Peta kerajaan Song Selatan

Last Updated on 15 August 2020 by Herman Tan

Dinasti Song (960 – 1279) atau Song Chao 宋朝 merupakan kekaisaran yang paling kuat di dunia secara ekonomi, ilmu pengetahuan, dan militer. Namun Dinasti Song terus menerus berada dalam ancaman dari musuh di utara, dan setelah 319 tahun, akhirnya mereka dikalahkan oleh bangsa Mongol (yang kala itu dipimpin Kublai Khan, cucunya Jenghis Khan), yang kelak mendirikan Dinasti Yuan (1271-1368).

Kaisar pertama Dinasti Song adalah Zhao Kuangyin, yang bergelar Kaisar Song Taizu 宋太祖, yang memimpin selama 16 tahun. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang dalam bentuk, penggunaan bubuk mesiu dalam peperangan, penggunaan kompas untuk menentukan arah utara.

Sejarawan membagi sejarah Dinasti Song menjadi 2 era :

♦ Kerajaan Song Utara, Bei Song 北宋 (960-1127) berbasis di utara Sungai Yangtze, ber-ibukota di Bianjing (sekarang Kaifeng, Henan) dan lebih kecil dari Kerajaan Tang.
♦ Kerajaan Song Selatan, Nan Song 南宋 (1127-1279) ber-ibukota di Lin’An (sekarang Hangzhou, Zhejiang), dan kebanyakan di bagian selatan Yangtze, dan berkembang pesat baik secara ekonomi maupun dalam pertumbuhan populasi.

Fakta Singkat Dinasti Song :

• Dinasti Song memiliki 2 era yang sama panjangnya : Song Utara dan Song Selatan.
• Kerajaan Song menikmati pertumbuhan populasi dan ekonomi yang pesat, yang belum pernah terjadi pada dinasti2 sebelumnya.
• Kerajaan Song maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

• Tradisi kejam pada era Song adalah tradisi mengikat kaki yang dilakukan oleh kaum wanita.
• Kerajaan Song Selatan terbukti paling sulit dikalahkan Mongol, dibandingkan kerajaan2 lain di Eurasia.

Baca lanjutannyaKesenian, Tradisi, Filosofi, Agama, Penemuan dan Teknik Arsitektur Para era Dinasti Song (Bagian II)

Pagoda Besi setinggi 57 meter di Kaifeng bukti kemakmuran dan kemajuan teknologi Dinasti Song
Pagoda Besi setinggi 57 meter di Kaifeng, merupakan bukti kemakmuran dan kemajuan teknologi Dinasti Song.

Pada masa Song Utara, jumlah penduduknya diperkirakan berpopulasi sekitar 50-100 juta jiwa (yang diperoleh dari sumber catatan kitab Dua Puluh Empat Sejarah; 二十四史, Èrshísì shǐ). Ilmu teknologi, sains, filsafat, matematika, dan ilmu teknik pra-modern juga berkembang dengan pesat pada masa Dinasti Song.

Kehidupan sosial semasa Dinasti Song cukup bergairah, dimana saudagar2 kaya saling berkumpul untuk memamerkan dan memperdagangkan karya-karya seni berharga, sementara masyarakatnya saling berkumpul dalam berbagai festival publik, seperti Festival Imlek, Festival Qixi (7/7), dan Festival Musim Gugur (15/8).

Di antara kedua era (utara-selatan), ada periode singkat invasi dan pertarungan, sebelum sisa-sisa kekaisaran bangkit kembali di wilayah selatan Yangtze.

A. Ringkasan Dinasti Song

• Munculnya Dinasti Song (906 – 960) puncaknya pada masa Kaisar Song Taizu (927 – 976), yang meletakkan fondasi kekaisaran yang kuat.
• Perang Song Utara (960 – 1127) berakhir buntu, lalu kemudian terjadi bencana alam besar.
• Kekaisaran Song Selatan (1127 – 1279) bersatu kembali dan meraih sukses (perdagangan maritim dan alat perang, perkembangan ekonomi dan pertanian).

• Masyarakat Song : Populasi naik 2 kali lipat berkat urbanisasi (perpindahan populasi dari daerah pedesaan ke perkotaan) dan peningkatan kemakmuran, seni, dan pendidikan. Agama dan filosofi juga tumbuh bersama Neo-Konfusianisme. Tradisi penting di masa Dinasti Song lainnya, termasuk makanan pokok nasi, dan tradisi mengikat kaki (foot binding).

• Pencapaian Song dalam ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk kemajuan arsitektur Song.
• Kejatuhan Dinasti Song akibat kesalahan taktik militer (1234-1299).

B. Kebangkitan Dinasti Song Utara (906 – 960)

Peta Dinasti Song Utara (960-1127)

Peta diatas menunjukkan wilayah daratan di bawah kekuasaan Dinasti Song Utara (960 – 1127), yang ibukotanya berada di Bianjing sekarang kota Kaifeng, di Henan). Peta ini juga menunjukkan bahwa Dinasti Xia Barat (1038 – 1227) dan Dinasti Liao (907-1125) bangkit dan memiliki wilayah kekuasaan sendiri selama periode ini.

Ketika kekaisaran Tang yang stabil dan kosmopolitan runtuh pada tahun 906, wilayah mereka terbagi menjadi kerajaan2 kecil yang baru, dan sisanya di invasi suku2 asing selama 54 tahun. Jaman ini dikenal dengan Periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan (906–960).

Kebanyakan bekas wilayah Tang sebelah barat dan utara di aneksasi (diambil alih) oleh kerajaan lain, atau suku-suku nomaden. Sementara di wilayah timur, pada tahun 923, ada 8 kerajaan kecil. Saat itu adalah periode perang dan kekacauan.

Pada tahun 960, seseorang bernama Zhao Kuangyin 趙光胤 (927 – 976), salah satu jenderal dari 8 kerajaan (Dinasti Zhou Akhir di wilayah utara), memberontak terhadap Rajanya kala itu (Chai Rong/Guo Rong) dan pejabat-pejabatnya sendiri. Setelah berhasil, dia mendirikan dinasti baru, yang disebut Dinasti Song.

Dia mengambil gelar Kaisar Song Taizu 宋太祖, dan selama 20 tahun berikutnya, ia dan anak laki-lakinya ( Zhao Dezhao ) mengalahkan berbagai wilayah kerajaan2 lainnya, dan mendirikan Dinasti Song, sebuah dinasti yang pada akhirnya akan menyatukan kembali seluruh daratan Tiongkok yang telah terpecah.

Namun, anak laki-lakinya tidak berhasil naik takhta setelah ayahnya, karena pamannya, Zhao Guangyi (Kaisar Taizong), mengambil alih kekuasaan.

Baca Juga :  Dewi Tian Shang Sheng Mu [Ma Zu; Mak Co]

C. Kaisar Taizu (927 – 976) Meletakkan Pondasi Kekaisaran yang Kuat

Taizu berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat dihargai Dinasti Song
Taizu berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan dan pendidikan, yang sangat dihargai semasa Dinasti Song.

Kaisar Song Taizu (Zhao Kuangyin) mendirikan dinastinya yang baru di Bianjing (sekarang Kaifeng) pada tahun 960. Ia dikenal sebagai pemimpin militer yang sukses dan berani, serta dikenal sebagai orang yang mendirikan landasan dan tradisi untuk kekaisaran Song agar menjadi kerajaan terhebat di masa itu.

Bentuk pemerintahannya ditiru oleh kekaisaran2 besar berikutnya. Selama 16 tahun kepemimpinannya, Ia sukses menerapkan kebijakan kerajaan penting, dan memenangkan berbagai kampanye perang untuk ekspansi wilayahnya.

1. Kebijakan Pendidikan yang Digagas Song Taizu

Kaisar Taizu menonjol diantara para Kaisar terdahulu (para Xiandi), sebagai pelopor pengetahuan dan pendidikan.

Kebijakan Taizu terlihat tidak biasa pada masanya, karena Ia mengutamakan dan mempromosikan sistem pendidikan, aturan ilmiah, dan penelitian ilmiah di kerajaannya. Ia mengatur sistem pendidikan dan administrasi tak hanya untuk kekaisarannya saja, tapi kebijakan pendidikan dan pemerintahannya akan menjadi dasar bagi dinasti2 selanjutnya.

2. Ujian Negara

 

Akademi Yuelu adalah salah satu dari empat akademi kerajaan Tiongkok. Sekolah ini dibangun oleh gubernur Changsa pada masa Dinasti Song tahun 976
Akademi Yuelu adalah salah satu dari 4 akademi kerajaan Tiongkok kuno. Sekolah ini dibangun oleh gubernur Changsa pada masa Dinasti Song tahun 976.

Sistem Ujian Negara : Taizu dikenal sebagai pemimpin yang mengeluarkan kebijakan bahwa semua pejabat negara haruslah seorang sastrawan Konfusius yang lulus Ujian Negara yang sulit, dimana ujiannya kebanyakan tentang pengetahuan Konfusius Klasik dan literatur sastra kuno lainnya.

Ia mengeluarkan kebijakan ini untuk membuktikan kualifikasi kemampuan para kandidatnya untuk menjabat. Ia mengangkat pejabat yang berpendidikan tinggi. Ia memastikan bahwa bawahan terdidik dan pejabatnya memiliki wewenang/kekuasaan yang lebih dalam pemerintahan, daripada jenderal militer atau para saudagar kaya.

Kebijakan ini menstabilkan proses suksesi dinasti, dengan memastikan bahwa staf administrasi dapat terus melaksanakan tugas2nya ketika sang kaisar mangkat (wafat). Kebijakan ini memperkuat kekaisaran dan membuatnya bertahan. Kebijakan ini membantu untuk memastikan bahwa para pejabat adalah orang-orang yang cerdas, terdidik, dan setia kepada negara.

3. Akademi Ilmu Pengetahuan

Akademi Ilmu Pengetahuan : Ia mendirikan akademi pendidikan yang memungkinan kebebasan berpikir dan diskusi. Akademi ini sukses mencetak pejabat dan ilmuwan tingkat dunia yang unggul dalam sastra, seni, dan ilmu pengetahuan.

Tingkat pendidikan tinggi membantu mereka memformulasikan kebijakan dagang yang menguntungkan dengan negara lain, dan memperkenalkan senjata baru yang revolusioner, seperti roket dan mortir yang terbukti efektif di medan perang. Persenjataan Song adalah yang paling maju di dunia pada saat itu.

D. Perang Song Utara (960 -1127): Jalan Buntu dan Bencana

Selama sekitar 150 tahun, hasil dari perang Song menemui jalan buntu. Mereka mulai tidak bisa mengalahkan negara tetangga, tetapi mereka juga tidak kehilangan teritori secara signifikan. Jadi, mereka hanya menjaga integritas wilayah, dan mereka berhasil menjaga batas-batas wilayahnya sampai tahun 1127.

Ketika Kaisar Taizu mulai berkuasa pada tahun 960, Kerajaan Liao (Qidan) di timur laut adalah ancaman militer terbesar. Pemerintah juga menginginkan wilayah barat Xia di barat laut (lebih jelasnya lihat peta dinasti song diatas). Ada juga konflik dengan orang Vietnam di selatan. Kaisar Taizu dan para keturunannya mencoba menyelesaikan masalah hubungan internasional ini.

Daripada mencoba hidup dalam damai dengan negara tetangga yang kuat, mereka memilih untuk melakukan invasi, namun sayang hasilnya gagal.

1. Invasi Yang Gagal di Xia Barat (Xi Xia)

Makam di Xia Barat. Reruntuhan seperti ini adalah arsitektur yang tersisa dari Xia Barat.
Mausoleum di Xia Barat. Reruntuhan seperti ini adalah arsitektur yang tersisa dari Xia Barat.

Orang2 Tangut memiliki kerajaan luas bernama Xia Barat (1038-1227) di wilayah barat laut, yang mengontrol akses ke koridor Gansu yang strategis dan lembah panjang yang luas; yang memungkinkan perjalanan dan perdagangan di Jalur Sutra. Orang Tangut telah menjadi bagian dari kerajaan Tang, tapi membentuk kerajaan besar sendiri ketika kerajaan Tang hancur.

Saat kerajaan Song mulai berekspansi (memperluas wilayahnya) pada akhir tahun tahun 900-an, mereka menolaknya. Dinasti Song berpikir mereka bisa merebut wilayah Xia, mereka mungkin dapat membangun kembali perdagangan Jalur Sutra yang menguntungkan, seperti pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) dan Dinasti Tang (608 – 907).

Dinasti Song berhasil memenangkan beberapa perang melawan orang2 Tangut di awal abad ke-11. Kemudian, seorang ilmuwan dan penulis ilmiah terkemuka, yang bernama Shen Kuo (1031-1095) yang menulis catatan terkenalnya berjudul The Dream Pool Essays mengambil alih pimpinan perang melawan mereka.

Ekspansi ini berubah menjadi bencana, dan orang2 Tangut mengambil alih wilayah2 mereka yang telah hilang sebelumnya.

Baca juga : 10 Fakta Dibalik Jalur Sutra Tiongkok

2. Kalah (Lagi) Dalam Invasi ke Vietnam (1075-1077)

Kekaisaran Song yang berkuasa di wilayah tenggara, ingin berekspansi ke wilayah selatan untuk meng-aneksasi wilayah Vietnam. Dinasti Ly yang ada disana berperilaku seperti pengikut, dianggap cukup lemah untuk dikalahkan.

Sebagai balasannya, Dinasti Ly mengirim sekitar 100.000 pasukan ke Nanning dan mengalahkan tiga pasukan besar Song. Sejak tahun 1075 hingga 1077, Dinasti Ly di Vietnam melawan mereka. Perang ini akhirnya berakhir buntu. Mereka terus saling rebut-merebut wilayah, hingga tawanan dan tanah yang direbut saling dipertukarkan.

Kedua invasi yang gagal ini melemahkan kekuatan militer dan juga keuangan negara. Faktor tersebut menjadi 2 penyebab utama dalam kejatuhan dinasti.

Baca Juga :  10 Fakta Menakjubkan Tentang Jenghis Khan, Kekaisaran Mongolia Terbesar

3. Perang Berujung Bencana Ketika Berhadapan Dengan Kerajaan Liao (1125)

Kerajaan Liao / Qidan (907-1125) adalah musuh agresif di timur laut. Mereka memaksa Dinasti Song Utara untuk memberi sejumlah upeti di tahun 1005. Dinasti Song Utara mencari cara untuk mengalahkan Liao. Mereka bersekutu dengan suku Jurchen (atau Jin) dan memulai perang yang berujung bencana di tahun 1125.

Kombinasi tentara Jurchen dan Song memang berhasil mengalahkan Kerajaan Liao. Namun kemudian Jurchen berubah haluan, dengan menyerang kerajaan Song dan merebut Kaifeng, ibukota Song. Mereka menangkap Kaisar dan para klan penguasa di tahun 1129. Secara total, Jurchen merebut sekitar 40% dari wilayah kerajaan Song Utara.

Seorang anggota dari klan kaisar yang bernama Zhao Gou 高宗 lolos dari penangkapan Jurchen. Ia kemudian menjadi kaisar pertama kerajaan Song Selatan dengan gelar kekaisaran Song  Gaozong 宋高宗. Jurchen akhirnya mengambil Kaifeng sebagai ibukota mereka, dan mendirikan Kerajaan Jin (1115-1234).

E. Kerajaan Song Selatan (1127 – 1279) : Mengulang Sukses 

Peta kerajaan Song Selatan
Peta Dinasti Song Utara (1127-1279). Tampak kota Xiangyang adalah garis pertahanan terdepan terhadap bangsa Liao/Jin.

Setelah diserang oleh Jurchen (yang kemudian mendirikan kerajaan Jin di wilayah utara), Dinasti Song di Selatan masih memiliki sekitar 60% wilayah, dimana sebagian besar penduduk menghuni kota-kota perdagangan yang makmur di selatan. Setelah periode invasi yang singkat dan pertarungan dengan musuh, sisa-sisa kerajaan Song bangkit kembali di sebelah selatan sungai Yangtze.

Pada tahun 1132, Kaisar pertama yang mendirikan Dinasti Song Selatan, yang bergelar Song  Gaozong 宋高宗, memilih ibukotanya di Lin’An (sekarang Hangzhou), sebuah kota perdagangan yang makmur. Lokasinya sangat bagus, dengan adanya pelabuhan maritim untuk kapal2 yang akan melaut, dan melingkupi Kanal Besar dan jalur perairan internal.

Penguasa Song mempertahankan kekuasaan mereka di sebelah selatan sungai Huai dan Yangtze, beserta mayoritas populasinya. Karena menolak untuk diperintah bangsa asing, ada migrasi besar masyarakat etnis Han dari wilayah utara ke kerajaan barunya di selatan.

Dengan kekuatan ini, kekaisaran Song yang baru mulai berkembang cepat, dengan memprioritaskan perdagangan maritim dan mendirikan angkatan laut yang kuat.

1. Kesuksesan Dinasti Song Selatan Dalam Perdagangan Maritim dan Teknik Persenjataan

Perdagangan asing adalah prioritas Dinasti Song Selatan, dan pemerintah membangun pusat perdagangan besar dan maju, meningkatkan jumlah dan kecanggihan kapal dagang dan militer, serta meningkatkan fasilitas pelabuhan.

Bersamaan dengan kota Hangzhou, Quanzhou, Guangzhou, dan Xiamen adalah kota2 pelabuhan dagang lainnya. Beberapa dari mereka merupakan kota pelabuhan  yang terbesar dan terkaya di dunia pada masa itu, karena kekayaan besar mengalir melalui wilayah laut mereka.

Kapal2 dagang kerajaan Song berlayar ke arah barat, hingga ke Negara India dan Arab. Perdagangan memungkinkan kerajaan Song Selatan untuk terus makmur, meskipun mereka telah kehilangan 40% wilayahnya di sebelah utara sungai Yangtze.

Pemerintahan membangun militer angkatan laut yang besar dan maju untuk melindungi kapal2 dagang. Mereka membuat kapal2 roda dayung yang lebih cepat, dan lebih mudah bermanuver daripada kapal biasa di sungai.

Mereka juga membawa bom mesiu yang dapat meledakkan kapal musuh. Mereka dapat mengalahkan sebagian dari serangan kerajaan Jin di utara, karena mereka memiliki angkatan laut yang lebih baik. Mereka mengontrol navigasi di Sungai Yangtze yang luas, sebagai batas pertahanan mereka.

Baca juga : Empat Penemuan Terbesar Tiongkok
Baca juga : Petasan, Salah Satu Temuan Terbesar Bangsa China

2. Perkembangan Ekonomi dan Pertanian Dinasti Song Selatan

Secara keseluruhan, dalam masa 300 tahun, Era Song Utara dan Selatan mengalami kemakmuran. Namun, kerajaan Song Selatan mendapat kemakmuran dan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah.

Populasinya berlipat ganda pada abad ke 10 dan 11. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga berkembang pesat. Kerajaan Song membangun beberapa kota terbesar di dunia yang ada pada saat itu. Selama era kepemimpinan yang relatif makmur dan damai, perkembangan pertanian, perdagangan, urbanisasi, dan industrialisasi semakin maju.

3. Industri dan Perdagangan “Meledak”

Porselen biru Song bernilai tinggi di Barat dan Timur Tengah
Porselen biru di jaman Song sangat berharga di Barat dan Timur Tengah

Perdagangan internasional adalah bagian penting dari ekonomi mereka. Kota perdagangan besar seperti Hangzhou berkembang pesat dan kaya, hingga menarik kekaguman dari Marco Polo (1254-1324), seorang pedagang dan penjelajah yang datang dari Venesia, Italia. Ia mengatakan bahwa Hangzhou adalah kota termewah dan terindah di seluruh dunia, dari semya kota yang pernah didatanginya kala itu.

Perusahaan dagang swasta di kota perdagangan besar ini mengekspor teh khas Tiongkok, kain sutra, keramik/porselen, dan barang2 manufaktur, seperti produk baja. Sutra dan porselen adalah barang ekspor yang paling berharga.

Porselen buatan negeri Song bernilai tinggi di wilayah Barat. Porselen2 buatan masyarakat Dinasti Song menggunakan suhu pembakaran dengan temperatur yang sangat tinggi, dan telah mempelajari suatu metode yang akurat untuk membentuk keramik dan mengaplikasikannya menjadi karya seni yang indah.

Keramik di jaman Dinasti Song menjadikannya sebagai keramik terbaik di dunia pada masa itu. Mereka juga belajar cara memproduksi massal untuk porselen; yakni dengan menggunakan tungku pembakar dan alat hembusan angin yang besar, sehingga mereka dapat memanggang dalam temperatur suhu yang sangat tinggi.

Baca Juga :  Legenda Ular Putih (White Snake Legend)

Dengan cara ini, sekitar 25.000 buah porselen dapat diproduksi dalam satu waktu.

Penuangan besi didirikan di beberapa tempat. Dengan menggunakan bahan bakar batubara dan arang, mereka dapat memproduksi sebanyak 200 pon (1 pon = 450 gram) juta besi dan baja setiap tahun untuk keperluan senjata dan perkakas lainnya. Beberapa ahli ekonomi mengatakan bahwa era Song adalah masa revolusi teknologi dan ekonomi.

Baca juga : Serba Serbi Tentang Teh Tiongkok Yang Perlu Kamu Ketahui

4. Sukses Dalam Pertanian

Di kekaisaran Song Utara, petani umumnya menanam gandum dan milet (sereal, biji-bijian). Tapi selama era kekaisaran Song Selatan, kebanyakan orang tinggal di wilayah selatan. Mereka menerapkan teknik menanam padi yang lebih maju. Padi menjadi tanaman pangan utama, dan panen yang meningkat menyebabkan populasi yang meningkat pula.

Varietas padi baru diperkenalkan dari area Vietnam sekitar tahun 1,000 Masehi. Menurut seorang biksu Budha yang bernama Shu Wenying, ketika Kaisar Song Zhengzhong (998-1022) mempelajari tentang variasi padi di wilayah selatan, Ia mengirim utusan khusus untuk mengambilnya.

Variasi baru ini tahan kekeringan, serta lebih cepat matang (tumbuh) daripada jenis padi tradisional. Jadi dalam setahun, yang dulunya hanya panen sekali, sekarang para petani bisa panen 2 hingga 3 kali.

Para petani menjadi lebih makmur serta lebih berpendidikan daripada era sebelumnya, dan pedoman2 pertanian membantu menyebarkan teknik terbaik untuk penanaman padi. Jenis padi baru yang tahan kekeringan dari Asia Tenggara, dapat tumbuh di daerah yang lebih tinggi dan lebih jauh ke utara, dibanding jenis padi sebelumnya.

Jadi pertanian padi menyebar ke area yang lebih luas di seluruh wilayah kekaisaran Song.

Aturan yang menguntungkan rakyat dan petani : Song memiliki aturan bahwa siapapun yang menanami tanah kosong dan membayar pajaknya dapat memiliki tanah tersebut, dan hal ini mendorong rakyat (petani) menjadi pemilik tanah.

Dinasti Song memiliki tanah pertanian yang lebih banyak secara geografis, dibanding era-era selanjutnya (Dinasti Ming; 1368–1644) dan Dinasti Qing (1644–1912). Banyak diantar petani yang menjadi kaya karena hasil panennya.

Kemajuan di bidang pengelolaan air : Proyek utama irigrasi dan pembangunan kanal menggunakan teknik yang maju, meningkatkan hasil pertanian, sarana transportasi, distribusi pangan, dan jalur perdagangan. Bagi kaum elit perkotaan, makanan sangat melimpah.

Dalam catatan perjalanannya, Marco Polo (125-1324) mendeskripsikan bahwa orang2 di kota Hangzhou, memakan sejumlah besar daging dan ikan yang segar. Ia tak pernah menemukan kemakmuran seperti ini di wilayah Asia Barat.

Baca juga : Inilah 11 Penemuan Besar Dunia Yang Berasal Dari Nenek Moyang Orang Tionghoa

5. Populasi Berlipat Ganda dan Urbanisasi Yang Ekstensif

Kota Air Xitang, contoh penampakan pemandangan era Song. Kanal Song dihubungkan dengan teknik khusus, tak hanya untuk irigasi tapi juga untuk transportasi
Kota Air Xitang di Hangzhou, menunjukkan bagaimana lingkungan era Song terlihat saat itu. Kanal-kanal (terusan) Song dihubungkan dengan teknik khusus, tak hanya untuk irigasi tapi juga untuk transportasi.

Baca juga : Dinasti Tang, Eranya Kaisar Wu Zetian, Wanita Pertama Dalam Sejarah Perdinastian Tiongkok Kuno

Berdasarkan penghitungan sensus kekaisaran yang dilakukan selama era Dinasti Han Barat (202 SM – 9 M) dan para era Dinasti Tang (618 – 907), diperkirakan bahwa populasi kedua kerajaan adalah sekitar 50-60 juta jiwa. Jika penghitungan ini valid, maka pertumbuhan penduduk stagnan selama sekitar 1,000 tahun!

Populasi tidak dapat berkembang. Tingkat teknologi mereka tak mendukung hal ini, dan karena berbagai perang, kelaparan, dan bencana alam terus menurunkan jumlah populasi.

Namun, setelah memsuki era Dinasti Song Selatan (1127-1279), ilmuwan memperkirakan bahwa populasi di wilayah tersebut untuk pertama kalinya melebihi 100 juta jiwa!

Populasi keseluruhan tumbuh dari 50-an juta pada awal Song Utara, menjadi 118 juta pada 167 tahun kemudian di tahun 1127, dan terus berkembang setelahnya. Karena area geografis yang relatif kecil, kepadatan penduduk di kekaisaran Song Selatan lebih tinggi dibanding kekaisaran Jin di utara, dengan ukuran wilayah yang sama.

Sepanjang era Song Selatan, orang belajar hidup dalam beberapa pusat masyarakat kota terbesar di dunia yang pernah dibangun pada masa itu. Pada tahun 1200, Hangzhou ditransformasi menjadi sebuah kota metropolis terbesar dunia, dengan populasi 1 hingga 1,2 juta penduduk.

Sebagai info, kota2 metropolis di era Song Selatan tidak memiliki dinding pelindung (yang dibangun disekelilingnya), dan lebih mirip seperti kota modern.

Baca lanjutannyaKesenian, Tradisi, Filosofi, Agama, Penemuan dan Teknik Arsitektur Para era Dinasti Song (Bagian II)

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!