Karakter Sung Hi, yang bermakna Kebahagiaan Ganda kepada pasangan pengantin

Last Updated on 14 July 2020 by Herman Tan

Kita sering melihat sebuah karakter Hanzi yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pesta pernikahan. Karakter  (xǐ) juga biasanya ada tertera di kertas Angpao yang akan diberikan kepada pasangan pengantin baru.

Contoh penggunaan karakter Suang Hi dalam undangan pernikahan orang Tionghoa
Contoh penggunaan karakter Suang Hi dalam undangan pernikahan orang Tionghoa

Karakter diatas biasa disebut ‘Sung Hie‘ atau ‘Suang Hi‘ (hanzi : 雙喜; pinyin : Shuāngxǐ) yang berarti Kebahagiaan Ganda (double joy). Ternyata terdapat asal usul sejarah dibalik penulisan huruf tersebut.

Baca juga : Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa

Sejarah Penulisan Karakter Suanghie

Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri.

Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.

Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai.

Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, “Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana”.

Setelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, “Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian”. Sang gadis mengangguk-angguk.

Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar.

Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda. Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi. Sang kaisar menulis: “Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman”.

Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar.

Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya.

Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar. Tidak lama kemudian mereka menikah.

Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda.

Sejak saat itu, tulisan “Sung Hie” yang berarti Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.

Pernikahan orang Tionghoa dimasa sekarang, sudah mengikuti konsep budaya barat, dimana untuk pasangan pengantin tidak wajib lagi dalam memakai baju/gaun berwarna merah.

Baca juga : Tradisi Tea Pai Dalam Rangkaian Pernikahan Adat Tionghoa

Perkembangan acara pernikahan orang Tionghoa di Indonesia

Di Indonesia sendiri, pernikahan yang berlangsung antara orang Tionghoa dengan orang pribumi (kawin campur) atau pun sesama orang Tionghoa pada umumnya sudah mengikuti konsep budaya luar. Dalam pernikahan, pemakaian baju merah-merah untuk pengantin laki-laki dan gaun untuk pengantin perempuan sudah tidak diwajibkan lagi.

Gaun/tata busana sudah menyesuaikan dengan budaya saat ini, yang lebih dominan berwarna putih-putih mengikuti corak pernikahan barat/universal.

Adapun pemakaian gaun merah sekarang hanya dipakai oleh saudara perempuan yang belum menikah (baik dari mempelai laki-laki atau perempuan) sebagai pendamping, sebagai tanda turut berbahagia; sementara untuk saudara laki-laki biasanya memakai jas hitam.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

61 thoughts on “Tradisi Pernikahan Tionghoa”
  1. Apakah benar adik kakak tapi laki dan perempuan. Boleh nikah di tahun yang sama? Dengar kabar boleh karena perempuan keluar. Apakah benar boleh? Makasih

  2. hallo ko, mau bertanya, apakah benar jarak umur pasangan kerap menjadi hal yang banyak dipermasalahkan pada kebudayaan adat Tionghoa?
    Keluarga Tionghoa akan menolak pernikahan pasangan yang memiliki jarak umur 3 tahun, 6 tahun dan 9 tahun.

    Bukan tanpa alasan, angka tersebut ternyata dianggap akan membawa kesialan pada pernikahan. Sebaliknya, orang China sangat mendukung pasangan dengan jarak umur 4 tahun untuk menikah sebab angka 4 dianggap menjadi simbol kekokohan terutama bagi pernikahan.
    ditunggu penjelasannya.
    Thank You

    1. Mitos saja. Hal2 seperti angka jarak umur pernikahan itu, saya pribadi anggap sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang.
      Justru jika anda menganggapnya terlalu serius, bisa TERSUGESTI terlebih dahulu. Jadi ketika esok2 kejadian, pikiran akan lari duluan ke angka2 tersebut, dan akan memperburuk pernikahan anda dgn pasangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?