Last Updated on 15 October 2020 by Herman Tan

Dalam kepercayaan Tiongkok kuno, ada Dewa yang bernama Yue Lao (月下老人; Yue Xia Lao Ren), atau disebut juga Yin Yan Lao Ren (姻緣老人), atau Yue Leo Gong (月老公). Beliau adalah Dewa yang bertugas untuk mengatur jodoh para umat manusia di bumi ini.

Berbeda dengan profil dewa asmara versi Romawi, yaitu si Cupid, malaikat kecil yang suka memanah sepasang hati manusia untuk saling jatuh cinta, profil Yue Lao digambarkan sebagai seorang laki-laki tua berwajah lembut dan berjenggot putih.

Menurut catatan sejarah, pemujaan terhadap Yue Xia Lao Ren dimulai pada jaman Dinasti Tang (618-907). Beliau bertugas untuk menentukan jodoh manusia, karena itu diketahui sering turun ke dunia dan gemar mengikat simpul benang merah diantara kaki dua anak manusia (pria dan wanita).

Tentunya benangnya tidak dapat terlihat oleh mata manusia awam seperti kita 🙂

Ada sebuah kisah, dimana suatu hari ada seorang pemuda berusia 20 tahunan yang sifatnya suka usil, berusaha menggoda seorang gadis kecil berusia 5 tahunan dengan melempar sebutir batu kerikil ke arah gadis kecil tersebut. Kasihan, si gadis kecil tadi berlari dan menangis karena dahinya terluka dan mengeluarkan darah.

Pada saat itu, muncul seorang lelaki tua berjenggot putih, menegur si pemuda tadi atas perbuatannya yang tidak terpuji. Beliau menegurnya, dan mengatakan bahwa kenapa dia tega menyakiti sang “calon istri”, karena salah satu kakinya ternyata sudah telah terikat benang merah dengan salah satu kaki si gadis kecil.

Kisah Dewa Jodoh Yue Lao, yang menyatukan orang2 untuk berpasangan (ilustrasi : Nie Tjingwen)

Mendengar hal ini, si pemuda tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hai Pak Tua, anda ini ngomong sembarangan dan ngawur! Mana mungkin anak kecil itu merupakan jodohku? Bukankah ia hanya seorang anak kecil, dan tidak memiliki hubungan apapun denganku!”

Laki-laki tua tadi yang sesungguhnya merupakan Dewa Yue Lao hanya tersenyum dan pergi meninggalkannya sendirian. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, si pemuda tadi telah berhasil menjadi seorang pejabat menengah, dan cukup terpandang di saat usianya sudah mulai matang.

Suatu hari dia mengumumkan akan mengadakan sebuah pesta pernikahan besar-besaran. Dia akan menikahi seorang gadis muda yang cantik jelita, yang berhasil didapatkannya.

Setelah pesta yang meriah itu usai, di dalam kamar pengantin sang mempelai pria perlahan2 mulai membuka kerudung merah yang menutupi wajah rupawan sang mempelai wanita.

Betapa heran dan terkejutnya dia, setelah melihat ada tanda bekas luka di dahi sang istri. Dia bertanya kepada istrinya, “Dindaku sayang, bagaimana ceritanya sampai bisa ada bekas luka di dahimu, siapa yang telah begitu kejam dan tega menyakitimu seperti ini, coba utarakanlah padaku? Aku akan membuat perhitungan dengan bajingan itu!”

Sang istripun menjawab, “Kakanda sayang, belasan tahun yang lalu, waktu aku masih kanak2, ada seorang pemuda brengsek dan usil yang dengan sengaja melemparkan batu ke arahku, sehingga dahiku terluka dan meninggalkan bekas luka hingga kini!”

Seketika itu juga sang suami tersentak dan ingatannya kembali ke masa lalunya. Dia percaya bahwa teguran Yue Lao ternyata bukan sekedar isapan jempol belaka.

Patung Dewa jodoh Yue Lao di ‘Repulse Bay’ Hongkong, yang membelakangi pantai berpasir putih nan indah.

Adapula cerita versi lain yang hampir mirip diatas. Dikisahkan pada tahun Zhenguan ke-2 (628 M; jaman Dinasti Tang), ada seorang sarjanawan yang bernama Wei Gu (韋固), yang dalam perjalanannya tiba di Kota Songcheng (宋城) untuk memperdalam ilmu kesusastraan-nya.

Suatu ketika dia menjumpai seorang pak tua sedang duduk membaca buku. Di bawah pencahayaan sinar bulan purnama, tulisan2 dalam buku itu terlihat aneh, dan belum pernah dia lihat sebelumnya.

Ketika Wei Gu menanyakan siapa sesungguhnya dia, pak tua menjawab bahwa Ia bukan berasal dari dunia manusia, dan tugasnya adalah menyatukan jodoh antara pria dan wanita di dunia. Sedangkan buku yang dibawanya adalah buku yang mencatat tentang perjodohan2 itu.

Lalu si tua mengeluarkan seutas benang merah sambil berkata “Pria dan wanita yang kakinya telah kuikat dengan benang ini, akan menjadi pasangan suami istri selamanya.”

Wei Gu pun penasaran, lalu mencoba untuk menanyakan siapa calon istrinya kelak, dan dimana dia sekarang berada, Lalu pak tua itu menjawab, bahwa calon istrinya saat ini masih berusia 3 tahun, dan mereka akan menikah 14 tahun kemudian, lalu berkata “Kalau kau ingin melihat calon Istrimu,  ikutlah denganku sekarang”, kata pak tua.

Mereka kemudian berjalan bersama ke dalam kota dan memasuki sebuah pasar. Di sana mereka menjumpai seorang wanita yang matanya telah buta sebelah, sementara menjual sayuran sambil menggendong seorang anak perempuan yang berusia 3 tahun.

Melihat itu, Wei Gu tiba2 naik pitam. Betapa tidak. Ia yang berasal dari keluarga berada dan terpelajar, bagaimana bisa berjodoh dengan seorang anak penjual sayur yang miskin, lalu berkata “Kalau memang dia calon istri-ku, akan kubunuh dia sekarang”, katanya.

Kisah Dewa Jodoh Yue Lao, yang menyatukan orang2 untuk berpasangan (ilustrasi : Nie Tjingwen)

Pak tua kemudian melarangnya dan berkata, “Semua ini telah ditentukan oleh takdir. Anda tidak akan berhasil membunuhnya”. Wei Gu pun bergegas meninggalkan lokasi, dan mencari penginapan. Sesampainya di penginapan, dia mengupah seseorang di kota itu untuk menghabisi nyawa anak perempuan penjual sayuran yang ditemuinya tadi di pasar.

Karena tergiur akan bayaran yang dijanjikan, sang abdi pun bergegas melakukan untuk melakukan perintah tuannya, dan segera pergi ke pasar yang dimaksud. Ditengah kerumuman orang, dia berhasil menusuk bocah perempuan itu dengan sebilah pisau. tapi karena takut dihakimi massa, dia segera berbegas meninggalkan lokasi.

Jadi hidup atau mati-nya si bocah perempuan tadi, ia sendiri tidak dapat memastikannya. Dia pun pulang melapor, dan mengambil bagiannya. Tapi dalam hatinya, Wei Gu merasakan penyesalan atas perbuatannya. Untuk melupakan peristiwa itu sesegera mungkin, ia lalu bergegas meninggalkan Kota Songcheng.

Setelah itu, Wei Gu pun melanjutkan petualangannya ke berbagai kota. Selama perjalanannya, tidak sedikit gadis cantik yang telah ditemuinya. Namun setelah beberapa kali berusaha meminang gadis cantik dari keluarga terkemuka, Wei Gu ditolak.

Sampai suatu hari, Wei Gu akhirnya berhasil memperoleh jabatan (pemerintahan) di Kota Xiangzhou (香洲), Guangdong. Ketika itu, dia telah berusia 30-an tahun dan tetap membujang. Gubernur Xiangzhou yang kala itu adalah atasannya, mempunyai seorang putri yang cantik. Ia terkesan akan pribadi Wei Gu, dan bermaksud untuk menjodohkan putrinya itu.

Mendengar hal ini, Wei Gu pun girangnya bukan main dan menerimanya; karena calon istri-nya ini tidak saja cantik, tetapi juga berasal dari keluarga pejabat tinggi.

Singkatnya, setelah beberapa hari menikah, Wei Gu merasa heran sebab istrinya tidak pernah melepaskan kain penutup di pundaknya. Ketika didesak, akhirnya sang istri mengaku bahwa ia berusaha menyembunyikan bekas luka yang ada di pundaknya tersebut.

Istrinya pun akhirnya membuka identitasnya, dimana dia sesungguhnya ia adalah putri seorang wedana (pembantu pimpinan wilayah setingkat kabupaten) di Kota Songcheng.

Sewaktu berusia 3 tahun, Ayahnya meninggal, dan Ibunya menyusul tak lama kemudian. Dia kemudian dirawat oleh ibu susunya (pengasuh). Untuk mengisi kegiatan, ibu susunya berjualan sayur di pasar.

Pada waktu sedang menemani pengasuhnya berjualan di pasar, seorang lelaki tiba2 berusaha untuk menusuknya. Tetapi untungnya dia selamat, dan hanya bagian pundaknya saja yang terluka. Setelah kedua orang tuanya meninggal, pamannya yang sekarang menjadi Gubernur Xiangzhou mengambilnya dan mengasuhnya sebagai anak sendiri.

Mendengar kisah yang dituturkan istrinya, Wei Gu pun terperanjat kaget. Roman mukanya berubah. Ketika ditanyakan apakah ibu susunya yang berjualan sayur di pasar itu sebelah matanya buta, sang Istri meng-iyakan.

Begitupun juga ketika dicocokkan dengan tanggal peristiwa itu terjadi, dan ternyata sama! Tak terelakkan lagi, bahwa istrinya ini ternyata adalah bocah perempuan yang pernah ingin dibunuhnya 14 tahun silam, di pasar sayur kota Songcheng.

Dalam penyesalannya, Wei Gu pun lalu menceritakan kisahnya, mulai dari pertemuannya dengan seorang pak tua aneh di suatu malam di kota tersebut. Sampai ia menyewa seseorang untuk membunuh bocah perempuan, yang dikiranya seorang anak penjual sayur bermata satu, yang sekarang telah menjadi istrinya.

Dia sekarang baru yakin, bahwa pak tua itu ternyata adalah seorang Dewa ,yang telah merangkai jodoh mereka. Malam itu juga, dia bersama istrinya lalu mengadakan sembahyang di halaman rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada pak tua, yang ternyata adalah Dewa Yue Lao.

Altar persembahyangan terhadap Dewa Yue Lao.

Kisah ini kemudian menyebar, dan diturunkan dari jaman ke jaman. Yue Xia Lao Ren (月下老人) kemudian dipuja sebagai Dewa yang mengatur perjodohan umat manusia. Pemujaan-Nya kemudian tersebar luas ke seantero Negeri.

Di Tiongkok, hampir di tiap kota terdapat kelenteng yang secara khusus memuja Dewa Yue Lao Gong (月老公) ini. Salah satunya yang terkenal adalah yang terdapat di Kota Hangzhou, Zhejiang. Sementara di Taiwan, kelenteng pemujaan Yue Lao Gong yang paling terkenal adalah di Guan Yin Ding, tepatnya di Kelenteng Tian Hou Gong, Tainan.

Dewa Yue Lao disebut juga Yin Yan Lao Ren (姻緣老人) atau disebut juga Yin Yan Gong (姻緣公). Beliau secara khusus mengurus sebuah buku yang memuat perjodohan. Pria dan wanita yang telah tercatat dalam “buku jodoh” itu boleh menjadi suami istri di dunia.

Ini adalah sebuah cerita rakyat yang disampaikan dari generasi ke generasi hingga kini. Bagi yang ingin tahu wajah Yue Lao, bisa melihatnya di ‘Repulse Bay’ Hongkong, yang membelakangi pantai berpasir putih nan indah.

Pada masa kini, bagi pria dan wanita yang masih jomblo ngenes single bisa bersembahyang di depan altar Yue Lao untuk meminta jodoh. Demikian pun bagi yang sudah berpacaran (relationship), juga bisa bersembahyang di altar-Nya, agar diberikan jalan yang baik hingga bisa langgeng sampai ke tahap pernikahan.

“Sementara bagi pasangan yang akan menikah, mereka dianjurkan untuk bersembahyang di depan altar Yue Lao sambil membawa kain merah, agar Yue Lao bisa segera mengikat jodoh mereka.”

Dewa Jodoh Yue Lao (月下老人; Yue Xia Lao Ren).

Konon ada satu kepercayaan, kalau asap hio yang di tancapkan oleh pasangan muda-mudi di depan altar Yue Lao bersatu dan naik membumbung bersama, maka pasangan ini memperoleh restu dari Dewa Yue Lao untuk menjadi suami-istri.

Namun apabila asap hio tersebut berpencar ke segala arah laiknya terkena angin, maka hubungan mereka tidak boleh berlanjut, karena diyakini akan berakhir dengan sia-sia.

Hari kebesaran Dewa Yue Lao diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek, yang juga merupakan hari festival kue bulan (Mid Autumn Fest).

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO