Taizu berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat dihargai Dinasti Song

Last Updated on 15 August 2020 by Herman Tan

6. Tingkat Kekayaan, Seni, dan Pendidikan Tinggi

Tingkat pendidikan di era Song Selatan kemungkinan juga adalah yang tertinggi di dunia kala itu. Dengan menggunakan teknologi cetak, perusahaan penerbit mencetak buku2 sastra secara massal, untuk masyarakat umum dan pendidikan.

Pendidikan di masyarakat perkotaan meningkat sejak banyak sekolah didirikan, dan dengan peningkatan kemakmuran, membuat orang memiliki waktu untuk belajar, membaca, membuat karya seni, dan melakukan perjalanan. Buku-buku yang dicetak secara massal diterbitkan secara berkala menjadi hal umum.

Orang biasa, bahkan seorang petani sekalipun dapat menikmati membaca novel fiksi kala itu.

Baca juga : Inilah 4 Novel Klasik Termasyur Tiongkok
Baca juga : Karya Sastra Dinasti Ming dan Qing

7. Seni dan Teater

Seni dan teater berkembang pesat. Teater, panggung pentas seni, bahkan di kedai-kedai teh sekalipun terdapat pertunjukan hiburan teatrikal dan musikal yang rutin digelar, dan menjadi hal umum kala itu. Kemakmuran membuat mereka dapat menikmati aktivitas rekreasi.

Kesenian teater dipelajari dan ditingkatkan. Opera klasik menjadi sangat populer di kalangan menengah atas dan di masyarakat umum. Meskipun para pemain opera berbicara dalam bahasa (logat) mandarin kuno, dan bukan bahasa sehari-hari masyarakat.

Mereka juga mendirikan rumah opera besar. Contohnya, empat gedung teater opera besar di Kaifeng, yang dapat menampung beberapa ribu orang setiap pementasan.

Baca juga : 13 Jenis Opera Tiongkok Yang Paling Terkenal
Baca juga : Macam-Macam Kostum dan Peran Dalam Opera Peking

F. Filosofi dan Agama Dinasti Song : Neo-Konfusianisme

Patung Konfusius
Patung Konfusius

Sepanjang era Dinasti Song, agama Taoisme dan Budhisme menjadi kurang populer diantara masyarakat kelas atas dibanding era sebelumnya. Neo-Konfusianisme menjadi filosofi hidup dan agama yang lebih dominan.

Neo-Konfusianisme adalah kepercayaan agama dan filosofi politik yang dikembangkan oleh para sarjana Song. Filosofi dan agamanya berbeda dari biasanya. Konfusianisme yang ditekankan para ahli dan penguasa, menjunjung rasionalisme dan berfokus pada peran Kaisar, yang menurut ajaran kuno sebagai “Mandat Langit”.

Pejabat pemerintahan Song secara umum dipilih berdasarkan hasil Ujian Negara. Untuk lulus ujian, hampir semua pejabat birokrat harus mempelajari dengan baik “Empat Buku Neo-Konfusius Klasik“. Mereka yang memiliki hasil terbaik dalam ujian, dianggap dapat mengingat keseluruhan teks dalam buku-buku tersebut!

Neo-Konfusius Klasik

Analitik Konfusius. Slah satu dari Empat Buku yang harus dihafalkan pejabat negara
Analitik Konfusius (Analects of Confucius), merupakan alah satu dari 4 Buku yang harus dihafalkan pejabat Negara.

Neo-Konfusius Klasik adalah Empat Buku Dan Lima Klasik (四書五經). Kesembilan buku ini dikompilasi (disusun) dan distandarisasi selama era Dinasti Song. Kumpulan catatan Lima Klasik dipercaya ditulis sendiri oleh Konfucius (Kongzi 551 – 479 SM).

Sementara Empat Buku dianggap mengandung materi yang berhubungan Sekolah Konfusius, yang dikompilasi selama era Dinasti Song.

Empat Buku dianggap paling penting. Buku-buku tersebut adalah :

1. Analitik Konfusius, ungkapan tentang Konfusius yang dicatat oleh murid-muridnya.
2. Mensius, dialog politik yang dikaitkan dengan Mensius.
3. Doktrin Niat (Doctrine of the Mean), panduan untuk menyempurnakan diri sendiri.
4. Pembelajaran Besar, buku tentang pendidikan, pengembangan diri, dan ‘jalan’ (Dao).

Doktrin Neo-Konfusius sangat berpengaruh diantara para penguasa Tiongkok kuno dan beberapa Negara di Asia Tenggara. Ajaran ini merupakan filosofi birokrat sejak era Dinasti Song hingga akhir era Dinasti Qing (1912), kecuali selama era (asing) Dinasti Yuan (1279-1368). Filosofi ini bertujuan untuk memastikan para birokrat setia kepada dinasti.

Kerugian filosofi politik ini adalah pelarangan segala macam bentuk reformasi, dan pembatasan kritik politik terhadap penguasa kerajaan. Inovasi dan kebebasan pribadi juga masih kaku di era-era selanjutnya.

Baca juga : Kitab I Ching, Upaya Mengungkap Misteri Jiwa dan Semesta

G. Tradisi Budaya Penting era Song Lainnya : Makanan Pokok Nasi dan Tradisi Mengikat Kaki

1. Nasi Sebagai Makanan Pokok

Bahkan di Tiongkok modern, orang masih mengatakan 'makan nasi' daripada sekedar 'makan'
Di Tiongkok modern, orang2 mengatakan ‘makan nasi’ (chī fàn, 吃饭) daripada sekedar ‘makan’.

Ketika orang memikirkan masakan Tiongkok, biasanya mereka akan mengingat hidangan nasi. Tapi, selama era Dinasti Tang dan Dinasti2 sebelumnya, orang2 Han kebanyakan hanya makan gandum dan jawawut (sejenis sereal/biji-bijian) sebagai makanan pokok.

Baca Juga :  3 Dekade yang Lalu Orang Ini Bantu Jack Ma Dengan 2 Juta Rupiah; Setelah Sukses Jack Ma Balas Budi Senilai 20 Miliar!

Kekaisaran awal Song Utara yang berkembang di wilayah utara Sungai Kuning lebih kering dan dingin, sehingga padi tak dapat tumbuh baik di sana. Tapi, di era Song Selatan, padi melimpah, murah, dan merupakan makanan pokok favorit masyarakat.

2. Tradisi Mengikat Kaki

Salah satu budaya Song yang tradisional dan normatif dalam gaya hidup masyarakat Han adalah tradisi mengikat kaki wanita (foot binding). Proses ini sangat menyakitkan dan menghancurkan, dimana tulang dan jari kaki dibengkokkan dengan paksa.

Masyarakat kelas atas / orang2 kaya mulai mengikat kaki anak gadis mereka yang masih belia. Pada dasarnya, mereka “melumpuhkan” anak2 gadisnya seumur hidup. Ini dilakukan agar wanita lebih banyak beraktivitas dalam rumah (untuk mengurus rumah tangganya kelak), ketimbang berkeliaran kesana kemari diluar.

Tradisi mengikat kaki menyebar hingga ke masyarakat kelas bawah, bahkan kalangan masyarakat miskin sekalipun; meskipun hal ini menyebabkan para wanita kurang mampu melakukan pekerjaan di ladang, atau sekedar berjualan di pasar.

Mayoritas wanita pada masa Dinasti Qing akan mengingat kakinya, kecuali beberapa sub etnis minoritas tertentu. Masyarakat suku Han berpikir bahwa dengan kaki wanita yang kecil, akan membuat mereka terlihat lebih cantik.

Baca juga : Perjalanan Dinasti Qing (Qing Chao), Dinasti Terakhir Tiongkok

Baca juga : Lotus Feet : Definisi Kecantikan dan Status ala Tiongkok Kuno
Baca juga : 5 Fakta Foot Binding (Tradisi Mengikat Kaki) di Tiongkok, Proses “Mematahkan Kaki” Yang Menyakitkan!

H. Pencapaian Dinasti Song Dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Banyak ilmuwan era Song yang berbakat dalam penemuan dan inovasi ilmiah. Namun, tidak seperti pengaruh mereka dalam perkembangan tradisi, agama, dan filosofi, banyak dari kemajuan pengetahuan Song hilang dan dilupakan pada masa dinasti setelahnya.

Era Dinasti Song dan Dinasti Han menonjol sebagai 2 dinasti yang memiliki perkembangan ilmiah dan teknologi cepat. Ilmuwan Song mengembangkan pengetahuan dunia tentang geografi kekaisaran, dunia astronomi, magnetisme, kompas, teknik mekanik, arsitektur, kimia, dan bidang2 lainnya.

Baca juga : Inilah 11 Penemuan Besar Dunia Yang Berasal Dari Nenek Moyang Orang Tionghoa!

1. Ilmuwan Shen Kuo (1031 – 1095)

Shen Kuo 沈括 adalah salah satu ilmuwan penting Song. Ia menulis risalah ilmiah tentang riset penelitan mutakhirnya sendiri, dan tentang beberapa bidang yang mengalami kemajuan lainnya. Ia memahami perkembangan pengetahuan dari ilmuwan2 lain sejamannya, dan dapat menjelaskannya dengan baik.

Ia seorang yang memiliki banyak talenta. Ia adalah pejabat negara, seorang jenderal pemimpin, sekaligus juga seorang ilmuwan. Meskipun gagal dalam pertempuran di Xia Barat, Ia sukses sebagai seorang ilmuwan.

Karya-karya Shen Kuo, diantaranya adalah Mimpi Kolam Karangan (Dream Pool Essays) di tahun 1088, adalah komposisi ilmiah produktif, yang dapat dikatakan sebagai dasar pengetahuan  pada masanya di bidang astronomi, magnetisme, dan bidang lainnya.

Ia dikatakan sebagai penemu konsep arah utara yang sebenarnya, dan daya tarik magnet ke kutub utara. Namun, Ia bukan penemu kompas. Diketahui bahwa kompas telah digunakan ribuan tahun yang lalu di era Han. Tapi, dialah yang pertama menjelaskan tentang deklinasi jarum magnet. Penemuan ini jauh sebelum penemuan di Eropa.

2. Penemuan Alat Cetak Yang Dapat Dipindah (Portable)

Shen Kuo menulis cara membuat alat cetak yang dapat dipindah lebih awal 362 tahun dibanding buatan Gutenberg dari Jerman
Shen Kuo menulis cara membuat alat cetak yang dapat dipindah (portable), lebih awal 362 tahun dibanding buatan Gutenberg dari Jerman.

Dalam Dream Pool Essays tahun 1088, Shen Kuo menjelaskan tentang alat cetak Song yang terbuat dari keramik tipis. Lalu ia merangkai blok-blok ini untuk membuat teks yang dapat dicetak. Ia mengatakan bahwa metode ini tidak akan banyak membantu jika untuk membuat beberapa lembar kertas saja; tapi jika untuk ribuan lembar, metode ini sangat cepat dan ekonomis.

Alat cetak yang dapat dipindah (portable) ini adalah salah satu teknologi terpenting dalam sejarah dunia.

Baca Juga :  10 Fakta Dibalik Jalur Sutra Tiongkok

Anda bisa bayangkan, bagaimana bahasa tertulis mereka (mandarin, hanzi) menggunakan ribuan huruf (karakter) yang berbeda, sangat rumit, kompleks, dan sulit untuk dibentuk. Hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan 23-33 huruf bangsa Eropa yang relatif sederhana dan mudah didesain.

Sangat sulit untuk membuat begitu banyak karakter. Bahkan seringkali lebih mudah untuk mengukirnya langsung di balok kayu, ketimbang harus mencetaknya dulu.

Di Eropa, perkenalan alat cetak yang dapat dipindah ini menghasilkan perkembangan pesat dalam bidang sastra, sosial, agama, dan revolusi politik. Ini merupakan perubahan budaya yang besar, karena alat ini lebih ekonomis bagi bangsa Eropa dibanding mesin pencetak huruf balok.

Baca juga : Empat Penemuan Terbesar Tiongkok

3. Penemuan Bubuk Mesiu

Ahli kimia Song, sangat pandai dalam meramu berbagai jenis bubuk mesiu, yang digunakan untuk berbagai tujuan berbeda. Variasi bubuk mesiu dan produk mesiu merupakan salah satu penemuan penting di dunia. Dinasti Song menggunakan variasi bubuk mesiu dalam roket, termasuk roket bertingkat, senjata meriam, senjata kimia, hingga bom.

Bubuk Mesiu dianggap cukup kuat untuk dijadikan senjata berbahaya. Zeng Gongliang dan Yang Weide menulis karya yang berjudul Wujing Zongyao pada tahun 1044, yang mendeskripsikan beberapa formula untuk membuat ledakan dengan persentase nitrat yang besar. Mereka menggunakan ini dalam pertambangan dan tujuan damai yang lainnya juga.

Pada akhir masa Dinasti Song tahun 1277, pasukan Song menggunakan ranjau tanah saat melawan invasi pasukan Mongol. Ketika Mongol menang, mereka mengadopsi senjata peledak ini, dan menggunakannya dalam serangan mereka ke negara/wilayah lain.

Baca juga : Petasan, Salah Satu Temuan Terbesar Bangsa China

I. Kemajuan Teknik Arsitektur Dinasti Song

Pagoda Pota dibangun tahun 974 di Kaifeng
Pagoda Pota dibangun pada tahun 974 di Kaifeng.

Untuk memamerkan kemajuan teknologi dan kemakmurannya, mereka membangun menara super tinggi. Arsitektur pada masa Dinasti Song tercatat memiliki banyak bangunan tinggi. Pembangunan struktur monumen seperti ini adalah keahlian mereka.

Mereka membangun pagoda kayu tertinggi di Bianjing (sekarang Kaifeng) yang tingginya 360 kaki (110 meter)! Kebanyakan menara2 tinggi mereka dibangun di kota2 besar, seperti Kaifeng dan Hangzhou. Gaya arsitek Dinasti Song diadopsi sebagai standar arsitek Jepang. Beberapa pagoda segi 6 atau segi 8 mereka, yang dibuat dari bahan bata/kayu bahkan masih berdiri hingga sekarang.

Contoh paling bagus yang masih ada dari arsitektur monumental Song adalah Pagoda Besi di Kaifeng. Pagoda yang terbuat dari bata dan kayu ini dibangun hampir 1,000 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1049. Pagoda ini memanfaatkan teknik arsitektur kayu orang Han yang sangat maju, untuk bertahan dari gempa bumi besar yang melanda wilayah tersebut.

Selama lebih dari 1 milenium, bangunan ini telah bertahan lebih dari 38 gempa bumi, 6 banjir bandang (salah satunya yang menghancurkan kompleks kuil kuno di dekatnya), dan banyak bencana lain, serta peperangan.

Tinggi pagoda besi ini mencapai 57 meter. Sebagai perbandingan, Menara Miring Pisa yang terkenal selesai dibangun pada abad ke-14, dengan tinggi 183 kaki. Seperti Menara Pisa, bangunan ini juga ternyata sedikit miring.

Baca juga : 4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Pagoda : Sejarah, Arsitektur, dan Filosofinya!

Sambungan Fleksibel dan Arsitektur Kayu Dougong

Atap Kota Terlarang menggunakan sistem dougong
Atap di Kota Terlarang menggunakan sistem sambungan fleksibel dougong.

Dougong dan teknik arsitektur kayu yang lain adalah bentuk inovasi arsitektur Dinasti Song yang paling menonjol. Bangunan kayu ini cocok di wilayah yang rawan gempa. Teknik ini diadopsi di seluruh bangunan wilayah Asia Timur.

Pada lantai ke-13 di Pagoda Besi, atap luarnya dibuat menggunakan desain dougong (斗拱), sebuah sambungan longgar yang cocok untuk struktur tersebut, dimana hal ini membuat bangunan dapat bertahan dari gempa besar, tanpa atau dengan kerusakan kecil.

Untuk menyambungkan sistem sambungan ini dengan benar, arsitek dan tukang kayu Song harus mengukur tingkat bahaya dan tekanan yang akan dihadapi bangunan ini.

Baca Juga :  Sejarah Cakwe; Jenderal Yue Fei DIFITNAH Pejabat Qin Hui

Baca juga : Arsitektur Atap Tradisional Tionghoa dan Filosofinya

J. Kegagalan Militer Terbesar Dinasti Song (1234 – 1299)

Tampak Kerajaan Jin yang diapit Kekaisaran Dinasti Song di selatan, dan Kekaisaran Mongol di utara.

Tak belajar dari sejarah klan mereka, para penguasa kekaisaran Song Selatan mengulangi kesalahan fatal yang sama, yang sebelumnya telah menghancurkan Dinasti Song Utara. Mereka beraliansi dengan musuh yang sama2 berambisi melakukan ekspansi, untuk menyerang musuh yang lebih lemah dan tidak terlalu mengancam.

Pada tahun 1234, pasukan Song bergabung dengan pasukan Mongol untuk menyerang kerajaan Jin (Jurchen) di utara, yang sebelumnya telah bertikai dengan Mongol selama lebih dari 2 dekade. Dengan begitu, kerajaan Jin terjepit dalam 2 musuh besar, Mongol di utara, dan Song di selatan mereka. Kaisar Jin terakhir pun dapat dikalahkan dengan mudah.

Padahal selama ini kerajaan Jin lah yang selama ini membentengi Song dari invasi langsung Mongol.

Pada tahun 1234, pasukan Song mencoba mengklaim kembali kota Kaifeng dan Beijing yang sebelumnya milik mereka (semasa Song Utara), tapi kemudian Mongol dibawah Kublai Khan menyerang mereka.

Ilustrasi suasana invasi Mongol kepada Kerajaan Song Selatan ini dapat Anda lihat pada film Return of Condor Heroes (yang diangkat dari novel Jin Yong), dimana pahlawan Guo Jing (fiksi) bersama keluarganya mati-matian menjaga kota terdepan, Xiangyang, yang merupakan garis pertahanan terdepan kerajaan Song kala itu. Namun sayang, akhirnya kota tersebut jatuh juga ke tangan Mongol.

Setelah sekitar 2 dekade bertahan dari serangan Mongol, dibawah pemerintahan Kaisar terakhir Dinasti Song, Song Bing (Zhao Bing), ibukota Song Selatan, Lin’An (sekarang Hangzhou) pun berhasil direbut pada tahun 1279, dan kekaisaran Dinasti Song pun berakhir di tangan orang asing.

Menurut catatan sejarah Song, Kaisar Bing dikatakan tewas dalam Pertempuran Yamen pada 19 Maret 1279. Ia dimakamkan di Shekou, Shenzhen.

1. Kekaisaran Song Terbukti Menjadi Yang Paling Sulit Dikalahkan Bangsa Mongol

Mongol menyerang Song setelah Song mencoba mengklaim kota-kota di utara
Bangsa Mongol memutuskan menyerang Song, setelah Song mencoba untuk  mengklaim kembali kota2 mereka di utara.

Persenjataan Song adalah yang paling maju di dunia. Mereka juga memiliki populasi terbesar dibanding kerajaan lain, yang diperkirakan lebih dari 100 juta. Tentara Mongol yang dikirim untuk menginvasi mereka adalah jauh lebih besar dibanding yang dikirim untuk menyerang wilayah Asia Timur, Rusia, dan Eropa.

Hanya kerajaan Song yang mampu bertahan, meskipun dalam keadaan yang terisolasi. Diperkirakan terdapat sekitar 450.000 tentara Mongol kala itu, dan baru dapat mengalahkan kekaisaran Song Selatan setelah berperang selama 44 tahun!

2. Peperangan Terakhir – Salah Satu Pertempuran Laut Terbesar, dan Mungkin Yang Paling Berat Sebelah

Setelah berperang dengan Mongol sekitar 20 tahun, Mongol merebut kota Hangzhou pada tahun 1279. Sisa-sisa pemerintahan Song dan pendukungnya menaiki kapal untuk kabur dari penangkapan Mongol.

Saat itu terjadi pertempuran besar di laut, yang melibatkan 200.000 orang, dengan 1000 armada kapal, melawan 20.000 pasukan Mongol yang hanya bermodalkan 50 kapal! Meskipun kalah jumlah, ajaibnya, tentara Mongol menang!

Mongol memblokade armada sehingga mereka kehabisan perairan. Kapal Song dirantai menjadi satu, dan membuat mereka menjadi target mudah. Mongol bermanuver di sekitar armada yang tak bergerak, dan mulai menghabisinya dengan membakar satu per satu kapal Song, di musim panas dan kering.

Bangsa Mongol pun mendirikan kekaisarannya yang bernama Dinasti Yuan (dibawah Kublai Khan, cucu Jenghis Khan), setelah menaklukan seluruh wilayah daratan Tiongkok.

Baca bagian pertamanya : Dinasti Song, Dinasti Song Utara dan Selatan (Bagian I)

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!