Last Updated on 17 October 2022 by Herman Tan
Saya beberapa bulan yang lalu mengelilingi kota2 besar di Indonesia, seperti Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, sampai Manado karena tuntukan pekerjaan.
Sekalian saya ambil waktu sedikit buat jalan2 mengelilingi setiap kota yang saya kunjungi; tentu saja yang tidak akan saya lewatkan adalah berkunjung ke beberapa Kelenteng lokal.
Karena tidak menguasai lokasi, saya menggunakan jasa taksi. Miris memang, saya malah menemukan banyak Kelenteng yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan biokong (penjaga kelenteng) pun tidak ada, dan kadang hanya ditunggui oleh warga setempat.
Ini berbanding terbalik dengan kondisi tempat ibadah umat Nasrani yang penuh sesak oleh etnis Tionghoa. Saya sendiri tinggal di Jakarta, sering mengamati banyak orang Tionghoa yang berbondong2 datang ke Gereja untuk sekedar mendengar khotbah/doktrin dari pendetanya.
Saya sering berpikir, apa alasan mereka untuk pindah Agama?
Lah, masa sih “Bapak” orang lain mau dianggap sebagai “Bapak” sendiri?
Populasi etnis Tionghoa yang masih memeluk kepercayaan asli leluhurnya terus menurun dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penambahan, hanya karena ikatan perkawinan yang mengharuskan untuk pindah kepercayaan, bukan keiklasan atau kesadaran.
Boleh dibilang masuk 1 keluar 10. Kalau begini, lama2 akan habis juga cepat atau lambat.
Salah satu penyebab utama yang dapat saya tangkap, adalah karena begitu banyaknya mitos, tahayul, tradisi, kebiasaan, dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa sendiri yang sulit dicerna oleh akal sehat.
Hal ini yang dimanfaatkan oleh Agama lain untuk menarik domba gemuk yang siap disembelih umat2 berduit dari etnis Tionghoa, untuk membangun tempat ibadah mereka sampai besar, bertingkat2, dan bercabang2!
Mereka memberikan doktrin, bahwa kepercayaan dan agama Tionghoa itu penyembah berhala/setan, tidak logika, musyrik, sesat, dan lainnya. Hasilnya bisa di lihat, pemuda/i Tionghoa sekarang rata2 sudah pindah Agama bukan?
Sisa petua-petui yang sudah bau tanah berumur saja yang kebanyakan masih menjalankan tradisi/kebisaan leluhur secara penuh.

Baca juga : Akuilah Bapakmu Sebagai Bapakmu, Bukan Bapak Orang Lain Sebagai Bapakmu!
Kalaupun mereka (muda/i) masih ikutan, itu karena terpaksa, atau karena tradisi itu dianggap masih menguntungkan mereka, seperti :
1. Tradisi Imlek : Bisa dapat angpao! Tentu harus ikut ini. Kalau engga, ya tidak dapat duit. Tapi hanya di sesi makan2 bersama saja. Sesi sembahyang H-1 sebelum Imlek engga ikut, karena harus sembahyang pegang dupa.
2. Tradisi Tea Pai : Sama kayak angpao. Engga mau ikut pai tea, jangan harap mau dapat angpao atau emas tebal2 dari keluarga! Tapi masih saja dikadalin. Mereka tidak mau malakukan soja (kui, berlutut) dengan alasan berhala (menyembah selain Tuhan).
3. Pernikahan ala Tionghoa : Yup. Biar dapat angpao banyak dari tamu, tinggal pasang karakter ๅ di pelaminan. Karena Tionghoa identik dengan orang kaya dan eksklusif. Ini fakta di lapangan. Saya banyak menjumpai dan mendegar hal demikian. Jadi istilahnya pakai label Tionghoa gitu.
4. Makan Kue Bulan : Lumayan dapat makanan enak, kue bulan (kue pia) sekotak harganya 100-200 ribu (brand tertentu bahkan bisa diatas sejuta). Lumayan buat dipamerin ke teman.
Kalaupun mesti ke kelenteng, lumayan buat cuci mata, karena biasanya hari itu banyak cewek2 cantik atau cowok2 cakep Tionghoa yang memang kebetulan sembahyang ke kelenteng untuk minta/cari jodoh (referensi : baca cerita Dewa Yue Lao).
Sementara tradisi2 yang “merugikan” mereka, seperti :
1. Ziarah Ceng Beng : Capek mesti ke kubur. Mesti siapin makanan lagi, keluar duit kan? Sudah gitu harus pegang dupa lagi (karena menurut doktrin pendetanya agama barat, PANTANG memegang dupa! Mereka lupa kalau ada bule2 saja ada yang memegang dupa).
2. Sembahyang bulan 7 tanggal 15 : Sama! Mesti keluar duit juga, mending ikut doktrin agama, bahwa itu termasuk penyembahan berhala/setan. Padahal orang2 barat juga merayakan festival Hallowen setiap tanggal 31 Oktober.
3. Pergi sembahyang ke Kelenteng setiap hari sejid Dewa/Dewi : Ke tempat yang penuh asap, kusam, suasana mencekam, panas, mana mau? Belum lagi harus lihat potongan kepala babi di tengah altar kalau ada sembahyang besar?
Idih, jijik deh. Mana cuma datang, pai, pulang lagi (umat cung cung cep). Tidak ada ceramah, suntuk, mending bobok, atau mending ke gereja, adem, wangi. Atau ke mall2, ramai, penuh dengan teman2 sebaya. Siapa tahu dapat gabetan?
4.ย Sembahyang Ce It dan Cap Go : Waduh harus nyiapin segala keperluan sembahyang di rumah. Keluar duit sih gapapa, tapi kan capek juga. Kalau ke kelenteng, sisa ketemu tua-tui semua, jadi malas duluan. Mending tiap minggu ke Gereja dengar khotbah pendeta, lokasi strategis, ramai, tinggal duduk, dapat bonus cuci mata lagi.
“Jadi jangan kira Mereka patut dipuji karena masih menjalankan “sebagian” dari tradisi Tionghoa. Sebenarnya Mereka hanya mau menjalankan tradisi yang ENAK-ENAK dan yang MENGUNTUNGKAN saja”.
Saya barusan terpikir, kenapa salah satu manusia etnis Tionghoa yang bernama Cristofus Sindunata pada tahun 1967 mendukung Inpres Nomor 14 Tahun 1967? Tentu tak lain agar orang2 Tionghoa terpaksa untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah2 swasta, yang rata2 memang dikelola oleh Nasrani.
Tidak mungkin orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah “pribumi”, alias sekolah negeri, yang kala itu kebanyakan berbasis Agama Islam. Bahkan sebagian menerapkan aturan berjilbab adalah hal wajib bagi wanita.
Saya salut, karena ini bisa dibilang investasi jangka panjang beliau. Beliau tidak mengincar generasi BAU TANAH yang se-usianya, karena sadar sebentar lagi sudah mau waktunya ๐ Ini adalah upaya “kristenisasi massal” kala itu.
Beliau mengincar generasi muda, agar kelak bisa maju pesat dan berkembang di tanah air, seperti halnya agama mayoritas. Jadi semenjak kecil anak sudah dikenalkan dengan firman Tuhan, lama2 pasti pindah agama kecuali takdirnya keras wkwk.
Apalagi teman2 se-usia mereka juga sudah pindah agama. Mana mau ditinggal sendiri? Karena 80% manusia itu bermental pengikut, 15?% provokator, dan 5% adalah pemimpin, yang berani tampil beda menyandang status double/triple minority.

Ketika mereka mencapai usia dewasa, mereka bahkan bisa “lebih militan” daripada yang non Tionghoa. Yap! Mereka tidak segan untuk mengajak orang tua, kakak, adik, keponakan, sepupu, dan saudara2 jauhnya untuk ikut. Banyak contoh kasus menyedihkan yang pernah saya dengar.
Misalnya, ketika orang tua mereka sudah sekarat, sudah tidak sadar, cepat2 mereka ajak pendetanya untuk membaptis. Atau seperti foto diatas. Dimana anak2nya sudah pada pindah agama. Akhirnya malah pembantu dari majikan tersebutlah yang menyembahyangi beliau.
“Konsep Surga dan Neraka itu dibuat untuk menakut-nakuti domba2 gemuk. Nanti kalau sudah pintar semua, dombanya sukar digembalakan ๐
Agama itu untuk mengatur biar umat tidak kacau. Kalau Agama sampai membuat kita malas menggunakan otak untuk berpikir, mungkin sebaiknya otaknya dikembalikan saja. Jangan sampai agama hanya diperuntukan bagi mereka yang berhenti berpikir”
Saat ini tradisi dan kebudayaan Tionghoa, meski sudah bebas berkembang di tanah air, tapi makin sedikit saja umatnya. Seperti catatan perjalanan singkat saya di awal paragraf, banyak kota besar yang Kelentengnya sudah kosong melompong pada saat sembahyang.

Baca juga : Alasan Makin Menurunnya Pemeluk Agama Tionghoa di Indonesia (Bagian II)
Ini harusnya menjadi tantangan bagi pengurus Kelenteng dan bagi generasi penerus Tionghoa yang masih bertahan, agar bagaimana melestarikan tradisi, kebudayaaan dan agama Tionghoa agar tidak makin terpuruk.
Satu lagi, seperti soal bahasa, dimana kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia sekarang (generasi awal 60-an s/d awal 90-an) malah tidak bisa berbahasa Mandarin. Juga tidak bisa memegang sumpit. Sementara orang2 pribumi sekarang malah fasih berbahasa Mandarin dan pintar2 pakai sumpit di restoran chinese food.
Ini fakta yang saya temukan sewaktu makan di beberapa restoran. Lucu memang, tapi itulah kenyataannya.
Catatan : Merupakan pandangan pribadi penulis yang bersifat subjektif (2) Yang dimaksud Agama Tionghoa disini adalah Taoisme, Konghucu, dan Buddha (meski sebenarnya Buddha berasal dari India, namun tumbuh berkembang pesat di Tiongkok). Penggunaan kata Agama Tionghoa hanya untuk mempersingkat judul. So, don’t be stupid.
Sdr DIDI WIWIARDI, anda harusnya sadar kenapa komentar anda tidak bisa ditayangkan. Apalagi email yang anda gunakan jelas merupakan provokasi. Jika anda ingin berkomentar, tulislah dengan kepala dingin.
Demikian info
Kelicikan manusia juga sih. Doanya kristiani, Ada pai chiu biar/ maksa angpao. Dipas pas in untuk dapet kepentingan pribadi dengan mencampur adukan adat, budaya Dan agama. Tapi ya udah jadi kebudayaan baru mengarah ke bisnis. Tapi juga bebas2 Aja lah. Wong juga namanya usaha
Memang benar, TRADISI DAN BUDAYA itu BISA dipisahkan dengan AGAMA; namun pada titik tertentu, tradisi dan budaya dengan agama AKAN MENYATU. Semoga bisa dimengerti.
Ingat, budaya Tionghoa itu berasal dari TIONGKOK; bukan dari Eropa, bukan dari Amerika, bukan pula dari India. Jadi budaya Tionghoa TUMBUH DAN BERKEMBANG bersama AGAMA-AGAMA TIONGHOA, yakni TAO dan KONGHUCU; Jauh sebelum PENGARUH KRISTENISASI masuk ke dataran Tiongkok oleh negara-negara penjajah eropa.
Tidak mungkin anda menjelaskan istilah-istilah Tionghoa dalam pandangan Kristenisasi bukan? lucu kalau sampai muncul teori kalau CAP GO MEH itu karena kasih Yesus kepada umatnya, sehingga bulan akan bersinar terang???
Inilah yang saya maksud, PADA TITIK TERTENTU, Budaya dan Agama akan menyatu. Kalau cuma tradisi dan budaya RINGAN, seperti tradisi memberikan angpao, makan kue pia, minum teh, ya tidak masalah, terserah anda.
Cuma jaga-jaga saja agar jangan sampai nantinya tradisi dan budaya Tionghoa ini di claim oleh agama lain. Maklum, tradisi dan budaya tionghoa paling menjual, liat saja orang kalau mau nikahan, meski sudah pindah agama tapi toh tetap tempel huruf SUANGHIE di pelaminan nya, juga tetap melaksanaan tata cara tradisi tea pai dan pemberian angpao amplop merah. Ya, dari 3 itu saja sudah anda bisa lihat, jadi jangan sampai esok2 bilang kalau 3 tradisi itu dari Kristen.
Tionghoa itu budaya bukan agama
Buddha atau budaya itu jalan hidup juga bukan agama yang disanjung adalah nammo Shang hang adi buddhaya (artinya terpujilah sang pencipta) tidak menyebut nama.
Sedang sidharta gaotama itu tokoh yang bisa mencapai kebudaan (bukan Tuhan)
ajaran Buddha sendiri itu cuma cuma budi pekerti dan hukumnya karma (dosa) yang intinya mau dijalanin sukur ga dijalanin juga ga apa.
Tidak seperti yg lain kalo ga dijalanin masuk neraka
Tentang kalian yg Sebut berhala itu sebenarnya tidak benar, itu cuma untuk mengenang jasa2nya Aja seperti kalian salib, lukisan Maria, kaabah, kiblat, dsb
Semoga bisa sedikit membantu Dan Mohon maaf jika Ada kata2 yang menyinggung
Kalo Patung Dewa Dewi, Buddha di sujud, dibilang meyembah berhala.
Kalo Patung berbentuk Salip, bayi Yesus, Yesus, Bunda Maria, atau Tokoh kristiani dalam gereja di sujud, itu dibilang bukan menyembah berhala.
Pengen menang sendiri.
Kalo ngomong pun, omongannya selalu benar dalam nama Yesus.
Padahal nanti di surga, Yesus akan tanya, kapan gua kasih lu surat kuasa pake nama gua???
Saya pribumi muslim, dari keluarga ibu keturunan Tionghoa. Saya mendukung artikel ini, menurut saya Stevany sangat tepat. Saya lebih mendukung orang2 Tionghoa beragama asli nenek moyangnya dari pada Nasrani (Kristen &/ Katolik) karena alasan utamanya agama Nasrani masuk Indonesia bahkan semua tanah Nusantara (Malaysia, Brunei, Singapore, dll) dengan penjajahan dan perbudakan, ini adalah fakta sejarah tak terbantahkan. Peristiwa 98 memang biadab, saya sebagai muslim setengah pribumi memohon maaf sebesar2nya pada siapapun yang merasa jadi korban, meski saya sendiri tidak pernah melakukan tindak kriminil itu. Meski saya juga sadari sangat manusiawai untuk sangat sulit memaafkan. Tapi perlu diingat bahwa apa yang terjadi di tahun 98 dilakukan oleh mungkin kurang dari 1% muslim pribumi sementara kurang lebih 99% muslim pribumi Indonesia yang tidak melakukannya mengutuk perbuatan keji itu. Jadi jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Sebaliknya fakta sejarah tidak terbantahkan kalau pertamakali Hindu masuk Nusantara dengan damai (perdagangan, akulturasi budaya, pernikahan, dll), lalu Budha masuk jadi mayoritas menggantikan Hindu dengan damai pula, begitu juga Kong Hu Cu, lalu terakhir Islam masukpun dengan cara yang sama pula. Tapi setelah itu Kristen dan Katolik masuk Indonesia dengan penjajahan & perbudakan, termasuk sex slavery selama hampir 350 tahun berapa banyak yang dibunuh? diperkosa? dijadiin sex slave? Bahkan di negara tetangga Filipina +-400Tahun. Apa sebanding dendam kalian terhadap muslim pribumi ketimbang Kristen dan Katolik yang disebarkan dengan cara demikian?? (God, Glory, Gospel, & Devide Et Impera/ mengadu domba). Jadi memandang sejarah harus fair. Jangan salahkan keturunan Tionghoa yang masuk Islam, karena penyebar Islam di Indonesia diantaranya Laksamana Cheng Ho, lalu Lau Tze, setelah itu 9 Wali Songo. Orang Pribumi yang mayoritas Jawa saja yang malu mengakuinya. Jangan kalian berbondong2 masuk Kristen karena dianggap lebih modern, keren, & kaya, itu tidak benar, di dunia ini yang dikuasai bule barat dan eropa yang kaya & berkuasa itu yahudi & atheis, bukan kristen apalagi Katolik. Justru gereja sudah banyak ditinggalkan, dijual & dialih fungsikan menjadi fungsi2 lain di negara2 bule yang sumbernya Nasrani. Trend dunia mengarah sangat cepat dan kuat bahwa yang modern, keren, dan kaya adalah atheis bukan agama manapun juga. Jadi kalo kalian ingin identik dengan modern, keren, & kaya jadilah atheis saja. Lalu mengapa sekarang justru banyak Tionghoa yang kayak orang norak ketinggalan jaman, baru masuk Nasrani seolah2 itu trend baru yang modern, keren, dan kaya?? padahal di negara2 barat, eropa (Kecuali Vatikan)yang sumbernya justru sudah banyak ditinggalkan beralih ke atheis. Bukalah mata kalian. Carilah info yang banyak di youtube kalo gak percaya dengan saya. Atheis saja belum pernah menjajah dan memperbudak rakyat Nusantara, iya kan? Makanya kalo kalian merasa lebih pintar dari muslim pribumi, pikirkanlah fakta2 ini. Kami muslim pribumi juga tidak memukul rata kalo semua umat Budha itu bejad hanya karena mereka di Myanmar membunuhi dan mengusir rakyat pribumi Rohingya muslim sehingga banyak yang kabur ke Aceh. Karena kami tahu bahwa mayoritas umat Budha di dunia tidak melakukan itu terhadap umat Islam, meski mereka juga seolah2 tutup mata & fine2 aja dengan yang terjadi di Myanmar. Buktinya Budha Taiwan tidak bejad seperti Budha Myanmar, begitu pula Dalai Lama, justru pemerintah RRC yang mengganggu Dalai Lama. Jumlah yang dibunuh dan diusir dari Rohingya Myanmar jelas lebih banyak dari korban Tahun 98 di Indonesia. Ingat nontonkan film Ip Man, RRC & Hong Kong juga dulu dijajah & diperbudak Inggris, begitulah cara menyebarkan Nasrani dimasa dahulu yakni dengan pertumpahan darah, sedang dimasa sekarang dengan di iming2i uang. Makanya aneh aja jika banyak keturunan Tionghoa yang dengan bangga mengaku Kristen, memakai nama yang berbau kebarat2an yang sebenarnya dari Bible, pamer mobil mewah ke gereja. Pakailah nama yang berbau Tionghoa murni & pakailah mobil mewah ke Klenteng, renovasilah Klenteng menjadi lebih modern & eyes catchy, pasang AC di dalamnya agar lebih banyak generasi muda Tionghoa yang tertarik ke Klenteng. Ingat Nasrani adalah satu2nya agama yang masuk ke Indonesia & Nusantara dengan penjajahan, pertumpahan darah, & perbudakan selama hampir 350 tahun, selama itu berapa banyak yang mati? berapa banyak yang dijadikan pelacur & budak?. Tidak ada satupun agama selain Nasrani yang masuk Indonesia & Nusantara dengan cara seperti itu, tidak Hindu, tidak Budha, tidak Kong Hu Cu, tidak Islam. Dan Lihatlah patung Yesus di salib, dia orang bule, tidakkah seharusnya kalo Dia benar2 Tuhan, tidak akan pilih kasih menjadi image manusia dari suatu ras tertentu aja, bagaimana umat manusia dari berbagai ras lainnya? apakah mereka lebih rendah dari ras bule/ yahudi? Sehingga tidak digunakan sebagai image Tuhan dalam wujud manusia? Mengapa dengan suka rela & bangga menghambakan diri di hadapan orang bule? kecuali kalau di dunia ini manusia hanya ada satu ras, yakni bule/ yahudi doang. Makanya dalam Islam, Yesus/ Nabi Isa Al-Masih (The Mesiah) bukanlah Tuhan tapi manusia utusan Tuhan yang dibekali Mukjizat luar biasa sebagai bukti nyata bahwa memang dia benar utusan Tuhan untuk menyebarkan ajaran Tuhan kepada umat manusia. Apakah ada yang bisa menyangkal logika saya???
@ i can says:
13 July 2015 at 8:57 PM
Catatan sejarah dunia telah mencatat bahwa penyebaran islam dilakukan dengan penuh kekerasan dan pembunuhan. Silahkan pergi ke perpustakaan manapun di dunia dan baca sejarah mengenai islam.
Ketika Nabi Islam mengambil-alih kota Mekkah kata-kata ancaman yang diucapkannya adalah “convert to Islam or die”.
Penyebaran islam di tanah Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya terjadi karena Raja Majapahit memberikan ijin syiar Islam di bumi nusantara.
Tindakan tersebut merupakan kesalahan fatal yang menghancurkan peradaban nusantara yang telah dibangun ribuan tahun sebelumnya.
Anak Raja Majapahit yang bernama Raden Patah mengganti agamanya menjadi Islam, dan kemudian memaksa sang Raja Majapahit yang merupakan ayahnya untuk mengganti agamanya menjadi Islam.
Sang ayah menolak pindah agama. Kemudian dengan barbarnya sang anak yang sudah dirasuki ajaran sesat membunuh ayah kandungnya sendiri yang menolak mengikuti agama Islam.
Sang anak ini kemudian membentuk kerajaan Islam dan menjadi Raja Demak pertama yang kemudian kerajaannya hancur karena saling bunuh memperebutkan kekuasaan.
Hal penting lainnya yang menyebabkan Islam berkembang-biak di tanah Jawa adalah karena kedatangan orang Tionghoa Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam bersama pasukannya menyebarkan agama Islam beserta penyakit kelamin sifilis di bumi nusantara.
Belum lagi syiar Islam oleh Wali Songo yang sialnya juga ternyata adalah orang-orang Tionghoa Muslim yang membantu menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Sialnya juga orang Tionghoa Indonesia bahwa ternyata yang melarang agama, budaya, adat-istiadat dan tradisi Tionghoa di Indonesia tahun 1965-an sampai tahun 2000-an justru di gagas dan di mulai dari orang Tionghoa sendiri.
=Tan=
Banyak yang harus saya luruskan disini, tapi saya sangat khawatir dibilang mempromosikan Islam. Makanya saya tegaskan disini bahwa saya tidak mempromosikan Islam hanya sebatas meluruskan fakta simpang siur yang banyak terjadi dalam pemahaman sejarah saja. Kita tahu bahwa sejarah ditulis oleh yang menang, yang berkuasa. Kita juga tahu bahwa selama 350 tahun bangsa Indonesia dijajah maka selama itu pula belanda yang menulis sejarah versi mereka, Portugis yang menulis sejarah versi mereka di Timor Leste & Brazil, Inggris yang menulis sejarah versi mereka di Malaysia, Singapore, Brunei, & dimana2 hampir diseluruh dunia karena mereka yang punya wilayah jajahan terbesar di dunia. Spanyol di Filipina & negara2 amerika latin. Maksud saya adalah dunia memang dikuasai bule nasrani jadi terserah mereka mau nulis sejarah sesuka hati mereka & menyebarkannya di sekolah2, universitas2, Perpustakaan2 diseluruh dunia yang berada di negara2 yang mereka kuasai seolah2 itu satu2nya kebenaran faktuil. Lalu setelah itu banyak fakta2 sejarah yang meski setelah bertahun2 merdeka tetep aja ditulis begitu di buku2 pelajaran sejarah di sekolah2. Nampaknya pemerintah sudah terlalu sibuk & pusing mikirin masalah2 lainnya, ekonomi, kemiskinan, kesenjangan sosial, inflasi parah, hankam militer, pastinya politik dalam & luar negri, pemilu & pilkada, korupsi, hukum & HAM, dll. Ada beberapa hal yang perlu saya garis bawahi disini diantaranya, Saya kutip dulu tulisan saudara Pengamat =Tan=: “Ketika Nabi Islam mengambil-alih kota Mekkah kata-kata ancaman yang diucapkannya adalah โconvert to Islam or dieโ” itu adalah fitnah sejarah yang konyol, yang sebenarnya adalah “convert to Islam or pay tax & You will be protected” Masuk Islam atau kalo gak mau, ya gak apa2, gak maksa, cuma bayar pajak & anda akan dilindungi dalam kekuasaan Islam meski anda Non-Muslim. Dan Pajaknya lebih kecil dari yang dikenakan kepada orang Muslim sendiri karena orang Non cuma diminta bayar pajak pada pemerintahan Islam saja yang besarnya sama dengan yang dikenakan kepada umat muslim, sementara umat muslim sudah begitu masih harus ditambah kewajiban bayar zakat lagi. Point selanjutnya adalah statement: “Penyebaran islam di tanah Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya terjadi karena Raja Majapahit memberikan ijin syiar Islam di bumi nusantara”. Statement ini ada benarnya, Tapi lalu dilanjutkan dengan: “Tindakan tersebut merupakan kesalahan fatal yang menghancurkan peradaban nusantara yang telah dibangun ribuan tahun sebelumnya”. Ini lagi2 konyol karena peradaban Nusantara mana yang jadi hancur karena Islam masuk? sampai sekarang Prambanan, Borobudur, Mendut, pure2 di Bali, dan semua situs sejarah peradaban non-muslim masih sangat dilindungi & dirawat & sangat dipersilahkan & tidak pernah dihalang2i umat agama manapun untuk datang berziarah & beribadah & itu dijamin dalam UU yang dikuasai oleh pemerintah Indonesia yang notabene-nya Muslim kan? Justru di SD, SMP, SMU, SMK, STM, SMEA, Univ2 negri yang dikuasai pemerintah Indonesia yang notabene-nya Muslim diberikan pelajaran agama sesuai keyakinannya masing2 & tidak ada paksaan harus belajar & melakukan ritual2 agama tertentu meski bukan agamanya sendiri karena terpaksa masuk sekolah swasta, kita sama2 tahulah agama apa iya kan? Lalu berikutnya mengenai Majapahit jadi begini lho, si anak yang putra mahkota mempelajari Islam setelah mendapat dakwah & masuk Islam karena kesadarannya sendiri, dakwahpun bisa masuk karena diijinkan ayahnya yang raja Majapahit karena dakwah islam masuk dengan damai bukan dengan penjajahan & perbudakan. Pas si anak sudah jadi Muslim ya jelaslah dia membujuk & merayu sang ayah untuk masuk Islam juga, adapun sang ayah si Raja tidak mau, ya si anak punya kuasa apa untuk maksa, kan dia hanya pangeran mana berani maksa raja apalagi sampai membunuh ayahnya sendiri, apa mungkin semudah itu, Ayahnya kan raja dikelilingi pengawal & prajurit, salah2 bisa dituduh anak durhaka pemberontak kerajaan, bisa dicoret dari ahli waris tahta, dipenjara atau diusir. Sekali aja ayahnya teriak pengawal tolong!! atau bunyiin sejenis kentongan atau bell, pasti beberapa pengawal masuk dan nangkep si anak, kalo udah terlanjur ngebunuh pasti dicoret dari ahli waris tahta, dipenjara atau diusir, & calon raja penggantinya bisa jadi sepupu2 terdekatnya atau saudaranya yang mereka juga semua statusnya pangeran. Kan dikeluarga kerajaan juga ada bengsawan2 lainnya dari saudara si raja majapahit, belom lagi patih, jendral, yang semuanya punya hak suara untuk menetukan siapa yang paling pantas jadi raja selanjutnya. Makanya tidak mungkin semudah itu bagi si pangeran untuk membunuh ayahnya yang raja lalu menggantikan posisinya tanpa diketahui oleh pihak2 lainnya. Si anak juga tidak mungkin sebodoh itu, pasti mikir jugalah mengenai hal ini. Terlebih lagi jelas2 Dalam Al-Qur’an tertulis gamblang โTidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.โ (Surat al-Baqoroh: 256) & masih banyak lagi teks senada di hadits2 (Perkataan Nabi, Kalo Qur’an perkataan Allah). Kasus Majapahit ini 11-12 dengan kasus Nabi Muhammad SAW dengan Pamannya Abu Thalib yang saling melindungi satu sama lain meski pamannya sampai akhir hayat tidak mau masuk Islam, Jadi gak mungkin Raden Patah membunuh ayahnya sang raja, yang mungkin terjadi adalah dijadikan tahanan rumah di istana atau setidaknya di padepokan. Iseng2 browsinglah bagaimana hubungan antara Nabi Muhammad dengan pamannya Abu Thalib yang saat itu menjadi pemimpin tertinggi kaum kafir Quraisy di Mekkah. Tapi yang bersumber dari Sunni ya (NU, MUI, Muhammadiyah), bukan dari Syi’ah atau Ahmadiyah buatan penjajah inggris di india untuk memecah belah umat Islam. Lalu point berikutnya: “Hal penting lainnya yang menyebabkan Islam berkembang-biak di tanah Jawa adalah karena kedatangan orang Tionghoa Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam bersama pasukannya menyebarkan agama Islam beserta penyakit kelamin sifilis di bumi nusantara”. Respon saya ya siapa sih yang mau sakit, saya yakin Cheng Ho dan anak buahnya juga kalo boleh milih maunya mah sehat kali. Kok dikait2kan dia berdakwah Islam dengan nyebarin sifilis. Ini adalah argumen desperate dari orang yang benci membabi buta terhadap Islam, saya sih ketawa aja bacanya. Sekarang renungkanlah siapa penyebar HIV Aids? tepat sekali bule2 dari negara2 adi daya barat & eropa yang pastinya bukan sumbernya Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Tao, disanalah pusat Pornografi dunia, wkwkwkwkwk ayo bantah lagi saya kalo bisa? Point berikutnya “Belum lagi syiar Islam oleh Wali Songo yang sialnya juga ternyata adalah orang-orang Tionghoa Muslim yang membantu menyebarkan agama Islam di Indonesia”. Ini mungkin ada benarnya, tapi kata “Sialnya” sangat debatable tergantung dari mana posisi anda, menurut saya ya “Untungnya”, tapi rapopo saya hargai pendapat anda yang tidak objektif ini. Point terakhir: “Sialnya juga orang Tionghoa Indonesia bahwa ternyata yang melarang agama, budaya, adat-istiadat dan tradisi Tionghoa di Indonesia tahun 1965-an sampai tahun 2000-an justru di gagas dan di mulai dari orang Tionghoa sendiri”. Kalo sudah begitu ya mau apa lagi, meski saya setengah sunda setengah tionghoa tapi mendukung kok agar agama, budaya, adat-istiadat dan tradisi Tionghoa disuburkan lagi di Indonesia, & ini sudah dirintis kok oleh Pemerintah Indonesia yang notabene-nya muslim sejak reformasi, tidak ada yang melarang justru dapat memperkaya khasanah budaya tanah air iya kan. Yang gak boleh itu kalo Local Heritage traditional Indonesia di claim negara tetangga wkwkwk itu baru gak boleh. Jadi yang benar adalah dulu saat kekhalifahan setelah Rasul wafat, Khalifah yang berkuasa mengutus utusannya ke negara2 tetangga yang masih Non-Muslim bertemu dengan Raja2nya untuk melobi minta ijin diperbolehkan berdakwah di negara itu dengan damai, tanpa paksaan, tanpa tipu daya, dengan pengawasan pemerintah setempat, & rakyat tentu saja diijinkan bertanya sebebas2nya pada para juru dakwah. Tapi karena raja yang dewan penasihatnya banyak diantaranya pendeta2 tinggi, selain jendral, mentri, merasa keberatan jadi menasihati pada Raja untuk menolak. Hal inilah yang menyebabkan peperangan terjadi, jadi pada prinsip awalnya khalifah islam hanya memperjuangkan diijinkan berdakwah di negara2 itu bukan untuk merebutnya & menguasainya, tapi karena di beberapa peperangan yang tak terhindarkan karena alasan itu pasukan Islam ada yang menang, ya masa udah menang perang lama banyak prajurit tewas, udahnya diserahkan begitu saja ke penguasa sebelumnya lagi, yang bener aja, ya tentu aja terus di claim sebagai wilayah baru kekuasaan Islam. Hal ini pengecualian untuk daerah Palestina, pemerintah Islam sudah minta agar dibagi 3, sepertiga untuk masing2 Yahudi, Nasrani, Islam, tapi sepertiga wilayah Islam haruslah termasuk Masjidil Aqsa, kenapa ini tidak boleh juga, tapi malah serakah ingin menguasai sepenuhnya sendiri wahai yahudi & nasrani? jadilah perang tak terhindarkan awalnya ingin dapet yang sepertiga termasuk Masjidil Aqsa di dalamnya, tapi karena pada waktu umat islam sudah menang mengalahkan tentara Salib dengan banyak prajurit tewas & luka parah dari kedua belah pihak, masa semudah itu pas sudah susah payah meraih kemenangan dengan keringat darah lalu menyerahkan 2/3nya kembali lagi ke yahudi & Nasrani? ya gak lah enak aja. Setelah menang & berkuasa di palestinapun Khalifah Islam tetap menjamin dan melindungi hak2 yahudi dan nasrani untuk beribadah dan berziarah ke tempat2 suci mereka, tidak ada paksaan harus masuk islam atau dibunuh atau diusir, cuma tolong sekarang bayar pajak donk ke pemerintahan islam yang berkuasa dengan pajak yang sama dengan umat islam, emangnya dulu kalian gak bayar pajak apa ke pemerintahan Salibis waktu belum dikalahkan? Saya mohon maaf sebesar2nya kepada pemilik situs ini kalo ada kata2 yang kurang berkenan, saya hanya ingin meluruskan fakta sejarah saja. Insya Allah ini adalah tulisan terakhir saya jika tidak ada lagi tulisan seenaknya yang menghina Islam lagi. Kalo masih ada ya apa boleh buat, apa anda akan diam saja kalo ada nasrani yang menghina agama Tao atau Kong Hu Cu??
Mau kaya gmn pun gw tetep mengganggap bahwa org tionghoa kristen/katolik adalah org tionghua tidak murni/ kdg bisa saya anggap fankui juga :p maaf diskriminasi tp itu hanya tanggapan saya :p
Dear Shella,
apakah kamu benar-benar yakin salah satu nenek moyangmu tidak ada yg menyembah 3 ajaran besar tionghoa tersebut? (Saya sebut menyembah dan bukan memeluk, karena saya anggap kamu terlalu fanatik sehingga menutup matamu akan hal yang lain). Orang totok seperti kamulah yang membantu ajaran 3 besar tersebut memudar, dengan merendahkan orang yang tidak sepaham denganmu. Apakah terpikirkan di benakmu, kalau orang dari lahir sudah dibesarkan dengan orang tuanya sendiri yang beragama katolik,kristen,budha, hindhu akan dengan mudahnya menerima agama lain? Dan untuk informasi saja, di negara lain itu hanya mengijinkan kawin beda agama, akan tetapi kebanyakan (pada akhirnya) mengikuti pasangan satunya karena lebih praktikal. Kalau agama Buddha mengajarkan untuk selalu belajar, maka belajarlah dengan hati yang terbuka dan buka tertutup.
fankui itu apa sih?
Saya bilangin ya saya orang tionghoa tapi saya tionghoa yang suka sama budaya korea karena menurut saya budaya korea beda sama budaya indonesia. Indonesia pake huruf wonocoroko kalo di pulau jawa kalau di korea pake huruf mereka sendiri jadi orang korea sama orang tioghoa itu satu rumpun ngga? Kalo dikorea ada gereja ngga?
Ya ampun edwinagustian di korea ya jelas ada banget gereja, banyak lagi 30% penduduknya kan Kristen.
Pastinya Korut & Korsel udah pasti serumpun wkwkwk. Mau tau serumpun apa gak? denger aja mereka ngomong, baca tulisan mereka, orang RRC ngerti gak? mirip2 gak sama bahasa mandarin? Kalo hanya dari warna kulit & bentuk mata, mirip2 sama Jepang, kenapa gak tertarik juga sekalian dengan budaya jepang? OH apa mungkin karena sampai sekarang RRC dan korea masih benci & dendam sama Jepang karena menjajah dulu? Korsel & Korut juga gak nyatu tuh, kan budaya & bahasanya sama.
saudara Yustinus Li, tanggapan saya untuk komentar anda kepada saya sudah dua kali saya tulis, tapi diblokir terus oleh admin, padahal tidak ada kata terlarang dan tidak ada makian, jadi mohon maaf, bukan saya tidak menanggapi komentar anda.
min kenapa komentarku tidak tayang?
Sistem kami secara otomatis mendeteksi adanya komentar SPAM/BOT. Usahakan untuk menulis komentar dengan jeda waktu 30 menit – 1 jam atau ubah IP Address anda. Perhatikan juga isi komentar karena kami memblokir beberapa kata yang tidak pantas disebutkan; dan apabila terdeteksi secara otomatis oleh sistem maka komentar tidak bisa ditayangkan. Demikian info.
Jika bro Imanuel sudah tidak merasa tionghoa, apa gunanya terus berkomentar di blog Tionghoa ini? Aneh saudara ini. Kok sendiri kayaknya ngotot banget bilang orang ? Kalau boleh tahu, ada kepentingan apa bro Imanuel? Ingat pembaca umum bisa menilai. Jika anda berinisiatif untuk mendirikan organisasi Tionghoa yang bergaris Kristiani silahkan, misalnya mau pakai nama “tiongtiani”; atau lainnya. Demikian juga bagi Tionghoa muslim, silahkan jalan masing-masing tak ada yang melarang ketimbang anda adu ngotot disini.
Saya sendiri menilai blog Tionghoa ini memiliki kewajiban untuk mempertahankan tradisi-tradisi Tionghoa di Indonesia, tentu termasuk ajaran-ajaran dan filsafat leluhurnya. Aneh malah jika tradisi Tionghoa tetapi dipakai konsep pemahaman dari agama lain. Ingat, beberapa tradisi budaya Tionghoa berkaitan erat dengan agama leluhur; tidak bisa berdiri sendiri. Jika dipaksakan, itulah yang akhirnya membuat tradisi Tionghoa menjadi menyimpang.
@Immanuel Lou dan orang-orang lainnya yang sejenis:
1. Argumentasi anda sangat dangkal dan saling bertolak-belakang antara sikap tindakan, pikiran dan ucapan.
2. Mengapa saudara mengaku-ngaku sebagai orang Tionghoa namun merasa keberatan apabila menyembah Tuhan Tionghoa ?
3. Apakah saudara Immanuel Lou menganggap bahwa Tuhan Tionghoa yang disembah-sembah oleh orang Tuhan adalah Tuhan yang palsu ?
4. Tidak-kah saudara merasa aneh sendiri apabila sebagai orang Tionghoa malah menyembah Tuhan Bule ?
5. Kalau ada orang Bule yang menyembah Tuhan Tionghoa juga agak ganjil. Juga sangat ganjil apabila ada orang Pribumi yang menyembah-nyembah Tuhan Tionghoa.
Makanya, Tuhan Bule memang ditujukan hanya khusus untuk orang Bule, dan Tuhan Tionghoa memang ditujukan juga hanya untuk orang Tionghoa.
Agak aneh dan membingungkan apabila ada orang Tionghoa yang mau menyembah-nyembah Tuhan Bule.
6. Apakah orang-orang Tionghoa tidak mempunyai Tuhan Tionghoa sehingga sampai terpaksa dan harus dipaksa untuk mau menyembah-nyembah Tuhan Bule / Tuhan Arab ??
7. Apabila kita diciptakan “Tuhan” untuk menjadi orang Tionghoa lalu mengapa ada juga orang Arab yang khusus menyembah Tuhan Arab ?
Kalau Tuhan hanya satu maka seharusnya manusia hanya diciptakan satu etnis juga. Sehingga dengan demikian orang India, Tionghoa, Arab, Jawa, Batak, Afrika, dll dapat menyembah Tuhan yang sama.
Apabila hanya ada satu etnis maka tidak ada yang namanya agama, budaya, falsafah, adat-istiadat etnis Tionghoa karena semuanya sudah di anggap sama etnisnya.
Apabila Tuhan yang disembah hanya satu lalu mengapa harus ada berbagai macam agama & etnis ?
Kalau Tuhan yang saudara maksud hanya satu dan menciptakan saudara menjadi orang Tionghoa lalu mengapa Tuhan tersebut juga menciptakan berbagai macam kitab suci, agama dan etnis ?
8. Apakah Tuhan Kristen sekte Protestan dengan Tuhan Kristen sekte Katholik berbeda ?
Kalau sama lalu mengapa harus ada Protestan dan Katholik ??
Dengan berdasarkan pernyataan saudara maka orang-orang Islam akan sangat kecewa apabila Tuhan yang disembahnya di anggap sama dengan Tuhan Kristen.
Apakah benar bahwa Tuhan yang menciptakan saudara menjadi orang Tionghoa adalah benar-benar Tuhan yang juga menciptakan orang etnis Arab ?
Kalau begitu maka saudara Immanuel Lou yang mengaku-ngaku orang Tionghoa sesungguhnya merupakan orang etnis Arab yang sedang kebingungan akan asal-usulnya.
9. Di awal saudara menyatakan bahwa agama saudara melarang untuk memuja orang mati. Tidak-kah saudara sadar bahwa di tempat ibadah saudara juga memajang gambar-gambar dan patung Tuhan saudara yang sudah mati ?
10. Lalu kalau menyembah-nyembah orang mati tidak boleh maka seharusnya saudara harus konsisten merazia tempat-tempat ibadah dan menghancurkan patung-patung termasuk patung Bunda Maria, Santo Petrus, membakar Salib yang ada gambar orang mati yang sedang dipantek, bahkan seharusnya saudara juga menghancurkan kuburan-kuburan Tionghoa (termasuk kuburan orang tua saudara sendiri) agar tidak dijadikan ajang penyembahan berhala orang mati sesuai ajaran agama saudara.
11. Mungkin saudara Immanuel Lou baru menyadari saat sudah mati dan sampai di Surga bahwa ternyata Tuhan yang disembahnya selama ini adalah orang Non-Tionghoa, dan ternyata tempat di Surga tersebut juga hanya ada kumpulan khusus orang-orang Non-Tionghoa, sementara yang Tionghoa hanya saudara sendirian. Apakah saat di Surga nanti saudara dapat meminta ijin kepada Tuhan tsb agar dapat “pindah kamar” ke Surga khusus orang-orang Tionghoa ?
Jangankan di Surga, di dunia saja orang-orang Tionghoa walaupun menyembah Tuhan Non-Tionghoa agak merasa risih dan tidak nyaman kalau beribadah di campur dengan orang-orang Pribumi, Bule, Arab, Afrika, dll.
12. Kalau menyembah orang mati dilarang maka seharusnya saat orang-tua meninggal maka tidak perlu disembahyangin lagi karena toh sudah mati lalu buat apa berdoa lagi ? Saat di depan peti mati orang-tua saudara, kepada siapa saudara Immanuel Lou berdoa ? apakah kepada Tuhan saudara atau orang-tua saudara ? Kalau berdoa kepada Tuhan lalu mengapa harus berdoa di depan peti mati ? kan berdoa kepada Tuhan bisa di mana saja dan kapan saja.
Kalau saudara konsisten antara ucapan, tindakan, dan pikiran maka seharusnya saat orang-tua saudara meninggal, saudara cukup berdoa saja di rumah kepada Tuhan saudara, sementara urusan upacara pemakaman, peti mati, pemilihan lokasi kuburan, dll dapat saudara limpahkan untuk di urus oleh orang lain atau saudara panggil jasa Event Organizer.
Kalau di hari acara sembahyang tutup peti orang tua saudara ternyata bertepatan dengan hari Paskah maka seharusnya acara Tuhan-lah yang harus di utamakan di Gereja, biarlah sembahyang tutup peti dilewatkan mungkin bisa di lain waktu, atau bisa juga acaranya di undur besok hari setelah hari Paskah selesai dirayakan. Apa juga gunanya ngeliat acara tutup peti, kan orangnya udah mati mau di apain lagi, terus kita juga bisa bayar orang buat ngurusin hal-hal kayak begituan. I am very busy. Yang penting Tuhan selalu melindungiku. GBU.
Kalau ada uang maka semua urusan beres, tinggal bayar saja, nanti siapa tahu ongkos uang kuburan yang cuma 10% akan dilipat-gandakan menjadi berjuta-juta berkat oleh Tuhan saudara.
@pengamat: saya tanggapin berdasarkan nomr anda ya,
1. atas dasar apa anda menilai demikian? anda sudah menyakskan langsung? ingat suatu kesimpulan harus ada penilaian dengan teori penunjang yang tepat dan harus ada bukti baik berupa percobaan atau survey. jika itu adalah hasil suatu survey yang melibatan pendapat orang banyak, harus ada statistik yang mencantmkan margin error. baru anda dapat mengambil kesimpulan untuk dianggap kesimpulan yang sah. jika tidak maka hanya akan dianggap pendapat subyektif yang masih harus dibuktikan. kalau anda lulus S1, anda harusnya tahu prinsip itu.
2. Terserah jika orang tidak mengakui saya orang Tionghoa, saya juga tidak mengemis-ngemis minta diakui sebagai orang tionghoa kan. saya bisa kok mencari komunitas lain yang Sejenis dengan saya. Baca lagi dengan teliti komentar saya diatas. yang jelas kalau ditanya apakah saya etnis Han, saya jawab ya, saya etnis Han, dari suku khek. mau diakui sebagai tionghoa atau bukan terserah yang mengakui. jika anda tidak mengakui, paling tidak sebagian masih mengakui saya tionghoa. Dan saya tidak pusing dengan itu.
3. Saya tidak pernah membahas tuhan anda palsu atau tidak lho. Saya memang punya pendapat mengenai tuhan anda, dan tidak perlu saya ungkapkan pada anda, karena saya menghargai anda sebagai manusia. Mengenai tuhan anda palsu atau tidak itu terserah penilaian anda sendiri yang menyembah tuhan anda, anda cari tahu saja sendiri, mengapa harus tanya saya? saya hanya menyembah Tuhan saya, tidak menyembah tuhan anda, dan tidak mau tahu juga tuhan anda palsu atau tidak. ITU BUKAN URUSAN SAYA. jadi saya tidak perlu menjawab pertanyaaan anda yang ini.
4. Jelas Tidak, DIA bukan Tuhan orang bule, DIA Tuhan saya. Memangnya anda tahu dan punya bukti kalau DIA adalah Tuhannya orang bule saja? saya heran mengapa saya terpancing untuk menjawab ini, seharusnya pertanyaan ii tidak perlu saya jawab karena saya bukan rohaniwan yang berkompeten untuk menjawab, silahkan anda tna pertanyaan ini di forum atau blog agama
5. Aturan darimana itu? Yang menganggap ganjil siapa? anda dan beberapa orang sejenis anda kan? buktinya bangsa lain tidak bingung. Tuhan Bule? itu kan asumsi anda sendiri.
6. Silahkan baca jawaban saya di nomor 4.
7. Kalau anda tanya itu, anda sudah melenceng dari pernyataan saya semula, saya tidak mau menjawab, silahkan diskusikan ini di forum atau blog agama. karena saya masih menganggap ini blog atau forum kebudayaan, bukan agama. saya tidak mempermasalahkan agama anda, jadi anda juga tidak perlu mempermasalahkan agama saya. saling menghargai agama masing-masin jauh lebih baik, daripada saling mempertanyakan agama orang lain. karena agama adalah hak individu tidak dibatasi oleh etnis atau golongan.
8. pertanyaan anda mengenai kristen dan katolik, Silahkan lihat jawaban nomor 7.
untuk pernyataan anda mengenai etnis saya, MEmangnya anda sudah pernah melihat saya secara langsung? kalau saya jawab saya orang arab berart saya berbohong, di kalangan orang khek, berbohong adalah dosa besar. saya orang khek, kalau menurut anda orang khek adalah orang arab terserah anda, saya tidak berhak memaksakan orang untuk mengubah pendapatnya kan. tapi yang saya tahu orang khek bukan orang arab.
9. Silahkan lihat jawaban nomor 7.
10. Silahkan lihat jawaban nomor 7.
11. Sesuai dengan pernyataan anda, jadi anda rasis dong, maaf saya menganggap anda rasis, sesuai dengan pernyataan anda. okelah terserah anda jika Anda merasa risih berbaur dengan etnis lain, Itu hak anda. Saya bisa memaklumi itu sebabnya semua pertanyaan anda menjurus ke masalah ras.
Kalau saya sih tidak risih, beberapa orang yang rasis seperti anda risih jika berbaur dengan ras lain, tetapi yang lain tidak. jangan samakan orang lain dengan anda. Anda rasis, dan menganggap rendah etnis lain, sedangkan saya menganggap mereka juga manusia. beda kebudayaan, memang ya, tapi mereka juga manusia. kalau anda risih berbaur dengan mereka setidaknya jangan halangi orang lain berbaur dengan mereka. dan bagusnya anda sejauh ini hanya mencela, tidak menghalangi. saya hargai itu. hanya lebih baik jika anda tidak mempengaruhi orang lain untuk memusuhi ras lain.
12. Silahkan lihat jawaban nomor 7.
Saya dari suku khek, generasi ketiga, kakek saya sudah kristen sejak di tiongkok di kwantung mihsien. lari ke indonesia karena tekanan komunis di china.
ya sudah kalau memang tidak diakui sebagai orang tionghoa lagi juga tidak apa-apa. toh saya juga lahir dan hidup di Indonesia. dan saya sudah tidak bisa bahasa leluhur saya lagi bahasa khek. Tapi jangan paksa saya membuang nama keluarga saya. karena nama keluarga saya dapat dari ayah saya, ayah saya dapat dari kakek saya. tidak mungkin saya tidak mengakui saya bukan keturunan mereka bukan? terakhir saja, yang mau saya tanyakan pada admin, jadi situs ini bukan situs budaya tionghoa tapi situs agama tionghoa ya. dan kalau disuruh mengingkari iman saya hanya karena saya ingin tetap diakui sebagai orang tionghoa, saya tidak bersedia, karena iman saya adalah segalanya. tapi saya benar-benar ingin mempelajari budaya tionghoa, sebagai benang merah yang menghubungkan saya dengan sejarah keberadaan saya sekarang ini. tapi kalau sudah tidak diakui sebagai orang tionghoa lagi, dan tidak diperbolehkan mempelajari budaya tionghoa lagi ya sudah, tidak apa-apa kok kami akan membentuk komunitas sendiri diluar komunitas kalian yang menyebut diri ‘tionghoa asli’. banyak banyak kok sebutan untuk kami seperti ‘khek kristen’ atau ‘china kristen’ (tidak apa-apa lah kalau harus pakai sebutan ‘china’ atau bahkan ‘cina’ karena kalian sudah mengklaim sebutan tionghoa untuk kalian yang beragama ‘tionghoa’. terimakasih untuk semua artikel sebelumnya selain artikel yang menyakitkan hati ini.
Perlu Immanuel Lou ingat, Tradisi dan budaya Tionghoa berkembang dan bertumbuh bersama agama/kepercayaan/filosofi Tionghoa, yakni Taoisme dan Konfusius JAUH SEBELUM agama barat masuk ke dataran Tiongkok. Tidak mungkin tradisi dan budaya tionghoa dikaitkan dengan tradisi dari AGAMA LUAR. Satu lagi, tradisi dan budaya Tionghoa tentu akan berpegang dari prinsip2 agama/kepercayaan/filosofi Tionghoa sendiri untuk MENJAGA KEMURNIAN (BACA). Harusnya anda paham, mengapa tradisi dan budaya tionghoa mulai banyak ditinggalkan generasi muda, bukan? Karena anda sendiri mengalaminya langsung.
Ini semata2 untuk menjaga agar jangan sampai sebutan TIONGHOA sendiri tradisi dan budaya nya malah berkiblat mengikuti tradisi dari luar.
Demikian info
@Herman Tan:, coba baca berita-berita lebih jauh, di tiongkok sana, ada banyak etnis, dan semua menyebut diri mereka tionghoa. Selain itu ada suku-suku tertentu yang berkiblat ke agama muslim atau kristen maupun agama-agama lainnya. kebudayaan tionghoa itu majemuk, dan kalau ada agama tridarma, itu bukan melulu agama wajib tionghoa. bahkan ada umat budha yang tidak mengakui dewa-dewi yang ada di agama tri darma. Kakek saya berasal dari desa kristen di daratan. tapi semua merayakan perayaan tahun baru imlek sebagai perayaan awal musim semi dan sebagai perayaan pergantian tahun berdasarkan penanggalan bulan yang dikombinasi dengan matahari. Bukan sebagai perayaan hari besar agama. Dan itu adalah budaya yang sangat tinggi, karena dapat memprediksikan musim tanam yang sangat akurat. tidak perlu diembel-embeli dengan agama segala. saya memaklumi semangat anda untuk mempertahankan tradisi tionghua, tapi tiak perlu kan memaksakan orang tionghoa yang beragama lain untuk mengikuti tradisi agama anda. karena di tiongkok sendiri mereka merayakan imlek dengan cara dan agama mereka masing-masing.
Bung, di Tiongkok (penduduk asli Tiongkok) tidak mengenal sebutan Tionghoa. Sebutan Tionghoa itu hanya KHUSUS untuk keturunan Tiongkok yang lahir dan besar di Indonesia/negara lain diluar Tiongkok. Dari sini saja anda sudah salah besar. Sebutan orang tiongkok asli adalah ไธญๅไบบ (Zhลngguรณ rรฉn).
Tionghoa atau Tionghwa (ejaan Hokkien dari kata Hanzi sederhana: ไธญๅ; Hanzi tradisional: ไธญ่ฏ; pinyin: zhonghua, Romanisasi : Tiong-hรดa) atau Orang Tionghoa adalah sebutan di Indonesia untuk orang-orang dari suku atau bangsa Tiongkok. Kata ini dalam bahasa Indonesia sering dipakai untuk menggantikan kata “Cina” yang memiliki konotasi negatif. Kata ini merujuk kepada orang-orang Tiongkok yang tinggal di luar Republik Rakyat Tiongkok, seperti di Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, istilah orang Tionghoa dan orang Tiongkok memiliki perbedaan makna; yang pertama merujuk pada etnis atau suku bangsa atau keturunannya, sedangkan yang kedua merujuk pada kewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok. Orang-orang Tiongkok yang pergi merantau umumnya disebut sebagai orang Tionghoa perantauan (Hoa Kiao).
Mohon sdr tunjukkan dimana kalimat saya pribadi yang ada tertulis memaksa. Yang saya sebutkan, saya sebagai etnis Tionghoa memiliki kewajiban untuk menjaga agar jangan sampai sebutan TIONGHOA sendiri tradisi dan budaya nya malah berkiblat mengikuti tradisi dari luar. Hal ini sama seperti anda yang memiliki kewajiban untuk mempertahankan prinsip2 ajaran agama anda. Masing2 kita punya tanggung jawab. Toh jika sdr tidak setuju juga tidak masalah, sdr tidak akan kehilangan sehelai rambut.
Demikian info.
Sebenarnya saya sudah cukup prihatin dengan kaum tionghoa kita. Sekarang hanya tersisa label tionghoa dan ciri-ciri fisik saja yang masih melekat; sementara semua tradisinya sudah ditinggalkan orang.
Lihat artis2/tokoh2 tionghoa ketika diwawancarai, mengatakan bahwa mereka tionghoa, tetapi tidak lagi melakukan tradisinya, pantaskah itu? Apa pandangan publik ketika melihat tradisi imlek sudah dilakukan dengan cara2 kristiani/muslim? Seperti itukah tradisi tionghoa yang sebenarnya? Ketika acara pernikahan tidak lagi melaksanakan sanjitan atau tea pai tidak lagi di kui/soja kepada orang tua, itukah tradisi tionghoa yang sebenarnya?
Ketika berziarah ke kubur menjadi halangan karena tidak boleh sembahyang ke orang tua karena dianggap berhala? Bahkan saya pernah melihat anak2 muda/i sekarang enggan untuk pai kui ketika orang tuanya meninggal dengan alasan takut kena marah pendeta! Padahal itu bentuk penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah membesarkan anda! ๅญฉๅญไธๅญ (anak tidak berbakti) adalah sebutan yang biasanya terucap ketika kui dilakukan tapi itu sama sekali tidak terucap.
Saya paham tugas dan tanggung jawab dari blog ini untuk tetap menjaga kemurnian tradisi2 tionghoa yang masih tersisa. Jika semua sudah mengikuti cara2 dan pola pemahaman luar, masih pantaskah kita disebut dengan sebutan TIONGHOA? Atau lebih cocok dengan sebutan fankui sekalian? Semoga dimengerti.
dalam tiap-tiap agama ada aturan sendiri-sendiri, salah satunya mengenai pemujaan orang mati. di agama saya sudah jelas itu dilarang, bukan pendeta yang melarang. mereka sudah tenang, tidak usah di ganggu lagi dengan permintaan2 kalian saat cengbeng.
jusru kami lakukan soja ke orang tua selagi masih hidup, setiap kali perayaan tahun baru imlek, benar-benar soja tuh, sampai kepala menyentuh lantai. saya sering lihat saudara-saudara dari ibu saya yang notabene masih pemeluk tridarma, ketika soja ke kakek-nenek cuma formalitas saja. kepala tidak sampai menyentuh lantai, asal kelihatan soja saja gitu agar segera dapat angpau gitu mereka bilang. Kitab suci kami mengharuskan kami menghormati orang tua. jadi soja lah selagi orang tua hidup. aneh bukan kalau selama orang tua hidup di sia-sia dan di soja-soja setelah orang tua mati dihormati, seperti yang kebanyakan kaum muda sekarang lakukan.
Mengenai pemujaan pada dewa-dewi. kakek saya sejak di tanah leluhur tidak pernah tuh menyembah dewa-dewi. dari sejak jaman dulu juga kami sudah kristen. turun temurun. aneh kan kalau setelah di indonesia kami harus mengingkari iman kami dan menyembah dewa-dewi hanya agar bisa disebut tionghoa.
makanya kalau kalian tidak rela kami disebut tionghoa hanya karena kami tidak mau menyembah dewa-dewi kalian, tidak masalah buat kami, kami akan bentuk komunitas sendiri. dan lihat saja siapa yang akan ditertawakan oleh dunia, kalian atau kami. kalau kami punya alasan, “kami tidak diterima di komunitas tionghoa karena kami tidak mau mengingkari agama kami”. lantas kalian punya alasan apa? apa kalian akan berkata “mereka tidak mau meyembah dewa-dewi kami, jadi kami tidak menerima mereka” gitu?
keselamatan surga adalah hak individu masing-masing, kami menyembah Tuhan kami, kami tidak measa kalian menyembah Tuhan kami, meskipun kami berusa mengenalkan Tuhan kami kepada kalian. Jadi kalian tidak berhak memaksa kami untuk menyembah Dewa-dewi kalian agar kami bisa tetap disebut tionghoa.
Tuhan yang menentukan kami lahir di etnis han, bukan untuk menyuruh kami menyembah dewa-dewi kalian. kalian punya surga versi kalian, dan kami punya surga versi kami, itu urusan setelah meninggal nanti, tapi hidup didunia tidak baik saling memaksa dan menolak. hiduplah dengan damai selagi di dunia. itu lebih baik. karena kalau sudah mati surga adalah urusan masing individu. anda masuk surga anda, kami masuk surga kami.
Tong, saya rasa anda sudah terlalu jauh mengaitkan hal ini sampai ke masalah iman. Anda mau mengatakan bahwa agama anda paling benar dan bisa menjamin mazuk sorga? wkwkwk
Jujur, saya tidak percaya dengan perkataan anda dimana selama orang tua masih hidup anda sering pai kui ketika imlek. Saya tidak pernah melihat hal ini; mungkin hanya tinggal anda seorang saja yang berbuat begini. Mayoritas teman2 seiman anda tidak lagi pai kui ke orang tua baik hidup maupun mati.
Leluhur anda mulai generasi berapa tidak pai dewa? Coba dari lagi ke tahun yang lebih tua, pasti ada pai2. Soalnya agama K baru masuk pas dinasti qing/manchu 1700an. Ingat, leluhur itu ibarat pohon, anda sebagai ranting2nya, leluhur ibarat akar2nya.
Alfried koman, anda tidak percaya itu hak anda, saya tidak memaksa anda percaya, dan tidak ada perlunya saya membuat anda percaya.
maaf ralat, tertulis di paragraf 4 “kami tidak measa kalian menyembah Tuhan kami” maksud saya “kami tidak merasa pernah memaksa kalian menyembah TUhan kami”
Memang tong-tong anda ini wkwkwk. Sudah tahu ini blog tentang Tionghoa, eh tapi nekat masuk dan bersikeras dengan konsep agama anda. Jadi disini yang memaksa siapa? Mohon di ingat mana tamu dan mana tuan rumah, tong.
@Alfried Koman: justru itu, karena saya tahu ini blog tionghoa, bukan blog agama, makanya saya nekat masuk. makanya saya kaget kok penulis artikel memposting yang berbau agama dan mengecam ag tionghoa lain yang tidak menganut agama tri darma. Anda baca komentar saya, saya tidak bersikeras dengan konsep agama saya, saya hanya memprotes penulis yang menulis artikel mengecam agama lain, padahal ini kolom budaya, bukan kolom agama. Saran saya untuk anda: BIASAKAN MEMBACA YANG TELITI SEBELUM MENGECAM KOMENTAR ORANG LAIN, AGAR ORANG TIDAK MENILAI ANDA ASBUN. cuma saran lho ya, jika anda tidak mau terima saran saya juga tidak apa-apa kok.
Saya terlahir dri keluarga katolik yg taat ..kata papa saya,keluarga kami sudah dibaptis dri kung thai smpai generasi kami namun kami msh sangat menghargai tradisi leluhur kami..tiap sin cia kmi sembayang, ceng beng kmi sembayang terhadapa leluhur kami..karena dalam gereja katolik pun kami diajarkan untuk menghormati leluhur..jdi sy g setuju klo ada anggapan klo sdh dibaptis hrs buang smua kebiasaan lama,dll buktinya tidak semuanya..saya berasal dri kota Atambua,NTT kota perbatasan Timor Leste..disini semua org tionghoa rata2 adalah katolik, sebagian kecil kristen..namun kmi tetap menghargai tradisi leluhur tanpa mengurangi kepercayaan kami terhadap Tuhan Yesus..disini rata2 kami org khek (hakka) dan jdi kami klo ziarah ke kuburan y pke lilin,hio(dupa),bakar kertas namun kmi sembayang dengan tata cara katolik karena itulah yg leluhur kami turunkan..100% katolik 100% Chinese Indonesian .. Sorry2 no offense tpi g smua christians membuang jauh2 tradisinya ketika terima Yesus.. Tuhan memberkati.. kamsia
Menurut saya, salah satu alasan kenapa banyak orang tionghua yang pindah ke agama lain, karena di agama tersebut membuka jalan/peluang bisnis yang bagus.
Misalnya : “oow Anda mau bekerja di tempat ini? harus beragama ini lho”, atau “kemarin kita baru bertambah umat baru, namanya Pak A. dia usaha cuci AC, nanti kita dan umat2 yang lain mau cuci AC sama pak A ya”.
Juga kasus lain yang pernah saya temui langsung “Ibu sekarang agamanya apa? oow ibu juga sedang kesulitan membayar biaya kontrak rumah ya? mari bu, kalau di tempat kami, umat2 kami bantu. Tidak harus menyumbang seperti agama ibu saat ini”
Dan namanya orang tionghua, yang sebagian besar itu otak bisnis. Agama semacam ini berkembang pesat. Tiap minggu bertemu untuk beribadah sambil bicara bisnis, dll.
Orang Tionghoa? Tidak jelas apa definisi orang Tionghoa. Kalau ditinjau dari kata penyusunnya: Tiong berarti Tengah dan Hoa menunjuk pada nama suku yang eksis sejak 4000 atau 5000 tahun yang lalu (tergantung versi sejarah mana yang Anda sukai).
Yang mungkin jarang diketahui orang Tionghoa itu sendiri adalah Tiongkok lebih kurang seperti Romawi di Eropa/Barat. Hebatnya Tiongkok itu eksis lebih dulu dari Romawi.
Penyebutan Tiongkok/Zhongguo atau Negara Tengah bukan tanpa alasan. Karena Tiongkok adalah sebuah negara yang dikelilingi banyak negara lain. Contoh lihat saja masa kini: di utara ada Mongolia (Menggu), di timur ada Manchuria/ManQing (Liaoning-Jilin-Heilongjiang), di barat ada Turki (Xinjiang), di selatan ada Vietnam (Yuenan). Belum lagi kalau kita mau menyebut Rusia, Thailand, Myanmar, dll.
Orang Tionghoa/Zhonghua diyakini berasal dari suku local yang disebut Hua/Hoa yang tinggal di provinsi Henan yang dikenal ramah, moderat, dan welcome terhadap orang asing yang datang ke Tiongkok/Zhongguo yang kemudian berasimilasi. Jadi di dalam darah orang Tionghoa juga mengalir darah dari berbagai bangsa.
Orang Tionghoa purba sebagaimana India purba atau Mesir purba menganut garis ibu. Kalau Anda mengerti huruf Mandarin/ Zhongwen, Marga atau “Xing” adalah gabungan dari dua kata yaitu perempuan “Nii” dan lahir “Sheng”.
Singkat kata, bukanlah hal aneh bila di masa pertanian purba, seorang perempuan bisa memiliki lebih dari satu suami di satu saat yang sama, sehingga kemudian anak yang dilahirkan mau tak mau memakai garis ibu karena tidak jelas siapa bapaknya.
Nah orang Tionghoa purba, sebagaimana orang Mesir purba atau India purba, welcome terhadap imigran. Sebelum ada tembok China, orang dari berbagai penjuru dan dari berbagai suku datang ke Tiongkok untuk mengadu nasib dan berasimilasi seperti halnya Romawi purba.
Kalau ada pepatah abad pertengahan “banyak jalan menuju Roma” maka pepatah 3000 tahun yang lalu di Tiongkok adalah “banyak jalan menuju Tiongkok/Zhongguo”.
Karena itulah etnis yang disebut Tionghoa sejatinya merupakan campuran suku local Hua dengan suku-suku lain di sekitarnya mulai dari suku-suku di Manchuria, Mongolia, Turki, Tibet, Rusia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dll. Name it as much as you like.
Karena itu kita bisa menemukan orang Tionghoa yang berkulit kuning, putih, merah atau coklat. Yang berperawakan tinggi, sedang atau pendek. Yang bermata bulat, sedang, atau sipit. Yang berambut lurus, bergelombang atau ikal.
Jadi menurut saya, orang Tionghoa itu dari sononya dan sejak ribuan tahun lalu, sudah blasteran/majemuk, sama seperti suku/ bangsa lain yang juga majemuk. Romawi purba majemuk, USA kini majemuk, Indonesia kini juga majemuk.
Hanya saja sejak dinasti Chin (kira-kira abad 3 SM), orang Tionghoa mulai membangun sebuah pembatas dengan bangsa luar yaitu tembok China sehingga bangsa pendatang tidak bisa lagi leluasa masuk ke Tiongkok dan kawin campur dengan orang Tionghoa.
Padahal pendiri dinasti Chin (kosakata “China” berakar dari nama dinsati “Chin” ini) itu sendiri sebenarnya termasuk pendatang dari “Barat” (mungkin saja Turki, Rusia, atau Persia, who knows?).
Coba pelajari sejarah zaman Chun Chiu (Musim Semi Musim Gugur) saat ada sekitar 7 negara bertempur satu sama lain di masa akhir Dinasti Zhou/Chou sebelum akhirnya muncul Dinasti Chin yang mana rajanya terkenal bertangan besi dan akhirnya mampu menyatukan tujuh negara dengan tujuh dialek berbeda, tujuh aksara berbeda, dan tujuh tradisi/budaya yang berbeda menjadi satu negara, satu bangsa, satu dialek/bahasa, satu aksara, dan satu tradisi/budaya hanya dalam satu generasi saja!
Dinasti Chin yang singkat itu (satu generasi) adalah semacam pembuka bagi Dinasti yang paling dikenang orang Zhonghua/Tionghoa sepanjang masa yaitu Dinasti Han. Pemerintah China Komunis masa kini menyebut suku โHanโ (yang aksaranya sama persis dengan aksara โHanโ dalam Dinasti โHanโ) sebagai sebagai suku atau populasi mayoritas di China.
Istilah Han-ren atau orang (Dinasti) Han sudah dipergunakan 2000 tahun yang lalu. Sama populer-nya dengan istilah China (dari kata Chin-ren atau orang Chin) yang populer di Barat sejak Dinasti Chin mulai merintis hubungan dagang dengan Eropa (ekspor Sutra melaui Silk Road).
Istilah lain untuk menyebut Tionghoa adalah “Teng-lang” atau mandarin-nya “Tang-ren” atau “orang (Dinasti) Tang” (abad 7 sampai abad 10 M).
Di masa Dinasti Tang ,yang sejaman dengan Sriwijaya, inilah agama Buddha berkembang pesat karena pendirinya yang bermarga Li (English-nya โLeeโ seperti master kungfu Bruce Lee/Li Xiaolung atau perdana menteri Singapura Harry Lee/ Lee Kuan Yew/ Li Kuang Yaw) adalah blasteran suku Turki/Tujie (bapak) dan “Tionghoa” (ibu). Di masa (abad 7 M) itu orang Turki mayoritas beragama Buddha (sebelum akhir-nya di-islam-kan di abad 13 M). Begitu pesatnya perkembangan agama Buddha di zaman Dinasti Tang sampai-sampai penganut agama-agama lokal seperti Konghucu atau Tao merasa terancam sehingga sempat muncul larangan agama Buddha di masa akhir Dinasti Tang saat Kaisarnya tidak lagi beragama Buddha. Ini adalah dampak dari kebijakan Dinasti Tang, yang mengikuti kebiasaan/tradisi sejak Dinasti Han, yaitu merekrut pejabat-pejabatnya berdasarkan ujian negara yang materinya ajaran/filosofi Konghucu.
Jadi kalau kita sebagai orang Tionghoa benar-benar paham sejarah Tiongkok/Zhingguo dan Tionghoa/Zhonghua maka kita tidak berani menyebut ada “agama Tionghoa” seperti yang lazim disebut orang Barat sebagai “Chinese Folk Religion”.
Karena leluhur orang Tionghoa itu sendiri sebenarnya TIDAK PUNYA AGAMA. Orang Tionghoa hanya punya TRADISI menghormati leluhur atau BERBAKTI kepada orangtua sebagaimana lazimnya bangsa-bangsa/ suku-suku lain di dunia sebelum mereka “menciptakan” AGAMA. Maaf, kalau kata-kata saya menyinggung Anda. Ya, berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan kecintaaan saya pada sejarah dunia purba dan modern, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa Manusia yang menciptakan Agama. Manusia yang menciptakan Tuhan. Bukan sebaliknya.
Saya pribadi memilih untuk NETRAL, tidak beragama, tapi di KTP terpaksa ditulis Buddha karena pemerintah Indonesia mengharuskan orang memiliki salah satu agama dan saya memang menyukai filosofi (bukan agama!) Buddha yang menganjurkan orang bergantung pada pemikirannya sendiri dan mencari kebenaran bukan dari kitab suci atau guru agama yang ada di luar sana tapi dari DALAM DIRI SENDIRI. Donโt believe on scriptures or teacher, search the Truth by yourself. Donโt Seek Outside, Truth is inside.
Walau tidak beragama tapi saya memegang teguh tradisi utama orang Tionghoa yaitu berbakti kepada orangtua. Itulah filosofi utama Konghucu/Gong Fuzi.
Semua orang bebas beragama apapun sesuai keyakinannya masing-masing dengan catatan agama itu tidak boleh menjadikannya intoleran. Hal yang saya amati dari sejarah semua agama adalah selalu muncul aliran radikal yang intoleran di suatu masa, sebelum akhirnya perlahan-lahan aliran itu menjadi moderat dan toleran, namun kemudian muncul aliran radikal baru yang lain lagi yang tidak intoleran.
Contoh kasus: Katolik Roma awalnya radikal dan intoleran, menguasai seluruh eropa Barat selama hampir 1000 tahun, tapi pelan-pelan kemudian menjadi moderat dan toleran setelah muncul Protestan Luther dan Calvin yang lebih radikal. Sekarang Protestan Luther atau Calvin sudah menjadi moderat, dan kini muncul Saksi Jehovah atau Mormon yang radikal dan intoleran. Kasus di Indonesia misalnya adalah munculnya Islam yang radikal dan intoleran, yang menggulingkan Majapahit Hindu dan kemudian Islam radikal-intoleran itu pelan-pelan bermetamorfoisis menjadi NU yang moderat dan toleran. Dan ketika NU sudah moderat dan toleran, muncul aliran radikal-intoleran Muhammadiyah pengaruh ajaran radikal dan intoleran Wahabi/Salafi. Aliran radikal yang dipelopori Abdullah bin Abdul Wahab yang didukung keluarga Saudi yang akhirnya mengobrak-abrik Mekkah dan Madinah di awal abad 19, yang meluluhlantakkan kuburan para โSahabat Nabiโ (Umar-Abu Bakar-Usman-Ali) dengan tanah karena menyambangi kuburan “Sahabat Nabi” untuk berdoa dan minta berkah dianggap menduakan Allah. NU langsung waspada dengan Muhammadiyah yang dicurigai ingin mencoba menghancurkan ajaran dan makam “Sembilan Wali”, pendiri kerajaan Islam Demak, perintis agama Islam di Jawa, nenek moyang NU. Dan saat ini ketika Muhamamdiyah pelan-pelan menjadi moderat-toleran, muncul lagi banyak aliran baru dalam Islam yang radikal-intoleran yang diimpor langsung dari Arab Saudi. Tidak usah saya sebut nama-nama alirannya, kita tahu sama tahu saja. Begitulah agama, aliran radikal-intoleran selalu muncul di setiap zaman, dimana-mana.
China atau Tiongkok atau Zhongguo juga mengalami pahitnya berurusan dengan agama-agama radikal-intoleran. Dimulai dari pemberontakan aliran radikal Tao yang disebut Huangjin/Serban Kuning di masa akhir Dinasti Han (abad 3 M) yang berujung pada runtuhnya Dinasti Han, sampai pada pemberontakan aliran radikal Buddha Bailian/Pailien/Teratai Putih (abad 19) yang melemahkan Dinasti Manchuria Qing/Ching dan berperan besar dalam kemunduran dan keruntuhan Dinasti terakhir ini.
Kasus aliran radikal yang paling menarik adalah aliran Hongjin/Serban Merah, sebuah aliran rahasia, radikal-intoleran yang menggabungkan Tao dan Buddhisme yang akhirnya berhasil meruntuhkan Dinasti Mongolia Yuan/Yen dan melahirkan Dinasti Ming. Pendiri Dinasti Ming, salah satu pemimpin pemberontakan ini, adalah Zhu Yuan Zhang (Chu Yen Chang) sadar betul bahwa Hongjin adalah aliran radikal-intoleran-sesat yang mengatasnamakan agama Tao/Buddha untuk memberontak dan menggulingkan kekuasaan Mongolia. Maka tak aneh ketika Zhu Yuan Zhang menjadi kaisar pertama Dinasti Ming, dia malah melarang sekte agama sesat-nya sendiri! Dan melanjutkan tradisi Dinasti Han yaitu menjadikan agama/filosofi Konghucu sebagai agama/filosofi resmi Dinasti Ming.
Mengapa Konghucu? Karena ajaran utama Konghucu adalah bakti. Bakti kepada orangtua. Bakti/Setia kepada Negara adalah level berikutnya. Maka dari itu tak pernah tercatat dalam sejarah China bahwa ada pemberontakan yang berlandaskan ajaran Konghucu. Impossible. Kalaupun ada, pasti agama setengah Buddha, atau setengah Tao yang meng-atasnamakan agama Konghucu.
Bagi saya pribadi Konghucu bukan Nabi dan juga bukan agama. Tapi seorang filsuf agung seperti Socrates atau Plato di Yunani purba.
Sifat-sifat utama orang Tionghoa yang mengikuti filosofi/ajaran Konghucu adalah berbakti, moderat dan toleran. Tapi toleransi orang Tionghoa ada batasnya yaitu sepanjang orang lain/agama lain yang dihadapinya juga toleran seperti dirinya.
Kita berusaha memperlakukan orang lain seperti diri kita sendiri. Begitulah fiolosofi Konghucu, begitulah filosofi orang Tionghoa. Mirip juga dengan filosofi Kristen “Love other like you love yourself”.
Tapi kalau orang lain menunjukkan sikap intoleran, sikap bermusuhan dan mengganggu keselamatan hidup kita, adalah tidak bijaksana, kita menjalankan filosofi Nasrani “beri pipi lain untuk ditampar”. Kita harus konsisten: kita INTOLERAN terhadap orang/agama yang INTOLERAN terhadap kita, sebagaimana kita TOLERAN terhadap orang/agama yang TOLERAN terhadap kita. Yup, that’s fair and cool.
Secara alamiah, di setiap zaman, akan selalu muncul agama baru. Dan seringkali agama baru itu merupakan mutasi dari agama lama atau sinkretisme dari beberapa agama. Ada yang moderat-toleran. Ada yang radikal-intoleran.
Saya bukan Tionghoa โatheistโ yang suka melihat semua agama di dunia ini musnah. Tidak. Menurut filosofi Tao, tidak mungkin kita memusnahkan banyak agama dan kemudian menjadi hanya ada satu agama atau satu keyakinan untuk semua orang di dunia. Itu pikiran orang picik yang tidak tahu bagaimana alam ini bekerja. Alam ini menyukai keberagaman/diversity. Alam ini menyukai kemajemukan/plurality. Jadi nikmati saja kemajemukan dan keberagaman itu dari luar. Jangan masuk atau terlibat terlalu dalam.
Ketika mungkin banyak orang hanya melihat secara negatif Revolusi Kebudayaan (1966-1976) yang dilancarkan pemimpin komunis Mao Tzetung/ Mao Zedong yang menghancurkan semua agama di China baik agama lokal atau agama impor, karena agama dianggap sebagai saingan ajaran Marxisme, saya pribadi malah melihat sisi positif-nya selain sisi negatif-nya yaitu pemerintah komunis China tanpa sadar telah mencoba mengembalikan orang Tionghoa ke jati dirinya sebagai orang yang menjalankan tradisi Tionghoa, bukan menganut agama tertentu.
Pemimpin komunis China setelah Mao Zedong mati yaitu Deng Xiaoping (Deng the little warrior) sadar bahwa Komunisme-Marxisme radikal-intoleran saat Cultural Revolution adalah salah besar tapi juga sekaligus Karunia Terselubung /”Blessing in disguise”. Salah besar karena tidak hanya menghancurkan semua agama tapi juga semua tradisi โbaikโ Tionghoa. Deng Xiaoping lalu sadar bahwa orang Tionghoa harus kembali kepada karakternya, jatidirinya, tradisinya. Dan tradisi yang menyatukan semua orang Tionghoa pada dasarnya hanya ada satu yaitu โberbakti โ. Inti filosofi Konghucu. Btw, saya jadi ingat dua ajaran utama Master Cheng Yen (Tzu Chi) yang saya setujui: berbuat baiklah (inti ajaran Buddha) dan berbaktilah (inti ajaran Konghucu). Pikiran Bhiksuni Cheng Yen yang terakhir ini (berbaktilah kepada orangtua) selaras dengan pikiran Deng Xiaoping dan pikiran saya. Tapi menurut saya pribadi, inti ajaran Buddha bukan berbuat baik seperti yang diajarkan Cheng Yen, tapi โSADARLAHโ. Karena bila orang sudah โSADARโ (sudah mengetahui Buddha di dalam diri, menurut ajaran Zen. Btw, kosakata Buddha itu sendiri berarti Sadar) maka otomatis ia akan suka berbuat baik. Karena berbuat baik umumnya akan mendatangkan kebahagiaan atau menjauhkan penderitaan. Kita baik atau kita jahat yang menentukan adalah pikiran/kesadaran kita sendiri. Itulah inti ajaran Buddha yang saya pahami.
Sorry OOT. Kembali ke Deng Xiaoping.
Tradisi Tahun Baru Imlek/Yinli/Lunar Calendar dihidupkan kembali oleh Deng Xiaoping karena di saat tahun baru Imlek itulah orang Tionghoa didorong untuk mengingat orangtuanya. Mudik. Pulang kampung. Bersujud kepada papa mama-nya. Mengunjungi kuburan leluhurnya.
Mudik Lebaran ala Indonesia saat ini kalah jauh dengan mudik Imlek ala China. Setengah milyar orang China mudik secara serentak di tahun baru Imlek yang membuat polisi lalu lintas China kewalahan!
Orang Tionghoa masa kini boleh saja tidak punya agama tapi orang Tionghoa masa kini masih punya tradisi berbakti kepada orangtua yang diwujudkan saat Tahun Baru Imlek. Sujud kepada orang tua.
Saya pribadi adalah satu-satunya orang di keluarga besar saya yang masih mau bersujud (benar-benar bersujud menyembah hingga kepala menyentuh tanah) kepada orangtua ketika tahun baru imlek. Saudara-saudari saya yang Nasrani sudah tidak mau lagi melakukan sembah sujud khas Tionghoa ini kepada orangtua. Ya biarin aja sepanjang mereka mau berkumpul merayakan Sin Cia, bagi-bagi angpao ke anak-anak saya, sebaliknya saya bagi-bagi angpao ke anak-anak mereka. Sepanjang kami sekeluarga rukun menurut saya sudah cukup. Perbedaan agama? Masa bodoh.
Ada saudara saya yang berkeyakinan Kristen ekstrem bahwa sembah sujud hanya untuk Tuhan. Dalam hati saya, Tuhan yang dia sebut itu hanya sebuah dongeng atau mitos purba, tapi orangtua adalah nyata dan layak disembahsujudi.
Bila orang beragama mengatakan Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang maka bagi saya, orangtua saya juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi apa bedanya Papa Mama kita dengan Tuhan? Tanpa kasih papa mama, kita semua langsung mati dalam hitungan hari saat kita dilahirkan ke dunia ini.
Spirit bakti (Xiaosun) inilah yang menentukan ke”Tionghoa”an kita. Tradisi bakti. Tradisi Imlek. Bukan agama.
Sekali lagi saya tidak anti agama. Saya hanya melihat orang beragama sebagai orang yang belum menyadari dirinya sendiri sebagai manusia (ren). Adalah lucu melihat orang Tionghoa yang Konghucu pindah ke Kristen. Ada juga yang Kristen pindah ke Islam. Ada juga Islam yang pindah ke Buddha. Atau Buddha pindah ke Tao.Tao pindah ke Konghucu. Itu sama seperti pindah dari satu perangkap ke perangkap lainnya.
Bukan agama yang menentukan ke-tionghoa-an kita, tapi bagaimana kita menyadari diri kita sebagai manusia. Manusia yang dilahirkan oleh sepasang orangtua. Manusia yang berbakti kepada orangtua dan sukur-sukur bisa berbakti kepada negara dimanapun kita berada.
Dua hal itu bila bisa dilakukan (bakti kepada orangtua lalu bakti kepada negara/masyarakat) akan menjadikan kita sebagai Tian/Thien/Tuhan yang akan dipuja-puji umat manusia. Lihat saja aksara Mandarin Tian/Tuhan/Langit yang merupakan gabungan angka “dua” yang ditulis sebagai dua garis horizontal dan “manusia”. Tafsiran bebas saya untuk Tian/Thien/Tuhan adalah “manusia” yang bisa menjalankan “dua” bakti utama (bakti kepada orangtua dan bakti kepada masyarakat/negara).
Lee Kuan Yew adalah salah satu contoh manusia (ren) yang menjadi Tuhan (Tian) di masa kini. Bagaimana beliau dalam hanya satu generasi saja bisa mengangkat masyarakat Singapura dari kemiskinan dan menjadi masyarakat yang kaya secara materi, dan secara non materi menjadi masyarakat yang berintegritas, jujur, jauh dari korupsi, bersih, rapi, disiplin, rasional, dan suka kerja keras. Itulah contoh ren yang sudah menjadi Tian yang dipuja-puji banyak orang sepanjang masa.
Jangan salah mengerti, beliau bukan pujaan/idol bagi saya. Saya hanya sebatas menghormati beliau sebagai the one of True Chinese. Tionghoa sejati yang pantas diacungi dua jempol karena sikapnya yang moderat dan toleran. Dan keberanian Beliau untuk intoleran terhadap orang/agama yang intoleran.
Dapat dikatakan pola berpikir dan way of life Lee Kuan Yew sama persis dengan pola berpikir dan way of life saya. Itu menyebabkan saya bersemangat dan bangga sebagai orang Tionghoa.
True Chinese is love your parents, love your fellows, be moderate, be tolerant, use your brain, balance your heart.
Komentarnya bagus. Saran : dibuat dalam bentuk artikel opini (dirapihkan saja) saja ntar kita posting jadi 2 bagian karena kepanjangan; orang keburu MALAS kalau komentarnya panjang begini. Silahkan tinggalkan nama dan asal daerah yang akan dicantumkan sebagai sumber. Sayang ketik panjang-panjang cuma masuk halaman komentar. Kirim ke admin [at] tionghoa.info nanti komentar ini dihapus dan dialihkan ke artikel.
Hmm, di awal tulisan sepertinya mendukung kemajemukan, tapi pada akhirnya kok pakai kata2 ‘True Chinese’, filosofi, karakter orang Tionghoa. Kalau memang bangsa Han(China) begitu besar dgn sejarah ribuan tahun, apakah masuk akal hanya satu aliran filosofi (cara hidup) saja yang bisa dikatakan asli? Orang/kelompok yg membentuk atau sekedar mengikuti aliran agama, kepercayaan, atau filosofi lain disebut sesat dan bukan True Chinese gitu?
Btw, untuk chinese folk religion, bukannya yang dimaksud itu yg seperti orang Tionghoa di sini sembahyang ke kelenteng (dewa-dewa) dan juga leluhur? Anda mau menyangkal kalau itu tidak ada? Pemerintah Indonesia memang menganggap mereka tidak ada sih…
Salah, pemerintah Indonesia sudah lama, dirintis sejak reformasi mengakui keberadaannya. Masuk Kategori agama kepercayaan leluhur/ nenek moyang (Animisme/ dinamisme). Pemerintah Indonesia tidak seburuk yang anda sangka.
Menurut saya pribadi, manusia tak akan pernah menjadi Thian( Tuhan). Tuhan itu hanya satu.Sidharta Gautama juga bukan Thian. Beliau menjadi Buddha (Bahasa Sanskerta maksudnya “ia yang sadar” ). Beliau adalah Nabi/ messenger yang diutus Tuhan bagi memberi penerangan dan jalan untuk umat yang mencari ketenangan batin di dunia.Ibarat pilihan, siapa yang memilih berperang daripada hidup harmonis dengan sesama? Mana yang lebih menenangkan batin, memaafkan/mencintai atau membenci seseorang?Jawabannya ada di hati nurani/batin kita masing masing.Lee Kuan Yeuw adalah satu dari umat manusia dunia yang sadar apa yang sebenarnya dia cari di dunia.Dia telah mencapai penerangan ,walaupun saya yakin tidak seratus persen.Dia manusia biasa yang masih punya hawa nafsu.Tapi saya percaya, dia akan mencapai nirwana di kehidupannya yang lain.Om Santi.
Saya ingin meluruskan beberapa pandangan yang salah tentang agama asli Tionghoa untuk umat awam maupun tenglang/tengnang yang tak mau mendalami ajaran leluhurnya. Agama Tionghoa ada 3 / tridharma / samkaw / sanjiao, terdiri dari Budha Tao Konghucu. Tetapi di luar agama itu ada agama yang merupakan sinkretisme atau pencampuran dr tiga agama tersebut yaitu chinese folk religion atau lebih dikenal aliran kepercayaan. Hampir 40% zhonghuo ren di seluruh dunia menganut ajaran agama ini, termasuk Indo. Tetapi ajaran CFR ini lebih dekat dengan Tao atau pencampuran dengan Tao. Dan mayoritas orang Cina di luar Cina mengatakan dirinya beragama Tao, beda dengan Indonesia dikarenakan vakum apapun yang berhubungan dengan Tionghoa (Soeharto) pada th2000 kaum yg gencar mempromosikan agamanya yaitu kaum confuism kongfuzi konghucu, walaupun begitu populasi Konghucu di dunia maupun di Indo (sebelum pindah Nasrani) itu sedikit lebih banyak Tao lalu Budha, tetapi menurut pengakuan Pemerintah, konghuculah yang diakui.
Liat saja klenteng di Indonesia mayoritas beraliran Tao bukan Konghucu, Sorry bukan bermaksud memojokkan Konghucu tetapi saya ingin memberitahu kesalahpahaman yang lazim di Indonesia. Bahkan saya juga mengharapkan agama Tao diakui di Indonesia bukan mendempel agama Budha atau Konghucu. Terlebih sudah ada perkumpulanny Majelis Agama Tao Indonesia, jadi bukan Konghucu saja yang punya Majelis Agama Konghucu Indonesia saja.
Saya lahir dari keluarga Kristen dan sejak kecil saya bersekolah Minggu, tetapi agama itu berasal dari hati oleh sebab itu sekarang saya yang SMA kelas 3 ini memeluk agama Buddha dan tetap menjadi simpatisan Tao di klenteng, memang saya memeluk agama itu ada tantangannya yaitu sulit sekali menemukan pacar yang seagama apalagi istri,
Saya sekarang bersekolah di sekolah Katolik, tenglangnya disana seangkatan saya beragama 59%kristen 40%katolik dan cuma SATU PERSEN doang bro yang agama masih tridharma, dan sekolah Katolik itu sudah mewakili persentase agama Tionghoa di kota saya dan di pulau Jawa, sorry bro gue ga pernah keluar jawa. Ngenes kan
Seperti yang saya katakan tadi agama memang berasal dari hati, bukan paksaan , tpi klo liat statistiknya sih, pengennya mbacok gitu ****** .
Ketika orang Tionghoa yg beragama asli masuk ke Kristen Katolik, orang Tionghoa tridharma tidak kenapa” tpi giliran orang Tionghoa Nasrani lebih” Kristen melakukan tradisi leluhurnya dicecer diejek dimaki di apain apa aja yg menyakitkan, katanya berhala, itu belum pindah agama bro,
Memang sih klo saya survey Kristen lebih murni agamanya, apalagi bersumber banget sama Alkitab trus ajarannya mengharamkan ajaran yang laen (sorry yang Kristen, gue mantan kristen) beda ma Katolik yg lebih mensikretisme maupun menghargai ajaran yg laen (bukan gw promosi agama katolik tpi gw sekolah di sekolah Katolik) tpi walau begitu intinya sebenarnya sama kedua agama tersebut menghilangkan ajaran tradisi Tionghoa walaupun ada yg sedikit mending dari Katolik, tpi mending sedikit doang.
Tetep aj kita perlu merenung, jika kita sebagai orang Kristen trus temen kita diajak pindah ke Islam ato lainnya trus km sewot banget giliran orang kelenteng diajak ke Kristen km senang banget, SINIS NGAWUR , semua orang juga gitu kale wkwkkw, tpi titik dong ama para orangtua yang mengizinkan anakny ke gereja, apa mereka melarang, ga kan, liat aja sekarang giliran orangtua Kristen anaknya dipaksa masuk Kristen ga boleh klenteng Wihara, aduh,,,,, lupa sama leluhur lo yg mbebasin.
Sorry SARA tpi saya bicara fakta.
sebelumnya perkenalkan, nama saya putu (salah satu nama panggilan saya).
saya adalah keturunan Tionghoa – Bali (mixed), di mana selain saya bersembahyang di Pura, juga rutin sembahyang di Kelenteng dan kebiasaan ini saya terus lakukan hingga saya berdomisili/bekerja di Jakarta.
Tentunya keseluruhan “hubungan sepiritual” ini sudah semestinya terwariskan kepada keturunan2/generasi2 saya berikutnya, agar mereka tidak lupa tentang asal-usul nya, latar belakangnya, dan siapa leluhur2nya (intinya: darimana kami berasal).
Tanpa memandang apakah budaya tionghoa maupun budaya bali, jika kami membuang salah satu dari “kebiasaan sepiritual” ini, maka ini sangat tidak baik bagi kami dan jelas ini PAMALI bagi keluarga kami, karena itu sama dengan melupakan sebagian dari leluhur kami.
Saya sependapat dengan opini dari mbak penulis, walaupun saya tetap dalam posisi netral. Bagaimanapun inilah fakta yang telah ada di lapangan. Tetapi apa yang telah terjadi, biarlah itu berlalu. Bagaimanapun hal ini ialah “tragedi kebudayaan leluhur kita” yang terjadi sejak awal lahir rezim Orde Baru di akhir 1960-an (sebagai imbas tragedi sejarah pertengahan 1960-an), yang kemudian sebagaimana paragraf terakhir artikel ini, diperparah dengan diterbitkannya suatu Inpres yang mengukung hak kita dalam menjalankan tradisi leluhur kita selama berpuluh tahun, yang berimbas pada sebagian generasi sekarang (termasuk saya juga).
Sekarang masih ada waktu untuk membenahi apa yang telah menimpa sebagian dari generasi kita, agar generasi2 kita berikutnya tidak mengalami tragedi2 serupa.
Dan saya juga berharap agar MATAKIN turut juga giat memberikan pembinaan langsung bagi generasi2 muda penganut Konghucu, yang salah satu alasannya ialah agar mereka tidak ragu dengan ajaran2 dari keyakinan/agama yang dianutnya.
Mohon maaf bila dari opini saya ini ada yang menyinggung para pembaca (termasuk juga mbak penulis artikel ini) secara tidak sengaja, serta mohon maaf juga bila ada yang keliru dalam opini saya ini.
Bagaimanapun apa yang saya utarakan dalam opini saya ini, murni berdasarkan apa yang menjadi pandangan pribadi saya.
Marilah kita saling beropini secara demokratis, namun tetap dalam koridor yang beretika / santun.
jika ada agama menyebutkan sebuah tradisi adalah berhala maka sebaliknya agama yg lain jg bs mengatakan lebih menyembah bapak lain dr pada bapak sendiri.. krn itu fakta yg mmg tidak dpt di pungkiri.. jika anda menghargai leluhur anda kenapa anda hilangkan adat mempersembahkan kepada leluhur.. sedangkan anda tidak ragu dan tidak merasa buruk dengan mempersembahakan semua hal kepada agama yg anda anut.. dimana leluhur tidak pernah mengatakan agama tersebut adalah berhala.. jika agama tersebut mengunakan kata2 yg menjelekan agama sebelumnya jd wajar jika sekarang hukum karma berjalan dan kembali di pertnykan kembali knp agam tersebut selalu mengisyaratkan sembahyang leluhur adalah berhala..
Hi senang bertemu dng web ini,
menurut saya sih, tionghoa itu bukan agama tapi lebih ke ideologi dan tradisi, sehingga seharusnya bisa digabungkan dgn agama yg tidak membawa2 tradisi, semisal agama kristen.
setahu saya banyak perayaan agama kristen yg mula-nya berasal dr tradisi eropa hanya diberi makna baru.
dan saya lihat banyak tradisi bisa digabungkan terutama dalam gereja katolik. (btw saya cina-indonesia dan katolik)
dan unsur agama global bagi cina perantauan sangat membantu,dalam berinteraksi dalam dunia global, misalkan saya sekarang ada tinggal di luar indonesia dan dalam gereja saya bisa melihat budaya2 laen tanpa merasa kehilangan jati diri krn ada bagian dlm perayaan misa yg kita rayakan juga diindonesia dan ada juga orang 2 cina dr negara lain dlm gereja. Misalkan kadang saya suka bercanda dng orng cina filipin , siapa mesti traktir siapa kalo lagi imlek.
Puji Tuhan saya katolik sehingga masih boleh dan malah dianjurkan utk berdoa bagi kerabat yg sudah meninggal.Malah ada satu hari khusus yaitu hari raya para arwah(tanggal nya seingat saya sama dgn haloween), all soul days, dimana kita bisa berdoa utk leluhur yg sudah meninggal agar beban diapi pencucian bisa segera selesai dan bergabung dng para kudus disurga.
harapan saya agama kristen/katolik menjadi agama yg meneruskan tradisi2 cina yg sesuai dan baik, dan memberi makna baru dan identitas baru bagi generasi cina baru, sehingga dimanapun kita berada, kita bisa merasa satu saudara tidak hanya sodara karena warna kulit yg sama, dlm tingkat yg lebih tinggi kita juga bersaudara dng semua orang dalam Kristus.
salam.
PS : sorry ga bermaksud menyinggung, hanya saja agama Budha juga bukan dr cina dan nama2 sanskrit yg dipergunakan menunjukkan bukan berasal dr tradisi china.tapi asimilasi berjalan dgn baik sehingga seolah2 budhis adalah agama cina, kenp tidak dng kristen ? sebuah tantangan saya rasa utk memerahkan warna warni dlm agama kristen ๐
Saya ingin menanggapi bagian akhir komentara anda :
Karena agama Budha masuk ke Tiongkok tidak dengan KEKERASAN; sementara agama Kristiani masuk ke Tiongkok lewat ingin BERKUASANYA negara-negara barat dengan cara perang pada tahun 1800-1900an; sama persis seperti berkembangnya agama Kristiani di daerah Indonesia yang dibawakan oleh para misionaris mereka yang ikut kapal perang negara-negara barat.
Itulah sebabnya kenapa agama Budha lebih dapat diterima dan malah menyatu sebagai bagian dari salah satu agama besar yang berkembang di dataran Tiongkok, sama seperti tumbuh dan berkembangnya agama Islam di Jawa (Islam bukan agama asli Indonesia).
Setuju banget
memang kenyataan agama konghucu menerima banyak kerugian secara material .. tapi , itu tidak masalah bagi umat konghucu sendiri karena bagi persepsi mereka dengan umat islam , yaitu sebanyak2 nya harta yang diperoleh di dunia , tetap tak akan terbawa satu pun diakhirat nanti , bukan maksud saya menghuna , tapi dengan anda menyudutkan agama konghucu ini berdasarkan pandangan anda tentang hal yang merugikan dalam segi materi .. anda sudah memberi kami paham bahwa kristen adalah agama yang mengajarkan kita untuk tetap sayang dengan duit karena duit itu payah dicari , dan bersembahyang ditempat yang higienis . perlu kalian ketahui , berapapun banyak uang yang dikeluarkan untuk upacara tahunan umat konghucu jika hati tidak ikhlas , tidak ada gunanya .. soal tentang agama kristen yang menjadi persepsi saya sekarang ini akibat tulisan yang anda posting , bukan maksud saya untuk mengejek agama kristen adalah agama yang sayang duit .. tapi cara anda dalam menyampaikan pandangan anda dari segi bahasa dan spekulasi nya sangat tidak bisa dijadikan yang layak untuk di pahami ,. justru pandangan anda lebih terlihat cenderung menyudutkan agama minoritas ini .
agama kami memang terkesan kuno dan merugikan .. tapi agama ini tidak pernah berpengaruh buruk pada peradaban cina kuno dari dulu sampai sekarang .. ditempat saya, orang tionghoa yang beragama kristen ,menganggap agama kristen adalah agama yang bisa menghubungkan diri dengan tuhan walau pakaian yang kurang sopan . itu hanya melahirkan persepsi masyarakat bahwa orang beragama kristen karena menolak kegiatan membina rohani yang sifatnya kuno.
Anda kalau tulis komentar belajar titik koma dan gaya bahasa dulu bung. Orang sakit kepala baca komentar anda yang satu ini, tujuannya ke arah mana bingung.
Saya menghargai pandangan dari penulis diatas, yang terlihat ingin memperjuangkan nasib dari tradisi dan budaya Tionghoa yang mulai memudar di generasi muda Tionghoa sendiri.
Namun harus bijak, bahwa tidak semua orang tionghoa yang sudah pindah agama nasrani yang seperti itu. Ada juga yang kalau saya lihat malah menganut dualisme agama. Artinya mereka beribadah ke gereja, juga bersembahyang ke kelenteng. Ini menjadi fenomena baru sejak tahun 2005 ke atas.
Agama tionghua ?
Emang ada ya Agama tionghua…?
Agama Tionghoa itu adalah : Tao, Kong Hu Cu, Buddha, serta aliran kepercayaan tradisional yang lain; yang berasal dari dataran Tiongkok dan dibawa masuk oleh masyarakat perantauan nya sendiri ke Indonesia.
Lho Budha dari mana? India bukan Tiongkok. Guru besarnya siapa? Sidharta Gautama, orang mana? India bukan Tiongkok. Awalnya di India beliau juga pusing banyak ditentang oleh mayoritas Hindu, bahkan diperangi, jadinya pindah keluar India untuk menyebarkan ajarannya. Gitu lho.
salam damai untuk kita semua.
saya juga seorang keturunan tionghoa yg menganut nasrani.
kebetulan papa saya sebelum meninggal memeluk konghucu, sedangkan mama saya dari kecil beliau memeluk nasrani.
mereka hidup begitu harmonis tanpa membahas apa kepercayaan yg mereka anut.
disaat natal kami merayakan bersama2, disaat imlek pun demikian.
saya juga sering ikut sembayang kubur pho2 saya, saya ikut bukan karena menurut ajakan dari papa saya, tapi karena saya menghormati beliau.
jadi menurut saya itu semua tergantung pribadi masing2, lebih nyaman memeluk kepercayaan yg mana.
kedua orangtua saya tidak pernah memaksa saya untuk pilih kepercayaan apa, mereka lebih memberikan pilihan itu kepada saya.
jadi menurut saya, mau agama apapun orang itu, Nasrani atau Konghucu, menurut saya sama aja, toh yg di lihat bukan agamanya, tapi kepribadian seseorang itu.
intinya mau apapun agama dan kepercayaan kita. kita ini masih sama2 etnis tionghoa, jadi jangan karena masalah perbedaan agama menjadi pemecah belah etnis tionghoa di Indonesia.
salam damai… ^^
tidak ada jeleknya memeluk agama kristen. kalau di runut sejarah manusia 5000-4000sm jaman nabi nuh, di katakan bangsa tionghoa juga keturunan dari leluhur Sem (anak Nuh), walau itupun harus di cek lagi secara detail. Lagian 2000sm bangsa tionghoa juga sudah menyembah Tuhan (Sang Tie / Thian) Yang Esa, jadi sama juga dgn agama kristen yang menyembah Yahweh hanya beda nama panggilanNya saja.
Inti ajaran Kristen adalah adanya penebusan dosa thp dosa2 masa lalu yang di miliki oleh umat yang baru percaya dan juga mendorong umatnya untuk lebih berbuat kebaikan seperti lebih mengasihi sesama, lain dari itu adalah pengajaran tambahan saja dari tafsiran pengkhotbah. Kalau begitu tentunya ini bukanlah ajaran yang tidak baik, malah tidak bertentangan dengan ajaran sehat.
Mungkin yang harus di pikirkan adalah apabila anak tionghoa tsb pindah ke agama sebelah, yang mengajarkan biarpun orang tuanya dan saudaranya, kalau tidak seiman mereka adalah orang lain yang layak di jauhi atau tidak boleh menjadi wali. ini yang sangat berbahaya.
Aku juga orang tionghoa dan sekarang Kristen dan sudah belajar ajaran dari leluhur tionghoa, Kong Hu Cu, Buddha, ataupun Tao, dan sampai sekarang saya masih juga sering membaca buku2 yang bersangkutan dengan hal tsb.
sebenarnya dalam agama itu yang di pentingkan bukanlah ritual melainkan praktek sehari-hari yang tertulis dalam 10 Perintah Tuhan atau dalam Khong Hu Cu ada di sebut 8 ajaran kebajikan, dll.
terima kasih. semoga Tuhan memberkhati kita semua, amin.
Dear all, mohon maaf saya ini muslim dan izinkan saya bergabung. tq. Beberapa waktu lalu saya satu travel dengan seorang biksu senior dari Padangsidimpuan mau ke Medan. Pembicaraan kami seputar masalah spiritual dan sangat hangat dan bersahabat. Teman saya itu menyinggung agresifnya agama tertentu menarik komunitas Tionghoa agar bergabung dengan agama mereka, dia menjelaskan sangat mengganggu merekja. Sayangnya saya tidak punya solusi.