Last Updated on 17 April 2021 by Herman Tan

1. Biasanya pada malam tahun baru Imlek semua keluarga berkumpul dan makan bersama. Setelah makan bersama, maka diadakan acara “soja tea“. Para anak, cucu dan sebagainya dengan cara berlutut menyuguhkan tea kepada orang tua sebagai pernyataan baktinya.

Seringkali umat Kristen bersikap serba salah berada diantara keluarga yang beragama lain, apalagi tatkala diadakan acara “soja tea”. Karena ada umat Kristen berpandangan bahwa dengan cara berlutut menyuguhkan tea adalah semacam penyembahan, sehingga mereka tidak mau melakukan dan akibatnya suasana yang mengembirakan, menjadi kacau.

Anggota keluarga lain pasti akan mengecap nya sebagai anak yang tidak berbakti. Tentu saja hal ini akan menimbulkan rasa anti pada Kekristenan dan akan menjadi sulit baginya untuk membawa keluarga nya yang lain untuk ikut percaya kepada agama nya.

Umat Kristen yang tidak mau melakukan acara “soja tea”, karena ketidak-mengertiannya. Sebenarnya acara tersebut tidak salah untuk diikuti.

Mengapa penulis menyatakan umat Kristen tidak salah untuk berlutut menyuguhkan tea di hadapan orang tua kita? Karena “berlutut” bukan saja tidak ada kaitannya dengan ritual atau ibadah, bahkan suatu kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa umat Kristen juga seorang anak yang tahu berbakti pada orang tua.

Bagaimana kita mengetahui suatu tindakan itu berkaitan atau tidak dengan hal-hal yang bersifat ritual atau ibadah? Hal ini dilihat oleh objek kita. Jika objek kita berbentuk roh, maka jelas itu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ritual atau ibadah; dan ritual atau ibadah hanya bisa kita lakukan kepada Tuhan saja.

Karena diantara anggota tubuh kita, ada yang berfungsi untuk mengadakan hubungan dengan dunia roh adalah roh kita.

2. Pada tahun baru Imlek biasanya diadakan acara sembahyang pada arwah leluhur. Acara ini diadakan karena mereka percaya bahwa orang yang sudah meninggal, arwahnya masih berada di dunia. Ini yang menyebabkan pada hari Ceng Beng diadakan acara sembahyang di kuburan dan Imlek di rumah.

Dan disini umat Kristen salah tingkah, dan hal-hal yang bersifat praktis bermunculan, diantaranya tentang masalah membantu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara sembahyang tersebut.

Tentu untuk ikut sembahyang pada arwah dilarang dalam alkitab, karena objek yang disembah berbentuk roh, tetapi bagaimana membantu persiapannya?

Khususnya yang menjadi menantU Kristen, tentu tidak bisa berpeluk tangan melihat mertua dan saudara-saudara ipar sibuk di dapur dalam rangka mempersiapkan upacara sembahyang tersebut dan jika membantu dikuatirkan akan bersalah karena ikut mengambil bagian secara tidak langsung dalam acara tersebut.

Baca Juga :  Inilah 7 Hal Yang Dilakukan Etnis Tionghoa Sepanjang Perayaan Imlek

Menurut penulis tidak ada salahnya membantu kesibukan mertua dan saudara-saudara ipar di dapur dan anggap saja apa yang kita lakukan membantu orang tua dan saudara yang masih hidup dan ini merupakan kesempatan juga bagi kita untuk menyatakan bakti kita pada orang tua kita.

3. Pada waktu tengah malam setelah meninggalkan tahun yang lama atau biasanya disebut malam tahun tua, memasuki tahun yang baru, mereka sebut sebagai “Guo Nien”, Guo artinya melewati dan Nien artinya tahun; dan langsung antar mereka saling bersalaman dengan mengucapkan “Kiong Hie” yang artinya selamat.

Sebutan “Guo Nien” dan “Kiong Hie” mempunyai latar belakang yang bersifat mitos. Menurut cerita bahwa dahulu kala ada seekor binatang ganas yang bersama “nian”. Binatang ini takut hawa panas dan sangat malas. Kalau satu kali tidur, tidurnya sampai satu tahun dan bangunnya pada waktu tengah malam menjelang tahun baru Imlek.

Begitu bangun, karena lapar, lalu jalan kesana kemari untuk mencari makanan. Makanan yang paling disenangi adalah manusia. Sebab itu menjelang tahun baru, masyarakat dalam suasana ketakutan. Mereka takut menjadi santapan binatang ganas tersebut.

Jika mereka dapat melewati waktu menjelang malam tahun baru tersebut tanpa kekurangan suatu apapun, maka mereka menyebutnya sebagai “Guo Nien” yaitu sudah melewati dengan selamat ancaman dari binatang yang bersama “Nian” itu.

Setelah itu, mereka saling memberi selamat “Kiong Hie” karena sudah luput dari keganasan binatang tersebut.

Dan tentu saja untuk masa sekarang, kata “Guo Nien” dan “Kiong Hie” bukan lagi mempunyai makna seperti dulu, melainkan mempunyai makna yang dominan mengarah kepada yang bersifat material.

Sebab itu kita sering mendengar, dibelakang kata “Kiong Hie” sering ditambah dengan kata “Fat Choi” yang artinya semoga cepat kaya.

Mercon/petasan yang dipasang, disamping menyambut tahun baru dan juga mengandung pengertian mengusir setan. Karena mereka percaya, setan di samping takut suara ayam berkokok, juga takut dengan suara mercon/petasan.

Penulis : Pdt Johny Rompas (Manado)

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

11 thoughts on “Makna IMLEK Dalam Kekeristenan (Bagian II)”
  1. Saya tionghoa kristen,,tapi tetap menghormati budaya cina,,
    Tapi saya tidak lagi sembahyang leluhur atau melaksanakan ritual imlek lagi.
    Karena setiap orang yang mati,,rohnya kembali ke Tuhan,,
    Bagaimana manusia bisa tau,,yang diundang pulang itu, adalah roh leluhur,? Sedangkan mata manusia tidak bisa melihatnya,?
    Jika para leluhur berbuat baik dan benar,,dan rohnya diangkat ke surga,,jadi roh siapa yang disembahyangi,?
    Jika berbuat salah dan jatuh ke alam baka,,maka itu resiko perbuat manusia semasa hidupnya yang harus ditanggung,,
    Trus bagaimana cara manusia berkomunikasi dengan roh leluhur,,
    Dimana tempat roh leluhur itu berkumpul,?
    Yang ada juga setan iblis atau roh gentayangan,yang meniru sebagai leluhur kita,,
    Jika roh leluhur bisa makan,?, mungkin sumber makanan yang ada di dunia ini,tidak cukup untuk mereka makan,,,
    Apakah manusia bisa seperti Tuhan,memanggil roh atau arwah,?.

    1. 1. Karena setiap orang yang mati, rohnya kembali ke Tuhan : Saudara tahu darimana, roh setiap orang yg meninggal DIPASTIKAN kembali kepada Tuhan? Tidak nyasar ditempat lain?

      2. Bagaimana manusia bisa tau, yang diundang pulang itu, adalah roh leluhur? Sedangkan mata manusia tidak bisa melihatnya? : Benar, mata manusia AWAM memang tidak bisa melihatnya. Ini hanya orang2 tertentu saja yg bisa. Jangan Saudara samakan BAKAT/KARUNIA bawaan Saudara yg cetek dengan orang lain yg dikaruniai secara khusus. Bahkan pada satu firman Tuhan, KIRA-KIRA dikatakan, “Berbahagialah yg tidak melihat namun percaya”. Bagaimana Saudara bisa percaya bahwa Tuhan itu ada? Apakah Saudara sudah membuktikannya sendiri? Berdasarkan apa?

      3. Jika para leluhur berbuat baik dan benar, dan rohnya diangkat ke surga, jadi roh siapa yang disembahyangi? : Orang2 yang sudah mati, tidak bisa lagi berbuat apa2. Kecuali dia menitis kembali menjadi manusia.

      4. Jika berbuat salah dan jatuh ke alam baka, maka itu resiko perbuat manusia semasa hidupnya yang harus ditanggung : Apakah saudara sudah pernah berkunjung ke alam baka? Seperti apakah keadaan disana? Apakah Saudara pernah berpikir, kenapa di dunia ini ada yg lahir kaya sejak orok, ada yg lahir miskin sejak orok, ada yg terlahir cacat, ada yg sudah jago dalam bidang tertentu (atau cepat belajarnya), dsb? Apakah itu semua kehendak Tuhan? Kalau semua kehendak Tuhan, lalu untuk apa manusia diciptakan?

      5. Terus bagaimana cara manusia berkomunikasi dengan roh leluhur, Dimana tempat roh leluhur itu berkumpul? : Dalam ajaran Taoisme, ada suatu tempat, ketika roh2 “menunggu antrian” untuk menitis kembali, namanya YAN CHENG GONG. Sementara untuk berkomunikasi dengan roh leluhur, selama rohnya belum reinkarnasi, ada suatu upacara ritual yg dinamakan LIEN HUN DU JIE untuk memanggilnya.

      6. Yang ada juga setan iblis atau roh gentayangan, yang meniru sebagai leluhur kita : Benar. Makanya ini hanya bisa dilihat orang orang2 yg mempunyai kemampuan khusus. Bukan orang2 awam seperti Saudara, saking awamnya, hanya bisa percaya buta pada omongan orang lain, tanpa bisa membuktikannya sendiri.

      7. Jika roh leluhur bisa makan? mungkin sumber makanan yang ada di dunia ini, tidak cukup untuk mereka makan : Roh orang meninggal TIDAK BISA MAKAN makanan seperti manusia. “Sesajian” yg Saudara lihat di acara2 seperti Cengbeng itu adalah sebagai bentuk penghormatan dan tanda bakti saja kepada leluhur. Bukan beneran dimakan.

      8. Apakah manusia bisa seperti Tuhan, memanggil roh atau arwah? : Sudah dikatakan diatas.

      SARAN saya bagi Saudara, kalau main, jauhan dikit. Jangan cuma di lingkup agamanya, lantas mencela kepercayaan lain! Nanti hanya akan jadi katak dalam tempurung.
      Beragama, bukan berarti MENINGGALKAN tradisi & kebudayaan sendiri. Yg lebih parah, mencela tradisi & kebudaaan sendiri!
      Saudara harus tahu, Saudara memiliki leluhur/nenek moyang yg sudah ada lebih dahulu. Meragukan, atau bahkan mencela keyakinan seperti ini, sama saja menganggap leluhur/nenek moyang Saudara itu “b*doh”.

      Semoga bisa tercerahkan …

  2. Imlek adalah budaya, jika imlek bertujuan untuk menghormati orangtua dan leluhur dalam kristen itu diperbolehkan. Termasuk ketika memberi hormat kepada orangtua baik yg masih hidup maupun yg sudah meninggal dalam hal ini abu leluhur. Saya cukup terkejut jika ada tuduhan-tuduhan agama kristen larang-larang hormat orangtua, katanya sembayang roh leluhur sama dengan sembayang kepada setan? Itu ajaran kristen darimana? Ayat di Alkitab mana? Tuduhan-tuduhan ini sangat menyakitkan bagi saya yg mengetahui isi Alkitab, sedangkan di ajaran Kristen itu mengakui kehidupan setelah kematian. Jadi manusia yg mati, rohnya akan tetap hidup baik di sorga & neraka. Jika kita ingat orangtua leluhur silahkan saja doakan sembayang dengan dupa ala tionghoa. Itu adalah bukti hormat & tanda bakti manusia kepada pendahulunya. Dalam Alkitab orang-orang yg manfaatkan agama untuk cari duit ada di II Timotius 3 ayat 2, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama. Kristen telah di fitnah, mereka juga tidak peduli kepada orang tua leluhur, mereka membual atas nama ajaran Kristen yg di modifikasi untuk dapatkan perpuluhan setiap bulan dari jemaat. Ini adalah fakta, ajaran kristen di fitnah habis-habisan.

    1. FAKTA bahwa agama K telah difitnah habis-habisan itu urusan internal organisasi keagamaan kalian. Namun FAKTA dilapangan berkata, itulah yang sebenarnya.

  3. kristen berpendapat, hari raya imlek adalah hari raya budaya/tradisi tionghoa. budaya/tradisi nya dilaksanakan gak? pengen enak rayain imlek, tapi ga mau jalanin budaya/tradisi nya. contoh budaya tionghoa, malam imlek itu pasang hio sembayang ke Thian Ti Kong, pasang hu di rumah dst. contoh tradisi, malam imlek kumpul makan semua keluarga, pai kui di depan orang tua yg msh hidup, dan pai hio + paikui di depan altar leluhur. kalo sebut budaya, kok cuma separo dipilihin yg enaknya doang?
    kristen bilang pai hio, pai kui depan altar leluhur adalah memuja setan. ooohhh, berarti keturunan leluhur tersebut, setan donk…

    1. Baca yang jelas bro, ad tradisi yang kita msh bisa laksanakan ..

      kalau yang menyangkut dgn sembahyang leluhur/keturunan itu memang sudah tidak diIzinkan karena dalam ajaran Alkitab orang yg sudah meninggal itu berurusan langsung dengan Tuhan dan tidak dapat kita panggil lagi. Kalau soal sembahyang ke Thian itu ajaran konghucu, kita melaksanakannya dengan berdoa sesuai kepercayaan kita ..

      1. Dibagian mana tradisi yang masih bisa sdr. Aldi laksanakan?
        Apakah dibagian “nerima angpao” apa di bagian “makan-makannya” saja?

        Imlek itu bukan hanya sekedar pesta pora, atau asal kumpul bareng sama keluarga pas hari H nya. Sebagian dari makna Imlek, salah satunya adalah kembali mengingat leluhur yang telah lebih dulu meninggalkan kita. Dalam hal ini dilaksanakan persembahyangan menjelang H-1.

        Akuilah Bapakmu sebagai bapakmu, jangan bapak orang lain sebagai Bapakmu“…

  4. Janganlah fanatik berlebihan dan lupa asal usul sendiri yg akhirnya tidak tau sejarah dan cuman mengagungkan budaya asing.pepatah mengatakan jgn lupa kacang pada kulitnya.

  5. Ini artikel bagus. Semoga bisa mencerahkan bagi yang beragama nasrani agar tidak terlalu fanatik dengan ajaran pendeta kalian.

    Saya tidak bilang ajaran agama kalian, karena kebanyakan sudah disalah tafsirkan oleh pendeta-pendeta kalian sehingga terkesan bahwa agama nasrani itu keras dan tidak fleksibel serta terikat banyak aturan gerejawi dan kitab suci.

  6. Hahahahaha….. seberapa dalam pengetahuan anda tentang Kekristenan? dan denominasi mana yang anda maksud? Jangan lupa belajar sejarah mengenai imlek, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!