Last Updated on 16 September 2021 by Herman Tan

Mendengar kata “kesuksesan” orang Tionghoa di Indonesia rasanya sudah bukan hal yang asing lagi. Tak jarang kita temui orang-orang suku tersebut yang memiliki sederetan kekayaan, dan bahkan tercatat sebagai orang-orang terkaya di Indonesia.

Ya, walaupun hidup sukses merupakan hak dan keinginan semua orang. Tetapi, yang sering terdengar adalah kesuksesan yang berasal dari suku Tionghoa dibandingkan dengan suku lainnya.

Hal ini memang cukup mencengangkan, karena bukan hanya di Indonesia, namun hal ini juga terjadi di berbagai Negara lainnya di dunia.

Melihat fakta yang seperti itu, pasti banyak yang merasa heran, bagaimana cara orang Tionghoa memupuk kekayaan. Padahal, pada dasarnya kisah mereka berawal dari seorang pendatang.

Bukan yang sudah berdiam di Indonesia sejak mula-mula. Sehingga, prestasi ini kadang dipandang oleh sebagian orang bukan sebagai suatu kebanggaan, namun sebagai sebuah cibiran.

Banyak Dalih, Susah Maju! – Dahlan Iskan

Rahasia Bisnis Orang Tiongkok perantauan. Apa saja itu?

Pada 5 April 2018, Dahlan Iskan menulis sebuah catatan yang berjudul “Banyak Dalih, Susah Maju”. Dahlan pun menyayangkan, karena pemerintah dan masyarakat kita cenderung selalu berdalih untuk tidak bisa membuat Negara ini maju.

Ketika membandingkan Negara ini dengan Negara adidaya Amerika : orang2 Indonesia mengatakan “Amerika kan sudah 240 tahun merdeka. Kita kan baru 72 tahun. Mana bisa dibanding-bandingkan?”

Lalu ketika Negara ini dibandingkan dengan Negara tetangga Singapura :  “Singapura kan hanya Negara kecil. Mereka cuma punya 1 pulau mini, yang memiliki luas daratan setara ibukota Jakarta.

Penduduknya ±5,6 juta jiwa (per 2016), bahkan lebih sedikit dari penduduk Jakarta yang mencapai ±10,1 juta jiwa. Pantas saja kalau mereka lebih maju. Membangunnya pasti gampang.”

Selalu saja punya alasan …

Ketika dibandingkan dengan Tiongkok? Inilah Negeri yang miskinnya dulu (mulai dari usai perang saudara dengan Taiwan tahun 1950 s/d era Deng Xiaoping tahun 1980) melebihi Indonesia!

Yang luas daratannya melebihi Indonesia (9,6 juta km², 5x luas Indonesia)!

Yang jumlah penduduknya 1,4 miliar, juga 5x lebih banyak dari kita!

Yang tahun merdekanya juga kurang lebih sama dengan Indonesia (RRT merdeka tahun 1949)!

Ingat! Usai Dinasti terakhir Tiongkok (Qing) runtuh dan menyerah imperialisme barat, maka “dibagilah” wilayah2 Tiongkok LAIKNYA SEBUAH KUE kepada Negara2 sekutu yang menang pada saat itu, yakni Inggris, Italia, Prancis, Spanyol, Belanda, Portugal, Rusia, dan Jepang.

Kepingan terakhir yang kembali adalah wilayah Macau (ex.Portugal) pada tahun 1999, 2 tahun setelah Hong Kong (ex.Inggris) dikembalikan pada tahun 1997.

Tapi kok mereka bisa lebih maju dari kita???

Padahal dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar 1 Negara bagian Amerika. Kini, ekonomi 1 kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari Negara Filipina; dan para pakar ekonomi memprediksi, Tiongkok akan memimpin perekonomian dunia, paling lambat tahun 2030!

Apakah kita masih punya dalih untuk ketidak-majuan Negara kita?

Baca Juga :  Dinasti Song, Dinasti Song Utara dan Selatan (Bagian I)

Apakah kita mau kentjing beramai-ramai saja di sana, agar tenggelam laiknya “pulau” Singapura yg kecil itu?

Tentu saja cari saja para elit politik di Negeri ini mencari jawaban yang paling gampang : Karena Indonesia dikuasai para CUKONG CINA! Dimana 80% tanah & aset dikuasai 1% rakyatnya; dan sebagian besar kekayaan kita diambil keluar negeri, tidak tinggal di Indonesia lagi!

Lalu ada juga yang berceletuk, Tiongkok kan negara Komunis. Di Indonesia, banyak yang mengira semua orang Tiongkok itu komunis. padahal tidak demikian. Dari 1,4 miliar penduduk, yang komunis hanya sekitar 70 juta orang. Atau sekitar 5%.

Partai Komunis Tiongkok adalah ”partai kader”, bukan ”partai massa” seperti di Indonesia. Untuk bisa menjadi anggota partai sangatlah sulit. Harus mendaftar, lalu ikut pendidikan awal. Setelah itu harus ikut dan lulus ujian. Lalu pendidikan lagi, ujian lagi. lalu dicoba menjadi calon anggota dengan tugas khusus mengabdi di masyarakat.

Dari situ baru diputuskan, apakah akan diterima menjadi anggota partai komunis atau tidak. Setelah menjadi anggota pun masih banyak pendidikan partai yang harus diikuti. Juga harus ikut ujian lanjutan lagi.

Begitulah. Setiap tingkatan ada pendidikannya, ada ujiannya. Lalu ada penugasan untuk dinilai. Anggota yang merusak nama baik partai, seperti melakukan perbuatan tercela, menyakiti rakyat, korupsi, akan ditindak.

Sejauh ini tidak ada pejabat atau pimpinan BUMN yang ditangkap karena korupsi. Mereka selalu ditangkap karena ”melanggar disiplin partai”. Setelah di persidangan barulah dibuka, apa karena korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, menipu, atau lainnya.

Artikel Exklusif : Benarkah Krisis Moneter di Indonesia Ada Hubungannya Dengan Para Naga?

Jelaslah bahwa ternyata masih banyak penduduk Indonesia yang kurang bisa menerima kesuksesan suku yang bukan suku asli Indonesia ini. Padahal, jika melihat lebih dalam, ada beberapa prinsip hidup yang membuat suku ini berhasil sukses, mulai dari bukan apa-apa menjadi orang2 yang kaya.

Jadi, daripada berpikir jelek, sebaiknya tengok 9 prinsip hidup sukses dimana saja ala orang Tionghoa yang dapat kita terapkan :

1. Pepatah “Makan bubur sebelum sukses dan makan nasi setelah sukses.”

Jika pernah mendengar pepatah “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Maka pepatah yang satu ini memiliki makna yang hampir sama. Intinya jika ingin mendapatkan kesuksesan, maka di awal harus mau untuk bersusah-susah terlebih dahulu.

Karena tidak ada kesuksesan yang terjadi secara instant. Yang terbaik, yaitu memulai dari hal yang kecil dan berusaha keras terlebih dahulu, sekalipun melakukan sesuatu yang berat dan susah. Dari hal kecil ini nantinya akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Buktikan saja!

Baca juga : 7 Rahasia Kenapa Bisnis Pengusaha Tionghoa Selalu Sukses. Anda Tidak Akan Pernah Menyangkanya!

2. Ungkapan “Orang yang tidak bisa tersenyum dilarang membuka toko.”

Orang yang kurang senyum akan sulit menjalankan bisnis 🙁

Pepatah yang satu ini mungkin terdengar menggelikan, tetapi ini adalah pernyataan yang benar. Bayangkan saja, jika menjadi pembeli lantas menemukan penjual yang tidak mau tersenyum, atau berwajah sewot terus, tentunya hati terasa tidak senang.

Baca Juga :  Pengalaman Pribadi : Budi Pribumi Terhadap Etnis Tionghoa

Lain halnya jika disambut ramah dengan senyuman manis. Tentu pembeli akan merasa nyaman dan tenang saat mengutarakan apa yang dibutuhkan. Jadi sedikit banyak servis dan pelayanan akan menentukan kesuksesan suatu usaha juga.

3. Confucius said : “Keberhasilan terbesar kita bukanlah karena kita tidak pernah gagal, tetapi bagaimana kita bangkit setiap kali kita mengalami kegagalan”

Konfusius (Kongzi), salah satu Guru Agung yang terkenal asal Tiongkok.

Selanjutnya yaitu pepatah bijaksana yang satu ini, dimana ujian yang sesungguhnya dalam hidup seseorang untuk menentukan keberhasilan, yaitu dengan tidak menyerah dan selalu bangkit kembali untuk berusaha.

Inilah yang sering dilakukan oleh orang Tionghoa. Mereka memiliki semangat tinggi yang tidak kenal menyerah. Sehingga satu kegagalan hanyalah pelajaran untuk awalan usaha yang baru.

Dengan berulang kali mencoba, maka pada satu saat akan memperoleh keberhasilan yang diinginkan. Karena sukses berarti terus mencoba sampai di titik mana usaha tersebut membuahkan hasil!

4. Pepatah kuno ala Ann Wann Seng “Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tidak punya pilihan, KECUALI bekerja dengan lebih keras dan rajin!”

Ann Wan Seng, tokoh Muslim Tionghoa Malaysia yang masih mengaku bahwa dirinya masih CINA. Berbeda dengan disini, dimana sebagian masyarakat Muslim2 Tionghoa justru menolak untuk dikatakan “cina” lagi.

Ann Wann Seng merupakan seorang tokoh muslim dan ustad asal Malaysia. Beliau dikenal karena menerbitkan buku2 yang berjudul “Rahasia Bisnis Orang Cina“.

Ya, sepertinya inilah kunci utama dari kesuksesan yang bisa diraih para suku Tionghoa hingga saat ini. Kerja keras merupakan kunci yang tidak dapat disangkal lagi. Tentu sudah bukan rahasia jika mereka memang sangat tekun dan ulet dalam bekerja.

Bahkan saat sedang kurang enak badan atau ada masalah, mereka tidak pernah mengesampingkan kerja keras dan kerajinan. Tentulah ini merupakan suatu contoh yang patut kita tiru.

Tidak bermalas-malasan di rumah, atau mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Segala bentuk kegiatan yang butuh kerja keras dan ketekunan tentu akan membawa kita lebih sukses.

Baca jugaInilah 6 Hal Muslim Tiongkok Yang Perlu Anda Ketahui; Yang Nomor 5 nya Mencengangkan!

5. Ungkapan ala Ann Wann Seng “Pedagang tidak boleh terlalu kaku. Namun sebaliknya, perlu memperbolehkan proses tawar-menawar.”

Mau tahu apa rahasia2 bisnis orang Tionghoa yang lain? Bacalah buku tulisan Ann Wan Seng terbitan 2006, tokoh Muslim Malaysia ini.

Masih dari Ann Wann Seng, Pepatah yang satu ini sudah sering diterapkan oleh para pengusaha Tionghoa. Dimana-mana sering kita dapati bahwa mereka memperlakukan para pelanggannya sebagai raja. Sehingga, para pedagang ini mau mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh pelanggannya, termasuk menyesuaikan harga jika diperlukan.

Hal ini merupakan hal yang kecil, tetapi tentunya membuat orang yang bermaksud membeli sesuatu menjadi lebih senang karena diperhatikan dan bahkan mendapat harga lebih murah. Tak heran jika toko-toko milik  pengusaha Tionghoa umumnya lebih ramai oleh pembeli.

6. INGAT : “Selalu Berpikir untuk 3 Keturunan!”

Bakti (孝, Xiào), merupakan salah satu tingkatan moral tertinggi!

Yang satu ini juga merupakan salah satu pepatah yang baik. Dengan memikirkan orang lain, maka tidak berfokus untuk mengembangkan kesuksesan terbatas hanya untuk diri sendiri saja.

Baca Juga :  Tahun Baru Imlek; Perayaan Hari Raya Agama atau Budaya?

Karena itu tak heran jika orang Tionghoa selalu memikirkan kesuksesan untuk anak dan cucunya juga. Sehingga banyak usaha pada akhirnya diwariskan pada para penerusnya.

Ini juga merupakan tindakan yang patut kita contoh. Dengan demikian tentunya kesuksesan nantinya akan berlanjut turun temurun. Tentu tidak ada salahnya dengan hal yang demikian.

Ingatlah, sebagian harta yang kita miliki saat ini merupakan titipan Tuhan untuk anak cucu kita kelak!

7. Confucius said : “Dia yang tidak ekonomis (pada akhirnya) pasti akan menderita.”

Ajaran-ajaran Kongzi lebih menitikberatkan ke moral, hubungan manusia dengan sesamanya.

Disini inti dari pepatah tersebut, yaitu berusaha untuk hidup hemat sesuai dengan keperluan saja. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.

Karena bisa memicu kita untuk memiliki banyak hutang, yang akhirnya menyusahkan kita sendiri. Oleh sebab itu hindari membeli barang yang tak perlu dan biasakan hidup hemat sesuai kemampuan pendapatan kita.

Baca jugaDiskusi Antara LAOZI dan KONGHUCU : Ternyata Ini Yang Mereka Perdebatkan!

8. Pepatah kuno “Menyimpang se-inci, rugi 1000 batu.”

Menyimpang se-inci, rugi 1000 batu.

Salah satu prinsip yang paling penting untuk dilaksanakan oleh suku Tionghoa yaitu termasuk berusaha untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan sampai sedetail mungkin. Sehingga terlihat jelas berapa modal yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan.

Tidak ada usaha untuk menggelapkan uang, sehingga apabila ada resiko yang demikian akan terlihat jelas sejak dini. Dengan pengaturan yang tepat maka akan lebih mudah mengelola keuntungan yang dipakai untuk usaha lainnya lagi. Otomatis maka usaha akan berkembang lebih besar dari sebelumnya. Menarik bukan?

9. Ungkapan “Jangan cemas harapan yang belum tiba, jangan sia-sia menyesali apa yang sudah lalu.”

Ini adalah faktor yang juga sering dilupakan oleh banyak orang. Sebagian orang selalu berpikir pesimis akan masa depannya. Sementara sebagian lagi terjebak oleh masa lalu yang tak kunjung padam.

Nah, pepatah ini mengajarkan kita supaya tidak melakukan tindakan-tindakan yang demikian. Hidup ini perlu pemikiran yang positif. Sehingga dari pemikiran yang positif tersebut, timbul tindakan-tindakan yang positif juga. Rejeki seseorang memang ada yang mengatur, tetapi jika memiliki semangat yang kuat pasti dapat berhasil.

Ingatlah, Yi Ban You Wo, Yi Ban You Thian一半有我, 一半有天

Itulah beberapa prinsip hidup sukses dimana saja ala orang Tionghoa. Dari semua pepatah di atas, tidak ada yang terasa berat untuk diterapkan.

Jadi, jika ingin sama suksesnya dengan jajaran orang-orang Tionghoa yang ada di Indonesia maupun di belahan dunia manapun, cobalah menerapkan salah satu atau beberapa dari prinsip hidup diatas.

Tentunya dengan usaha yang baik selalu disertai dengan doa, maka kesuksesan adalah sesuatu yang sangat mungkin kita alami. Selamat mencoba!

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!