Last Updated on 17 October 2022 by Herman Tan
Saya beberapa bulan yang lalu mengelilingi kota2 besar di Indonesia, seperti Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, sampai Manado karena tuntukan pekerjaan.
Sekalian saya ambil waktu sedikit buat jalan2 mengelilingi setiap kota yang saya kunjungi; tentu saja yang tidak akan saya lewatkan adalah berkunjung ke beberapa Kelenteng lokal.
Karena tidak menguasai lokasi, saya menggunakan jasa taksi. Miris memang, saya malah menemukan banyak Kelenteng yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan biokong (penjaga kelenteng) pun tidak ada, dan kadang hanya ditunggui oleh warga setempat.
Ini berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat Nasrani yang penuh sesak oleh etnis Tionghoa. Saya sendiri tinggal di Jakarta, sering mengamati banyak orang Tionghoa yang berbondong2 datang ke Gereja untuk sekedar mendengar khotbah/doktrin dari pendetanya.
Saya sering berpikir, apa alasan mereka untuk pindah Agama?
Lah, masa sih “Bapak” orang lain mau dianggap sebagai “Bapak” sendiri?
Populasi etnis Tionghoa yang masih memeluk kepercayaan asli leluhurnya terus menurun dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penambahan, hanya karena ikatan perkawinan yang mengharuskan untuk pindah kepercayaan, bukan keiklasan atau kesadaran.
Boleh dibilang masuk 1 keluar 10. Kalau begini, lama2 akan habis juga cepat atau lambat.
Salah satu penyebab utama yang dapat saya tangkap, adalah karena begitu banyaknya mitos, tahayul, tradisi, kebiasaan, dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa sendiri yang sulit dicerna oleh akal sehat.
Hal ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik domba gemuk yang siap disembelih umat2 berduit dari etnis Tionghoa, untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar, bertingkat2, dan bercabang2!
Mereka memberikan doktrin, bahwa kepercayaan dan agama Tionghoa itu penyembah berhala/setan, tidak logika, musyrik, sesat, dan lainnya. Hasilnya bisa di lihat, pemuda/i Tionghoa sekarang rata2 sudah pindah Agama bukan?
Sisa petua-petui yang sudah bau tanah berumur saja yang kebanyakan masih menjalankan tradisi/kebisaan leluhur secara penuh.

Baca juga : Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu!
Kalaupun mereka (muda/i) masih ikutan, itu karena terpaksa, atau karena tradisi itu dianggap masih menguntungkan mereka, seperti :
1. Tradisi Imlek : Bisa dapat angpao! Tentu harus ikut ini. Kalau engga, ya tidak dapat duit. Tapi hanya di sesi makan2 bersama saja. Sesi sembahyang H-1 sebelum Imlek engga ikut, karena harus sembahyang pegang dupa.
2. Tradisi Tea Pai : Sama kayak angpao. Engga mau ikut pai tea, jangan harap mau dapat angpao atau emas tebal2 dari keluarga! Tapi masih saja dikadalin. Mereka tidak mau malakukan soja (kui, berlutut) dengan alasan berhala (menyembah selain Tuhan).
3. Pernikahan ala Tionghoa : Yup. Biar dapat angpao banyak dari tamu, tinggal pasang karakter 囍 di pelaminan. Karena Tionghoa identik dengan orang kaya dan eksklusif. Ini fakta di lapangan. Saya banyak menjumpai dan mendegar hal demikian. Jadi istilahnya pakai label Tionghoa gitu.
4. Makan Kue Bulan : Lumayan dapat makanan enak, kue bulan (kue pia) sekotak harganya 100-200 ribu (brand tertentu bahkan bisa diatas sejuta). Lumayan buat dipamerin ke teman.
Kalaupun mesti ke kelenteng, lumayan buat cuci mata, karena biasanya hari itu banyak cewek2 cantik atau cowok2 cakep Tionghoa yang memang kebetulan sembahyang ke kelenteng untuk minta/cari jodoh (referensi : baca cerita Dewa Yue Lao).
Sementara tradisi2 yang “merugikan” mereka, seperti :
1. Ziarah Ceng Beng : Capek mesti ke kubur. Mesti siapin makanan lagi, keluar duit kan? Sudah gitu harus pegang dupa lagi (karena menurut doktrin pendetanya agama barat, PANTANG memegang dupa! Mereka lupa kalau ada bule2 saja ada yang memegang dupa).
2. Sembahyang bulan 7 tanggal 15 : Sama! Mesti keluar duit juga, mending ikut doktrin agama, bahwa itu termasuk penyembahan berhala/setan. Padahal orang2 barat juga merayakan festival Hallowen setiap tanggal 31 Oktober.
3. Pergi sembahyang ke Kelenteng setiap hari sejid Dewa/Dewi : Ke tempat yang penuh asap, kusam, suasana mencekam, panas, mana mau? Belum lagi harus lihat potongan kepala babi di tengah altar kalau ada sembahyang besar?
Idih, jijik deh. Mana cuma datang, pai, pulang lagi (umat cung cung cep). Tidak ada ceramah, suntuk, mending bobok, atau mending ke gereja, adem, wangi. Atau ke mall2, ramai, penuh dengan teman2 sebaya. Siapa tahu dapat gabetan?
4. Sembahyang Ce It dan Cap Go : Waduh harus nyiapin segala keperluan sembahyang di rumah. Keluar duit sih gapapa, tapi kan capek juga. Kalau ke kelenteng, sisa ketemu tua-tui semua, jadi malas duluan. Mending tiap minggu ke Gereja dengar khotbah pendeta, lokasi strategis, ramai, tinggal duduk, dapat bonus cuci mata lagi.
“Jadi jangan kira Mereka patut dipuji karena masih menjalankan “sebagian” dari tradisi Tionghoa. Sebenarnya Mereka hanya mau menjalankan tradisi yang ENAK-ENAK dan yang MENGUNTUNGKAN saja”.
Saya barusan terpikir, kenapa salah satu manusia etnis Tionghoa yang bernama Cristofus Sindunata pada tahun 1967 mendukung Inpres Nomor 14 Tahun 1967? Tentu tak lain agar orang2 Tionghoa terpaksa untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah2 swasta, yang rata2 memang dikelola oleh Nasrani.
Tidak mungkin orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah “pribumi”, alias sekolah negeri, yang kala itu kebanyakan berbasis Agama Islam. Bahkan sebagian menerapkan aturan berjilbab adalah hal wajib bagi wanita.
Saya salut, karena ini bisa dibilang investasi jangka panjang beliau. Beliau tidak mengincar generasi BAU TANAH yang se-usianya, karena sadar sebentar lagi sudah mau waktunya 🙂 Ini adalah upaya “kristenisasi massal” kala itu.
Beliau mengincar generasi muda, agar kelak bisa maju pesat dan berkembang di tanah air, seperti halnya agama mayoritas. Jadi semenjak kecil anak sudah dikenalkan dengan firman Tuhan, lama2 pasti pindah agama kecuali takdirnya keras wkwk.
Apalagi teman2 se-usia mereka juga sudah pindah agama. Mana mau ditinggal sendiri? Karena 80% manusia itu bermental pengikut, 15?% provokator, dan 5% adalah pemimpin, yang berani tampil beda menyandang status double/triple minority.

Ketika mereka mencapai usia dewasa, mereka bahkan bisa “lebih militan” daripada yang non Tionghoa. Yap! Mereka tidak segan untuk mengajak orang tua, kakak, adik, keponakan, sepupu, dan saudara2 jauhnya untuk ikut. Banyak contoh kasus menyedihkan yang pernah saya dengar.
Misalnya, ketika orang tua mereka sudah sekarat, sudah tidak sadar, cepat2 mereka ajak pendetanya untuk membaptis. Atau seperti foto diatas. Dimana anak2nya sudah pada pindah agama. Akhirnya malah pembantu dari majikan tersebutlah yang menyembahyangi beliau.
“Konsep Surga dan Neraka itu dibuat untuk menakut-nakuti domba2 gemuk. Nanti kalau sudah pintar semua, dombanya sukar digembalakan 🙂
Agama itu untuk mengatur biar umat tidak kacau. Kalau Agama sampai membuat kita malas menggunakan otak untuk berpikir, mungkin sebaiknya otaknya dikembalikan saja. Jangan sampai agama hanya diperuntukan bagi mereka yang berhenti berpikir”
Saat ini tradisi dan kebudayaan Tionghoa, meski sudah bebas berkembang di tanah air, tapi makin sedikit saja umatnya. Seperti catatan perjalanan singkat saya di awal paragraf, banyak kota besar yang Kelentengnya sudah kosong melompong pada saat sembahyang.

Baca juga : Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)
Ini harusnya menjadi tantangan bagi pengurus Kelenteng dan bagi generasi penerus Tionghoa yang masih bertahan, agar bagaimana melestarikan tradisi, kebudayaaan dan agama Tionghoa agar tidak makin terpuruk.
Satu lagi, seperti soal bahasa, dimana kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia sekarang (generasi awal 60-an s/d awal 90-an) malah tidak bisa berbahasa Mandarin. Juga tidak bisa memegang sumpit. Sementara orang2 pribumi sekarang malah fasih berbahasa Mandarin dan pintar2 pakai sumpit di restoran chinese food.
Ini fakta yang saya temukan sewaktu makan di beberapa restoran. Lucu memang, tapi itulah kenyataannya.
Catatan : Merupakan pandangan pribadi penulis yang bersifat subjektif (2) Yang dimaksud Agama Tionghoa disini adalah Taoisme, Konghucu, dan Buddha (meski sebenarnya Buddha berasal dari India, namun tumbuh berkembang pesat di Tiongkok). Penggunaan kata Agama Tionghoa hanya untuk mempersingkat judul. So, don’t be stupid.
Perbedaan Vihara dan Kelenteng
Banyak yang salah kaprah, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa ‘vihara’ dan ‘kelenteng’ itu berbeda. Ada yang menganggap ‘kelenteng’ adalah panggilan lain dari ‘vihara’, jelas semua itu adalah salah. Pada kesempatan kali ini, Anda akan mengenal lebih lanjut, apa sajakah perbedaan ‘vihara’ dan ‘kelenteng’.
a. Vihara
* Adalah rumah ibadah umat Buddha
* Biasanya berarsitektur India/Thailand, ada pula yang berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Vihara aliran Theravada, hanya ada rupang (patung) Buddha Gautama beserta 2 muridNya. Di dalam Vihara aliran Mahayana, terdapat 3 rupang, yaitu: Rupang Buddha Gautama, Rupang Bodhisattva Avalokiteshvara, Rupang Bodhisattva Ksitigharba/Bodhisattva lainnya.
* Tidak terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang.
* Upacara keagamaan biasanya dilakukan secara jemaat yang disebut Puja Bakti/Kebaktian, walaupun umat juga diberi kesempatan untuk beribadah secara individu. Setelah beribadah umat biasanya akan diberi dhammadesana (khotbah/ceramah).
* Sebuah tempat bisa dikatakan Vihara apabila: memiliki minimal 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian), memiliki kuti (tempat tinggal bikkhu), perpustakaan, bahkan ruang khusus untuk khotbah. Vihara yang lebih kecil disebut Cetya yang hanya memiliki 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian) tanpa memiliki dhammasala dan perpustakaan. Vihara yang lebih besar dan memiliki taman disebut Arama. Vihara bisa disebut Arama apabila: memilkiki minimal 1 ruang dhammasala, kuti, perpustakaan, ruang khotbah, dan yang paling penting taman.
* Vihara biasanya menggunakan nama berbahasa Pali atau Sanskerta. Contoh: Vihara Dharma Loka, Vihara Vimala Virya, Vihara Dhamma Metta Arama, Vihara Vipassana Graha, Cetya Tisaranagamana, dll.
b. Kelenteng
* Adalah rumah ibadah umat Konghucu/Tao
* Biasanya berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Kelenteng terdapat rupang para Dewa/Dewi yang dipuja oleh umat
* Terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang
* Umumnya upacara keagamaan dilakukan secara individu
* Biasanya juga sekaligus merupakan tempat perkumpulan/yayasan sosial, seperti Kelompok Pemain Barongsai, dll.
* Kelenteng biasanya diberi nama dalam bahasa Mandarin atau bahasa Indonesia. Contoh: Kelenteng Tua Pek Kong, Kelenteng Dewi Sakti, Kelenteng Surya Bakti, dll.
Tidak heran kekeliruan ini terjadi. Pada masa Orde Baru, pemerintah RI melarang segala jenis apapun kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua. Sehingga Kelenteng yang merupakan salah satu tradisi Tionghua akhirnya terancam ditutup. Untuk mengatasi hal itu, sebagian Kelenteng dan umat Konghucu saat itu berlindung di bawah naungan agama Buddha, sehingga mengubah nama Kelenteng menjadi nama Vihara. Tidak hanya itu, umat Konghucu yang bernaung menjadi agama Buddha pun hanya menyandang gelar agama Buddha saja, tapi tetap melakukan tata cara ibadah agama Konghucu. Sebagian umat lain malah pindah ke agama lain seperti Katolik, Protestan, Islam, ataupun Hindu yang ketika itu merupakan agama resmi.
Sejak Orde Reformasi, atau lebih tepatnya masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, kebijakan yang melarang kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua itu kemudian dihapuskan. Sejak saat itulah umat Konghucu lebih leluasa beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan dan kebudayaan seperti tarian Barongsai, Imlek, dll. Dan sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Banyak pula Kelenteng yang kembali mengganti nama seperti nama semula. Namun, adapula Kelenteng yang tetap mempertahankan nama Vihara yang sebetulnya hanyalah merupakan nama sementara.
Dan dulu, sebelum agama Konghucu diresmikan, orang awam juga keliru membedakan mana Kelenteng dan mana Vihara, karena menurut mereka, hampir semua orang Tionghua yang pergi ke Kelenteng atau Vihara, sehingga umat Buddha dan umat Konghucu pun dicap sebagai agama yang hanya dianut oleh etnis Tionghua. Padahal, hal ini salah. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak pula warga asli Indonesia yang menganut agama Buddha.
Dampaknya tidak hanya sampai di situ, karena larangan pada Orde Baru, terjadilah penggabungan 3 tempat ibadah menjadi satu. Tempat ibadah itu disebut Vihara Tri Dharma (Tiga Ajaran: Buddha, Konghucu, Tao) Dan tempat ibadah ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun berdampak negatif yaitu timbulnya kekeliruan, tapi tempat ibadah ini juga berdampak positif yaitu mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Perbedaan Agama Buddha dan Konghucu
a. Agama Buddha
Penyebar Ajaran : Sidharta Gautama Buddha
Asal Ajaran : India
Kitab Suci : Tipitaka (Theravada, bahasa Pali) atau Tripitaka (Mahayana, bahasa Sansekerta)
Rumah Ibadah : Vihara
Bahasa Asli : Bahasa Pali atau bahasa Sansekerta
Pemimpin Agama : Bikkhu (Theravada), Biksu (Mahayana), Bikkhuni (Bikhhu Wanita)
Salam Keagamaan : Namo Buddhaya; Namaste
Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk “Tuhan” adalah Sanghyang Adi-Buddha Tuhan Yang Maha Esa (lebih sering digunakan oleh Buddhayana/ Ekayana). Aliran Theravada lebih sering menggunakan padanan kata Sang Tiratana.
b. Agama Konghucu
Penyebar Ajaran : Nabi Konfusius
Asal Ajaran : Tiongkok
Kitab Suci : Sishu, Wujing, Xiao Jing
Rumah Ibadah : Kelenteng / Lintang
Bahasa Asli : Bahasa Mandarin (bahasa Tiongkok)
Pemimpin Agama : Pendeta Konghucu
Salam Keagamaan : Wei De Dong Tian
Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk “Tuhan” adalah Tian/ Thian Tuhan Yang Maha Esa.
Jd geli bacanya, maaf….
Trs terang sy jd bingung agama jd perdebatan…
Yg sy tahu secara keilmuan dasar jelas BEDA BESAR antara Katholik, Kristen, Islam dgn Hindu, Budha (Kong Hu Cu didalamnya) krn yang satu ada awal dan akhir (Alfa Omega) disisi lain adanya Reinkarnasi (Hukum Karma)…..diperdebatkan ya gak ada ujungnya….
Kenapa sih gak dibicarakan persamaannya atau kalau suatu perayaan dilakukan (Perayaan Imlek hrs dilakukan) kan semua diajarkan Cinta Kasih?
Contoh Perayaan Imlek adalah Perayaan Tahun Baru berdasarkan pengalenderan Tionghoa (Cung Kok atau Negara Tengah) atau biasa disebut Cina….yang menurut perhitungan berdasarkan perputaran bulan dimana setiap 4 tahun sekali ada Lun….
Secara Tradisi dirayakan bersama seluruh keluarga juga termasuk Ceng Beng itu agar seluruh sanak saudara dan famili berkumpul krn Umat Thionghoa tersebar diseluruh DUNIA….
Masalah Ang Pao juga merupakan masalah berbagi Rejeki, apakah di agama lain tidak ada istilah Menabur atau Zakat….
Itu pendapat saya….Thanks
Apa yang anda tuliskan memang benar. Saya sendiri udah alami, dari dibilang anak setan sampai ke penghinaan atas kepercayaan yang kujalani. Manusia sekarang maunya serba enak dan instant. Tak salah buku cina yang pernah ku baca bahwa nanti orang cina akan lupa siapa leluhurnya dan siapa dirinya, kalau tak salah buku itu udah ribuan tahun sih cuma judulnya saya lupa, masalahnya saya pinjam dari kelenteng sih.
agama hanya buat manusia terkotak2..satu ras saja bisa bermusuhan..ada baiknya perkuat kebudayaan sesama tionghua saja.
Saya mencoba untuk sedikit bertukar pikiran kenapa agama Tionghoa menurun pemeluknya (di luar yang sudah dituliskan di atas.
Agama Tionghoa adalah agama etnis, seperti halnya agama Yahudi yang hanya bisa dianut orang Yahudi. Meskipun mungkin tidak ada larangan (saya tidak tahu tentang hukum di dalam agama Tionghoa), sulit rasanya membayangkan kalau ada orang di luar etnis Tionghoa yang memeluk agama Tionghoa.
Agama Tionghoa juga bukan agama misi. Kita tidak menemukan para pendetanya yang sibuk mencari umat dan “mempertobatkan” umat agama lain supaya bergabung ke agamanya supaya bisa terselamatkan.
Zaman juga telah bergeser, arus modernisme semakin tidak terbendung. Ajaran2 tradisi mau tidak mau tergerus arus zaman, dan ini tidak hanya terjadi pada agama Tionghoa. Kejawen semakin tersingkir oleh Islam santri, misalnya. Agama Flores pun semakin tergeser oleh agama Katolik. Agama Dayak asli juga mengalah pada Kristen. Hal ini ditambah dengan kurangnya dukungan negara terhadap agama2 etnis atau agama asli.
Satu2nya cara untuk bisa bertahan menurut hemat saya adalah melakukan transformasi. Dari tulisan2 Admin saya melihat ada usaha ke arah situ.
Bagaimana pun agama Tionghoa adalah sebuah warisan yang patut untuk dipelihara. Sebuah agama yang telah bertahan ribuan tahun pasti mengandung mutiara2 berharga di dalamnya yang bisa memberikan sumbangan besar bagi umat manusia.
Pak Oni Suryawan, terima kasih tambahan dan respon positifnya 🙂
wa orang hokkien terlahir dari keluarga penganut taoisme…tapi itu agama orang tua wa dong kepercayaan,warisan,pilihan mereka…..wa trlahir non theis la dan hingga saat ini saya memilih atheis daripada brkumpul dengan orang” theis fanatik yg brfikiran sempit……banyak sih yg bilang wa binatang kturunan monyet darwin krn atheis….tapi wa tak perduli yang penting wa hidup tak henti” berusaha berbuat baik n tidak ikut campur urusan agama orang……
Saya chinese agama Konghucu.
Berpegang teguh sama kebudayaan dari china, bukan dari barat.
Karena asal kita dari china bukan dari roma italy.
buat apa jauh2 mencari agama lain.
Agama kita sudah beriatus” tahun.
Cukup jalani agama kita saja sudah cukup.
Byk teman kita sudah di cuci otaknya sehingga banyak yg berubah pandangan
Hmmmm…saya jadi ingat waktu mau daftar sms di surabaya (saya berasal dari luar pulau). Pertama-tama saya di tanyain agama apa. Dan polosnya saya berkata budha. karena itu memang agama saya. Yang lebih mengherankan saya lagi kenapa tiba-tiba banyak teman saya yang dari luar pulau mengatakan katolik atau kristen padahal saya tahu sebelumnya mereka agama budha. Selidik demi selidik ternyata suatu agama berperan dalam menentukan bisa masuknya ke suatu sekolah, uang pangkal dan uang sekolah! ini nyata! Maaf saya tidak ada maksud menjelekkan agama lain. Bagi saya semua agama sama baik. Semua tergantung umatnya. jadi buat apa diambil pusing menyalahkan sana sini? mending kita bersatu menolong sesama manusia dan bersyukur sesuai agama masing-masing atas hidup yang sudah kita jalanin. Bukannya indah hidup berdampingan tanpa ada pemusuhan? Peace (y) ^^
儘管如此,我們都是一個意義上,我們都是兄弟方程1中國血統
又中国。你现在是什么国籍?
4 taktik misionaris , sekolah,rumah sakit,ekonomi,jodoh..runtuhnya agama tri dharma krn kesalahan org tua yg tdk tegas mendidik anak2nya sdr ,mrk dibebaskan memilih agama sdr ,akhirnya agama lain yg aktif menjaring pengikut memangfaatkan dng jitu! Sekolah nasrani yg plg utama mengkristenkan org tionghoa,hbs itu wkt sakit didoakan lalu sembuh sekeluarga pindah semua,org lupa 1000 org dirumah sakit didoakan atau tdk 100 org ya mati 900 sembuh,yg sembuh blg ini mukzizat yg nyata, siapa yg idiot?hahaha,apa para pendoa tsb tdk bs sakit dan mati? Jodoh adalah alasan lain pindah agama,dan org tua tdk menghalangi,ekonomi merosot lalu dtg tmn nasrani memberi penghiburan pindah lagi.. Ingatlah saudara kita adalah tionghoa dan bukan Yahudi,klo bukan kita yg pai leluhur kita siapa lagi? Tp skrg kita sdh menyerang balik,benteng2 yg jatuh akan kita rebut kembali..ciayou!
Halo yuriance, mereka (misionaris) punya tugas yang harus diemban. Tergantung kitanya aja sebagai etnis tionghoa yang kuat pegang agama dan ajaran leluhur atau tidak. Karena sekarang, kata “LELUHUR” itu bermakna KUNO dan KETINGGALAN ZAMAN. Kalau doktrinnya saja sudah seperti itu apalagi mau dikata? Sebenarnya kesalahan utama justru dari kita sendiri, bisa anda baca di Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia bagian II.
Semua agama baik, itu tergantung dari siapa penyebar (khotbahnya) dan sang umat yang menerima khotbahnya.
Sedangkan di dalam setiap agama tentu terdapat oknum yang nakal, memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi (dengan kata kasar mengunakan simbol agama memperkayakan diri/ golongan).
Kita kasian aja, generasi muda tionghoa sekarang, yang wanita lebih menyukai lelaki pribumi. Padahal dahulu rajin ke kelenteng setelah nikah malah masuk gereja; begitu pun sebaliknya yang laki, dapat cewek pribumi (tapi ada separuh tionghoa karena sudah pindah agama gereja juga) akhirnya ikut masuk gereja hanya karena alasan CINTA.
Para pengurus klenteng vihara litang harus introspeksi diri. Kenapa kaum mudanya dulu rajin sekarang menghilang? Jangan cuma bingung cari dana uang!
Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
Yth.Admin,
tentang agama klo saya boleh berpendapat,semua itu ada jodohnya masing masing, namun disisi lain di era globalisasi ini bukan saja di agama Taoisme,namun hampir disetiap agama sudah banyak yang diselewengkan dari intisari ajaran aslinya, klo kita renungkan Agama itukan aturan yang mengatur norma,etika dan kaidah kehidupan manusia dengan alam dan Tuhannya, swedangkan hukum negara hukum adat dsb kan aturan yang mengatur norma,etika dan kaidah kehidupan manusia dengan sesama manusia,kesemuanya itu bisa diselewengkan untuk tujuan politik,ekonomi dsb. Ajaran Agama apapun itu intinya sama saja kok, klo ada yang menjelek jelekan Gama lain itukan mereka tidak sadar sedang menjelek jelekan Than mereka sendiri, secara mereka klaim semua yg ada di dunia ini Ciptaan Tuhan, berarti agama lain pun Ciptaan Tuhan bahkan syetan pun Ciptaan Tuhan, jadi klo ada yg bilang itu syirik ini syirik sebenarnya mereka belum benar benar paham, dan juga klo kita sembahyang dengan persembahan barang berjiwa pun itu tidak benar lagi lagi ketidak benaran ini juga karena ketidakpahaman. klo masalah kok agama a lebih banyak dari agama b dsb itu karena kehendak jaman, sekarang ini orang sering tidak mengerti artinya kebebasan jadi banyak anak muda maunya bebas malah bablas. jangankan sama leluhur, kadang jaman sekarang anak baru kawin kemarin udah lupa sama bapak ibunya sudah banyak terjadi,lebih percaya orang lain daripada orang tua sendiri,sedikit sedikit curhatnya ke guru atau ke pemuka agama, jadi orang tuanya dikesampingkan,bahkan banyak orang tua yang dulunya gitu juga,adu argumentasi sudah jarang ditemui, seakan klo kita adu argumen tentang kepercayaan itu hal yang tabu, seharusnya klo memang punya logika yang benar maka berargumentasi bukanlah hal yang tabu, sekarang lebih cepat emosi daripada perenungan,klo admin punya forum sebuah tempat saya bersedia membantu tukar pkiiran dan tukar argumen jadi kita jangan doktrin tapi kita kasi bukti nyata,bahkan kehidupan setelah mati seperti apa kita bisa kasi bukti nyatanya, klo saya meaksa anda percaya saya,saya berarti penipu, jadi tapi buktikan aja perkataan saya ini di telp 02133116469, nanti kita buka forum argumentasi jadi bukan ceramah yang isinya janji janji “percayalah” dsb, Semoga Tuhan Memberkati.KamSia
wah ternyata sudah pada kritis-kritis sekarang, saya sangat bangga tentunya, meski topik ini ndak mungkin ada pangkal akhirnya, sayang posting saya kemarin web nya tidak ikut muncul, ndak tau mungkin karena dilarang sama admin atau gimana, yang mungkin menjadi rancu adalah antara tradisi dan agama, agama barat adalah agama yang melalui doktrin, jelas kitab sucinya maupun ajaran nya yang terkandung didalamnya, serta penyebarannya pun sudah sering kita lihat
agama tionghwa adalah agama tradisi turun temurun dari nenek moyang kita, hal ini kita dapat lihat melalui tradisi-tradisi yang ada dari jaman nenek moyang kita sampai sekarang ini, miss kita jaman sekarang karena jelas dari pengaruh politik negara indonesia jaman dulunya, sehingga untuk perkembangan agama dan keyakinan sangat ditekan sehingga kita menjadi seperti apa adanya sekarang ini,apabila kita merunut keluar negeri agama tionghwa jelas bebas dijalankan dan sangat besar disana,
dikarenakan hal-hal demikian lah makanya sangat susah sekarang ini khususnya agama tradisi untuk menemukan pengajar-pengajar yang baik sehingga apa yang saya tangkap dari uraian tulisan diatas adalah menjadikan kita punya umat semakin lama semakin sedikit,pengertian-pengertian tersebut yang menjadikan faktor pindah agama tidak ada pembandingnya, tidak ada penyebar agama dalam tradisi kita biasa nya ya dari orang tua kita ( mungkin dalam agama budha saja yang sudah bagus sekali lagi karena suhu politik waktu itu hingga dampaknya sampai sekarang), tapi jangan kawatir saya ada beberapa liat generasi sekarang sedang berbenah, MTI maupun matrisia meski beda organisasi sedang mengodok orang-orang yang potensial untuk memajukan agama tradisi ini,sebenarny agama kita juga dapat dilogika, bahkan beberapa pertanyaan dan hujatan dari agama sebelah tidak lain karena mereka tidak mengenal dan mengetahui prisip-prinsip dasar agama kita, agama tradisi sangat berpegag teguh pada arti, itulah hebatnya kita sebagai teng lang, semua ada artinya, bahkan angka saja bisa menjadi arti.
jadi jelas lah istilah imlek tidak akan dapat masuk dalam agama lain karena itu merupakan tradisi dari orang tionghwa yang penuh makna (arti), menjadi tidak berarti apabila dirayakan di tempat lain, dan jelas sekali apabila kita melihat imlek dalam agama lain nuansanya jelas berbeda mungkin juga banyak simbol-simbol atribut yang salah sasaran bahkan mereka sendiri susah mengartikan kenapa kok imlek selalu ada ini itu, ada nya adalah loss/miss pengertian dan ini berbahaya apabila di biarkan terus menerus,
mungkin jg saya ada baca ulasan stevani yang ke2 sudah dapat di jawab hingga tau ya kenapa kok demikian adanya, mampir ke blog saya semoga kita dapat mengupas nya,
masalah samseng? mens? rupang kuda? itulah perlunya kita berbenah karena agama tradisi kita tidak monoton dan selalu berkembang, sebagian orang tua/senior memang masih menganut tradisi yang artinya sendiri mereka tidak ketahui, saya kasih contoh sedikit saja masalah mens? kenapa dl dilarang pergi ke kuil/kelenteng karena jaman dahulu belum ditemukan pembalut yang secangih sekarang ? ( bisa dipikir ya) trus sekarang gmn? ( bisa dijawab sendiri).
masalah Samseng, samseng juga mengalami perubahan ini juga sebagai pembelajaran buat kita, jaman dahulu samseng itu kan mewakili 3 alam, itu harus benar-benar utuh dan sempurna, (bukan ayam melainkan burung yang dipanah) jaman sekarang sudah jauh berkurang pengertian2 diatas yang perlu didalami, simbol 3 alam dapat diganti tentunya, (coba dipelajari lebih dalam lagi)
oke, terima kasih telah diperbolehkan posting komen
edi suprapto
Halo pak Edi Suprapto. Mohon maaf sebelumnya, untuk komentar yang isinya terdapat link tidak dapat ditayangkan karena otomatis dideteksi sebagai SPAM oleh sistem kami dan akan langsung di delete. Link hanya dapat di tulis pada bagian URL di kotak komentar, tidak pada bagian content/isi komentar.
Demikian info dan salam hangat
Setuju min. Memang kenyataannya sperti itu. KRISTENISASI khususnya Untuk masyarakat Tionghoa menjadi target Utama,Terbesar dan TERBANYAK. Selain etnis Jawa dan Kalimantan (menurut artikel yg pernah saya baca). Karena Hindu&Muslim masih kuat dan teguh memegang Agamanya. Apalagi dgn “free fork consumtion”. Sekarang lebih dikaitkan pernikahan Suku Batak&Tionghoa sebagai alat transisi agama. Mari budayakan sembahyang bersama keluarga ke Li thang/pekong. Agar anak2 kita kenal budaya leluhurnya.
Sharing Pengalaman: Pada satu kesempatan di tanah West Borneo, seorang yang orang sini biasa sebut beragama Loya (khonghucu???) datang meminta diri supaya ingin masuk agama tertentu. Karena tidak ingin terjadi salah paham dengan pemuka agama Konghucu, si pemuka agama yang didatangi itu bertanya, “Kenapa ibu mau menjadi agama A? bukankah agama ibu itu baik adanya?” dengan jujur si ibu itu yang usianya sudah sekitar 60an tahun menjawab, “kalo masih di Konghucu, mahal, kami ingin murah.” Mahal maksudnya biaya kematiannya. Karena semuanya tidak bisa ditawar-tawar. Mereka tidak punya uang. Konsoi (peti mati) 15 juta, biaya makam 30-50 juta. (ini adalah salah satu alasan yang pernah ditemukan)
Di zaman yang sudah modern ini, dimana jumlah penduduk dunia sudah mencapai 10 milyar dengan tidak ada lagi tempat (ruang) terbuka di kota-kota besar, kebanyakan orang yang meninggal sudah di kremasi atau diper-abukan. Jauh lebih simple dan lebih murah karena tidak perlu cari lahan 4×6 meter untuk kuburan, hanya membutuhkan sedikit ritual untuk upacara (bagi yang beragama Konghucu, taoisme).
Namo Buddhaya,Namo Amithaba,
ngawur itu, orang lain susah kok malah ambil untung,di ajaran Taoisme,Buddha atau KongFuTze ga ada kaya itu.Bisa bisanya orang jahat permainkan orang
klu di adat jawa orang datang ke pemakaman biasanya nyumbang, jadi lebih meringankan beban orang yang ditinggalkan
Saya prihatin anak-anak saya (semua perempuan) semua sudah masuk gereja (ikut suami) dan tidak lagi menjalankan tradisi leluhur keluarga kami.
Sedih juga karena ketika saya tiada nanti pasti tidak akan ada anak yang menyembahyangi dengan dupa. Semua pakai cara barat. Tidak akan ada lagi yang datang ke kubur saya karena nanti dianggap menyembah setan, padahal saya papa kandung dari mereka. Ntah doktrin apa yang diajarkan guru mereka sewaktu di sekolah, teman pergaulan mereka, dan tentunya suami mereka saat ini.
Saya tidak mau menyalahkan lebih lanjut, menyesal saja saya tidak ada anak laki yang akan melanjutkan tradisi keluarga kami (etnis tionghoa), termasuk marga.
Saat ini saya sudah berusia 70 tahun. Yang paling ditakutkan oleh orang china, adalah kesepian di hari tua. Karena anak-anak semua ikut suami, tidak ada anak putra, tidak ada yang menjaga (hanya datang sesekali bawa hadiah dan cucu itu tidak saya perlukan), dan mati tidak ada yang atur dan sembahyangi.
Semua alasan ingin hidup mandiri bersama suami. Ntah apa lagi yang diajarkan guru agama mereka dulu sewaktu sekolah, apa benar setelah nikah harus keluar rumah? Padahal rumah saya besar dan tinggal sendiri (istri sudah lebih dulu). Kalau-kalau saya stroke mungkin tidak akan ada yang tahu, sudah mati terbujur kaku.
Benar kata orang, melahirkan anak perempuan itu ibarat air yang tercurah keluar. Kecil ikut orang tua, setelah dewasa ikut suami.
Saya pribadi turut prihatin Koh Kwee Ming. Tidak tahu mau bilang apa, semoga Tian Xian, dan Shenming memberkati anda.
Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
Salam Kenal Pak Kwee Ming,jangan resah, tekun saja berdoa dengan cara dan aturan yang benar,agama itu ibarat rumah, semua ada jodonya,klo anak2 Bapak memang jodonya ke Agama A pasti nanti akan balik lagi kok,dan semuanya itu tidak lepas dari hukum sebab akibat[ barang siapa menabur angin dia akan menuai badai],jadi jangan khawatir doa saja, baca Keng yang teratur dan dengan aturan yang benar dan tepat nti pasti ada jalan,yang penting hati dan pikiran harus tenang, hidup yang baik dan teratur,jaga kesehatan dengan makan makanan rendah kolesterol dan tinggi vitamin,istirahat yang cukup dan teratur, sering ke tempat ibadah, ngobrol ngobrol sama siapa aja yang ditemui,Langit ada atur manusia dengan caranya.Semoga Tuhan Memberkati.
Maaf sy hidup dr lingkungan keduanya, sy agak prihatin dg keluhan anda, kl blh saran ingatkan bila menyimpang jgn diperdebatkan ke anak anda yg ke gereja agar ingat 10 Perintah Allah pada Perintah keempat….Hormatilah ibu-bapamu.(kitab Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21)
Mengenai Hio coba suruh buka Kitab Suci mengenai kelahiran Tuhan Yesus yang didatangi oleh 3 Majus dari timur yg membawa persembahan kepada Yesus berupa emas, Kemenyan dan Mur.(Mat2:1-18)
Kemenyan, sering juga disebut Olibanum, adalah aroma wewangian berbentuk kristal yang digunakan dalam dupa dan parfum.
Jd ini semoga membantu agar tdk salah kaprah dan cb kita tanya pd diri kita waktu melayat org meninggal dan sembayang pakai hio, kita minta kepada TUHAN atau THIAN dgn persembahan dupa tersbt agar arwahnya diterima di sisinya kan? bukan seblknya….
Maaf tolong koreksi bila salah, maksud saya agar bisa lebih memahami ketimbang diperdebatkan tanpa dasar.
Orang katolik sembayang pake dupa, tpi romonya doang beda ama orang tionghoa dupany dipegang semua umay
Harus bedakan dahulu mana agama dan kepercayaan Tiongkok dan mana tradisinya.
Agama Buddha di Tiongkok adalah Mahayana, sejalan dengan tradisi lokal yang dipengaruhi oleh Tao maka dipuja juga dewa dewi berpengaruh, dalam wujud patung-patung. Justru patung-patung inilah yang oleh agama lain disebut memuja berhala. Alasan ini dimanfaatkan oleh agama lain misalnya Kristen bahwa agama keturunan Tionghoa adalah pemuja berhala, tanpa membedakan tradisinya.
Agama Buddha sendiri menolak keras memuja berhala kerena ajarannya banyak berpijak pada sains atau ilmu pengetahuan, dengan moto terkenalnya, datang dan buktikan dan bukan sekedar datang dan percaya.
Lebih mendalami agama Buddha mungkin pada Buddha aliran Teravada atau Hinayana, kerena agama Buddha diakui diseluruh dunia sebagai agama sejalan dengan perkembangan zaman modern, yang mengacuh pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Agama-agama lain sulit paralel dengan acuan tersebut kerena bersifat dogmatis, absolut dan mitologis.
Aku Gilbert,orang hokkian. Sebetulnya kalau masalah tradisi yg hilang aku lebih menganggap itu karena saat jaman orde baru seluruh budaya tionghoa dilarang sehingga byk yg hilang. Juga tidak ada sekolah tinghoa lagi untuk mengajarkan filsafat confusian dan agama konghucu dipandang sebelah mata. Saya sendiri kristen dari buyut saya yang masih ‘diikat’ kakinya. Tapi keluarga kami sendiri menggabungkan filosofi nasrani n konfusius dan g jadi masalah. Kami ke gereja tetapi kami juga diajarkan dari buku2 kuno mak engkong saya(yang berhasil selamat dari pembakaran buku mandarin dari jaman orba). Yang paling penting buat saya sbg nasrani, saya berpegang kepada iman saya, saya ikut belajar banyak tentang filosofi tiongkok,dan saya tetap ikut melestarikan dan bangga thp budaya suku lain di indonesia. Kebetulan banyak hal dlm alkitab dan budaya tionghoa yg benar-benar mirip, termasuk filosofi karekter huruf mandarin, jadi bwt saya pribadi saya justru belajar sangat banyak nilai-nilai kehidupan. I’m proud to be christian,chinese descendant, and indonesian. Xie-Xie
mampir ke blog saya ^^ berbagi adalah indah untuk tradisi-tradisi Tionghwa
Dulu kita sekolah di SD dan SMP swasta GMIM. Tiap minggu semua siswa wajib sekolah minggu. Kalau engga diancam tidak akan naik kelas. Tidak mengapa sih karena itu sudah resiko masuk sekolah swasta, harus ikut pelajaran agamanya.
Selain itu juga ada mata pelajaran wajib agama Kristen di kurikulumnya, juga tidak mengapa. Namanya juga swasta. Tapi pengajarnya itu lho, kadang dalam mengajarnya sering menghina dan membanding-bandingkan dengan agama lain. Agama kita dikatai setan dan berhala dsb.
Karena itu saya waktu mau SMA langsung bersikeras untuk ke sekolah negeri saja. Kapok masuk swasta. Dan untungnya disekolah negeri saya itu untuk pelajaran agama diajarkan sesuai agama masing2, dan untuk saya penganut Budha ada gurunya.
Salah lu sendiri masuk sekolah kristen, sama aja lu masuk sekolah Islam ya dibegituin, makanya kita harus bangun zhonghoaxuexiao
Saya muslim pribumi tapi darah tionghoa dari keluarga besar ibu. Saya sangat mendukung anda. Kalo saya pemerintah akan saya danai pembangunan zhonghoaxuexiao di seluruh Indonesia. Tidak usah masuk sekolah Islam atau Kristen.
Ya benar itu, masuklah sekolah negri yang berkualitas seperti SMU 8, 70, 63, dll. Netral, dulu saya SMU juga negri, mayoritas Islam tapi asik2 aja, gak ada SARA. Semua dapet pelajaran agama sesuai keyakinannya masing2. Yang SARAnya itu dengan sekolah lain, alias tawuran kompak banget bro yang Islam, kristen, katolik, budha, hindu semua berperang dengan sekolah lain yang juga terdiri dari Islam, kristen, katolik, budha, hindu dalam semangat persatuan almamater, asik khan?? wkwkwkwkwkwkwk. Nostalgia oh nostalgia. Makanya lumayankan pemerintah Indonesia yang mayoritas Muslim bersikap adil & sportif, harus diakui lho.
Mohon dibaca baik-baik seluruh komentar diatas, jangan buat komentar yang bersifat mengulang apa yang sudah ada, yang memunculkan debat kusir, atau yang bersifat promosi atau kesaksian dari agama tertentu, dsb. komentar-komentar demikian tidak akan pernah ditayangkan meski anda posting berkali-kali, karena telah diidentifikasi/ditandai sebagai SPAM oleh sistem kami.
Terima kasih
Semua agama itu baik, tergantung individu. Yang bikin gerah kalau terlalu fanatik. Merasa agama sendiri yang terbaik itu sah2 saja, tetapi mengatakan agama lain sesat dan umat agama lain perlu diselamatkan itu yg tidak tepat. Surga ada banyak, Tuhan masing2 agama punya surga sendiri. Neraka juga banyak. Yang disebut Tuhan Allah dlm agama satu sebenarnya juga ada di agama lain, hanya beda sebutan. Saya juga sudah pernah memeluk beberapa agama sebelumnya. Doktrin yg memaksa untuk asal percaya satu2nya juru selamat maka akan masuk surga tidak sesuai buat saya. Tetapi yg terpenting bagaimana agamamu bisa membuatmu jadi manusia yang lebih baik dan penuh kasih terhadap sesama dan semua makluk. Masuk surga atau tidak tergantung amal perbuatan masing2, bukan dari agama apa yg dianut. Agama tidak akan ada habis2nya diperdebatkan. Ibarat seseorang luka terkena panah, semua ribut mencari tau dan memvonis dari mana asal panah tsb. Lebih bijak bila sama2 mengobati org yg terluka karena panah. Mari saling toleransi dan mengembangkan cinta kasih apa pun agamamu, sekalipun tidak beragama. Salam.
Sasa Cheung : “Semua agama itu baik, tergantung individu. Yang bikin gerah kalau terlalu fanatik. Merasa agama sendiri yang terbaik itu sah2 saja, tetapi mengatakan agama lain sesat dan umat agama lain perlu diselamatkan itu yg tidak tepat.”
Tanggapan : Ini cara berpromosi agama DUO “K”. Memang begitu konsep mereka, menganggap agama diluar mereka lebih rendah dari mereka. Ini juga mirip dengan konsep agama “I”. Umumnya mereka menjanjikan bahwa jika masuk agama “K” mereka (menerima pertobatan) maka sudah pasti masuk surga. Jadi meskipun orang sebelum masuk agama “K” mereka banyak berbuat baik, tetapi oleh agama “K” mereka tetap dianggap belum baik karena tidak percaya Tuhan mereka, jadi masuk Neraka; sementara bagi orang yang sudah beragama “K” mereka, meskipun berbuat dosa besar, asal bertobat akan diampuni oleh Tuhan mereka dan akan masuk surga. Jadi begitu mudahnya masuk surga asal masuk agama “K” mereka. Sumber dari pengalaman pribadi semasa sekolah SD sampai SMA swasta yang berbasis agama “K”.
Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
slam kenal,ayolah kita ini manusia yang diambil dari bahasa jawa”Menungsa” yang artinya “Menus Menus Kebak Dosa”(Bernafas dan Banyak dosa),kok kta jadi Berdebat masalah agama, Agama kan baru ada paling lama 5000[Lima Ribu } tahun yang lalu,jadi Agama itu hanyalah suatu ajaran seperti Fisika,MTK dll yang fungsinya menselaraskan kehidupan manusia di tempat terciptanya Agama Tsb agar kehidupannya Teratur, ga perlu debat, klo mau adu argument boleh tapi ga pake emosi,siapa bilang keyakinan ga boleh diargumentkan? klo kita yakin tapi ga berdasar malah bahaya karena bisa menjurus ke Fanatisme Sempit, saya klaim disini saya bisa kasi argumen yang tidak akan menyinggung Agama manapun, dan bisa difungsikan oleh Agama manapun,yang membuktikan Bahwa sebenarnya semua Agama itu mempunyai kesamaan yang mendasar dan saling melengkapi satu sama lainnya jadi bukannya berbeda tapi saling melengkapi,nanti ada saatnya terbukti hilangnya sebutan Agama A, B,C,D,dsb namun intisarinya akan tetap digunakan,Agama saat ini banyak diselewengkan untuk politik dan ekonomi,jadinya banyak aturan baru yang timbul,Nb.saya buat tulisan ini dengan pembuka meminjam bahasa orang India, karena saya rasa lebih cocok dipakai diforum ini jadi ga menyinggung Agama Manapun,Semoga Tuhan Memberkati.
Dasar penulis dodol… agama itu adalah hak asasi semua manusia… kalo memang agama konfucius itu bagus… kenapa banyak yang pindah… trus satu lagi… kalo kamu anggap semua tradisi tionghua adalah bagian dari ajaran konfucius… maka ajaran konfucius itu tidak pantas disebut agama melainkan tradisi… ngerti… dasar dodol…
Halo Jacky Lim :
1. Agama Kong Hu Cu baru saja diresmikan satu dekade ini (awal 2000-an). Kalau dibilang banyak yang pindah sih engga. Yang umumnya pindah itu yang dari Tridharma/samkaw, karena basis umat mereka tidak jelas (tidak jelas masuk agama apa).
2. Tradisi dan tionghoa ada yang berkembang dari sebelum lahirnya kepercayaan Kong Hu Cu dan Taoisme mula-mula di Tiongkok ribuan tahun lalu, ada juga yang lahir/muncul setelah kedua agama rakyat itu muncul. Pada saat itu pengaruh kebudayaan barat belum masuk ke Tiongkok (nanti saat dinasti Qing baru masuk negara2 barat). Jadi bisa dibilang seluruh tradisi dan budaya Tiongkok memang berasal atau setidaknya berkembang bersama kedua agama rakyat tersebut. Tidak ada tradisi dan budaya Tiongkok yang berkembang dari budaya barat.
Kong Hu Cu tidak pantas disebut agama kan hanya anda sendiri. Bagi kami, Beliau adalah sosok yang dapat dijadikan teladan dan panutan bagi umatnya.
Salam
Wei De Dong Tian
Om John bilang Agama Kristen itu dari barat??? Aduh…..duh…….
udah gitu admin ngelolosin aja pula.
malah komen saya ilang.
yaa begini deh kenapa kalian2 itu tidak berkembang.
karena anti kritik, exclusive, dan ulasan di atas banyak membahas soal kepercayaan digabung dgn soal materi.
silakan direnungkan. Saya capek sudah nulis panjang didelete pula.
Komentar anda sebelumnya bersifat mengulang. Untuk itu dihapus untuk menghindari debat kusir. Terima kasih.
Agama kristen protestan emang dr barat, jangan sok tau luh, protestan itu pecahan katolik roma, pen diri agama kristen protestan itu John Calvin dan Martin Luther , mereka itu orang Jerman, gw ini mantan kristen dan sekarang buddha, tpi gw tw selak beluk kristen ama katolik
Buddha juga dari India. Kenapa gak masuk Hindu atai Sikh aja??
mereka yang mengutamakan gaya hidup modern & kebarat2an memerlukan pendukung rohani yang sifatnya kebarat2an pula, berbanding terbalik dengan negara2 barat yang sudah sadar & malu dengan agama nenek moyang mereka yang banyak melakukan kejahatan kemanusiaan dimasa lalu, sehingga berbondong2 meninggalkan agama gaya hidup tersebut.
yang lucunya di asia mereka yang silau dengan kebarat2an berpikir dengan menganut agama barat maka akan merubah hidup & pola pikir mereka, karena mereka menganggap bahwa agama tradisional itu percaya tahayul2 & agama barat tidak (padahal mereka tidak tahu bhw orang inggris sangat percaya tahayul).
mereka dengan sombong menyatakan agama barunya tersebut tidak percaya tahayul, nah letak lucunya itu adalah saat mereka membuat tahayul versi mereka sendiri, misalnya ada kucing ketabrak dibilang pertanda dari tuhan, pas mau pergi tiba2 hujan dibilang pertanda tuhan tidak mengijinkan pergi dan kelucuan lainnya.
apakah benar cara pikir tuhan semudah itu ditebak manusia?
sungguh2 membuat ngakak mereka yang beragama kebarat2an padahal dengan otak primitif.
Namo Amithaba,Namo Buddhaya,
Yth,John, Klo saya boleh kasi pendapat kita ga boleh menyebut suatu agama itu sebagai agama barat, karena sebenarnya Semua agama yang diakui di Indonesia Saat ini adalah agama dari TImur {Asia},setahu saya malahan orang barat yang memeluk agama dan budaya orang Timur ini, karena orang Barat mempunyai Agama salah satunya Dewa Octopus,Dewa Zeus dsb yang kini sudah hampir punah,namun lain dari pada hal itu semua ,baik agama barat maupun agama timur intisarinya sama aja kok, kan intinya cara manusia berkomunikasi dan mengenal Penciptanya agar kehidupannya menjadi lebih baik serta damai baik dikehidupan saat ini maupun dikehidupan setelah wafat nanti, kan itu intinya,cuma memang saat ini bukan saja Ethnic HUA Universew di Indonesia banyak yang lupa akarnya, jangankan adat, nama, marga, asal leluhurnya pun tidak tahu, jadi ini sudah kehendak jaman tidak dapat dielakkan, nanti suatu saat Orang Kulit Putih HIdung Mancung Badan tinggi jadi ETHNIC HUA, sedangkan orang yang kulit kuning mata sipit preawakan sedang Banyak Yang Pindah Ethnic, Begitu Juga Yang Kulit Sao Matang dan Kulit Hitam, sepertinya inilah yang dinamakan wolak walike jaman[ bolak baliknya zaman].Semoga Tuhan Memberkati