Last Updated on 10 March 2021 by Herman Tan

Berikut potongan pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, pada Senin, 20 April 2020 mengenai sikap pemerintah Tiongkok yang menolak permintaan Trump untuk mengirim tim investigasi USA ke Wuhan untuk menyelidiki kemunculan Covid-19.

CNN (wartawan) : Presiden USA Donald Trump mengatakan pada hari Minggu, 19 April 2020, bahwa USA masih menginginkan para penyelidiknya pergi ke China untuk menyelidiki wabah virus CORONA, dan kedua belah pihak mendiskusikan hal ini.

Dia juga berkata pada hari Sabtu, 18 April 2020, bahwa China dapat menghadapi konsekuensi jika “secara sadar & bertanggung jawab” atas pandemi coronavirus.

Minggu lalu, Presiden Trump membandingkan pandemi dengan wabah, dan mengatakan bahwa dia tidak senang dengan kesalahan pelaporan virus oleh pemerintah China.

“Kami sudah lama berbicara dengan mereka (China) tentang keinginan untuk masuk. Kami ingin masuk. Kami ingin melihat apa yang terjadi disana. Dan kami tidak diundang, saya dapat memberi tahu Anda tentang itu. Kami saat ini sedang menyelidiki, apakah virus mematikan itu “lolos” dari Institut Virologi Wuhan.” kata Trump kepada media.

Sebelumnya pada hari Jumat, 17 April 2020 lalu, 2 anggota parlemen USA memperkenalkan undang-undang yang akan memungkinkan Amerika dan pemerintah daerah (negara bagian) untuk menuntut pemerintah China, karena telah menyesatkan organisasi WHO dan menyebabkan penyebaran global virus COVID-19. Apa tanggapan Anda?

Baca juga : Mengenai 2 Rumah Sakit Khusus Covid-19 di Wuhan : Huoshenshan dan Leishenshan

Geng Shuang : Saya akan menjawab semua pertanyaan Anda bersama.

Virus ini adalah musuh bersama bagi seluruh umat manusia dan dapat menyerang kapan saja, di mana saja. Seperti negara lain, Tiongkok juga menjadi korban, bukan pelaku, apalagi kaki tangan COVID-19.

Dalam menghadapi krisis kesehatan publik yang besar dan penyakit menular, komunitas internasional harus berdiri dalam solidaritas dan bekerja bersama, tidak saling menuduh, atau menuntut retribusi dan pertanggungjawaban.

Seingat saya, tidak pernah ada prioritas untuk penuntutan semacam itu …

Pada awal tahun 2009, virus influenza H1N1 (pandemi flu babi) yang pertama kali didiagnosis sebelum pecah dalam skala besar di USA, dan kemudian menyebar ke 214 negara dan wilayah, dengan menewaskan hampir 200.000 orang. Apakah ada yang pernah meminta USA untuk membayar (kompensasi) itu?

Lalu ada AIDS yang pertama kali dilaporkan di AS pada awal 1980-an, dan kemudian melanda seluruh dunia, menyebabkan penderitaan yang tak terhitung banyaknya kepada korban yang tak terhitung jumlahnya. Apakah ada yang pernah maju dan menyalahkan USA untuk bertanggung jawab?

Baca Juga :  Teknik Transliterasi : Cara Memberikan Nama Mandarin Untuk Orang Asing (Contoh Kasus Donald Trump)

Berikut video tuntutan “Class Action” yang rencananya akan ditempuh berbagai Negara di dunia, perihal penyebaran Virus Corona. Mereka beralasan, bahwa Tiongkok telah gagal dalam menangkal penyebaran virus corona di Negaranya, dan menutupi informasi yang sebenarnya kepada organisasi WHO, sehingga harus bertanggung jawab (secara material) akan hal ini.

Hingga hari ini, Indonesia sendiri diketahui belum mengajukan tuntutan resmi apapun kepada Tiongkok, mengenai penyebaran pandemi ini di wilayahnya (sumber video : Sumber : @CNBC Indonesia).

USA harus memahami, bahwa musuh mereka adalah virus, bukan China! Komunitas internasional hanya dapat mengalahkan virus dengan cara bersatu. Menyerang dan mendiskreditkan negara lain tidak akan menghemat waktu dan nyawa. Kami berharap, bahwa mereka yang berada di pihak USA akan menghormati fakta, sains, dan konsensus internasional.

Berhenti menyerang dan menyalahkan China tanpa alasan, berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab, dan sebaliknya fokus pada memerangi epidemi (dengan tetap berada di rumah) dan mempromosikan kerja sama internasional.

Geng juga mengatakan, “sejak pecahnya epidemi, China telah bertindak secara terbuka, transparan dan bertanggung jawab dengan langkah-langkah paling menyeluruh dan kuat untuk menghentikan penyebaran COVID-19”.

Dia juga mengatakan bahwa upaya China untuk menahan virus ini telah membagikan “pengalaman yang berharga bagi komunitas internasional” untuk menangani wabah ini di negara mereka sendiri. “Ini juga bagian dari kontribusi penting kami. Komunitas internasional menghargai China karena melakukan ini,” katanya.

Baca juga : Lockdown Ketat Ala Tiongkok vs Lockdown Longgar Ala Italia : Ramai2 Menginstall Aplikasi Jian Kang Bao!

Sejak mewabahnya virus ini pada Januari 2020, ada banyak media barat yang melaporkan mengenai “teori konspirasi” ini. Salah satunya adalah laporan eksklusif Fox News, berdasarkan sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, mengklaim bahwa meskipun strain virus muncul secara alami pada kelelawar, bukan pada senjata biologi, (namun) itu dipelajari di laboratorium terkenal China di Wuhan.

Kemudian, pemenang hadiah Nobel Prancis Luc Montagnier juga mengklaim dalam sebuah wawancara dengan saluran CNews Prancis, bahwa coronavirus itu berasal dari lab Wuhan, yang diuji untuk mengembangkan vaksin melawan virus AIDS.

Isi konferensi selengkapnya : Foreign Ministry Spokesperson Geng Shuang’s Regular Press Conference on April 20, 2020

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru. PLAGIAT KONTEN bermodal COPY PASTE adalah tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!