Last Updated on 1 June 2021 by Herman Tan

4 Dekade yang lalu (tahun 1979) pemerintahan Deng Xiaoping sudah mencanangkan suatu kebijakan, yang nantinya akan membatasi ledakan pertumbuhan yang diperkirakan akan dialami oleh Tiongkok mulai akhir tahun 1980-an. Kebijakan tersebut disebut dikenal sebagai “Kebijakan Satu Anak“, atau One Child Policy (一孩政策; Yī hái zhèngcè).

Selama kurang lebih 4 dekade, masyarakat yang tinggal di Tiongkok sudah lazim hidup tanpa saudara kandung. Menurut survei waktu itu, sebanyak 76% penduduk mendukung kebijakan ini. Wajar saja, karena waktu itu Tiongkok lebih suram daripada Indonesia.

Baca juga : Banyak Dalih, Indonesia Susah Maju! oleh Dahlan Iskan

Kemudian, 3 tahun yang lalu (2016), kebijakan tersebut resmi dicabut, sehingga keluarga memiliki hak untuk mendapatkan lebih dari 1 anak.

Apalagi jika anak pertamanya wanita, yang sudah tentu tidak bisa melanjutkan trah marga dari keluarga. Kebijakan yang lama lantas diganti dengan kebijakan yang baur, yakni “Kebijakan Dua Anak“, atau Two Child Policy (两孩政策; Liang hái zhèngcè).

Tampak sebuah poster propaganda tahun 1950-an, untuk mempromosikan keluarga dengan banyak anak.

Meskipun sudah dilonggarkan, tetap saja kebijakan Two Child Policy ini masih menimbulkan kontroversi.

Bahkan, pembahasan mengenai “Kebijakan 2 Anak” tersebut masih terus hangat diperbincangkan di media sosial. Banyak media massa di Tiongkok yang menyebutkan alasan dibuatnya kebijakan baru ini : Karena alasan perekonomian Negara.

Jika terus berlanjut (kelahiran makin turun), maka nasib Tiongkok ditakutkan akan sama dengan Jepang, dimana penduduk usia tuanya sudah lebih banyak dari penduduk usia muda (angkatan kerja), dan ini tentu akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Negara.

Sejak Tiongkok resmi berdiri, perencanaan mengenai populasi penduduk sudah diatur sedemikian rupa di dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang ada di Negara tersebut. Di jaman Mao Zedong (1949-1976), kebijakan dan propaganda mendorong masyarakat untuk memiliki lebih banyak anak.

Kata-katanya yang paling populer waktu itu seperti “Dari semua benda di dunia, manusia adalah yang paling utama”. Atau “Lebih banyak penduduk, bermakna lebih banyak tenaga kerja”. Akan tetapi, setelah terjadinya over populasi, maka pemerintah Tiongkok gencar menerapkan “Kebijakan 1 Anak”.

Dalam kurun waktu 4 dekade setelah implementasi, penerapan kebijakan One Child Policy tersebut dianggap berhasil. Pemerintah Tiongkok menilai bahwa penerapan kebijakan tersebut sudah mencegah kurang lebih 400 juta kelahiran, antara tahun 1979 hingga 2010.

Namun, ketika kebijakan tersebut dihadapkan kepada sebuah kondisi masyarakat yang mulai menua, dimana angkatan kerja yang tersedia mulai menyusut; kini pemerintah Tiongkok malah mendorong agar masyarakatnya gencar untuk memiliki anak lebih banyak.

Baca Juga :  Wow, Di Tiongkok, Perempuan yang Melahirkan Anak Kedua Malah Dibayar!

Baca juga : Kontroversi Kebijakan 2 Anak (Two Child Policy) di Tiongkok : Anak Ke-2 Harus Dipajak!

Seperti keterangan di artikel sebelumnya (link diatas), keinginan generasi muda di Tiongkok untuk memiliki lebih banyak anak malah menurun.

Berbagai faktor yang membuat mereka “malas” untuk memiliki banyak anak, seperti tingginya biaya hidup, tekanan dunia kerja yang semakin tinggi, biaya merawat anak-anak, dan biaya untuk merawat orang tua.

Bahkan, generasi muda disana (kelahiran 1970-an keatas) saat ini sudah menganggap bahwa kebijakan yang menerapkan anak tunggal dalan keluarga, merupakan suatu hal yang baik. Lantas untuk apa memiliki anak ke-2?

Agar supaya dapat melihat bagaimana pandangan generasi muda Tiongkok mengenai kebijakan satu anak tersebut, maka kita harus mendengar tentang bagaimana kehidupan anak-anak kecil di Tiongkok, yang mana mereka lahir dan besar di kebijakan ini :

Tampak seorang emak-emak di Tiongkok, sedang mendorong sepeda dengan 2 anaknya.

Kisah Pemuda Tiongkok Yang Lahir di Masa Kebijakan 1 Anak

Saya lahir di Beijing pada awal tahun 1980-an. Saya adalah anak tunggal dari orang tua, yang juga merupakan anak tunggal. Saya memiliki kehidupan yang menyenangkan, dan masa kecil saya pun dipenuhi dengan banyak kenangan yang indah.

Saya bahkan tidak pernah terpikir bahwa setiap keluarga yang hanya memilki seorang anak itu adalah hal yang aneh. Saya mengenal konsep saudara kandung hanya melalui cerita dan kartun di tv atau komik, namun itu hanya ada dalam fantasi yang secara otomatis terhapus dari realita kehidupan saya.

Bagi anak yang sudah dewasa mungkin akan bertanya-tanya, kenapa begitu banyak cerita anak-anak tentang kakak-beradik, sedangkan saya tidak memilikinya?

Namun, saya bukanlah anak yang secerdas itu. Lagipula, teman-teman sebaya saya tidak pernah merengek ke orang tuanya agar memberikannya saudara/adik. Jadi, saya tidak merasa ada hal yang hilang dari kehidupan saya.

Ketika berumur 10 tahun, keluarga saya pindah ke Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya saya melihat anak kecil seusia saya yang memilki kakak atau adik. Selama beberapa tahun, akhirnya saya belajar banyak tentang kebahagiaan memiliki saudara. 

Saya tidak mampu membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama saudara kandung. Hal yang saya tahu, itu akan mengubah seluruh kehidupan saya. Suami saya punya adik perempuan, dan hubungan (keakraban) mereka sangat dekat.

Meski begitu, Saya tidak pernah merasa bahwa hidup saya kurang, tanpa adanya saudara kandung. 

Ini adalah kondisi mental yang dimiliki oleh banyak rekan saya di Tiongkok daratan, dan itu membuat mereka tidak memiliki keterlibatan emosional yang kuat dengan gagasan memilki lebih dari 1 anak.

Sekalipun terasa wajar bagi kebanyakan orang di negara-negara lain untuk memiliki lebih dari 1 anak, namun rasanya wajar juga bagi generasi One Child seperti saya, untuk memiliki 1 anak saja. 

Hal yang menakutkan dari Kebijakan Satu Anak di Tiongkok adalah : Kebijakan, insentif dan hukuman memang dapat diberikan sampai titik tertentu, namun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menormalisasi hati dan pola pikir masyarakat Tiongkok, tentang Kebijakan 1 Anak ini.

Baca Juga :  Revolusi Kebudayaan di China II

“What is normal and common for people in other countries is a great and terrifying unknown for couples in China”.

Apa yang normal dan umum bagi orang-orang di Negara lain, adalah hal yang tidak diketahui dan menakutkan bagi pasangan di Tiongkok.

Apa yang dbutuhkan saat ini bagi mereka adalah, bagaimana cara meyakinkan bahwa bertambahnya jumlah anak-anak bukan hanya memperbesar beban ekonomi saja, namun juga ada kebahagiaan tak terhitung yang mereka bisa dapatkan…

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!