendidikan S1 ekonomi managemen @Atmajaya Yogyakarta, S2 keuangan @Stikubank Semarang. Tertarik pada hal2 yg berhubungan dengan budaya China, mempelajari bahasa mandarin secara otodidak, baik lisan/tulisan agar bisa membaca buku & berita dari China secara langsung. Beberapa kali mengunjungi negeri panda untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat, budaya, dan kemajuan pembangunan disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *