Last Updated on 17 April 2021 by Herman Tan

Sebelumnya kita telah membaca bagian pengantar atau selayang pandang untuk kisah Teratai Emas (Jin Ping Mei).

Diceritakan sebelumnya bahwa alur cerita dimulai dari sepenggal kisah di dalam Batas Air di mana Hsimen menggoda Pan Jinlian dan berkomplot membunuh Wu Ta suami Pan Jinlian. Cerita kemudian meneruskan penggambarkan kehidupan pribadi Hsimen sampai akhirnya bermasalah dengan Wu Song adik Wu Ta.

Hsimen mengangkat saudara dengan 9 orang bergajulan.
Wu Sung bertemu istri kakak nya.

Cerita ini terjadi pada jaman Sung, dibawah pemerintahan Kaisar Hui Tsung. Ketika itu hiduplah di Schantung di keresidenan Tschinghohsian seorang pria bernama Hsimen. Seorang lelaki gagah, penuh gairah kehidupan, berumur 30 tahun yang hidup berlimpah.

Ayah nya almarmum adalah seorang pedagang rempah2 di propinsi Setschuan dan Kwangtung, sangat berhasil dalam perdagangan narkotika dan obat2-an, terakhir memiliki toko obat di Tsinghohsian.

Rumah Hsimen terdiri dari 5 bangunan di bagian depan dan 7 bangunan di bagian belakang; memiliki banyak pelayan, Istal2 yang dipenuhi kuda2 dan keledai2 terawat. Walaupun belum dapat terhitung yang paling kaya, tapi termasuk orang yang berharta besar disekitar keresidenan.

Sejak remaja, sebagai anak tunggal, hidup dimanja, sudah terbiasa hidup bebas dan tidak menyukai buku.Terutama setelah kematian orang tua nya, hidup nya hanya untuk mengejar kesenangan. Ilmu silat, pedang, kartu, dan dadu, catur serta teka teki adalahh kebisaan satu2 nya yang dikuasai.

Sekumpulan lelaki bergajulan yang terdiri dari 9 orang selalu mengiringi berpesta pora. Ying Pokue merupakan salah satu dari 9 brandal yang paling akrab. Ia adalah seorang pedagang kain sutra yang bangkrut, yang menghidupi diri sebagai pemasok barang segar untuk kebutuhan kamar tidur para Mandarin (Pejabat tinggi) di kota. Ia mengerti sedikit tentang catur, bola dan dadu.

Dan ada lagi seorang yang bernama Hsia Hsita, ia adalah keponakan seorang Komandan kota Tsinghohsian terdahulu. Setelah kematian orang tua nya, ia mejalani kehidupan dunia preman, dan tertutuplah sudah kesempatan untuk menjadi pegawai negri. Ia mempunyai kepandaian yang cukup lumayan dalam hal seni alat musik, dan disukai di lingkungan Hsimen.

Ke tujuh lain nya adalah Tschu Schinian, Sun Tianhua, Yun Lischow, Tschan Schikia, Pu Schitao, Pai Laykwang dan Wu Tianen. Yang terakhir dulu nya adalah seorang ahli Fengshui (topografi) di keresidenan, setelah dicopot dari jabatan ia mencari nafkah sebagai calo peminjaman uang.

Dari situlah ia berkenalan dengan Hsimen yang juga sering berperan sebagai bank peminjaman uang. Hsimen sangat cocok dengan 9 orang ini dan selalu menggunakan untuk kepentingan antara lain minum2, judi dan pelacuran.

Hsimen cukup pandai dalam bidang bisnis, berpengaruh selain di lingkupan pegawai negri, juga sampai para koruptor tingkat tinggi , yang dikenal sebagai “Empat besar penjahat negara”. Yang dimaksud tentu saja adalah Kanselir Tsai king, Marshal Yang kian dan dua Kepala Kasim Kaosui dan Tungkwan. Jadi tidak aneh, bila ia dimana mana sangat disegani, sehingga banyak keputusan tergantung dari ucapan nya.

Dari istri pertama, Hsimen mempunyai seorang anak gadis yang belum menikah, tapi sudah bertunangan. Perkawinannya yang kedua, ia menikah dengan “Perawan bulan” , yang berumur 25 tahun, putri seorang Komandan kota bernama Wu. “Perawan bulan” atau yang setelah menikah biasa disebut “Nyonya bulan” adalah seorang istri yang baik, sangat pengertian, pandai mengenali sifat si suami yang beragam.

Selain itu, tinggal juga dirumah itu 2 orang gundik, Li Kiao’rl si kurus dan si penyakitan Tscho Tiu’rl, kedua nya dulu adalah favorit Hsimen di rumah pelesiran. Di antara para gadis pelayan dirumah itu, ada 3 atau 4 gadis cantik yang sesekali digunakan untuk pelampiasan hasratnya.

Tapi semua itu tidak cukup, untuk memenuhi hasrat yang besar, ia sering memikat dan bermain dengan istri dan anak gadis orang.

“Hari ini tanggal ke 25 bulan ke 9” ia berkata suatu hari kepada istri nya, “tanggal 3 bulan depan seperti biasa aku akan mengadakan pertemuan tahunan dengan 9 teman2 ku. Tolong siapkan, bahwa kita nanti disini bisa mengadakan pesta makan minum. Panggil juga beberapa gadis penyanyi.”

“Aku malas berurusan dengan orang2 itu!, jawab Nyonya Bulan ketus.

“Mereka bukan manusia. Mereka melebihi setan yang dilepaskan dari neraka untuk mencari mangsa, apakah benar2 kau ingin mengundang mereka kerumah ini? Engkau harus sedikit peka dengan istri ke 3 mu, ia kurang sehat belakangan ini!”

“Istriku, betapa ingin aku membenarkan kata2 mu, tapi dalam hal ini – tidak. Penilaian jelekmu terhadap kawan2 ku yang 7 orang itu mungkin tepat, tapi tidak untuk Ying dan Hsia. kedua orang itu adalah orang kepercayaan ku. Selain itu kali ini aku merencanakan sesuatu yang khusus dengan pertemuan ini. Hanya sekedar berkumpul dan bubaran sebenar nya tidak berarti apa2.

Tidak, kali ini kita akan merayakan sumpah pengangkatan saudara, supaya satu sama lain bisa saling mengandalkan.”

“Kedengaran nya sih bagus. tapi aku kawatir , bahwa nanti hanya mereka yang akan mengandalkan mu, sebalik nya mereka hanya berguna bagimu sebagai boneka.”

“Malah bagus begitu untuk ku, bila aku selalu berada di sisi yang bisa mereka andalkan”, jawab Hsimen sambil tersenyum. “Sudahlah, nanti akan kubicarakan dengan temanku Ying …”

“Paman Ying dan Paman Hsia tiba!” lapor Tai A’rl, seorang pelayan lelaki baru gede, bermata jernih dengan alis yang bagus.

Kemudian Hsimen menerima kedua teman itu di ruang tamu.

“Dimana saja kalian belakangan ini?”

“Oh, kemarin kami kerumah tante Li, disana kami bertemu keponakan perumpuan istri kedua mu. Ai, anak itu cepat sekali tumbuh, pasti akan berkembang menjadi gadis jelita! Ibu si gadis berpesan beberapa kali, agar dicarikan pemuda yang baik, untuk dinikahkan bila sudah tiba saatnya. Ia kawatir nanti dimangsa olehmu juga.”

“Begitu yah! Jadi nanti akan kulihat dengan mata kepalaku. Selain itu, kemana lagi kalian?”

“Ah, beberapa hari sebelum ini kami membantu janda Pu Tschitao, teman kita yang baru meninggal itu, bantu2 menyiapkan upacara perkabungan. Melalui kami Ia mengucapkan terimakasih untuk sumbangan perkabungan darimu, ia tidak berani mengundangmu ikut upacara kerumah yang sempit dan miskin.”

“Ya, siapa yang pernah berpikir, bahwa dengan si lelaki malang itu cepat berakhir! Belum lama ia memberikanku sebuah kipas Setschuan, dan baru saja aku akan memberikan hadiah pengganti. Ia sudah keburu meninggal, jadi hadiah pengantiku kepada nya dalam bentuk uang kertas untuk orang mati!”

“Tidak ada pilihan lain bagi kita, selain cepat2 menutup kekosongan ini, supaya kita jadi 10 lagi.” berkata Hsia sambil menggerutu.

“Beberapa hari lagi kita akan mengadakan pertemuan tahunan. Apakah kau akan mengadakan perjamuan, temanku Hsimen?”

“Baru saja aku berbicara dengan istriku. Kali ini aku telah memikirkan sesuatu yang agak luar biasa. Katakanlah, apakah selama ini pertemuan minum2 ini pernah bermanfaat bagi seseorang?

Aku usulkan, pertemuan kali ini kita adakan di sebuah Biara, dan ditutup dengan sembahyang sumpah pengangkatan saudara, supaya seumur hidup kita satu sama lain bisa saling mengandalkan. Tentu saja biaya pembelian kurban binatang masuk ke rekeningku, kalian boleh ikut menyumbang untuk biaya lain2. Bagaimana pendapat kalian mengenai usulku?”

“Ayo, setiap orang membantu sebagian!” Sela Ying cepat2. “Tapi , jangan lupa, disamping mu, kami semua ini, bagaikan ekor tikus yang tak berarti.”

“Siapa yang minta dari kalian?” jawab Hsimen sambil tertawa.

“Usulmu bagus sekali”, kata Hsia ikut angkat bicara. “Tapi siapakah calon pengganti teman kita Pu Tschitao yang meninggal? Ikatan persudaraan kita harus lengkap.”

Hsimen berpikir setarikan nafas. “Bagaimana dengan pemuda Hua? Tanah keluarga kami nempel satu sama lain, hanya terpisah oleh selapis tembok. Selain itu, ia mempunyai tangan yang terbuka. Aku sering berhubungan dengan dia.”

“Maksudmu Hua Tsehui? pelanggan tetap si mungil Wu Yi’rl?”, tanya Ying dengan bernafsu.

“Ya, día”

“Ai, suruh orang cepat2 jemput. dengan orang ini kita bisa sering2 pesta besar.”

“Dasar, tukang mengambil keuntungan! Hanya makan yang di ingat!”, kata Hsimen sambil tertawa terbahak bahak.

Kemudian ia memanggil pelayan laki2 Tai A’rl, dan mengutus ke rumah sebelah.

“Dimana kita akan mengadakan pertemuan pada tanggal 3 nanti, disini atau di Biara?”, tanya Ying ingin tahu.

“Kita mempunyai dua pilihan, antara biara Budha dan kuil Tao”, kata Hsia. “Di biara Yung Fuse atau di kuil Yua Huangmiao”.

“Dengan agama Budha, apa yang akan kita kerjakan, sama sekali tidak ada urusan”, Hsimen memutuskan, “Aku juga tidak kenal dengan kepala Biara Yung Fuse, sebaliknya aku kenal baik dengan pendeta kepala Wu di biara Yua Huangmiao”. Aku usulkan untuk memilih kuil Tao yang besar dan letak agak jauh.”

Pembircaraan mereka terhenti dengan kedatangan pemuda tanggung Tai A’rl.

Tuan Hua sedang tidak ada dirumah”, melapor kepada majikan nya.

“Aku telah meninggalkan pesan pada istrinya, tapi kelihatan nya ia tidak terlalu senang, meskipun begitu ia mengirimkan salam untukmu, dan mengatakan bahwa suami nya tak akan dapat menolak undanganmu, dan ia tak akan lupa mengingatkan suaminya agar tepat hadir pada tanggal 3 bulan depan. Bahkan ia juga memberikanku sepotong kue untuk dimakan dijalan.”

“Seorang Nyonya yang baik dan penuh pengertian”, berkata Hsimen perlahan.

Mereka masih meminum secangkir Teh, sebelum kedua tamu nya memohon diri.

“Kami akan mengabarkan ke 6 orang teman2 yang lain”, janji mereka ketika akan berjalan pulang, “dan mengumpulkan dana, dan kau Hsimen saudaraku, apakah kau akan membicarakan dengan pendeta Wu?.”

“Tentu saja”

“Dan urus sekalian, supaya ada beberapa gadis penyanyi!”

Sambil tertawa riang kedua orang itu berjalan keluar.

Pagi hari keesokan hari.

Hsimen sedang berada di kamar tidur istri utama. lalu datang seorang kurir muda utusan dari rumah tetangga sebelah. Ia membawa sebuah kotak hadiah yang indah berkilat dengan lukisan tinta emas. Majikanku merasa menyesal, karena tidak dapat menerima langsung pesan Tuan.

Ia akan datang tepat waktu pada tgl 3, dan sekalian mengirimkan sedikit sumbangan biaya untuk acara nanti, bila nanti masih kurang akan ditambah lagi.

Hsimen menerima kotak hadiah. membaca surat pengantar, disitu tertulis: “Didalam kotak ada 1 ons perak untuk sumbangan biaya”

“Cukup”, kata Hsimen, “Tidak usah tambah lagi, katakan pada tuanmu agar besok lusa tepat waktu kesini”. Dan sampaikan salamku pada majikan perempuanmu”, menambahkan nyonya Bulan. “Aku harap dalam beberapa hari mendatang ia bisa mampir kesini dan berbincang bincang.”

Ia memanggil pelayan perumpuan yang bernama “Seruling Jade” agar mengambilkan kue hangat untuk si kurir. Si kurir memberi hormat dengan menyembah dan permisi pulang.

Baru saja ia pergi, langsung datang kurir kedua dari rumah Ying juga membawa satu kotak hadiah di tangan.

“Atas perintah majikanku aku membawa uang sumbangan yang sudah dikumpulkan”.

Hsimen melirik sekilas pada isi kotak, yang terdiri dari 8 paket dan langsung menyerahkan pada istrinya. Ia menyilahkan si kurir pulang dan ia pun pergi menemui istri ketiga.

Bersambung ke Bab 2

Karya: Lanling Xiaoxiao Sheng
Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana

By Aldi The

Penerjemah novel, salah satunya adalah Jinpingmei (金瓶梅; Jin Ping Mei; The Golden Lotus). Tinggal di Berlin, Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: eitss, mau apa nih?