Kaisar Xuantong (宣統) atau Puyi (溥仪) adalah Kaisar terakhir dari Dinasti Qing (1636 – 1912). Beliau juga sekaligus menjadi Kaisar terakhir dari sepanjang 2000 tahun sejarah perdinastian Tiongkok, karena faktor transisi Tiongkok dari sistem monarki (kekaisaran) ke sistem republik (modern) akibat pengaruh luar negeri.

Kaisar yang lahir pada 7 Februari 1906 ini diketahui juga memiliki nama Barat, yakni Henry Puyi. Dia memilih nama Henry, karena kekagumannya pada Raja Henry VIII dari Inggris.

Kaisar Puyi
Kaisar Puyi mengenakan seragam Manchukuo (foto : historytoday.com)

Puyi dikenal sebagai Kaisar boneka di bawah pengaruh pendudukan militer Jepang. Orang2 Jepang menyebut Puyi sebagai Fugi Sensei.

Kaisar terakhir Tiongkok ini merupakan satu-satunya kaisar yang naik tahta 3 kali selama masa hidupnya, yakni pada :

♦ Pada 2 Desember 1908 (hingga 12 Februari 1912), pertama kali naik tahta pada jaman Dinasti Qing sebagai Kaisar Xuantong.

♦ Pada 1 Juli 1917, Puyi kembali naik tahta berkat Zhang Xun, seorang jenderal loyalis Dinasti Qing kala itu. Namun pengangkatan kembali ini hanya bertahan selama 12 hari.

♦ Pada 1 Maret 1934 (hingga 17 Agustus 1945), Jepang menjadikan Puyi sebagai penguasa Manchukuo (wilayah kekuasaan Jepang di timur laut Tiongkok) dengan gelar Aisin-Gioro Puyi (爱新觉罗溥儀; Aixin jueluo Puyi).

Puyi hidup di masa sejarah peralihan penting Tiongkok, menuju Tiongkok modern. Sebagai keluarga kekaisaran, Ia mengalami langsung pengaruh Perang Sino-Jepang Kedua (1937-1945), Perang Dunia 2 (1942-1945), dan pergantian sistem dari monarki ke republik (1912).

Puyi sendiri diketahui menikah pertama pada usia 17 tahun, dan total memiliki 5 orang istri, yakni Wanrong (Permaisuri Xiaokemin, menikah 1922), Wenxiu (Shufei, menikah 1922) yang keduanya langsung dinikahi sekaligus, lalu berturut-turut ada Li Yuqin (menikah 1943). Tan Yuling (Guifei, menikah 1937), dan Li Shuxian (menikah 1962).

Puyi tidak memiliki 1 pun anak dari mereka, Ia diduga mengalami impoten.

Tahukah kamu? Jika ditelusuri lewat metode pohon keluarga, sebenarnya Puyi dan istri pertamanya, Wanrong, berasal dari keturunan yang sama, Kaisar Qianlong (1711-1799).

A. Pendidikan Puyi Muda

Scotsman Reginald Johnston dan Kaisar Puyi
Scotsman Reginald Johnston dan Kaisar Puyi (foto : scmp.com)

Yang mengesankan, Puyi adalah kaisar Tiongkok pertama yang mahir berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris! Ia belajar ketika berusia 13 tahun dari Scotsman Reginald Johnston, yang merupakan diplomat asal Skotlandia. Selain bahasa Inggris, Ia juga belajar matematika, sejarah dunia, dan geografi dari Johnston. Johnston juga mengenalkan Puyi pada dunia luar, seperti film, buku, dan majalah.

Namun meskipun berpendidikan, ketika menjabat sebagai Kaisar Manchukuo, Puyi justru tak bisa berbahasa Manchu.

Johnston adalah orang pertama yang menyarankan Puyi mengenakan kacamata, setelah mengetahui bahwa ternyata Puyi mengalami rabun mata yang cukup parah. Hal ini memancing kontroversi, karena dianggap menghina harga diri keluarga kekaisaran dan tradisi.

Kala itu Puyi menyebut Johnston, “Saya selalu mengingat dia sebagai kelas satu. Ia membuat saya merasa bahwa orang2 Barat adalah yang paling pandai dan beradab di dunia, dan banyak orang belajar dari dia.”

Karena pengaruh Johnston, Puyi menjadi seseorang yang berpikiran terbuka. Puyi juga merupakan kaisar Tiongkok pertama yang mengenakan pakaian bergaya Barat. Puyi juga memiliki keinginan menjadi seorang mahasiswa Oxford, sama seperti Johnston.

Pengaruh Johnston dalam kehidupan Puyi memiliki sisi positif dan negatif. Salah satu sisi negatifnya adalah Johnston membuat Puyi berpikir bahwa rakyat masih ingin dipimpin oleh Dinasti Qing, meskipun revolusi (pemberontakan) telah pecah.

B. Naik Tahta di Usia Balita (1908)

Kaisar Puyi
Ilustrasi Kaisar Puyi ketika naik tahta pada tahun 1908.

Puyi terlahir dari keturunan klan Aisin Gioro, penguasa Dinasti Qing kala itu. Puyi sendiri bukanlah anak dari kaisar sebelumnya, Kaisar Guangxu, melainkan putra tertua dari Zaifeng (Pangeran Chun), adik tiri sang Kaisar.

Karena Guangxu sendiri tidak memiliki keturunan. Ketika dia mangkat pada 14 November 1908 (usia 33) akibat racun arsenik, Janda Permaisuri Cixi (istri mendiang Kaisar Xianfeng, 3 generasi diatas Puyi) menunjuk dan menobatkan Puyi (keponakan kaisar Guangxu) untuk naik tahta pada usia 2 tahun 10 bulan, karena ia berada di urutan teratas penerus kekaisaran.

Janda Permaisuri Cixi sendiri meninggal pada 15 November 1908 setelah memasang Puyi sebagai kaisar baru Dinasti Qing pada sehari sebelumnya. Pada 4 November 2008, tes forensik yang dilakukan oleh ahli Tiongkok melaporkan bahwa kematian Kaisar Guangxu disebabkan oleh racun arsenik (2.000 kali lebih tinggi daripada orang biasa!).

Media China Daily, mengutip pernyataan seorang sejarawan Tiongkok, Dai Yi, berpendapat bahwa Cixi lah yang menyuruh seorang kasim untuk meracuni sang Kaisar, karena kala itu dia sudah berusia tua dan sakit-sakitan, sadar bahwa ia akan meninggal sebentar lagi. Dia takut Guangxu akan mereformasi Dinasti setelah kematiannya.

Puyi yang kala itu masih seorang balita, yang belum dapat memahami apa yang sedang terjadi, hanya bisa menangis dan menjerit histeris saat dijemput paksa dari rumah oleh Ayahnya (Zaifeng) dan beberapa kasim senior, dan ketika acara penobatannya. Ayahnya diangkat sebagai Pangeran Wali untuk menjalankan roda pemerintahan.

Karena Janda Permaisuri Longyu (Empress Xiao Dingjing) tidak memiliki anak dengan Kaisar Guangxu, dia mengadopsi bayi Puyi sebagai anaknya. Dia juga menjadi salah satu tokoh sentral dalam pemerintahan akhir Dinasti Qing, dimana semua keputusan besar akan dikonsultasikan kepadanya terlebih dahulu.

Tetapi karena tidak berpengalaman dalam politik, dalam beberapa tahun pertama pemerintahan Puyi, ayah biologis sang kaisar, Zaifeng (Pangeran Chun) menjabat sebagai wali pendamping Puyi, bersama Jenderal Yuan Shikai.

Atas saran Yuan Shikai, pada Februari 1911, Janda Permaisuri Longyu setuju untuk menandatangani pengunduran diri atas nama Kaisar Puyi, yang ketika itu berusia 5 tahun. Dia setuju hanya jika keluarga kekaisaran diizinkan untuk mempertahankan gelarnya. Adapun isi perjanjian lainnya adalah :

♦ Keluarga kekaisaran bisa menyimpan koleksi barang2 antik mereka.
♦ Mereka bisa tinggal di Kota Terlarang sementara, kemudian akan pindah ke Istana Musim Panas.

♦ Mereka akan menerima gaji tahunan sebesar 4 juta tael perak.
♦ Makam kekaisaran dinasti Qing akan dilindungi dan dijaga dari penjarahan/perampokan.
♦ Pemerintahan yang baru akan membayar untuk pembangunan makam Kaisar Guangxu.

Kehidupan sebagai seorang kaisar justru berpengaruh buruk bagi masa kecil Puyi, karena Ia tidak bisa berinteraksi normal dengan lingkungan sekitarnya.

C. Turun Tahta di Masa Republik Tiongkok (1912)

Balai Peringatan Revolusi Xinhai
Balai Peringatan Revolusi Xinhai.

Masa kekaisaran Xuantong hanya berlangsung sekitar 3 tahun (2 Desember 1908 s/d 12 Februari 1912), karena Janda Permaisuri Longyu mengeluarkan “Dekrit Kekaisaran tentang Penurunan Takhta Kaisar Qing” yang mendukung Revolusi Xinhai pada 12 Februari 1912. Revolusi ini menghasilkan perubahan sistem pemerintahan Tiongkok, dari monarki (kekaisaran) menjadi republik (modern).

Oleh sebab itu, Puyi tidak memiliki kekuasaan lagi. Pencabutan status kaisar dari Puyi ini juga turut mengakhiri 2.133 tahun sepanjang sejarah perdinastian di Tiongkok.

Menurut Jia Yinghua, seorang pakar sejarah dan mantan staf pemerintahan Tiongkok, dalam sebuah wawancara dengan media barat The Telegraph, menyatakan bahwa dekrit penurunan tahta Puyi oleh ibu tirinya, dilakukan di bawah tekanan, ancaman, dan suap. Para kasim istana juga disuap agar mau membantu mendesak Ibu Suri Longyu mencabut kedudukan Puyi.

Menurut kesepakatan dengan Republik Tiongkok, Puyi diperbolehkan mempertahankan gelar kekaisarannya, dan selanjutnya diperlakukan sesuai dengan protokol yang berlaku bagi raja-raja asing lainnya. Puyi juga diperkenankan mendiami Kota Terlarang dan Istana Musim Panas.

D. Kembali Naik Tahta Lagi Selama 12 Hari (1917)

Berkat seorang loyalis Dinasti Qing, Jenderal Zhang Xun, Puyi kembali dinobatkan sebagai kaisar. Zhang yang masih setia pada kekaisaran Qing, berusaha mengembalikan kembali tahta kerajaan kepada penerusnya. Zhang juga tak menyukai perlakuan Jepang terhadap Puyi, dan menyarankan Puyi agar tak mempercayai orang2 Jepang.

Zhang juga pernah memergoki seorang mata-mata Jepang yang mengikuti Puyi dan berkata, “Jika orang Jepang berani menyentuhkan satu ujung jari pun pada Anda, beritahu saya, dan saya akan mengurusnya.”

Namun sayang restorasi ini hanya berlangsung selama 12 hari (mulai 1 Juli hingga 12 Juli 1917). Sebuah bom kecil (sabotase?) juga diketahui pernah meledak di Kota Terlarang pada tanggal 13 Juli 1917.

Jenderal Zhang Xun
Jenderal Zhang Xun.

Para jenderal lain yang loyal kepada Republik kemudian menggagalkan usaha Zhang, dan memaksa Puyi untuk turun tahta lagi dan diusir keluar dari Kota Terlarang oleh Jenderal Feng Yuxiang. Zhang pun kemudian mengungsi di kantor kedutaan Belanda di Beijing, dan tidak pernah berpartisipasi dalam politik lagi hingga akhir hayatnya pada 11 september 1923.

Awalnya Puyi kembali pulang ke rumah masa kecilnya, namun kemudian diketahui Ia secara diam-diam pindah dan menetap di daerah kekuasaan Jepang di Tianjin. Menurut seorang jurnalis Anglo-Perancis bernama Edward Behr, seandainya Puyi memiliki lebih banyak keberanian untuk mengikuti arahan Zhang pada saat itu, mungkin dia bisa mempertahankan tahtanya.

E. Menjadi Boneka Jepang : Kaisar Manchukuo (1934-1945)

Meskipun lebih menyukai kedudukan sebagai Kaisar Dinasti Qing, Puyi terpaksa menuruti kemauan pihak Jepang. Jepang juga mempengaruhi Johnston (mentor Puyi) dan penasehat Puyi, agar membuatnya menuruti kemauan Jepang. Mereka mengatakan kepada Puyi, bahwa lebih aman berada di Tianjin bersama Jepang daripada di Beijing.

Puyi awalnya tidak menyadari bahwa Ia akan lebih mudah dikendalikan jika berada di Tianjin.

Karena kepatuhannya, pada tahun 1932, Ia didaulat menjadi Kepala Eksekutif dengan gelar Datong (大同), lalu kemudian menjadi Kaisar Manchukuo pada tahun 1934 hinga 1945 dengan gelar Kangde (康德).

Potret Puyi sewaktu mudanya.

Di Tianjin, Puyi tinggal di Taman Zhang (Zhang Garden) pada tahun 1925, lalu tak lama pindah ke Taman Ketenangan (Garden of Serenety) pada tahun 1927. Puyi sangat menyukai anjing. Di tempat ini, ia memelihara banyak anjing, hingga disebut sebagai ‘surga para anjing’ oleh jurnalis Inggris bernama Henry Woodhead.

Kehidupan Puyi semakin terbatas dan diatur oleh pihak Jepang, meskipun secara pribadi Puyi lebih menyukai kebudayaan Tiongkok dan enggan mengikuti aturan Jepang. Walaupun Jepang memberikan janji-janji, seperti yang mereka lakukan pada negara2 jajahannya yang lain, pada akhirnya terbukti bahwa ini hanyalah sebuah strategi politik.

Nipponisasi di wilayah Manchuria (timur laut Tiongkok) semakin menjadi-jadi, dan jauh dari pembuktian janji yang diberikan. Ia juga diatur Jepang dalam hal agama, dimana Ia dipaksa berpindah ke agama Shinto, serta menjadikan Shinto sebagai agama nasional.

Puyi kurang kompeten dalam menjalankan pemerintahan Manchuria. Ia tetap menjalankan kehidupan mewahnya ala raja, sementara banyak rakyat Manchuria yang hidup jauh dari kata sejahtera.

Situasinya semakin memburuk karena Puyi tidak sanggup menjinakkan geng-geng Manchuria dari Tiongkok, Jepang, Korea, maupun Rusia, yang saling berseteru satu sama lain serta memicu kesengsaraan lebih dalam bagi rakyat Manchuria.

Antara tahun 1935 hingga 1945, Puyi di bawah pengawasan dan perintah seorang pimpinan Tentara Kwantung (kelompok tentara dari Tentara Kekaisaran Jepang) yang mengawasi sang Kaisar Manchukuo, dan meneruskan perintah untuk Puyi dari pemerintah Jepang. Pengawas ini sedikit demi sedikit mengeliminasi staf Puyi, dan mengganti mereka dengan orang2 simpatisan (mata-mata) Jepang.

Puyi memiliki seorang adik, Pujie. Adiknya menikahi sepupu jauh Kaisar Hirohito Jepang, yang bernama Hiro Saga (melahirkan 2 anak, tapi 1 meninggal muda). Tidak seperti Puyi, Pujie lebih menikmati hidup, ketimbang berada dalam bayang-bayang Jepang.

F. Kehidupan Puyi Pasca Kekalahan Jepang Dalam Perang Dunia II (1945)

Tahun 1945, Jepang menyatakan kekalahannya dalam Perang Dunia II. Namun, kehidupan Puyi belum juga membaik. Ia ditangkap oleh Tentara Merah dan menjadi tahanan Uni Soviet pada 16 Agustus 1945 di Khabarovsk, wilayah Uni Soviet yang dekat dengan perbatasan Tiongkok.

Saat itu, ia mencoba kabur ke Jepang melalui Korea untuk menyerah pada Amerika, namun tertangkap di Bandara Mukden (Shenyang) oleh tentara Soviet.

Pada tahun 1946, ia bersaksi di Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh (IMTFE) di Tokyo, dengan memberikan rincian tentang ketidaksukaannya terhadap perlakuan yang ia terima dari pihak Jepang.

Penolakan Soviet untuk mengekstradisi dia hampir pasti menyelamatkan nyawanya, karena Chiang Kaishek (Kuomintang) sering berbicara tentang keinginannya untuk menembak Puyi. Meskipun telah menulis surat kepada Stalin, presiden Uni Soviet saat itu, yang menyatakan bahwa ia enggan pulang ke Tiongkok (meminta suaka), ia akhirnya tetap dipulangkan pada tahun 1949.

Pada masa itu, Tiongkok sudah berada dalam kekuasaan Partai Komunis Tiongkok, di bawah kepemimpinan Mao Zedong. Pemulangan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kedua negara.

Saat kepulangannya, Puyi sempat menduga Ia akan dieksekusi oleh Mao Zedong. Ia berpikir akan bernasib sama seperti Sepupu jauhnya, Yoshiko Kawashima (keturunan Manchu) dimana setelah ditangkap tentara Kuomintang, dia disidang dan dieksekusi secara terbuka di Beijing pada Maret 1948, dengan tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi pada Negara.

Namun ternyata Ia diberi grasi pada tahun 1959. Dengan izin khusus dari Mao, Ia tinggal selama 6 bulan pertamanya di kediaman di Beijing, sebelum dipindahkan ke hotel yang disponsori pemerintah.

Selama di Beijing, Ia memiliki pekerjaan sebagai menyapu jalan-jalan, dan tersesat pada hari pertamanya bekerja, yang membuatnya memberi tahu orang-orang yang lewat “Saya Puyi, Kaisar terakhir dinasti Qing. Saya tinggal di sini bersama kerabat, dan tidak dapat menemukan jalan pulang “.

Salah satu tindakan pertama Puyi setelah kembali ke Beijing adalah mengunjungi Kota Terlarang / Forbidden City sebagai turis. Ada momen unik, ketika Ia menunjukkan kepada wisatawan yang datang, bahwa koleksi barang yang dipamerkan dalam kompleks istana, sebenarnya adalah barang-barang yang Ia gunakan di masa mudanya.

Setelah itu, Puyi menghabiskan 10 tahun pasca kepulangannya di Pusat Manajemen Penjahat Perang Fushun di Provinsi Liaoning. Di tempat tersebut Puyi dibentuk menjadi seorang komunis sejati, dan dipaksa untuk menanggalkan seluruh titel maupun mental feodal khas penghuni istana.

Setelah menyelesaikan program dari pemerintah, Ia bekerja sebagai seorang editor untuk Departemen Literasi Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China. Presiden Mao secara khusus menyediakan tempat tinggal dan pekerjaan bagi Puyi di Kebun Botani di Beijing.

Bekerja sebagai tukang kebun sederhana, memberi Puyi kebahagiaan yang tidak pernah dikenalnya, sewaktu menjadi seorang kaisar dulu.

G. Akhir Hayat Puyi

Menjelang tahun-tahun terakhirnya, Puyi menikah lagi dengan Li Shuxian, seorang perawat rumah sakit pada 30 April 1962.

Potret Wanrong dengan suaminya, Puyi, ketika di Tianjin (foto : en.wikipedia.org)

Tahun 1966, Revolusi Budaya dimulai, dan Puyi dituduh sebagai anti-revolusioner. Ia merasa terguncang, baik secara fisik maupun mental. Hal ini juga menjadi faktor melemahnya kesehatan Puyi.

Para milisi muda, yang dikenal sebagai Pengawal Merah Maois, masih melihat Puyi sebagai lambang Kekaisaran Cina dan dianggap sebagai sasaran empuk. Pengawal Merah juga menyerang Puyi karena bukunya “From Emperor to Citizen” yang diterbitkan tahun 1964 dianggap tidak menyenangkan pemerintah, dan menyebabkan buku2 tersebut dibakar di jalanan serta dilarang penyebarannya.

Pengawal Merah pun mencari berbagai anggota klan Qing yang tersisa, termasuk Pujie, dimana rumah dan aset mereka dijarah dan dibakar. Tetapi untung saja Zhou Enlai menggunakan pengaruhnya untuk melindungi Puyi dari pelanggaran terburuk yang dapat ditimbulkan oleh Pengawal Merah, dengan segera menempatkannya di bawah perlindungan biro keamanan publik setempat.

Sebelumnya, awal tahun 1960-an, PM Zhou Enlai pernah berkata pada Puyi,

Anda tidak bertanggung jawab untuk menjadi Kaisar pada usia tiga, atau pada 1917 yang mencoba melakukan kudeta pemulihan. Tetapi Anda sepenuhnya harus disalahkan atas apa yang terjadi kemudian. Anda tahu betul apa yang Anda lakukan ketika berlindung di Legation Quarter, ketika Anda bepergian di bawah perlindungan Jepang ke Tianjin, dan ketika Anda setuju untuk menjadi Kepala Eksekutif dan Kaisar Manchukuo”.

Puyi pun meninggal di usia 61 tahun pada 17 Oktober 1967 akibat kanker ginjal dan penyakit jantung. Sesuai dengan hukum Republik Rakyat Tiongkok saat itu, jenazah Puyi dikremasi, dan abunya dipindahkan 2 kali.

Pertama, abunya ditempatkan di Pemakaman Revolusioner Babaoshan, lalu akibat sebuah kebijakan komersil, abu Puyi dipindahkan oleh istrinya, Li Xuxian, ke Hualong Imperial Cemetery, yang dekat Makam Qing Barat, 120 km arah barat daya Beijing.

Kisah hidup Puyi juga difilmkan dengan judul “The Last Emperoryang disutradarai oleh Bernardo Bertolucci pada tahun 1987, dimana Pujie, adiknya turut menjadi penasihat teknis untuk film itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *