Last Updated on 17 October 2022 by Herman Tan

Saya beberapa bulan yang lalu mengelilingi kota2 besar di Indonesia, seperti Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, sampai Manado karena tuntukan pekerjaan.

Sekalian saya ambil waktu sedikit buat jalan2 mengelilingi setiap kota yang saya kunjungi; tentu saja yang tidak akan saya lewatkan adalah berkunjung ke beberapa Kelenteng lokal.

Karena tidak menguasai lokasi, saya menggunakan jasa taksi. Miris memang, saya malah menemukan banyak Kelenteng yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan biokong (penjaga kelenteng) pun tidak ada, dan kadang hanya ditunggui oleh warga setempat.

Ini berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat Nasrani yang penuh sesak oleh etnis Tionghoa. Saya sendiri tinggal di Jakarta, sering mengamati banyak orang Tionghoa yang berbondong2 datang ke Gereja untuk sekedar mendengar khotbah/doktrin dari pendetanya.

Saya sering berpikir, apa alasan mereka untuk pindah Agama?

Lah, masa sih “Bapak” orang lain mau dianggap sebagai “Bapak” sendiri?

Populasi etnis Tionghoa yang masih memeluk kepercayaan asli leluhurnya terus menurun dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penambahan, hanya karena ikatan perkawinan yang mengharuskan untuk pindah kepercayaan, bukan keiklasan atau kesadaran.

Boleh dibilang masuk 1 keluar 10. Kalau begini, lama2 akan habis juga cepat atau lambat.

Salah satu penyebab utama yang dapat saya tangkap, adalah karena begitu banyaknya mitos, tahayul, tradisi, kebiasaan, dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa sendiri yang sulit dicerna oleh akal sehat.

Hal ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik domba gemuk yang siap disembelih umat2 berduit dari etnis Tionghoa, untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar, bertingkat2, dan bercabang2!

Mereka memberikan doktrin, bahwa kepercayaan dan agama Tionghoa itu penyembah berhala/setan, tidak logika, musyrik, sesat, dan lainnya. Hasilnya bisa di lihat, pemuda/i Tionghoa sekarang rata2 sudah pindah Agama bukan?

Sisa petua-petui yang sudah bau tanah berumur saja yang kebanyakan masih menjalankan tradisi/kebisaan leluhur secara penuh.

Tampak ornamen2 khas Tionghoa dalam sebuah gereja. Anda tahu maksudnya buat apa kan?

Baca juga : Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu!

Kalaupun mereka (muda/i) masih ikutan, itu karena terpaksa, atau karena tradisi itu dianggap masih menguntungkan mereka, seperti :

1. Tradisi Imlek : Bisa dapat angpao! Tentu harus ikut ini. Kalau engga, ya tidak dapat duit. Tapi hanya di sesi makan2 bersama saja. Sesi sembahyang H-1 sebelum Imlek engga ikut, karena harus sembahyang pegang dupa.

2. Tradisi Tea Pai : Sama kayak angpao. Engga mau ikut pai tea, jangan harap mau dapat angpao atau emas tebal2 dari keluarga! Tapi masih saja dikadalin. Mereka tidak mau malakukan soja (kui, berlutut) dengan alasan berhala (menyembah selain Tuhan).

3. Pernikahan ala Tionghoa : Yup. Biar dapat angpao banyak dari tamu, tinggal pasang karakter ๅ› di pelaminan. Karena Tionghoa identik dengan orang kaya dan eksklusif. Ini fakta di lapangan. Saya banyak menjumpai dan mendegar hal demikian. Jadi istilahnya pakai label Tionghoa gitu.

4. Makan Kue Bulan : Lumayan dapat makanan enak, kue bulan (kue pia) sekotak harganya 100-200 ribu (brand tertentu bahkan bisa diatas sejuta). Lumayan buat dipamerin ke teman.

Kalaupun mesti ke kelenteng, lumayan buat cuci mata, karena biasanya hari itu banyak cewek2 cantik atau cowok2 cakep Tionghoa yang memang kebetulan sembahyang ke kelenteng untuk minta/cari jodoh (referensi : baca cerita Dewa Yue Lao).

Sementara tradisi2 yang “merugikan” mereka, seperti :

1. Ziarah Ceng Beng : Capek mesti ke kubur. Mesti siapin makanan lagi, keluar duit kan? Sudah gitu harus pegang dupa lagi (karena menurut doktrin pendetanya agama barat, PANTANG memegang dupa! Mereka lupa kalau ada bule2 saja ada yang memegang dupa).

2. Sembahyang bulan 7 tanggal 15 : Sama! Mesti keluar duit juga, mending ikut doktrin agama, bahwa itu termasuk penyembahan berhala/setan. Padahal orang2 barat juga merayakan festival Hallowen setiap tanggal 31 Oktober.

3. Pergi sembahyang ke Kelenteng setiap hari sejid Dewa/Dewi : Ke tempat yang penuh asap, kusam, suasana mencekam, panas, mana mau? Belum lagi harus lihat potongan kepala babi di tengah altar kalau ada sembahyang besar?

Idih, jijik deh. Mana cuma datang, pai, pulang lagi (umat cung cung cep). Tidak ada ceramah, suntuk, mending bobok, atau mending ke gereja, adem, wangi. Atau ke mall2, ramai, penuh dengan teman2 sebaya. Siapa tahu dapat gabetan?

4.ย  Sembahyang Ce It dan Cap Go : Waduh harus nyiapin segala keperluan sembahyang di rumah. Keluar duit sih gapapa, tapi kan capek juga. Kalau ke kelenteng, sisa ketemu tua-tui semua, jadi malas duluan. Mending tiap minggu ke Gereja dengar khotbah pendeta, lokasi strategis, ramai, tinggal duduk, dapat bonus cuci mata lagi.

“Jadi jangan kira Mereka patut dipuji karena masih menjalankan “sebagian” dari tradisi Tionghoa. Sebenarnya Mereka hanya mau menjalankan tradisi yang ENAK-ENAK dan yang MENGUNTUNGKAN saja”.

Saya barusan terpikir, kenapa salah satu manusia etnis Tionghoa yang bernama Cristofus Sindunata pada tahun 1967 mendukung Inpres Nomor 14 Tahun 1967? Tentu tak lain agar orang2 Tionghoa terpaksa untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah2 swasta, yang rata2 memang dikelola oleh Nasrani.

Tidak mungkin orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah “pribumi”, alias sekolah negeri, yang kala itu kebanyakan berbasis Agama Islam. Bahkan sebagian menerapkan aturan berjilbab adalah hal wajib bagi wanita.

Saya salut, karena ini bisa dibilang investasi jangka panjang beliau. Beliau tidak mengincar generasi BAU TANAH yang se-usianya, karena sadar sebentar lagi sudah mau waktunya ๐Ÿ™‚ Ini adalah upaya “kristenisasi massal” kala itu.

Beliau mengincar generasi muda, agar kelak bisa maju pesat dan berkembang di tanah air, seperti halnya agama mayoritas. Jadi semenjak kecil anak sudah dikenalkan dengan firman Tuhan, lama2 pasti pindah agama kecuali takdirnya keras wkwk.

Apalagi teman2 se-usia mereka juga sudah pindah agama. Mana mau ditinggal sendiri? Karena 80% manusia itu bermental pengikut, 15?% provokator, dan 5% adalah pemimpin, yang berani tampil beda menyandang status double/triple minority.

Seorang pembantu Muslim yang menyembahyangi majikannya saat meninggal, di Rembang, Jawa Tengah.

Ketika mereka mencapai usia dewasa, mereka bahkan bisa “lebih militan” daripada yang non Tionghoa. Yap! Mereka tidak segan untuk mengajak orang tua, kakak, adik, keponakan, sepupu, dan saudara2 jauhnya untuk ikut. Banyak contoh kasus menyedihkan yang pernah saya dengar.

Misalnya, ketika orang tua mereka sudah sekarat, sudah tidak sadar, cepat2 mereka ajak pendetanya untuk membaptis. Atau seperti foto diatas. Dimana anak2nya sudah pada pindah agama. Akhirnya malah pembantu dari majikan tersebutlah yang menyembahyangi beliau.

“Konsep Surga dan Neraka itu dibuat untuk menakut-nakuti domba2 gemuk. Nanti kalau sudah pintar semua, dombanya sukar digembalakan ๐Ÿ™‚

Agama itu untuk mengatur biar umat tidak kacau. Kalau Agama sampai membuat kita malas menggunakan otak untuk berpikir, mungkin sebaiknya otaknya dikembalikan saja. Jangan sampai agama hanya diperuntukan bagi mereka yang berhenti berpikir”

Saat ini tradisi dan kebudayaan Tionghoa, meski sudah bebas berkembang di tanah air, tapi makin sedikit saja umatnya. Seperti catatan perjalanan singkat saya di awal paragraf, banyak kota besar yang Kelentengnya sudah kosong melompong pada saat sembahyang.

Gereja Santa Maria de Fatima
Tampak interior dalam Gereja Santa Maria de Fatima yang bertema oriental.

Baca juga : Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)

Ini harusnya menjadi tantangan bagi pengurus Kelenteng dan bagi generasi penerus Tionghoa yang masih bertahan, agar bagaimana melestarikan tradisi, kebudayaaan dan agama Tionghoa agar tidak makin terpuruk.

Satu lagi, seperti soal bahasa, dimana kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia sekarang (generasi awal 60-an s/d awal 90-an) malah tidak bisa berbahasa Mandarin. Juga tidak bisa memegang sumpit. Sementara orang2 pribumi sekarang malah fasih berbahasa Mandarin dan pintar2 pakai sumpit di restoran chinese food.

Ini fakta yang saya temukan sewaktu makan di beberapa restoran. Lucu memang, tapi itulah kenyataannya.

Catatan : Merupakan pandangan pribadi penulis yang bersifat subjektif (2) Yang dimaksud Agama Tionghoa disini adalah Taoisme, Konghucu, dan Buddha (meski sebenarnya Buddha berasal dari India, namun tumbuh berkembang pesat di Tiongkok). Penggunaan kata Agama Tionghoa hanya untuk mempersingkat judul. So, don’t be stupid.

By Stevany

Saat ini berstatus sebagai seorang mahasiswi jurusan IT di Medan. Aku seorang penyayang binatang dan tumbuh-tumbuhan ^^. Quote : A journey of a thousand miles begins with a single step.

250 thoughts on “Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia”
  1. Saya jadi ngga tahan ikutan komen, ada beberapa komen yg bikin miris bacanya. Pertama, kita harus aware klo identitas cina itu beragam, tidak bisa dianggap hanya 1 yg mengacu kepada cina daratan. bahkan di cina daratan pun ada banyak identitas cina berdasar letak geografi, agama, suku, dst. Begitupun di Indonesia. Kontak dengan bermacam2 suku di indonesia selama ratusan tahun jelas budaya bakal berubah, itu natural, budaya kita juga mempengaruhi budaya indonesia secara general, itulah akulturasi, itu yg bikin kita unik. Klo masalah agama nasrani bikin seseorang “kurang” chinese, chinese yg seperti apa? setiap individu punya identitas lebih dari satu: saya WNI, perempuan, tionghoa, kristen, itu semua bagian dari identitas saya.
    Satu lagi, tentang masalah pribumi dan non-pribumi. Konsep itu sudah dihapus oleh pemerintah sejak jaman habibie thn 1999, org yg lahir di indo dan memiliki WNI itu artinya asli indo. Jadi saya itu asli Indonesia, etnis tionghoa. ๐Ÿ™‚ salam damai

    1. Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
      Yth,Yani lie,
      Sebenarya yg bikin kotak kotak itu zamanpenjajah, klo anda agama Hindu oleh Penjajah langsung dikategorikan orang India,Klo Anda Kritiani dikategorikan Orang Kristiani Asia,Klo Anda Islam Berarti Orang Arab, klo anda KongFuTze Orang China, Klo Anda Kejawen/Rawarontek dsb anda Dikategorikan sebagai Pribumi,gitu sejarahnya setahu saya. Anda Kristiani baik itu, namun alangkah lebih baiknya jika anda masih menjalankan budaya dan adat serta kepercayaan etnis Anda yang sebenarnya bukan TiongHua melainkan “HUA”Universe, bukan karena apa,tapi karena dengan demikian kekayaan Bangsa Indonesia tetap terjaga,Memeluk agama apapun anda sah sah saja namun jangan lupakan akar budaya untuk tetap memperkaya Bangsa. Penjelasan HUA Universe:[klo Tiong Hua adalah suku Hua yang Lahir dan Dewasa Di TiongKok,klo Hua Universe adalah Etnis yang ada disemua penjuru dunia termasuk di Tiongkok yang bercirikan Cinta Damai,Pekerja Keras,Toleransi,memiliki Humanisme yang tinggi[termasuk menghargai dan menghormati Leluhur],klo tidak boleh pakai hio ya sekedar Kasi Hormat ke Kelenteng kan Ga Pa Pa{Tapi harus keadaan bersih-tidak sendang haid/habis melahirkan/sedang duka sebelum 40 hari/sedang sakir parah][Kan klo kita Yakin sama Tuhan Yang Esa tiada larangan untuk berbuat kebajikan},hidup hemat[bukan pelit],Menghormati dan tidak Membedakan SARA,memahami dam mampu menggunakan Bahasa SIINO-TIBETAN[termasuk bahasa mandarin-korea-Jepang-Tibet-Vietnam-Taiwanese-Kantonese,dll],Tekun,Mandiri,Berdisiplin Tinggi,Kelenteng Bagi Ethnic Hua Bukanlah Sekedar Tempat Ibadah namun Lebih cenderung Tempat Manusia Menghormati Leluhurnya dan Berkomunikasi Dengan Sang Pencipta, jadi klo anda Merasa Musrik ke Kelenteng bagaimana Anda bisa dikategorikan sebagai Ethnic “HUA” Universe? Tahukah anda di beberapa Kelenteng Tidah saja hanya terdapat Petilasan Leluhur Dari Dartan Asal,Tapi ada Juga yang menghormati Leluhur Setempat Bahkan ada juga yang menghormati Leluhur Orang Yahudi, itu bukti bahwa Kelenteng tidak dapat dikategorikan sebagai tempat ibadah umat tertentu, namun lebih ke tempat untuk mengenang dan menghormati Leluhur serta tempat manusia berkomunikasi dengan Penciptanya. Begitu.Semoga Tuhan Memberkati.

  2. maaf ni.. kalo ngomong soal agama di agama apapun adalah yg fanatik dan berlebiham..masalahnya kalo menyebut diri kita sendiri cina apa ya iya kita ini cina murni? kita ngga lahir d cina daratan tapi di indonesia..sudah menjadi sub entik dengan sebutan cina peranakan ato indonesian chinese itulah kita sekarang wajar saja kalo kita sudah melebur dengan budaya setempat…. meski saya ngga memeluk agama nenek moyang tapi saya masih suka lho bntu2 acara di klenteng..senang karena bisa ngumpul,bisa merasakan kemeriahannya apa yg saya lakukan karena saya sadar budaya..
    jiklau kita memeluk agama nenek oyang tidaklah kita mnjadi orang cina daratan..bagi mereka juga kita sudah cina luntur..makanya saya lebih suka menyebut kita kaum peranakan sebagai sub etnis yg baru..
    penting buat saya untuk ga lupa diri..
    siapa saya = cina peranakan
    tinggal di mana = indonesia
    bahasa yg d pake = bahasa indonesia dan pergaulna setempat
    apa yg kita kerjakan = ya seperti orang indonesia pada umumnya.. jadi kl saya merasa jadi cina daratan saya yg g tahu diri..
    soal agama ga bisa tu kita menyalahkan kok nggak gini kok nggak gitu..lha yg namanya meyakini sesuatu kan dari pengalaman pribadi seseorang dengan penciptanya..berarti itu hak asasi pribadi kan?

    oh ya untuk pak admin .. meski bapak sudah menulis itu pandangan subyektif.. akan lebih nyaman untuk banyak orang bila bapak juga belajar mengamati lebih dalam lagi..jadi akan nyaman untuk di baca banyak orang dan ga jadi topik yg sensitif..semoga diperhatikan
    ga mslah kok kl kita kaum peranakan berakulturasi dengan budaya setempat..malah harusnya begitu..menambh kekayaan budaya
    oke.. xiexie..kamsia

    1. Namo Amithaba,Namo Buddhya,
      Maaf Novi, Janganlah menyebut dengan ethic Cina di Indonesia itu Ethnic China adalah yang masih memegang status warga negara Asing/China, sedangkan yang WNI adalah Ethnic HUA Universe gitu, Ethnic HUA Universe sudah saya jelaskan di komentar lainnya, Semoga TuhanMemberkati

  3. Hahaha pada ribut jadinya…..
    Ga usah berdebat soal agama, kalo emang mao melestarikan budaya tionghoa, ya langsung aja lakukan , buktikan , ga usah banyak bacot deh , toh klo cm omdo jg ga ada hasilnya.

    Buktinya aja zaman skg, bahasa ibu aja mereka ga bisa, bisanya cm bahasa indo .jd mana cinta budaya tionghoanya????????
    Dirumah aja pd pake bahasa fankui , mao bedain yg mana tionghoa yg mana pribumi aja uda sulit, yg tinggal cm paras muka doank yg mirip.
    Dr hal terkecil aja uda ga bs dipertahankan gimana mao pertahankan hal yg besar.
    Perlu diketahui jg disini, bahasa mandarin itu adalah bahasa negara china, lain dg bahasa ibu seperti khek, tio ciu, hokkien dll .nah itu baru bahasa budaya tionghoa. Anak2 skg bisa mandarin jg krn sekolah skg ada mempelajarinya, seperti halnya belajar bhs asing. Jd sblm mengkeritik orang laen , hrs koreksi dulu diri sendiri seberapa dalam cinta anda dg bahasa khas budaya tionghoa. Jangan tong kosong nyaring bunyinya.

    Imlek emang identik dg angpao, cm disini klo uda gede itu hrs keluar duit banyak bt imlek lho, tp knp orang msh mao rayakan imlek, itu krn kita semua masih memegang budaya tionghoa dan bukan krn mao cari untung.jd tolong ya bagi ygberpendapat bahwa imlek itu buat cari untung, bagi gw malah rugi , tapi gw puas uda keluar duit sekian bt ngerayainnya , yg penting happy waktu bersama keluarga , itu moment yg penting bgd dimalam imlek,bisa kumpul bersama .
    Nah klo soal ritual, bagi yg mao sembahyang jalani aja, ga usah banyak protes. Toh ga ada yg ngelarang kog.
    Itu kan hak masing2 individu.jd jgn jg memaksakan kehendak kpd orang laen ,itu melanggar hak asasi manusia lho.hehehehe

    Klo ada komentar yg salah kata harap jgn simpan dlm hati, marah trus tar bisa cepat tua lho,,,hehehehe
    Trims ya ……

    1. susan hwang

      orang chinese di pulau jawa memang terkesan tidak bisa berbahasa khek, tio ciu, hokkien atau mandarin itu semua karena imbas dari adanya PKI di Indonesia juga paham komunis yang saat itu datang dari negara chinese. mereka yang berbahasa khek, tio ciu, hokkien atau mandarin pada waktu itu jika ketahuan akan ditembak ditempat, diculik dan dibunuh karena dianggap komunis karena itu bahasa suku asli mereka hilang untuk bertahan hidup.

      terima kasih

      1. Namo Amithaba,Namo Buddhaya, Bukan ETNIS CINA, tap Ethnic HUA Universe,banyak kok yang masih bisa bahasa SINO -TIbetan.Semoga Tuhan Memberkati

      2. Orang tionghoa di jawa ga bsa ngomong bahasa mandarin emang gara” PKI plus dulu banyak yang melarat jdi ga bsa sekolah tinggi” jdi bahasa mandarin dipelajari di sekolah, tpi jangan salah udh dr dulu orang tionghoa di jawa ga bsa ngomong bahasa daerah karena orang tionghoa di jawa itu minoritas jdi harus ngikut mayoritas trus ditambah lagi ortu yang males ngajarin bahasa daerah, liat aja di Kalimantan ponti ato singkawang ato Sumatra bagansiapiapi tionghoa disana mayoritas.
        Trus perhatiin aja Sejak pengaruh belanda buku” tionghoa di tahun 1900an aja pake bahasa indonesia,

    2. Namo Buddhaya,Namo Amthaba,
      Yth.Susan, Untuk persepsi tentang bahasa, Bahasa Mandarin Bukan lah bahasa Negaranya RRC saja Melainkan juga salah satu bahasa HUA Ethnic Universe,klo Orang Utarwa dari HUBEI atau Dari HEILONGJIANG ya jelas bahasa daerah mereka bahasa Mandarin Gitu, mohon jangan dicampur aduk, bahkan bahasa Jepang dan Korea Pun termasuk bahasa SINO TIBETAn.Jadi Klo Bahasa Ibu Tetap Bahasa Indonesia, klo Bahasa Suku baru bahasa Sino Tibetan begitu.Semoga Tuan Memberkati

  4. Kepada pembaca yang masih ingin berkomentar mohon dibaca dulu komentar-komentar sebelumnya dari A sampai Z diatas (30 komentar).

    Komentar yang isi/maknanya/tujuannya sama akan dihapus.

    Xie-xie

  5. Melihat 2 komentar diatas, inilah bukti keberhasilkan pak sindunata + para pendeta nasrani; yakni memanfaatkan ORANG MINORITAS melawan MINORITAS. Yang menarik, sekarang mereka memanfaatkan orang tionghoa yang telah di KRISTENISASI sebelumnya untuk merekrut sesama tionghoa nya yang katanya belum percaya Tuhan. Jadi mereka tidak perlu turun tangan sendiri dalam menjaring umat tionghoa.

    Dalam sejarah Dinasti Song, pernah tercatat ada sebuah bagian sejarah dimana mereka harus melawan suku minoritas yang ahli beladiri tertentu. Setiap pasukan dinasti song kelabakan ketika melawan suku minoritas ini. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk memecah suku minoritas ini. Diambil beberapa orang hebat dari suku minoritas itu, diiming imingi emas dan tanah serta jabatan, lalu diminta melatih pasukan dinasti song. Setelah beberapa lama, pecah perang hebat, kali ini suku minoritas tersebut dapat dikalahkan oleh dinasti song.

    Semoga perumpamaan ini bisa dimengerti. Salut buat admin yang telah memposting artikel ini. Terserah mereka mau ngomong apa, ini “wilayah” kita. Tentu harus bisa berjaya! Kalau perlu sikat komentar yang berbau promosi agama Kristen. Jangan kasih kesempatan mereka menjaring umat Tionghoa yang masih tersisa.

  6. Maaf, saya juga keturunan Tionghoa generasi ketiga. Agama saya Kristen sejak kecil.
    Mengenai artikel ini… saya keberatan karena isinya timpang. Meskipun saya juga mengakui bahwa agama saya lbh keras dalam menentang sebagian budaya nenek moyang. Artikel Kristen yg berisi caci maki tentunya bukan hal yg bijaksana. Namun, adalah wajar bila sebuah agama menuliskan mana yang bertentangan dgn doktrin agamanya. Tinggal yang baca saja, mau pilih yg mana.
    Di sisi lain, hilangnya budaya Tionghoa, khusus nya bagi keturunan Tionghoa di Jawa tidak lepas dari kondisi politik masa orde baru. Bukankah waktu itu kita dilarang merayakan Imlek? Mengenai bahasa… bahkan Papah Mamah saya pun sdh tdk bisa bahasa Mandarin. Padahal sekolah di sekolah yayasan milik Kong Hu Chu. Ada kelenteng di sekolah saya dulu. Tapi pada tahun 1966, sekolah tersebut diserbu sbg imbas pemberontakan PKI. Sehingga sejak itu, sekolah menjadi sekolah nasional. Posisi org Tionghoa di Jawa mengalami tekanan saat itu. Jd bukan karena Kristenisasi! Saran saya, penulis artikel juga perlu belajar mengenai peranakan Tionghoa, beserta segala kultur dan bahasa nya yang unik.
    Mengenai agama dan tradisi, bilamana saya tidak boleh lagi ngaku Tionghoa karena beragama Kristen dan tidak lagi memelihara tradisi leluhur. Maka Biar saja… lebih baik saya mengaku saya orang Indonesia.

    1. Sejak anda memilih bapak orang lain, sejak itu pula anda sudah dikeluarkan dari etnis tionghoa. Tidak perlu ngaku ke orang luar kalau anda tionghoa, tidak perlu juga anda menjalankan tradisi tionghoa. Imlek pun kalau perlu tak usah dirayakan, termasuk acara makan2 keluarnya tentunya. Cari hari lain kan bisa, misalnya seminggu sesudah imlek, atau cari hari minggu/libur lainnya?

      Sejahat2nya kaum pribumi kepada tionghoa, lebih jahat orang tionghoa sendiri yang menghianati leluhurnya sendiri. Kalau mau keluar agama; pindah baik-baik. Tidak perlu mencela agama sebelumnya, mengatai buruk agam sebelumnya, apalagi malah menarik-narik orang tionghoa lain nya. Istilahnya kalau mau keluar ya keluar. Jangan pijak di 2 perahu.

      1. @ Young2,

        Saya tidak tahu anda tinggal di bagian mana dari Indonesia. Tapi anda perlu juga meninjau dari hal yang lain, seperti kondisi di negara kita, kebijakan pemerintah, juga proses akulturasi berbagai bangsa di Indonesia ini.
        Satu lagi, tahun lalu, saya tinggal di Eropa, bergereja di gereja internasional, yang mana teman – teman di gereja tersebut banyak dari RRC. Orang Tionghoa asli. Nah, bagaimana dengan mereka ini? Mereka juga memilih “Bapak” yang lain. Apakah mereka juga dianggap sudah dikeluarkan dari etnis Tionghoa? Ini lucu…
        Masalah penghormatan pada orang tua yang merupakan hal penting dalam tradisi China, biarpun kami sudah jadi orang Kristen pun, kami tidak meninggalkan hal ini.
        Yang terakhir, saya pun tidak setuju kalau ada dari pihak gereja yang menghina kepercayaan orang lain. Itu tindakan yang sangat keterlaluan.

        1. bukti ada banyak SIAPA yg paling suka jd provokator dan suka menghina aama lain. nanti deh sy rekam dan upload di youtube ya. tunggu tanggal mainnya.

      2. young2 kayaknya ga banyak bergaul di luar kaum cina peranakan ya..
        saya kuliah d jurudan grafis d jogja..yg waktu itu seangkatan cewek ga sampe sepuluh dan saya sndri yg turunan cina ..tp justru teman2 saya banyak yg tertarik kok dengan budaya kita..
        kita kl blm kenal ibarat ga sayang..mikir yg jelek2 padahal d etnis apapun yg namanya orang jahat n baik pasi adalah..
        jangan mikir orang lain etnis benci sm kita .. nggakk..kita aja yg blm tahu krn blm membuka diri .. kl masi g percaya yuk ta kenalin sm teman2 saya

  7. “…..Ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik umat-umat berduit dari kaum Tionghoa untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar dan bertingkat-tingkat………”

    Yakin hanya karena itu?
    Saya Tionghoa, dan pemeluk Kristen. Yang perlu digaris bawahi adalah saya tidak punya banyak uang, penghasilan pas-pasan, malah jauh di bawah jemaat gereja yg lainnya. Gereja tempat saya beribadah baru saja selesai dibangun, dan saya sepeserpun tidak menyumbang!! Toh nyatanya status jemaat saya tidak dicoret. Dalam berkumpul sama sekali tidak ada pembedaan, tua muda, kaya miskin, Cina Jawa Ambon Batak semua sama.

    saya justru menantang penulis -Stefany- apakah bisa anda bergaul dengan saya dan menerima saya apa adanya dlm koridor pertemanan seperti apa yg saya alami di Gereja!!

    “………

  8. Agama ibarat Buku petunjuk hidup.
    Agama Buddha tdk pernah menciptakan/suka perang dari dulu sampai skrg. Ajaran Buddha mengajarkan kita untuk MALU berbuat jahat bkn TAKUT berbuat jahat.
    Kalau takut berbuat jahat, kalo ada temannya yg temani pasti gak takut lg, kalo malu tetap aja malu kalo ditemani sekali pun.
    Saya lihat agama non agama tionghoa selalu berkotbha seakan2 sdh pernah ketemu tuhan dan pernah pergi ke surga. Kita lihat bukti dilapangan, yg paling fanatik dan suka menjelek2an agama lain itu SIAPA?
    Dalama ajaran agama tionghoa gak boleh menjelek2an agama lain, krn bila menjelekan agama lain maka tanpa sadar dia telah menjelekan agamanya sendiri.
    Agama adalah HATI, bila anda berhati jahat maka agamanya jd sesat.

    Mohon maaf bila saya ada salah kata ya, ini cuma pendapat dari saya.
    Peace ๐Ÿ˜€

    1. Masa? Yakin? Kalo begitu bagaimana anda menjelaskan prilaku Budha Myanmar yang membantai dan mengusir rakyat pribumi muslim Rohingya sampe pada kabur menyelamatkan diri ke Aceh? Ngomong2 Budha bukan kearifan leluhur tiongkok tapi dari India. Guru besarnya Sidharta Gautama orang India dulu ditentang keras sama mayoritas Hindu India hingga harus keluar India guna menyebarkan ajarannya.

  9. Salam kenal, saya hans merasa keberatan dengan artikel ini karena saya warga keturunan dan beragama katolik, dan ada juga yang beragama Budha menurut saya dan keluarga saya adalah makna dari imlek adalah keluarga dan disana saatnya kita bisa berkumpul bersama dan merayakan tahun baru imlek, dan untuk cengbeng saya tetap ikut sembahyang karena kita tidak boleh melupakan jasa orang tua. pemilihan agama sendiri bukan karena paksaan tapi keyakinan. Maaf kalo ada salah bicara ^^

  10. memang problem untuk ini memang bisa dilihat jelas secara fakta bahwa umat2 berdarah tionghoa cenderung sudah melupakan tradisinya terutama kaum muda
    bukan memihak salah satu..tapi yang namanya nonik” itu khas tionghoa saya heran kenapa bisa masuk gereja semua..
    padahal itu bahasa khas tionghoa asli darah tionghoa….
    tapi juga diindonesia tidak ada sekolah tionhgoa,yang ada sekolah pribumi dan nasrani.. bilamana ada sekolah tionghoa mungkin kejadiannya tidak seperti ini..
    saya bukan tidak suka pada agama2 lain tapi terkadanmg ada umat2 yang membicarakan yang tidak benar sehingga merugikan muda mudi tionghoa dan akhirnya mereka pindah ke nasrani

  11. Salam kenal sdri sansan yang,,,
    Mungkin anda yg trlalu membabi buta membuat pernyataan.
    Agama itu keyakinan, kepercayaan, jg iman yg kt pegang dlm hati kita bukan dg mendengar doktrin trus langsung percaya, klo mao bilang mendengar doktrin rasanya saya lebih banyak mendengar ttg pai lao ya dibanding sebelum saya menjadi umat kristen deh, tp kenapa saya tidak meneruskan apa yg telah diajarkan ortu sejak dr kecil, itu krnaa saya memiliki pola pikir saya sdri, saya merasa damai dan sukacita dg agama yg saya pilih. Jadi saya pun menjalaninya dg sebaik mungkin.

    Agama itu bersifat pilihan bukan paksaan juga ga ada hubungan dg keturunan.

    Sebagai sesama suku lebih baik jangan berdebat trlalu jauh, mengkritik terlalu dalam ttg agama orang lain tentunya.
    Nanti diketawain suku lain pula jadinya. Melihat suku kita berdebat antar sesama pasti ada pihak tertentu yg bersenang hati.
    Hidup ini singkat , jadi jgn dipersulit oleh kritikan yg tidak membangun.drpd menjadi musuh lebi baik kita berteman.

    Perlu saya pertegas pernyataan dr sdri sansan yang bahwa sebagai seorang tionghoa saya tidak pernah menyangkal leluhur saya , saya selalu menghormati mereka dan saya selalu bangga lahir sebagai seorang tionghoa!!!
    Saya tidak mengerti apa maksud anda menyatakan menganggap bapa orang lain sbg bapak sdri.
    Sorii yee, itu menurut otak anda sdri .dan saya jg tidak mao berdebat dg anda. Rasanya terlalu kekanakan berdebat ttg agama yg ujungnya ga kan pernah sejalan.
    Lebih baik kita menjalani jalan kita masing2 saja. Kalao menurt lu itu bagus bt lu ya jalani aja bgtu . Nah bgtu jg dg saya.

    Dan ada satu hal yg perlu saya jelaskan disini mengenai prinsip dr saya sdri, bagi saya ya menyembah leluhur itu boleh2 aja tp menyembah dg arti kata menghormati sebagai leluhur, menghormati budaya dan adat istiadat yg ada. Dan tentu saja bukan berarti menyembah seperti menyembah Tuhan pastinya. Tuhan adalah Tuhan, dan leluhur adalah leluhur , itu 2 hal yg berbeda.
    Mungkin benar ada yg menganggap itu berhala, bahkan melarang.
    Itu kan menurut pola pikir masing2, jgn ada yg menghakimi, toh kita bukan hakim kan jd knp hrs menghakimi. Hanya Tuhan saja yg tahu isi hati kita, biarlah Tuhan yg menghakimi sendiri nantinya.

    Berkomentar itu bagus, mengeluarkan pendapat itujg bagus, tp harus di keluarkan dg kata2 yg bijak dan bukan menghina agama orang lain. Semua agama itu sama mengajarkan kebaikan tentunya dan bukan kejahatan. Tergantung setiap individu gimana menerima dan mencernanya dg baik saja.

    Akhir kata : Aku bangga terlahir sbg Tionghoa, aku bangga dg budaya Tionghoa, dan aku jg bangga menjadi anak ortu ku sdri itu saja!!!!
    Dan aku jg bangga menjadi bangsa Indonesia!!!!
    Trims…

  12. Sudah hari ketiga (3×24 jam) semenjak artikel diluncurkan, admin menerima banyak sekali reply, baik di page TdBT (24 komentar), di halaman artikel (21 komentar), maupun lewat PM.

    Selama komentarnya bersifat membangun, tidak akan admin hapus. Kalau biasanya admin selalu membuat kesimpulan begitu ada pro dan kontra, kali ini admin tidak akan membuat kesimpulan.

    Ibaratnya, kalau mau menjelaskan tentang IMLEK, tentu dari sisi/sudut pandang Agama Tionghoa (Tao dan KHC); dimana dalam hal ini menyangkut RITUALnya. Tidak mungkin menjelaskan IMLEK dari sisi agama luar. Bohong besar kalau IMLEK itu TIDAK ADA ritualnya.

    Karena walau bagaimanapun sejarah IMLEK berasal dari TIONGKOK, bukan dari barat. Meski pada akhirnya IMLEK bebas untuk dirayakan oleh siapa saja, oleh semua masyarakat Tiongkok maupun perantauan diseluruh dunia, atau bahkan oleh simpatisan etnis lain yang begitu tertarik akan budaya Tionghoa tanpa memandang agama dan suku bangsa.

    Sama dengan artikel ini. Tentu admin bersedia untuk menayangkannya, karena ini tentu adalah cerminan dari yang “beragama” TIONGHOA. Meski pada dasarnya AGAMA dan TRADISI bisa dibedakan, tapi ada-ada saja yang tentunya dapat dikaitkan.

    Shg kami blog yang membahas Tradisi dan Budaya Tionghoa, tentulah akan membahas mengikuti kepercayaan kami, tidak mungkin mengambil informasi dari luar.

    Semoga dapat dimengerti oleh semua pihak.

    Xie-xie

  13. Bener banget nih, br aja bbrp hari kemarin lihat artikel nasrani yang menjelek2an agama Tionghoa…
    Aku critain pengalamanku ya, sebelum memeluk agama saya yang sekarang ini,saya sdh mencoba mendalami dan beribadah bbrp agama…
    Terlahir dari kedua orang tua yang berbeda agama, alm. papa saya Katolik dan keluarganya penganut Katolik taat, dan mama saya beragama Budha…
    Papa mama saya bukan org yg fanatik, karena terlalu sibuk bekerja dan mengurus anak2nya yg byk dan hiperaktif spt saya… Beruntung terlahir dari kedua orang tua yg tidak fanatik, dan membiarkan keempat anaknya bebas milih kepercayaan agamanya masing2, dan tidak membaptis anak2nya dari lahir…
    Keluarga papa saya tapi super duper fanatik katoliknya..
    Kadang kalo saya datang ke rmh keluarga dr papa saya, dll ditanya ke gereja ga? klo blg ga pasti dikutuk deh blg gini, klo ga kereja ntar Tuhannya marah loo, murtad.. Haha~
    Waktu dulu agama saya tercatat katolik, bersekolah di sekolah katolik, dari TK sampai Universitas. Tapi katolik KTP awalnya, karena waktu SD saya pernah ikut doa dan belajar bahasa mandarin di vihara Budha maitreya, tapi terkadang sya jg ke gereja Katolik, terkadang kalo malem ikut mama sembayang ke kelenteng.. hehehe~
    Waktu SMA kelas 1 apa kelas 2 ikut temen saya Konghucu pergi ke Lithang diajari betapa pentingnya menghormati orang tua..
    Waktu kelas 3 waktu mau ujian saya ikut temen saya ke gereja Katolik lg, wkt tu dh mulai mau netep nih, karena doa rosario saya dikabulkan lulus ujian nasional. Mulai deh tu mau mendalami agama Katolik..
    Sampai kuliah semester 4 ikut agama Katolik, minggu pagi pergi ke gereja berdoa dgn kusyuk dan terkadang mantan saya mengajak saya pergi ke gerejanya GMS kalo malem minggu, saya ikir tak apa deh jd org jgn fanatik2 amat. Pacar saya beragama Kristen taat.
    Dan yg membuat saya ga habis pikir, pacar saya hampir saja memaksa saya ikut dia agama Kristen, memaksa sy maju ikut KKR ato apalah itu. Wkt itu kepala org2 yg didekat saya diberkati oleh cc2 di GMS kemudian di bacain bahasa roh, kita yg maju itu suruh ikutan membayangkan Tuhan dan menerima Roh Kudus, banyak yg nagis merinding saya sebenernya, wkt liat org2 yg barisan sblh kiri saya abis dipegang kepalanya dan di bacain bahasa roh lgsg pd jatuh lemas seketika, deg2an jg nih klo sampe giliran saya….
    Wkt nympe mantan saya, mantan saya nmgng2 bhs roh dan dibacain bahasa roh diteriakin Terima! lalu jatuh lemas jg dia, nah wkt giliran saya ikut2an aja deh tuh org2 sblh sy ngmng bahasa roh, sy ulang2 tu bahasa ama nada2nya dan mulai nih kepala saya dipegang, dan diteriakin suruh Terima Roh Kudus!! tp kog saya ga jatuh2 yah, msh tetep aja berdiri, krn malu sy giliran terakirtp ga jatuh2 dan yg sebelah2 saya sederet udh pd jatuh lemas semua, akirnya saya menjatuhkan diri dgn sengaja deh, yah pura2 gitu, yg lain jatuhnya sampai tertidur saya cm jatuh berlutus pura2 lemas wkkwkwkw
    Wkt selesai pemimpin yg megang kepala saya dan org2 yg maju td blg klo mantan saya blm nerima Roh Kudus dan saya malah sudah.. Astajim wkwkwk
    Dan disaat itu jg saya penasaran ingin mendalami agama Budha, karena ko2 saya yg tadinya bersifat buruk, susah diatur, suka bikin mama saya makan hati, tiba2 saja dia berubah 180 derajat setelah ikut agama Budha.
    Lalu saya ikutan, dan penasaran mulai mendalami lebih serius agama yg bs menyadarkan ko2 sy ini.. Mulai dr membaca buku2nya dan mendalami apa inti dari agama ini…
    Yang intinya adalah Karma. Hukum tabur tuai. Dan akirnya saya menetapkan hati dan pilihan saya terakhir kali di agama ini, walaupun tidak banyak yang muda, dan mungkin agak susah cari pacar. Karena tiap ada yang mau pacaran sm sy kalau tahu agama saya Budha lgsg perlahan – lahan menghilang. Tapi sy tetap pd pendirian sy.
    Dari agama Tionghoalah (Budha, Tao, Konghucu) kita belajar mencintai, menanam kasih dan mengetahui apa penyebab nasib buruk kita di kehidupan ini.. Mempelajari keseimbangan hidup ini, berbakti kepada orang tua, belajar bagaimana cara mengubah nasib..
    Kalo agama saya Budha tidaklah menjanjikan kehidupan indah masuk surga, maupun menjanjikan pengampunan. Yg menentukan nasib kita ya diri kita sendiri. Budha sebagai guru untuk mencapai pencerahan.
    Namun akan ada rasa damai,tenang, hati yang lebih tulus, welas asih setelah mendalaminya. Dan jg lebih hati2 dalam bertindak, krn kita akan lbh sadar dan berhati- hati dlm bertindak. Jika kita melakukan hal yg salah membunuh, merampok, berbohong, sdh pasti lgsg menimbun Karma Buruk, wlopun minta pengampunan, tdk akan diampuni scr lgsg, kecuali kita menggantinya dgn berbuat kebaikan dan kebajikan, beramal, membantu org lain yg bs mengurangi karma buruk kita.
    Beda dgn agama tertentu yg jika berbuat salah, mohon pengampunan, bertobat, persoalan selesai, lgsg bikin dosa lg.. Mereka ga bener2 memaknainya.
    Sebenarnya semua agama baik, hanya saaja orang dan umat2nyalah yg membuat agama tersebut menjadi ternoda..
    Memang skrg lbh byk muda mudi Tionghoa yg pindah ke agama nasrani, tp mereka mungkin tidak mengerti dan memahami dgn betul inti ajaran agamanya..
    Masih byk teman sy yg nasrani blg klo berhubungan intim sblm menikah saat pcrn di agama Kristen diperbolehkan, byk yg melenceng dan lebih mementingkan nafsu duniawi dan mementingkan diri sndr. Ke gerja cm cari pacar dan tidaknya berdoa dgn sungguh2… sungguh miris..

    OOT lg min, kalau kata temen2 di vihara saya yg para tetua wkwkkw~
    *sy paling muda sendiri..
    Katanya org2 beragama Tionghoa pindah ke agama nasrani karena :
    1. Di Agama nasrani bs cari pacar cwo ganteng, cwe cantik
    2. Tempat ibadah di agama Nasrani lbh enak berAC, mewah, wow dll
    3. Pemasaran agama Nasrani lbh gencar dr pd agama Tionghoa sndr, *wkt dl pengalaman saya mahasiswa2 bru lgsg didatengi, diajak lgsg, diiming2i dapet burger gratis, lain wkt dpt makan gratis, disediain transport ke gerejanya jg. Krg enak apa coba.
    4. Agama Tionghoa memakan byk waktu dan biaya byk, Buah2an di rmh saya bejibun, karena blm lesai perayaan HUT shen ming atau Poo sat ini udh ada lg yg menunggu, blm tiap wkt ce it cap go. Dan buah2an kan ga murah.
    5. Agama Tionghoa lbh byk peraturan ketat ini itu, sedangkan agama Nasrani itu simpel.

    Tapi jika anda mendalami agama Tionghoa, anda akan menemukan keindahan hati, hati akan lebih tenang, sy yg tdnya suka marah2 dan tdk menjaga perbuatan, perkataan dan pikiran, jd lebih baik dr sblmnya dan berusaha untuk mengontrol emosi sy, sy jd lebih memaknai hidup ini, dan berusaha berbuat kebaikan sbnyk mgkn, dan tiap sy melakukan kebaikan, hati sy akan terasa senang, damai bs membantu sesama.
    Saya jg belajar dari Nabi Kong Hu Cu untuk berbakti dgn ortu, karena orang tua adalah segala2nya, saya jd lbh menghormati dan sayang sm mama saya. Agama TiongHoa berpatut pd kebaikan dan kebersihan hati.
    Inilah yg ternyata ko2 sy alami, kebahagiaan batin yg diajarkan agama Tionghoa, bukan keindahan duniawi.
    Dan skrg saya netep di agama ini karena kehidupan saya lbh baik, hati, pikiran saya lbh tenang, krn saya berusaha menjauhi perbuatan buruk dan yg bs menyebabkan dosa. Dan yg terpenting hidup saya lbh bahagia, bkn dr harta tp dr nilai, sy merasa beruntung dan bahagia diberkati oleh Budha poo sat dan para shen ming sy jd bs berubah jd org yg lbh baik dan bahagia… ๐Ÿ™‚

    Bule2 skrg aja diluar sana malah pd pindah ke agama Tionghoa loh, Ajahn Brahm contohnya yg terkenal. Albert Einstein jg mempunyai Kepercayaan agama TiongHoa (Budha), coba cari aja Quotesnya. Bahkan Steve Jobs aja waktu meninggal disembayangi pake hio.

    Coba deh selami agama satu2 kyk saya, nanti pasti tau apa bedanya.. Klo yg dl agama Budha trs skrg pindah ke nasrani trs pindah ke Kristen gara2 cm doanya ga dikabulkan, mohon dikoreksi, Para Shen Ming dan Poo Sat beda dgn Tuhannya Nasrani yg lgsg mengabulkan. Para Budha Poo Sat dan Shen Ming ngabulin doa tu liat dr sifat dan kelakuan si pemohon. Tulus ga doanya, kelakuannya gmn sehari2nya, pantas ga buat para Budha, Poo Sat dan Shen Ming kabulin.
    Klo sy si ga pernah memohon rejeki, krn rejeki org masing2, yg paling penting didunia ini adalah menolong org berbuat kebaikan, jika anda tetap bersabar berdoa, mgkn emg doa blm dikabulkan tp pastilah musibah sudah dijauhkan dr anda..
    Klo saya pribadi berdoa pd Budha, Shen Ming dan Poo Sat intinya adalah meminta kesehatan dan Keselamatan untuk saya sekeluarga, spy diberikan jalan yg terang, spy org2 jahat jg pd sadar,bukan meminta rejeki, karena rejeki bisa dicari. Namun kesehatan dan keselamatan tak ternilai harganya.

    Klo di agama Budha ga pernah maksa masuk agamanya kalo mau belajar, bs didalemi lewat inti ehipassiko..
    Watch, Learn and See…

    Buat yg pindah agama, coba deh dalemin dl masing2 agama, dipahami dengan bener2 inti2 dari agama Tionghoa ini, yakin deh klo udh tau bener bs perbaikin kualitas diri + kehidupan, karena agama2 Tionghoa ini berlandaskan pd hati dan kebaikan, jamin klo dh ngerti bakal lbh bahagia hidupnya, kyk buku ajahn Brahm “Si cacing dan Kotoran Kesayangannya” jika tdk ada perubahan 100% uang kembali.. wkwkkwk~
    Nah tuh coba dibaca dl lewat bukunya Ajahn Brahm.. atau Quotes2 darri Dalai Lama, Lao Tzu dan Nabi Kong Zi (Confusius)

    Maaf kbnykn OOT, dan plin plan.. Karena penuh pertimbangan nulisnya, ga pngn menyinggung agama *PIPP* cm pngn kasi saran2 aja.. Hehehe~

    Thx u…

    Sabbe Satta Bhavantgu Sukittatta

    1. Saya asli orang medan TIONGHOA dan saya setuju dengan apa yang di katakan Xiu Li karena saja tidak pernah membedakan ajaran agama dan selalu hormati semua agama yang ada, seperti ke GREJA dan pergi ke BALI tingal di rumah teman saya yang beragama ISLAM dan menunggu / melihat mereka beribada biasa aja.Bahkan nenek saya saja asli orang jawa dan islam nikah dengan kakek saya buddah ,paman saya kristen, kakak nenek saya katolik dan saudara dari nenek saya islam ada acara semua kumpul dan biasa aja dan kami saling hargai bagi orang yang tidak boleh makan babi atau sapi dan di tiadakan menu tersebut ๐Ÿ™‚ dan Ajaran budha tidak pernah memaksa orang untuk harus masuk ke ajaran NYA atau mengikuti ajaran agama budha, Setiap org memiliki kepercayaan masing2.. Terpentingnya Ajaran Buddah tidak pernah membujuk kita untuk masuk dan ikut ajaran Budha ๐Ÿ™‚
      Saya budha dan doa saya dan keningan saya sering di kabulkan dari kecil sampai sekarang, kuncinya harus sabar ,berdoa dengan sungguh2 dan percaya kepada NYA ๐Ÿ™‚

  14. Halo saya dosen kebudayaan china di univ ternama di indonesia. Saya jg pernah jd dosen bhs n budaya indonesia di china.sorry, tp byk hal dlm artikel ini kurang mewakili org tionghoa muda. Artikel ini seolah2 menyorot org muda pindah agama krn ingin mendapatkan keuntungan dr agama lain dan rugi dr segi material n waktu bila tetap pertahankan budaya asli. Sedangkan byk hal yg perlu diteliti dlm hal pindah ke lain agama ini. Penulis hendaknya memperbanyak pengetahuan n memperkuat cara penelitian sblum menulis artikel yg dpt memecah belah agama n suku ini. Bila diteliti lbh dlm, penulis n pembaca dpt menemukan ” mutiara” yg indah dr topik yg bgs ini.

    1. Itu kan pendapat anda; juga tidak bisa dibilang mewakili seluruh pandangan kaum muda Tionghoa. Apa kaum muda Tionghoa Indonesia harus ikut pola pikir anda juga ?

      Kalau begitu saya tantang anda menulis artikel lepas. Jangan hanya menyalahkan penulis tidak benar, lalu kirim ke admin. Kira2 diterima apa engga. Kalo cuma disuruh belajar dan studi saya kira itu hanya prinsipal saja.

      Berbicara seakan-akan anda sudah jago dan hebat.

      Min, coba perhatikan yang kontra itu semua beragama NASRANI TIONGHOA. Engga ada asli pribumi koar-koar. Betul2 sudah dicuci otak mereka oleh pendeta agamanya.

  15. Saya rasa ada yang salah disini.
    Imlek itu tahun baru Cina, bukan hari raya Buddha. Jadi, siapapun agama nya asal orang itu Cina berhak ikut imlek. Hari raya baru bisa dibilang beda, Buddha rayain Waisak, Nasrani rayain Natal dan bgitu juga agama lain.
    Saya dulunya Buddha hingga 8 tahun yg lalu saya memutuskan memeluk Nasrani sejak kakek saya yg Nasrani meninggal dan saya melihat sesuatu yang takjub sehingga saya pindah ke Nasrani tanpa bekal ajaran Kristen sedikitpun. Hingga saya mengetik ini saya tidak pernah menyesal.
    Itu semua tergantung pribadi masing2, tidak ada yg perlu di khawatirkan. Agama hak masing2 terhadap Tuhan nya asal saling menghormati, tidak saling menjelekkan agama.
    Memang benar saya di jakarta dan mayoritas penduduk Cina disini Kristiani. Balik lagi, itu semua terserah pribadi masing2.
    Trima Kasih.

  16. Salam Dalam Keebajikan,

    Ijin untuk bercerita ya minโ€ฆ

    Sama halnya dgn bpk. Tundra Kosasih, saya SMA di yayasan kristen ( klo gak salah Pantekosta ) di kota Bogor.
    Waktu itu setiap menjelang perayaan Imlek seluruh muridnya wajib masuk, tdk boleh meski ijin tertulis sekalipun dr orang tua. Selama 3 tahun, 3 kali Imlek ( ky lagu Bang Toyib ) saya pasti kena hukuman, buat karangan narasi ttg kegiatan yg dilakukan selama tdk masuk itu, hasilnya ya selalu sama pasti dicemooh krn itu bukan Agama lha, menyembah setan lha. Padahal yg kami sembah itu jelas asal-usulnya, mulai dr orang tua / leluhur sendiri sampai ke Shenming2 itu semua tercatat dalam sejarah / kitab suci. ( mungkin leluhur mereka yg setan krn tdk jelas asal usulnya, heheheheeeโ€ฆโ€ฆ).
    Pernah suatu hari teman saya yg seiman membawa Su Si / Si Shu / 4 Kitab, dan dicemooh oleh kakak kelas kami ( nasrani ) dan yg bikin saya naik pitam dia bilang “boleh gak bukunya saya pinjam buat saya injak-injak, sobek terus saya bakarโ€ฆ?”. Mungkin klo dia bukan cewek pasti sudah saya pukul.
    Sekarang yg saya dengar di ex SMA saya, imlek diliburkan bahkan ada kebhaktian perayaan Imlek. ( mirisโ€ฆ !!! ).

    Tambahan, saya juga salah satu demonstran agar Imlek dijadikan hari raya pada waktu itu di gedung KPU pada tahun 1998.

    Begitu aja min cerita singkatnya.

    Salam dari Lombok the exotic islandโ€ฆ.

    1. EKA SUNG LU NGOMONG NGIBUL AJA LU DOSA TAU! LU PIKIR SITUASI TAHUN 98 ITU SITUASI INDAH BUAT ETNIS TIONGHOA SAMPE BISA MINTA IMLEK LIBUR??
      ENTE TAU GAK SITUASI MENCEKAM BUAT ETNIS TIONGHOA KHUSUSNYA DI JAKARTA TAHUN 98 PADA BULAN MEI? TUH TOKO2 MILIK ORANG CINA DI JARAH! DIBAKAR!! MOBIL MOTOR PERABOTAN SEMUA DIKELUARKAN DIBAKAR DAN DIJARAH SAMA TIKO2 YANG AGAMANYA ISLAM!!
      BANYAK GADIS2 TIONGHOA DI PEGANG PEGANG ATAU DIGREPE SAMA ANAK2 TIKO ATAU HUANKUI DAN ENTE TAU KAN AGAMA HUANKUI APA? YANG PALING MALANG TIBA2 ADA SEGEROMBOLAN PREMAN2 TIKO MENYERET2 CEWE2 CINA DI BAWA KE LORONG2 GANG DAN DIPERKOSA SAMBIL TERTAWA TAWA SEDANGKAN CEWEK CINA TSB SETELAH DI PERKOSA PULUHAN ORANG LALU DI LEMPAR KE API YANG BERKOBAR DI RUKO2!! NAH MAU GUE CERITAIN LAGI GAK KEBIADABAN UMAT HUANKUI PENYEMBAH BATU MEMEK HITAM HAJAR ASWAD EKA SUNG?

      1. itu orang nya bro.. bukan agamanya.. di indonesia ini banyak yg ngak punya agama.. jgn lo liat ktp ny islam lah dia muslim. orang yg islam bener nga akan kayak gitu. tanya temen yg di luar negri, temen yg paling baik seorang apa, muslim, kristiani, budis, yahudi,ato atheis (tanya yg bener jgn mikir sendiri). kita hidup dinegara kacau balau dimana semua orang pribumi entah keturunan atau dari mana tau tau dia ikut aja meluk islam. mayoritas: contoh thailand myanmar (budha)eropa (kristen) india (hindu). anda lihat aja di negara2 lain, kan sekarang dah canggih hati lo lo pasti dah terbuka lebar dan otak kita dah lebih pintar.. intinya kita hidup di bumi cuma sebentar,sementara di kubur lebih lama dan di tujuan akhir kita lebihhh lama lagi. saya harap pemikiran anda anda mau terbuka karena tuhan memberikan kita otak untuk berfikir dan nurani untuk merasakan..

  17. Yup, saya setuju dgn pernyataan saudari Susan, dimana semuanya sesuai dgn pilihan iman masing-masing. Yg penting budaya Tionghoa masih tetap terpelihara dan tdk hilang sampai sekarang. Pernyataan “memilih bapak org lain”, sbnrnya kurang begitu sesuai krn kalau percaya juga dgn Buddhism, itu jg sama seperti memilih bapak India, krn jelas2 Buddhism bkn dari China sendiri. Kecuali kalau memang hanya percaya saja kepada Confusianism ( ajaran asli Confusius tdk begitu menyinggung ttg dewa-dewa, hanya menitikberatkan pd loyalitas, berbakti pd leluhur, hubungan antar manusia, dsb) atau Taoism ( ajaran asli Taoism lbh menekankan bgmana hubungan manusia yg seimbang dgn alam), krn dua ajaran ini memang murni dr China. Memang saya akui juga kdg2 byk oknum gereja yg mengatakan hal tak enak didengar bhwa budaya Chinese terutama perihal tentang menyembah Raja Langit disebut berhala, namun saya percaya oknum gereja itu yg kurang memahami bhwa Raja Langit di budaya Chinese jaman kuno sebelum adanya Taoism dan Confusianism adalah Tuhan sendiri. Jadi, skali lg perihal ttg asimilasi kepercayaan itu memang bs terjadi dimana saja dgn alaminya, yg penting kita sbg org Tionghoa bisa menjaga tradisi itu saja, tanpa hrs saling memojokkan ajaran2 satu sama lain. Lihat aja di China sendiri, bahkan sdh ada aliran2 baru yg menggabungkan kepercayaan lokal, Buddhism, Confusianism, Taoism, Christianity dlm satu wadah, namun imlek dll tetap aja dirayakan dimanapun.

  18. Salam kenal umat Tionghoa sekalian….
    Saya adalah orang khek, merid ama orang tio ciu jd saya menguasai 2 bahasa.
    Sebenarnya sbg sesama suku tionghoa ga usah permasalahkan agama apa yg dianut oleh saudara2 kita, krn menurut saya itu adalah iman dan keyakinan kita masing2 individu dan bukan brrti kita harus mengikuti keyakinan senior kita.
    Kalo kita mengikuti tapi tidak percaya itu sama juga menipu diri sendiri, semua orang berhak untuk memilih agama apa yang mao dianut , dan pasti ada alasan mengapa , sebab dan akibat, hanya diri sendiri yg bisa merasakannya.
    Yg disayangkan disini untuk penulis admin, saya menyarnkan agar anda kalo menulis jgn membuat isu yg seoalah memecah belah suku kita,agama dan kepercayaan itu ga ada hubungannya dg adat tradisi, itu adalah 2 hal yg berbeda. Seharusnya anda berfikir dulu, sebelum mengutarakan kata2, …
    Memilih agama sama halnya dg kita memilih pasangan hidup , kalo kita ga mencintai orang itu ga akan mungkin kita bisa hidup bahagia bersama dia. Emangnya admin mao zaman skg msh mao dijodohin gitu????
    Nah , bgtu juga sama halnya dg kita memilih agama kita, ms krn nenek moyang kita pai laoya trus kt harus ikut – ikutan.ga lah pasti tidak seperti itu.
    Memilih agama itu bagi saya adalah mengikuti kta hati, dimana dg percaya agama tsb bisa membawa kedamaian dihati kita serta mendatangkan kebaikan jg bt diri kt dan orang laen .bukan adala ikutan.
    Nah klo dibilang kegereja bt cari gebetan ,umat budha jg sama lah, itu kan hal biasa namanya juga anak muda, ms mao jomblo seumur hidup.

    Memilih agama sama halnya dg cinta pertama , sekali liat langsung hati berdebar2.
    Hati kita langsung menentukan nah itu yg ak cari selama ini , itulah jatuh cinta namanya.

    Aku percaya Tuhan Yesus, krn aku merasakan kekuatan dan kebaikan Tuhan didalam hidupku,dan ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
    Orang tuaku sembah kelenteng, aku waktu kecil jg pernah sembah klenteng , krn disuruh ortu tentunya.
    Tp wktu sembah aku tidak merasakan apa2 dlm hatiku, tidak ada perasaan berdebar dlm hatiku, doaku tidak pernah dijawab.
    Tapi setelah aku mengenal Yesus , aku merasakan hal yg luar biasa, doaku dikabulkan, setiap kali aku kegereja , aku merasakan hadirat Tuhan yg luar biasa dlm hatiku yg tidak dpt aku ungkapkan dg kata2.
    Ya, aku mersakan telah jatuh cinta …hatiku berdebar, dan aku memutuskan untuk memilih mengikuti Tuhan .

    I love Him , like I love my husband….

    Thank you
    T

    1. Baca tulisan sdri Susan Hwang dari awal sampe akhir eh ujung2nya promosi kesaksian nya tentang agama K. hehehe. Ini contoh orang Tionghoa yang sudah kena DOKTRIN PASTOR/PENDETA nya. Percaya membabi buta, MENYANGKAL leluhur sendiri. Sama kayak pernyataan diartikel diatas, orang macam ini suka mengakui bapak orang lain jadi bapaknya, mau apa lagi? Dia tidak tahu kalau dalam darahnya ada darah Tionghoa, mukanya yang cantik ada raut/ciri khas keturunan Tionghoa.

      Hati2 min jangan mau dikontrol oleh sebagian orang. Maju terus. Ingat kata Ahok, TUHAN saja tidak SEMUA ORANG suka. Itu aja patokannya. Apalagi manusia, pro dan kontra pasti adalah. Presiden sekarang aja ada yang tidak suka, apalagi kita orang Tionghoa?

      Makanya Tionghoa susah bersatu, karena sudah dipecah oleh agama lain. Lihat yang tidak suka rata2 dari agama yang disentil artikel diatas. Masa hanya karena segelintir orang lantas kita takut lalu mengalah?

      Engga lah. Yang engga suka biarin aja. Sama kayak matahari, suka atau tidak dia tetap ada muncul tiap hari toh? Kalo engga suka matahari ya boleh pergi menjauh cari tempat gelap. Tidak ada yang maksa anda2 untuk komen tanda tidak suka kok.

      Di forum2 agama NASRANI aja banyak kesaksian yang menghujat agama leluhur kami; tapi kami bisa perbuat apa? Tetap aja jalan kan? Masa kami tidak diperbolehkan membuat kesaksian sendiri di kelompok/kalangan kami sendiri? Lalu KESAKSIAN-KESAKSIAN dari kami SEPERTI DIATAS mau dimuat dimana? Apa bisa dimuat di forum kalian? Mau kalian memfasilitasi? Please deh dunia ini gak hanya ada kalian. Saling menghormati lebih baik.

  19. Agama Tionghoa itu yg skrg lbh populer disebut sbg Chinese Folk Religion, mmg dr dulu telah terjd sinkretisme / penggabungan bbrp kepercayaan yg berevolusi hingga skrg, termsk ajaran Daoism, Confusianism dan Buddhism. Terakhir Christianity juga sdh melebur kedlmnya, terbukti dgn di negara China sendiri byk aliran2 yg merupakan hsl gbgan dr bbrp agama yg saya sebut diatas. Jd, ini adalah hal yg wajar dan membuktikan betapa luwesnya kebudayaan China yg bs bertahan sampai skrg, meskipun sdh berasimilasi dgn ajaran lain namun tetap tak kehilangan ciri khasnya ( tradisi Imlek, tradisi mengenang nenek moyang wkt ChengBeng, tradisi makan BakCang, tradisi makan kue bulat, dll masih dilakukan sampai skrg). Jadi, saya pribadi merasa itu bukan masalah asal tradisi2 itu msh tetap bertahan dan tak akan mungkin bisa hilang krn org China ada dmana2. Kalau mau dikatakan ajaran Kristen membuat agama Tionghoa jd berkurang, saya pribadi kurang setuju, karena agama Buddha sendiri aja berasal dari India, dan ajarannya jg tak sejalan dgn apa yg menjadi tradisi asli Tionghoa ( Buddhism itu non-theistic , artinya ada Raja Langit atau tidak ada tak ada urusan, sedangkan kepercayaan asli Tionghoa mempercayai Raja Langit ada), namun krn sdh lama bersama2 dan berakar, maka meleburlah bersama2. Skrg masanya Kristen melebur ke dlm, dan saya rasa itu bkn sesuatu yg aneh jg, krn evolusi budaya dan kepercayaan memang bgtulah alaminya.

    1. Kalau itu sinkretisme namanya.. sudah jelas tidak boleh dan melanggar ajaran agama sndiri. Silahkan kristen yah kristen, khonghucu yah khonghucu,buddha yah buddha, dst.. jangan sampai terjebak dgn sinkretisme agama yg dibuat oleh orang2 tertentu untuk alasan pembenaran..

  20. Normal saja kalau banyak yang menentang artikel ini; rata-rata yang menentang terutama bukan etnis pribumi (fankui), bukan juga pribumi yang masuk gereja, tapi ETNIS TIONGHOA yang MASUK KRISTEN. Kenapa? Itu tandanya sudah sangat banyak kaum generasi muda Tionghoa yang pindah agama. Mereka sudah TERDOKTRIN dengan PENDETA nya di GEREJA!

    Jangan takut penulis! Blog tionghoa tentu saja HARUS berbasis agama-agama samkaw/trinabi (Budha-KongHuCu-Tao). Bukan hanya menyenangkan sebagian pihak yang merasa nyaman dengan apa yang sudah mereka jalani selama ini.

    Aneh kalo blog Tionghoa basis pengajaran nya malah condong ke gereja. Salah satu tujuan blog ini tentu adalah AGAR AGAMA ASLI ETNIS TIONGHOA BERKEMBANG bukan?

    Saya juga ingatkan buat ADMIN yang mengelola blog ini, ingat TANGGUNG JAWAB ANDA ADALAH MELESTARIKAN TRADISI DAN BUDAYA TIONGHOA; TENTU DI DALAMNYA SALAH SATUNYA TERDAPAT UNSUR AGAMA. Untuk itu dibuat rublik khusus agama diatas. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau melestarikan agama leluhur kita? Apa mau digerogoti agama lain?

    Gak perlu pusing dengan yang koar-koar. Agama kita habis mereka yang SENANG. Sekali lagi ingat tanggung jawabnya ya admin.

    1. setuju, yang lebih miris lagi ada teman saya yang agama tertentu mengakatan “Meja/altar sembahyangan di rumah lebih baik di buang saja, Karena kita harus memulai hidup baru *dalam artian setelah di *****s harus memulai hidup yang baru dengan melupakan semua yang lama, bahkan melupakan kepercayaan leluhur yang telah turun temurun menjadi tradisi” dan dia berkata seperti itu karena telah di doktrinisasi oleh pak ******* nya ! dengan tempat ibadah dia yang mayoritas tionghoa beragama tsb

  21. Trima ksh admin, tulisan diatas mengingatkan kembali kenangan masa sekolah dahulu, dari SD sampai Uni Saya bersekolah Di sekolah berbasis Katolik, saat saya SD kelas 5 Dan 6 ada seorang guru agama Saya yang sampai Saat INI masih membekas dalam ingatan Saya, beliau seorang Suster dalam setiap pelajaran agama Katolik seringkali meberikan semacam stiker bergambar Yesus, bunda Maria Dan lain2, Hal yang sangat menyenangkan, shg setiap minggu Saya sll menanti-nanti datangnya pelajaran agama Katolik! Namun menginjak SMP-SMA justru berbalik, ada2 saja guru agama Saya yang dgn sengaja mengejek bahkan menjurus ke penodaan kepada APA yg Saya imani ( dlm hati Saya hanya bisa tersenyum kecut; beginikah guru agama? ) Dan bagi Saya dgn mengikuti pelajaran agama Katolik justru menambah kenyakinan Iman Konghucu Saya, krn ada hal2 yg bisa Saya perbandingkan. kejadian yg paling miris Saya rasakan setiap Hari Raya Imlek tiba, ulangan harianpun tiba, setidak-tidaknya ada tugas yg hrs Kami selesaikan tepat pada Hari Raya imlek! Shg bayangan kebahagian menjelang Imlekpun pupus Sudah . . . . , padahal Imlek bukan sekedar Angpao yg dikejar (walaupun bagi sebagian Anak2 benar) ttp justru Saat Imlek ada bagian ritual sembahyang/ibadah yg wajib dilaksanakan !
    Sekarang berbalik arah gerejapun melaksanakan misa imlek, disaat hak-hak sipil umat Konghucu telah dipulihkan, berarti APA yg Saya yakini selama INI adalah benar, pihak lainpun mengikuti Saya, betapa membahagiakan . . . . .
    Berbahagialah krn Kita bisa berbagi . . . . . (Salah satu makna Hari Raya Imlek) Xie Xie

    1. Gereja ikut2an misa imlek karena saking takutnya banyak yang keluar dari “K”. Padahal kalo mau jujur mereka meyakini itu di luar dan bukan dari ajaran “K”. Sekedar mempertahankan pengikut.

      1. wenak saja koe ngomong, saya keturunan chines, imlek tu tahun baru chines oi, jadi agama apapun dia, selama dia keturunan chines, ya wajib ikut imlek, dan lagi, saya kristen, dan paling benci sama orang kristen fanatik, karena sumber segala masalah. karena yang diajarkan Yesus adalah kasih sesama manusia, bukan saling menghakimin. munculnya orang2 fanatik ini karena hati sudah merasa paling benar. saya beriman kepada Yesus karena saya pernah bermimpi hal2 yang aneh, dan iman saya yang lama tidak bisa memberikan jawaban pada saya, bahkan sang guru agama juga tidak bisa.

        1. Halo Ali, komentar kalimat terakhir anda di sensor karena mengandung bentuk promosi agama terselubung. Ini juga berlaku bagi semua pembaca agar tidak menulis komentar dalam bentuk promosi atau kesaksian agama secara terselubung.

          Demikian info & salam hangat

          Admin Tionghoa.INFO

  22. yang sudah berlalu, ya sudah…
    kalo bicara penyebab mungkin memang begitu..

    nah skrg, langkah ke depan gimana?
    itu yg harus kita pikirkan, kita perbuat..

    misal selaku orang tua,
    ajak selalu anak kita ke wihara, perkenalan persembahyangan tradisi kita, kalo emang memungkinkan sekolah mereka di sekolah yg berbasis agama tionghoa..
    terus apa hanya di anak saja…
    ya gak dong, kita sebagai umat juga berjuang..
    aktif di tempat ibadah…
    gali cara bagaimana supaya umat betah datang beribadah..

    ya itu aja koment dari sy…

  23. Ya begitulah fakta / kenyataan di lapangan.
    Menyedihkan….
    Semoga ada perbaikan yg berarti bagi perkembangan Agama Tionghoa ke depan nya.

    Salam,
    Tee Eng Tjin ( Marga Singgih )

  24. Sebelumnya perkenalkan saya Hendra.
    Saya keturunan chinese. Saya suka sekali dan saya selalu update untuk membaca artikel yg ada di website ini krn sayapun sangat menyukai budaya chinese.

    Tapi maaf sebelumnya. Untuk artikel ini saya merasa sangat keberatan dan artikel ini sangat diskriminatif dan menyudutkan agama lain.

    Tolong ke depannya penulis lebih selektif dan memilah2 kata dan kalimat dalam penulisan disetiap artikelnya agar tidak ada pihak manapun yg merasa disudutkan dan tersinggung.

    Terima kasih.

    1. Halo Pak Friedrich. Saat ini artikel yang ditulis oleh author Stevany masih tetap ditayangkan. Sebelumnya sudah dipertimbangkan apakah sebuah artikel laik tayang atau tidak. Ini karena artikel merupakan pandangan pribadi dari penulis ybs, dan tidak bisa di intervensi oleh admin. Jika memang banyak keluhan tentu akan dipertimbangkan untuk diturunkan artikelnya.

      Xie xie.

    2. Masalahnya apa yang ditulis artikel ini adalah kenyataan.

      Kami sekeluarga katolik dan ga ada masalah dengan mempraktekan budaya tionghoa. Tapi semenjak kakak saya menikah dengan wanita beragama tertentu dan tentu saja pindah agama mengikuti agama wanita tersebut .. dia langsong jadi antipati sama budaya tionghoa.

      artikel ini bicara fakta, kalo berdasarkan fakta dan anda masih ngomel berarti cara berpikir anda diktaktor yang ogah dikritik. #banting cermin

      1. Memang faktanya seperti itu. Tp bukan berarti harus menyalahkan agama tertentu. Bukankah itu adalah dari hati masing-masing? Nggak bisa langsung salah menyalahkan karena berpindah agama, salah satu faktor utama penentunya adalah individu. Kalau memang anda kuat sebagai pemeluk tionghoa, meskipun dijejali ajaran agama apapun ya sy yakin nggak akan bisa pindah agama spt itu..
        Sy kristen dan bayangan anda adalah fanatik sempit. Nggak semua kristen spt itu, leluhur sy banyakan beragama konghucu yang lebih ke arah penyembahan patung, dupa / ke kuburan. Sy tau di agama sy itu adalah berhala. Tp kembali lagi bagaimana kita menyingkapinya. Sy akan tetap lakukan hal tsb krn sy sadar itu merupakan tradisi, dr sanalah sy lahir dan dibesarkan. Malahan sy membenci kristen yang terlalu fanatik..
        Jadi, menurut sy utk artikel ini sifatnya mmg fakta tp lebih kepada sebab akibat dr agama tertentu. Padahal kenyataannya, agama adalah perantara dan semua kembali ke kita masing” apakah kita kuat dg yg kita imani. Jika tidak ya jangan salahkan agama krn agama mengajarkan hal spt itu ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Mencuri artikel orang adalah perbuatan tercela!