Last Updated on 4 January 2021 by Herman Tan

Pembaharuan yang dilakukan Deng Xiaoping (1904-1997) pada era 1980-an benar-benar telah mengubah kehidupan banyak orang di Tiongkok. Pendiri Ali Baba, Jack Ma (马云, Ma Yun; 1964), merupakan salah satunya.

Perjalanan hidup salah satu orang terkaya di Tiongkok ini dimulai sejak organisasi Australia-Tiongkok mengirimkan perwakilan Australia ke Tiongkok daratan untuk melakukan survei di beberapa tempat, termasuk di kampung halamannnya Jack Ma, Hangzhou, Zhejiang.

A. Masa Kecil dan Awal Pertemuan Dengan Ken

Foto kiri : Jack Ma dan David. Foto kanan : Jack Ma dan Ken, ayah angkatnya asal Australia

♦ Seorang pria berkewarga-negaraan Australia yang bernama Ken beserta istrinya, Judy, dikirim oleh pemerintah Australia untuk menjadi utusan perwakilan Kedubes Australia di Tiongkok pada era 1980-an.

Di Australia, Ken adalah seorang pensiunan insinyur. Dalam perjalanannya ke Tiongkok, dia turut membawa ketiga anaknya, David, Steven dan Susan.

Suatu hari mereka melakukan survei di taman (danau) Xi Hu, Hangzhou. Disanalah David mendapatkan teman pertamanya di Tiongkok, Jack Ma, yang waktu itu sengaja mendatangi David untuk melatih bahasa Inggrisnya yang belum lancar.

♦ Waktu itu pemerintah Tiongkok baru mulai membuka diri kepada dunia luar, sehingga banyak masyarakat disana yang antusias untuk belajar bahasa asing, laiknya bahasa inggris. begitu juga dengan Jack Ma sendiri.

Di usia anak-anak, Jack Ma mulai belajar bahasa Inggris dengan seorang penerjemah bahasa Inggris di hotel internasional Hangzhou. Setelahnya, Jack kecil mengayuh sepeda sejauh 70 mil untuk menjadi seorang guide lokal selama 9 tahun bagi turis2 yang datang di daerah itu, untuk mengasah agar kemampuan berbahasa Inggrisnya semakin baik.

Sewaktu masuk universitas, Jack pun berjuang masuk kuliah. Ujian masuk universitas di Tiongkok sangat sulit, serta hanya diadakan sekali setahun. Jika gagal, Anda hanya bia mengikuti ujian di tahun depan. Jack Ma bahkan butuh 4 tahun untuk lulus di Hangzhou Teacher’s Institute (saat ini dikenal sebagai Hangzhou Normal University).

Beliau baru lulus di usianya yang ke-24 (tergolong lamban), tepatnya di tahun 1988, dengan gelar B.A dalam bahasa Inggris. Setelah lulus, Jack sempat menjadi pengajar Bahasa Inggris di jurusan Perdagangan Internasional, Universitas Dianzi Hangzhou.

Ada ujian bagi anak-anak muda untuk masuk ke universitas. Disana Aku pernah gagal 3 kali. Aku memang banyak gagal. Aku pernah mendaftar di 30 pekerjaan dan ditolak semua. Aku juga pernah melamar untuk menjadi polisi, dan dibilang kamu kurang bagus. Aku bahkan melamar ke restoran KFC ketika mereka pertama kali buka di kotaku (Hangzhou). Ada 24 orang yang melamar pekerjaan di sana, dan 23 orang diterima. Akulah satu-satunya yang gagal. – Jack Ma

Dengan kemampuan berbahasa inggrisnya yang masih pas-pasan, pemuda itupun memberanikan diri untuk berbicara dengan David. Sejak hari itu mereka pun menjadi teman, dan bertemu kala ada kesempatan di taman yang sama.

Beberapa bulan kemudian, Ken dan keluarganya pun harus kembali ke Australia. Meski begitu, hubungan pertemanan mereka tidak putus di sana. Mereka masih saling menulis surat. Demikian akhirnya David menjadi sahabat pena Jack Ma. Panggilan “Jack” sendiri diberikan oleh David, karena sebagai orang barat agak kesulitan untuk mengucap nama chinesenya (Ma Yun).

Baca Juga :  Inilah 6 Pelajaran Dari Jack Ma, Yang Saat Ini Lagi Usaha Sendiri Baca Nomor 5!

♦ Karena kedekatan mereka, seiring dengan berjalannya waktu Jack Ma bahkan menganggap Ken (ayah David) sebagai Ayah angkat.

Tampak surat Jack Ma yang sudah di perbaiki grammar nya oleh Ken. Dengan begitu surat dari Jack Ma ikut dikirim bersama surat balasan, agar Jack kecil bisa sekalian belajar.

Ken ternyata cukup menyukai sifat Jack Ma yang begitu tertarik dengan bahasa asing dan dunia luar. Lewat surat-surat balasan yang dikirimkan Jack Ma, Ken selalu memperbaiki semua grammar/tata bahasa inggris Jack Ma, sehingga ketika Jack Ma dapat balasan suratnya, dia juga bisa sekalian belajar.

B. Perjuangan Mengurus Visa Australia

♦ Mereka terus bertukar surat hingga 5 tahun. Pada tahun 1985, Jack Ma yang waktu itu berumur 21 tahun telah masuk sebagai mahasiswa Universitas Hangzhou, serta menjadi ketua dewan mahasiswa disana.

Tampak keakraban Jack muda dan Ken yang berfoto bersama sewaktu berkunjung ketika kembali ke Hangzhou tahun 1986.

Karena merasa kangen, di tahun yang sama Ken pun mengundang Jack Ma untuk datang pelesir ke Australia. Jack yang belum pernah sekalipun ke luar negeri merasa gembira, serta bertekad untuk membuat paspor dan visa pertamanya.

♦ Jack Ma pun segera mengurusnya di kantor imigrasi setempat dan tak lama kemudian mendapatkan paspor pertamanya. Namun ternyata perjuangannya untuk pergi ke Australia terhenti disitu, sebab visanya tidak kunjung keluar.

Meski sudah mendapat dukungan dari Ken (dalam pembuatan visa harus mencantumkan alamat tempat tinggal sementara serta tujuan kesana), Visa ke Australia waktu itu masih cukup sulit keluar. Berbeda dengan paspor yang dikeluarkan oleh Negara asal pemohon, visa dikeluarkan oleh negara tujuan yang akan didatangi oleh si pemohon, dimana pihak yang mengeluarkannya adalah pihak kedutaan besar negara yang berlokasi di Negara pemohon.

Kalau bukan karena alasan untuk (1) melanjutkan pendidikan, (2) bekerja disana, (3) kunjungan bisnis, (4) kunjungan dinas/diplomatik, atau (5) kunjungan anggota keluarga yang memilki pertalian darah; visa dengan alasan lain, misalnya untuk jalan-jalan/pelesir (bisa, asal dengan rombongan tur/travel, karena mereka sudah ada jalurnya), biasanya akan ditolak.

Pada satu kesempatan Jack Ma berfoto dengan Ken di ruang kerjanya.

Begitu pula yang dialami Jack Ma. Permohonan visanya bahkan sudah ditolak 7 kali oleh kedubes Australia di Tiongkok.

♦ Jack Ma sama sekali tidak menyerah demi mendapatkan visa kunjungan wisata perorangan ini. Untuk memudahkan transportasi (apabila sewaktu2 dipanggil, atau untuk sekadar mengecek), dia bahkan tinggal rela di basement dekat kantor kedutaan besar, serta hampir menghabiskan seluruh tabungan miliknya.

Demi melancarkan pengurusan visa Jack, Ken pun sampai meminta tolong lewat temannya, yang merupakan orang dalam di kedubes Australia, agar melaporkan kejadian ini ke pimpinan kedubes.

♦ Setelah dihubungi Ken, Jack muda pun pergi sekali lagi ke kantor kedutaan besar Australia, dan minta untuk bertemu langsung dengan penanggung jawab kantor kedubes tersebut. Dengan nada tinggi, Jack Ma pun berkata “Aku sudah tinggal di sekitar sini seminggu lebih, dan ini kesempatan terakhirku! Aku berharap aku bisa mendiskusikan hal ini kepadamu!”

Foto Jack Ma dengan latar belakang Gedung Opera Sydney, New South Wales.

Sontak penanggung jawab itupun kaget, dan bertanya-tanya apa yang membuat pemuda ini begitu kesal.

“Sebelumnya Aku sudah ditolak 7 kali, dan kali ini Aku sudah menunggu seminggu lebih sampai uangku habis! Aku tak mengapa disuruh pulang, tapi setidaknya jelaskan apa alasan penolakan visa ku sampai 7 kali!”

Baca Juga :  Revolusi Kebudayaan di China

♦ Penanggung jawab itupun membawa Jack ke ruangannya. Setelah agak tenang, Jack pun kemudian menceritakan kisah kedekatannya dengan keluarga Ken di Australia. Akhirnya si penanggung jawab itu berkata “Bisakah kamu tunggu 3 hari lagi?”

Namun Jack Ma dengan tegas menolaknya. Dia kemudian mengatakan hanya dapat menunggu 30 menit saja, karena sudah terlanjur kesal seolah dipermainkan. Melihat tekad yang kuat dari pemuda ini, penanggung jawab kedubes itu menjawab,”Kamu begitu ingin visa ini? Tunggu aku 5 menit!”

Jack Ma bersama Ken dan anak sulungnya, David, di kebun binatang New South Wales, Australia.

Diduga, penanggung jawab kedubes itu menggunakan “visa khusus”, dimana dialah yang menjadi penjamin bagi Jack Ma.

♦ Sesuai janjinya, tak lama visanya pun keluar. Jack Ma pun akhirnya bisa pergi ke Australia, tepatnya di kota New Castle, Negara bagian New South Wales. Selama 29 hari (hari ke 30 dia harus segera keluar dari Negara itu, atau bisa kena denda), dan mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan Negara asalnya, Tiongkok.

C. Pertama Kali Melihat Dunia Luar

Disana Jack muda belajar banyak hal, terutama bagaimana modernitas sebuah kota berkat kemajuan teknologi. Tidak lagi menjadi kata dalam tempurung, mata dan pemikirannya juga semakin terbuka.

Diapun berpikir, 10 tahun kemudian Tiongkok harus berubah menjadi seperti Australia, dan memiliki pandangan seperti orang2 Australia ini.

Jack muda yang begitu girang ketika pertama kali ke luar negeri. Tampak salah satu foto kebersamaan dengan Ken yang sudah dianggapnya sebagai ayah.

♦ Disana, dia juga menjumpai masyarakat perantauan & keturunan Tiongkok. Suatu hari sewaktu jalan2 di taman kota, dia melihat banyak orang yang mempraktekkan gerakan Taichi, olahraga kebugaran kesukaannya. Pada kesempatan itu, dia bahkan sempat mengajari seni Taichi kepada beberapa orang Australia di sebuah perumahan di New Castle.

♦ Tidak hanya soal pengalaman, Jack Ma pun banyak belajar bahasa inggris ala/aksen Australia. Setelah waktu berkunjungnya selesai, dia pun pulang tanpa tangan kosong. Budaya, pemikiran, dan pengetahuan masyarakat Australia telah dikantonginya. Demikian kedekatannya dengan keluarga Ken pun semakin meningkat.

Setahun kemudian, giliran Ken membawa Steven, anak keduanya, pergi mengujungi Jack Ma di Hangzhou. Zhejiang. Waktu itu Jack Ma masih belum memiliki tempat tinggal yang luas. Karena rasa hormat dan budinya pada keluarga ini, dia pun mengatur agar Ken, Steven, dan rombongannya agar bisa tinggal di asrama sekolah (untuk mahasiswa asing), dimana memiliki fasilitas dan akses transportasi yang lebih baik.

♦ Anak kedua Ken, Steven, masih ingat betul bagaimana mereka makan di rumah Jack Ma, lalu naik sepeda pergi ke asrama sekolahnya. Jack Ma benar-benar melayani kebutuhan mereka, laiknya keluarga dekat.

Tampak Jack muda bersama Judy dan Susan, Istri dan anak Ken.
Aksi Jack muda yang disaksikan Ken dan istrinya, Judy.
Aksi Jack muda pada satu ruangan bersama pemuda2 Australia.

Disitulah Ken merasa Jack Ma bukan hanya orang desa biasa. Berkat sifat rendah hatinya, suatu hari nanti, dia yakin Jack dia pasti akan sukses.

Sebelum Ken dan rombongan pulang, dia sempat melihat bagaimana stresnya pekerjaan dan tekanan ekonomi yang dialami Jack Ma waktu itu. Ken pun akhirnya berinisiatif untuk memberikan uang pada Jack Ma setiap semester, untuk membantu biaya kuliahnya. Selama 2 tahun setelahnya (hingga Jack lulus kuliah tahun 1988), Ken memberikan Jack Ma kurang lebih 2.000 RMB, atau sekitar 2 juta rupiah.

Baca Juga :  Ini 5 Keunggulan Tiongkok dari Amerika Serikat : Mau Perang Pun Tidak Masalah!

Di tahun2 itu, nominal tersebut cukup besar. Di Indonesia saja, harga 1 buku komik Kweeceng masih 50 rupiah 🙁

Semua pendiri kami (Alibaba) tidak berasal dari sekolah yang bagus, tapi kami semua percaya pada masa depan. – Jack Ma

Tentu saja, bantuan dari Ken sangat membantu Jack Ma dalam menghadapi masa-masa sulit perkuliahannya. Dalam hatinya, Jack Ma sangat berterima kasih dan terus mengingat budi baik dari Ken tersebut.

Jack Ma yang berfoto bersama pasangan orang tua angkatnya, ketika berkunjung ke rumah mereka di Australia tahun 1985.

D. Balas Budi Jack Ma Pada Ayah Angkatnya

Pada September 2004 lalu, Ken pun tutup usia di umur 78 tahun. Kedekatan bersama Ken selama 24 tahun ini membuat Jack Ma sangat sedih dan merasa kehilangan.

Jack selalu menganggap Ken sebagai ayah, guru, dan bahkan sebagai sahabatnya. Mereka juga pernah merencanakan untuk sama2 berlibur ke Siberia dengan menggunakan kereta api.

♦ David, anak sulung Ken yang hampir seumuran dengan Jack, datang mengunjungi Jack Ma setelah Ia menjadi orang terkenal di Tiongkok dan seluruh dunia.

Kedatangannya adalah untuk mewujudkan mimpi dari ayahnya, Ken, dan Jack Ma yang belum sempat terlaksana. David tahu, kini sangat sulit bagi Jack Ma untuk sekadar pergi berlibur seperti orang biasa lagi. Meski begitu, ia tetap berharap bisa menggantikan ayahnya untuk mewujudkan mimpi ini suatu saat nanti.

Menenggak bir bersama ayah angkatnya. Suatu momen yang tidak pernah dilupakan Jack Ma.

Kesalahan terbesarku adalah menciptakan perusahaan Alibaba. Aku tak pernah mengira ini akan mengubah hidupku. Awalnya Aku hanya coba melakukan bisnis kecil-kecilan. Namun kini bisnis itu tumbuh sedemikian besar dan tidak terkendali. Disana ada tanggung jawab dan masalah besar. Setiap hari Saya malah jadi sibuk seperti presiden. Dan kemudian aku kehilangan hidupku. Jika Aku punya kehidupan lagi, Aku tak akan pernah melakukan bisnis seperti ini lagi. Aku akan menjadi diriku sendiri, aku ingin menikmati hidupku.- Jack Ma

Pertemuan Jack Ma dan David, anak sulung Ken, sekaligus teman sebaya nya semasa kecil.

♦ Pada awal Februari 2017 , Jack Ma menyumbangkan uang sebesar $7,5 juta (sekitar 20 milliar dengan kurs saat itu) untuk Universitas New Castle Australia, sebagai balas budinya kepada ayah angkatnya, Ken. Dia berharap lewat sumbangannya ini, anak – anak yang mengalami hal yang sama dengannya dulu dapat menggunakan uang ini untuk melihat dunia luar dan membuka pandangan mereka.

Jack membawakan sambutan di Universitas New South Wales, 2007 silam.

David hadir mewakili keluarganya waktu itu. Dia bangga melihat bagaimana kebaikan ayahnya membuahkan hasil seseorang yang sangat luar biasa. Melihat apa yang dilakukan Jack Ma, David percaya bahwa ayahnya akan bangga melihat Jack, anak didiknya yang kini menjadi pahlawan dunia.

Menjadi diriku, adalah menjadi seorang yang kesepian dan bertanggungjawab kepada banyak orang. Tidak semua orang menginginkan hal ini. – Jack Ma

Kisah Jack Ma yang hampir tidak pernah diceritakan ini, berhasil mengubah banyak orang untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam mengejar ilmu pengetahuan (disadur dari : cerpen.co.id)

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!