Last Updated on 4 July 2022 by Herman Tan

Marga Tionghoa merupakan marga yang digunakan orang Tionghoa. Marga (Hanzi: 姓氏, pinyin: xingshi) biasanya berupa 1 karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang.

Ada pula marga yang terdiri dari 2, 3 atau bahkan sampai 9 karakter; yang seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, pinyin: fuxing). 

Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku2 minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Tionghoa. Marga dalam suku2 minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku2 minoritas tadi ke dalam Hanzi.

Penggunaan marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih!

A. Daftar Marga Tionghoa yang di Indonesiakan

Tabel dibawah berdasarkan penulisan pinyin. Karakter yang menggunakan koma, berarti ada lebih dari 1 macam karakter untuk pinyin yang sama. Karakter dengan tanda garis miring, berarti di sebelah kiri adalah Hanzi tradisional, dan sebelah kanannya Hanzi sederhana.

Nama Tionghoa → Ejaan Latin, Ejaan Hokkian/Ejaan Kanton → Peng-Indonesiaan nama (Romanisasi)

1. 歐陽/欧阳 (Oūyáng); Auwjong = Ojong.
2. 安 (Ān); An = Anadra, Andy, Anita, Ananta.
3. 柏 (Bái) : Pai = Pekasa, Pekerti.

4. 蔡 (Cài); Tjae, Tjoa= Cahyo, Cahyadi, Tjohara.
5. 程, 成 (Chéng); Seng = Sengani.
6. 陳/陈 (Chen); Tan, Tjhin = Tanto, Tanoto, Tanu, Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tandiono, Tanujaya, Tanuwijaya, Tanzil, Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanusudibyo, Tanoesoedibjo, Tanamal, Tandy, Tantra, Tanata, Intan.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

Baca juga : Sekilas Mengenai Marga Feng 冯 (Pang, Fung)

7. 鄧/邓 (Deng); Teng = Tenggara, Tengger, Ateng.
8. 徐 (Xú); Hsu, Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Teochew, Hokkien), Tsui (Cantonese) = Dharmadjie, Christiadjie.
9. 胡 (Hú); Hu, Hoo, Aw, Auw (Teochew, Hokkien), Wu (Cantonese) = Hutomo

10. 郭 (Guo); Kuo, Kwee, Kwik = Kartawiharja, Kusuma, Kusumo, Kumala.
11. 韓/韩 (Han); Han = Handjojo, Handaya, Handoyo, Handojo, Hantoro.
12. 何 (He); Ho = Honarto.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

13. 洪 (Hong); Hung, Ang = Anggawarsito, Anggakusuma, Angela, Angkiat, Anggoro, Anggodo, Angkasa, Angsana.
14. 黄 (Huang); Oei, Oey, Oen, Bong = Wibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto, Willys, Wirya, Wiraatmadja , Winarto, Witoelar, Widodo, Wijonarko, Wijanarko, Oentomo.
15. 江 (Jiang); Ciang, Kang, Kong = Kangean.

16. 李 (Li); Li, Lie, Lee = Lijanto, Liman, Liedarto, Lieva, Lika.
17. 梁 (Liang); Nio = Liangani, Liando, Liandow, Liandouw, Niopo.
18. 林 (Lin); Liem, Lim = Halim, Salim, Limanto, Limantoro, Limianto, Limijanto, Liemena, Alim, Limawan, Liemantika, Liman.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

19. 劉/刘 (Liu); Lau, Lauw = Mulawarman, Lawang, Lauwita, Lawanto, Lauwis.
20. 陸 (Lu); Liok, Liuk = Loekito, Loekman, Loekali.
21. 呂 (Lü); Loe, Lu = Loekito, Lukito, Lukita, Luna, Lukas, Loeksono.

22. 羅 (Luo); Ro, Loe, Lou, Lo, Luo = Lolang, Louris, Robert, Rowi, Robin, Rosiana, Rowanto, Rohani, Rohana, Samalo, Susilo.
23. 施 (Shi); Sie = Sidjaja, Sidharta, Sieputra.
24. 司徒 (Situ); Sieto, Szeto, Seto, Siehu, Suhu = Lutansieto, Suhuyanli.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

25. 蘇/苏 (Su); Souw, So, Soe = Soekotjo, Soehadi, Sosro, Solihin, Soeganda, Suker, Suryo, Surya,Soerjo.
26. 王 (Wang); Ong, Wong, Bong = Ongko, Wangsadinata, Wangsa, Radja, Wongsojoyo, Ongkowijaya, Wijaya.
27. 温 (Wen); Oen, Boen, Woen = Benjamin, Bunjamin, Budiman, Gunawan, Basiroen, Bunda, Wendi, Unang, Wiguna, Boenawan.

28. 吴, 武, 伍, 烏 (Wu); Goh, Go, Gho, Gouw, Ng = Gono, Gondo, Sugondo, Gozali, Gossidhy, Gunawan, Govino, Gotama, Utama, Widargo, Wurianto, Sumargo, Prayogo, Yoga.
29. 許/许 (Xu); Kho, Khouw, Khoe = Kosasih, Komar, Kurnia, Kusnadi, Kholil, Kusumo, Komara, Koeswandi, Kodinata.
30. 謝 (Xie); Cia, Tjia =  Tjiawijaya, Tjahyadi, Sudarmadi, Ciawi.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

31. 楊/杨 (Yang); Njoo, Nyoo, Njio, Injo, Inyo, Jo, Yo, Yong = Yongki, Yoso, Yohan, Yuwana, Yudha, Yosadi.
32. 葉/ 叶 (Ye); Yap, Jap = Japhar, Djapri, Yapari.
33. 曾 (Zeng); Tjan, Tsang = Tjandra, Chandra, Tjandrakusuma, Candrakusuma.

34. 張/张 (Zhang); Thio, Tio, Chang, Theo, Teo, Tjong = Canggih, Setyo, Setio, Sulistio, Sutiono, Santyoso.
35. 鄭/郑 (Zheng); Te, The = Tjokrorahardjo, Cokroraharjo, Tjokrowidjokso, Cokrowijokso.
36. 朱 (Zhū); Zhu = Zulkifri, Zuneng.

Marga Tionghoa dalam penulisan standar Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, Korea dan Jepang

Untuk ejaan dalam dialek Hokkian atau Kanton lainnya, bisa lihat di situs ini : Wikiwand.com – marga Tionghoa umum

B. Evolusi Nama Tionghoa

Di jaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya.

Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. ada juga yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Pada jaman Dinasti Shang, orang2 masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum jaman Dinasti Han, biasanya nama Tionghoa hanya terdiri dari 2 karakter, dimana terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama.

Namun sejak jaman Dinasti Jin, orang2 mulai memiliki sebuah nama lengkap seperti yang kita kenal sekarang; dimana terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga, 1 karakter nama generasi, dan 1 karakter nama diri).

Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang, karena dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi jati diri karakter seseorang.

Pada kasus2 yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari 3 karakter :

1. Dua (2) karakter marga (seperti Sima, Zhuge), 1 karakter generasi, dan 1 karakter nama diri. Contoh: Sima Xiangru, Zhuge Wuwei.

2. Satu (1) karakter marga dan 3 karakter nama. Contoh: Hong Tianguifu (anak dari Hong Xiuquan).

3. Nama marga suku minoritas yang mengadopsi nama Tionghoa. Contoh : suku Manchu yang menguasai dinasti Qing, menggunakan marga Aisin Gioro; Kaisar Dinasti Qing terakhir bernama Aisin Gioro Puyi (6 karakter).

Baca juga : Mau Punya Nama Mandarin? Simak 4 Cara Pemberian Nama Tionghoa Berikut

C. Tingkatan Marga Tionghoa

Di zaman dulu, marga2 tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga2 lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar sejak dulu di China.

Buku Seratus Marga Tiongkok
Buku Seratus Marga Tiongkok (百家姓; Bai Jia Xing)

Baca juga : 6 Fakta Mengenai Nama Cina (Nama Tionghoa) dan Marga Tionghoa

Ini dapat dilihat di zaman Dinasti Song, misalnya dalam buku Bai Jia Xing (百家姓), menempatkan marga Zhao (yang merupakan marga kaisar pada jaman tersebut) sebagai marga di urutan pertama.

Di masa sekarang, tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa.  Biasanya hanya dilakukan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Munculnya berbagai macam marga, antara lain karena :

1. Menggunakan lambang2 suku2 kuno, misalnya Ma (kuda), Long (naga), Shan (gunung), Yun (awan).
2. Menggunakan nama negara, misalnya: Qi, Lu, Wei, Song.

3. Menggunakan daerah kekuasaan, misalnya: Zhao, yang mendapatkan daerah kekuasaan di kota Zhao.
4. Menggunakan gelar jabatan, misalnya: Sima (menteri Perang), Situ (menteri tanah dan rakyat), Sikong (menteri Pu).

5. Menggunakan nama pekerjaan, misalnya: Tao (keramik), Wu (dukun/tabib).
6. Menggunakan tanda dari tempat tinggal, misalnya: Ximen (gerbang barat), Liu (pohon yangliu), Chi (kolam).

D. Nama Tionghoa di Indonesia

“名不正则言不顺, 言不顺则事不成.” (Míng bù zhèngzé yán bù shùn, yán bù shùn zé shì bùchéng).

Pepatah Tiongkok diatas diungkapkan oleh Confucius, seorang cendekiawan. Arti pepatah diatas “Ketika nama seseorang tidak tepat, Maka kata2 seseorang tidak dapat diterima. Jika kata2 seseorang tidak diterima, maka seseorang tidak dapat mencapai apa pun”.

Pepatah ini mengungkapkan tentang pentingnya nama seseorang, karena itu adalah bagian yang paling mendasar dari identitas seseorang!

Masyarakat Tionghoa di Indonesia walau telah berganti nama dan marga Indonesia, namun masih banyak yang tetap mempertahankan marga dan nama Tionghoa mereka; dimana masih digunakan sebagai panggilan pada acara2 tidak resmi, atau acar2 yang bersifat kekeluargaan.

Diperkirakan ada sekitar 300-an marga Tionghoa di Indonesia. Data di PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) mencatat ada sekitar 160 marga Tionghoa di Jakarta.

PSMTI sendiri merupakan organisasi etnis Tionghoa berskala nasional yang pertama dibentuk pascareformasi. PSMTI ini termasuk organisasi Tionghoa terbesar di Indonesia, yang tersebar di 167 kabupaten/kota di 28 provinsi seluruh Indonesia.

Marga Tionghoa di Indonesia umumnya dilafalkan dalam dialek Hokkian (Minnan). Hal ini tidak mengherankan, karena mayoritas keturunan Tionghoa Indonesia adalah berasal dari Provinsi Fujian.

Di Singapura sendiri tercatat ada sekitar 320-an marga Tionghoa. Atas dasar ini, karena daerah asal suku Tionghoa di Indonesia relatif dekat dengan Singapura, maka dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah marga Tionghoa di Indonesia sendiri pasti lebih dari 320 marga.

Marga2 yang lazim digunakan di kalangan Tionghoa Indonesia, misalnya :

1. Cia/Tjia (Hanzi: 謝, pinyin: Xie)
2. Gouw/Goh (Hanzi: 吳, pinyin: Wu)
3. Kang/Kong (Hanzi: 江, pinyin: Jiang)
4. Lauw/Lau (Hanzi: 劉, pinyin: Liu)
5. Lee/Lie (Hanzi: 李, pinyin: Li)

6. Oey/Ng/Oei (Hanzi: 黃, pinyin: Huang)
7. Ong (Hanzi: 王, pinyin: Wang)
8. Tan (Hanzi: 陳, pinyin: Chen)
9. Tio/Thio/Theo/Teo (Hanzi: 張, pinyin: Zhang)
10. Lim (Hanzi: 林, pinyin: Lin)

Baca juga : Daftar Urutan Marga Tiongkok (Tionghoa)

Masih banyak lagi marga2 lain yang dapat ditemui. Sebagai info, pengguna marga tionghoa terbanyak di dunia adalah marga Li [], lalu diikuti marga Wang [] di tempat ke-2 dan marga Zhang [] di tempat ke-3.

Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga2 dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan (romanisasi) yang tepat.

Hal ini menyebabkan banyak marga yang pelafalannya sama dalam dialek Hokkian, sehingga kadang dianggap marga yang sama, padahal sesungguhnya tidak. Misalnya :

• Tio selain merujuk kepada marga Zhang (張) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Zhao (趙).
• Ang selain merujuk kepada marga Hong (洪) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Weng (翁).

Masyarakat Tionghoa Indonesia pada jaman Orde Lama rata2 masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal karakter Han (buta huruf), namun biasanya nama Tionghoa tetap diberikan dengan cara romanisasi (pinyin dialek Hokkian).

Baca juga : Bai Jia Xing : Asal Usul Marga Tionghoa di Indonesia

Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama2 Tionghoa berdialek Hokkian lebih lazim dari pada dialek2 lainnya.

Pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka; dalam artian mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong, diubah menjadi Soedono Salim.

Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan, sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan, karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang2 peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi di kalangan Tionghoa sendirilah, yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa.

Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat China dengan Indonesia setelah peristiwa G30S/PKI 1965.

Pada tahun 1966, Ketua LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang2 Tionghoa, demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa. Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri.

Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang, dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya.

Cemoohan datang dari Organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), yang pada waktu itu mengumandangkan nada2 anti Tionghoa, dan menyatakan bahwa mengganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa.

Mereka juga menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRC (Republik Rakyat China) di Indonesia kembali ke negara leluhurnya.

Kebijakan ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi, karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.

Baca juga : Mau Punya Nama Mandarin? Simak 4 Cara Pemberian Nama Tionghoa Berikut

E. Catatan Seputar Marga Tionghoa (Contoh Kasus)

Ada satu contoh begini : Ada seseorang yang bertanya, mengatakan bahwa keluarganya menggunakan nama Tjan di depan. Jadi mulai dari nama kakek adalah Tjan, bapaknya Tjan, anaknya juga Tjan, dst. Ini bukan nama, sebab sangat tidak lazim nama orang tua disamakan dengan nama anak.

Tjan yang dimaksudkan disini kemungkinan adalah Marga Tjan (曾;Céng). Huruf Tionghoanya sama (曾) tetapi diucapkannya bisa berbeda2 tergantung dialek. Cara menulis dalam huruf Latin juga beda2 sesuai ejaan yang digunakan.

Misalnya ‘Tjan’, ditulis demikian, karena dalam ejaan Belanda yang menjajah Indonesia jaman dulu, bunyi ‘tj’ pada ‘tjan’ itu adalah ‘c’. Jadi kalau ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia (EYD) sekarang menjadi ‘Can’. Jadi tulisan ‘Tjan’ itu bukan baku, tapi karena ejaan lama Indonesia.

Makanya jika ada yang bertanya marga kita (terutama pemilik marga langka atau marga yang penyebutannya sama), sebaiknya sekalian ditulis huruf Hanzinya.

Makanya sebagian orang bingung, mengapa marga dan namanya kalau dibaca orang yang berlainan dialek/bahasa, misalnya Mandarin, dialek Kanton, dialek Hokkian, bisa jadi berlainan, namun artinya tetaplah sama.

Makanya, orang2 Tiongkok sangat berterima kasih kepada Dinasti Qin, karena tanpa mereka yang memulai melakukan standarisasi, bisa jadi huruf hanzi yang digunakan oleh Tiongkok pada saat ini beraneka ragam, sama banyaknya dengan dialek suku yang mereka gunakan disana 🙂

Baca juga : Inilah 10 Marga Tionghoa yang Paling Banyak Digunakan Warga Keturunan per 2020

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

269 thoughts on “Daftar Marga Tionghoa di Indonesia yang Telah di Indonesiakan (di Romanisasi)”
  1. Saya baru baca ini artikel dan ketemu website Tionghoa.info. Saya belajar banyak sekali tentang traditsi Tionghoa. Thank you for your willingness to put this website so we can learn about our tradition. Keep up the good work! I will definitely come back to read more.
    Terima kasih.

  2. salam.mau cari urutan keturunan dari penamaan kedua bagaimana dan dimana.nama papa saya Liau shau bong dan saya liau jie long.kami menggunakan dialek hakka.terima kasih dan anak dari saya menggunakan nama ke dua nya apa?

  3. Selamat malam pk herman Tan..saya mau tanya pak ko di indonesia ini tidak ada yang bermarga (Gak) apakah saya keturan terakhir dari marga (Gak) terima kasih

  4. Selamat malam admin

    Mohon pencerahannya untuk penulisan nama marga dalam mandarin Sie Han Seng. Orang tua berasal dari Hokian.

  5. Saya mau tanya kalu untuk marga Bhe itu ada atau tidak ya? saya cari dimana-mana tidak ada hanzi untuk marga bhe.

  6. Kok marga “Tjung” gk ada ya?
    Klw marga “Tjung” sendiri berasal dari provinsi mana ya?
    xie2 bagi yg mw menjawab pertanyaan saya

  7. min mau nanya, nama cina saya kalo dipanggil biasa liem ji sen, tapi saya penasaran untuk penulisan yg benar dan hanzinya gmn ya? dalam khek. kalau nanya sama mama cmn dijawab “liem ji sen” tp cuman sekedar denger dan gatau penulisannya

  8. Salam Pak Herman Tan
    Mohon bantuannya
    Papa saya namanya Go Kian Hua
    Go disana itu marganya kalau dalam Mandarin apa ya? Apakah Wu atau Gao?
    Thx

    1. marganya sama seperti saya. Marga Go itu dalam mandarin 吴=wu. kalau gao=高,itu jadi marga nenek saya.

  9. Salam Pak Herman Tan,
    Mohon di bantu, penulisan nama mandarin mendiang mama saya (orang khek/bangka) Dengan nama Liu Lie Jan (Liu Lie Djan) dan mendiang papa saya (orang Belitung/Khek) dengan nama Cu Po Fong (Tju Po Fong), mendiang kakak saya Cu Hai Lun (Tju Hai Lun) dan nama saya sendiri Cu Han lun (Tju Han Lun), mohon di email ke handoko****@gmail.com

    1. Hi Handoko!
      Maaf saya pribadi tidak bisa bantu, karena saya tidak mengerti dialek Khek, apalagi hanya mengandalkan penulisan pinyin/berdasarkan cara pengucapan nya.
      Karena seperti kita ketahui bersama, ada beberapa kata mandarin yang memiliki bunyi yang sama, namun beda arti dan penulisan (karakter hanzi) nya.

  10. Salam hangat,
    Nama papa saya Tjung khui jau, semua kakak adik papa pakai marga dan nama tengah yg sama (khui).
    Sedangkan nama saya Tjung bun hok. Koko saya semua pakai marga dan nama tengah “bun”
    Tolong dibantung cara penulisan nama saya dalam huruf mandarin.
    Tolong kirim ke WA 08113020xx
    Lalu sebaiknya anak saya pakai nama tengah apa yg benar?
    Thanks atas bantuan teman2 semua

  11. Tjiong yoe khing ini nama kakek saya papah saya tjiong , tp saya gak tau marga saya apa nama saya sudah ke kenian jd saya cucunya jg bingung saya marga apa ko mohon bantuannya

    1. Datu Saya Namanya Chi Ee Wei..
      .
      Itu Artinya apayah. ??
      .
      Saya selaku keturunan ke empat apakah masih menyandang Marga Chi itu ??

  12. Mau numpang nanya kalau penulisan marga GO gimana? Tpi setelah konflik marga Go kami di rubah menjadi dumpapa, dan apakah kami masih bisa memberikan marga GO kpd anak cucu kami?

Leave a Reply to Edy janto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?