Last Updated on 2 May 2019 by Herman Tan

Pria/Laki-laki berdiri di sebelah kiri, Wanita/Perempuan berdiri di sebelah kanan. Prinsip 男左女右 (Nan zuo, Ni you) sudah menjadi tradisi kebiasaan masyarakat di Tiongkok. Hal ini pun berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan, mulai dari pernikahan, hingga sampai peletakan jenazah jika dikubur bersama.

Contoh kesehariannya, seperti kalau ke kamar kecil, laki-laki masuk lewat pintu kiri, sementara perempuan masuk lewat pintu kanan. Kalau mengenakan cincin, pria di tangan kiri, sementara wanita di tangan kanan. Selain itu, apabila sepasang suami-istri mengambil foto, atau menghadiri upacara tertentu, biasanya sang suami berada di posisi sebelah kiri, sementara istri di sebelah kanan.

Seperti inilah posisi aktual yang dimaksud. Sumber : Baidu

Kalau terbalik, Anda bisa ditertawai, karena dianggap melanggar prinsip adat-istiadat “Nan zuo, Ni you” (laki-laki di kiri dan wanita di kanan).

Atau, mereka yang tidak tahu mungkin bingung, karena dunia barat umumnya menjunjung kebiasaan “ladies first” 🙂

Lalu bagaimana sebenarnya asal mula tradisi diatas?

Tidak seperti dunia barat dengan teori big bang nya, masyarakat Tiongkok mempunyai versi lain soal teori asal mula alam semesta, yakni Pan Gu (盘古), Pencipta alam semesta, bumi dan segala isinya.

Adapun versi umum dari legenda Pan Gu adalah sebagai berikut :

Pada mulanya langit dan bumi kacau balau tanpa bentuk. Pangu lahir pada waktu langit dan bumi kacau tanpa bentuk tersebut. Setelah 18.000 tahun, Pangu memakai sebuah kapak untuk membelah langit dan bumi. Yang ringan dan terang, terangkat naik ke atas menjadi langit; sementara yang berat dan suram turun ke bawah menjadi bumi.

Pangu takut langit dan bumi akan bergabung kembali, karena itu, DIA berdiri untuk menahan langit. Langit setiap hari naik 10 mistar, sementara Pangu juga setiap hari bertambah tinggi 10 mistar. Setelah 18.000 tahun kemudian, Pangu pun akhirnya meninggal, dan organ tubuhnya berubah menjadi isi dari alam semesta ini.

Badannya berubah menjadi pegunungan, darahnya mengalir membentuk aliran sungai, ototnya berubah menjadi tanah yang subur, sumsum tulangnya berubah menjadi batuan mineral, giginya berubah menjadi batu permata, sementara kulit dan bulu badannya berubah menjadi berbagai tanaman.

Lalu, mata kiri Pangu menjadi dewa matahari, sedangkan mata kanannya menjadi dewi bulan. Nah, adat istiadat “laki-laki di kiri, dan wanita di kanan” awalnya berasal dari cerita itu. Lantas siapa Dewa dan Dewi yang masing-masing mewakili matahari dan bulan itu?

Mereka adalah Dewa Fu Xi (伏羲) dan Dewi Nüwa (女娲). Keduanya dihormati sebagai leluhur dari peradaban manusia, dan merupakan titisan langsung dari Pan Gu (盘古), Pencipta bumi dan segala isinya.

Selain itu, prinsip “laki-laki di kiri, wanita di kanan” juga berhubungan erat dengan filsafat agama (TAO) di jaman kuno. Para ahli filsafat Tiongkok berpendapat, di dunia terdapat 2 energi. Satu disebut Yang 阳, dan yang satu lagi disebut Yin 阴.

Laki-laki (yang dianggap lebih kuat, positif) digolongkan sebagai Yang. Ia berdiri di sebelah kiri wanita (yang dianggap lebih lemah, negatif). Selain itu, coba perhatifkan huruf Yang dan Yin itu sendiri. Pada huruf Yang, terdapat huruf 日, yang menandakan hari. Sementara pada huruf Yin terdapat huruf Yue月, yang menandakan bulan.

Ini juga merupakan salah satu asal usul adat istiadat “laki-laki di kiri, wanita di kanan”.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

3 thoughts on “Asal Usul Tentang “Pria di Sebelah Kiri, Wanita di Sebelah Kanan” : Nan zuo, Ni you”
  1. Gambar foto artikel di atas terbalik, karena posisi pria ada di sebelah kanan perempuan.

    Posisi pria di sebelah kiri bukan mengacu dari sudut pandang mata orang lain yang melihatnya melainkan posisi aktual saat pria dan perempuan tersebut berdiri bersama berdampingan.

    Apabila dilihat dari posisi dan sudut pandang orang lain, maka posisi pria justru berada di sebelah kanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: eitss, mau apa nih?