Last Updated on 24 October 2022 by Herman Tan

Xi Jinping (1953) kembali terpilih sebagai pemimpin PKT (Partai Komunis Tiongkok) untuk ke-3 kalinya pada Minggu, 23 Oktober 2022.

Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh media2 yang terafiliasi pemerintah Tiongkok. Hal ini memperkuat posisi Xi sebagai pemimpin Tiongkok yang paling kuat setelah Mao Zedong.

Xi Jinping terpilih kembali sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (posisi tertinggi dalam struktur partai) dalam sistem pemungutan suara tertutup.

Selain itu, Xi Jinping juga kembali diangkat sebagai Kepala Komisi Militer Pusat Tiongkok. Kongres itu dihadiri oleh sekitar 2.400 delegasi (seperti anggota parlemennya).

Artinya, Xi Jinping hampir pasti akan terpilih sebagai presiden Tiongkok periode 2023-2028, yang akan diumumkan pada pertemuan Kongres Rakyat Nasional Tiongkok tahunan pada Maret 2023.

Mungkin sistem ini kurang familiar oleh pembaca di Indonesia, yang memungkinkan seorang presiden masih di bawah  jon9os kendali ketua partai pemenang pemilu 🙂

Hampir pasti, karena di Tiongkok lazim adanya pemimpin partai menjabat sebagai pemimpin negara (presiden) sekaligus. Hampir pasti, karena bisa saja terjadi X faktor, misalnya Xi meninggal, atau di kudeta oleh orang2 terdekatnya sebelum pelantikan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh partai dengan tulus, atas kepercayaan yang telah Anda berikan pada kami (karena pada saat itu ada beberapa anggota komite tingkat tinggi yang turut dipilih),” ujar Xi Jinping pada wartawan di Balai Besar Rakyat Beijing, setelah hasil pemungutan suara diumumkan.

Dalam sambutannya, Xi Jinping berjanji bekerja dengan tekun dalam pelaksanaan tugas, untuk membuktikan kepercayaan yang diberikan partai untuknya.

Xi juga memperkenalkan anggota Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok yang baru. Di antaranya adalah Li Qiang, Zhao Leji, Wang Huning, Cai Qi, Ding Xuexiang, dan Li Xi. Badan yang disebut Politbiro ini berisi 25 anggota dan 7 komite tetap.

Pengangkatan Xi Jinping untuk ketiga kalinya ini juga menandakan kepemimpinannya yang sukses besar di Tiongkok selama hampir 10 tahun terakhir (menjabat sebagai presiden ke-7 Tiongkok sejak 14 Maret 2013).

Sebelumnya, Xi juga menjabat sebagai Wakil Presiden pada era pemerintahan Hu Jintao pada 2008-2013.

Beberapa pencapaian yang luar biasa di era Xi Jinping, diantaranya adalah :

(1) Misi luar angkasa Tiongkok sukses besar, ditandai dengan berhasilnya dibangun stasiun luar angkasa yang dinamai Tiangong Space Station pada April 2021 (menyamai ISS punyanya Amerika cs), dan berhasil mendaratnya lander Tianwen 1 (berupa pengorbit, pendarat, dan penjelajah) di planet Mars pada Mei 2021.

Sebelumnya telah ada eksplorasi bulan yang dinamai Chang’e, dimana pada Desember 2020 Chang’e 5 berhasil kembali ke bumi dengan membawa sampel 2 kg tanah bulan. Misi jangka panjang ini akan diakhiri oleh pembangunan pangkalan permamen dan pendaratan misi berawak di bulan pada tahun 2035.

Bandingkan dengan Indonesia, yang masyarakat mayoritasnya masih sibuk dengan perdebatan bumi datar.

(2) Virus Covid-19 yang berhasil dikendalikan, sehingga penyebarannya tidak separah India dan USA sewaktu varian delta dan omicorn merebak, dimana mencapai rekor masing2 400 ribu dan 1,4 juta kasus per hari!

(3) Ekonomi Tiongkok (No.2 per 2017) akan menjadi yang terbesar di dunia pada tahun 2028, 2030, atau paling lambat 2035, mengalahkan USA. Pada 2021, GDP per kapita masyarakat Tiongkok mencapai US$ 12.551.(~188,2 juta/tahun, atau 15,6 juta/bulan, dengan kurs 15.000).

Angka itu dinilai sudah nyaris menyentuh treshold dari Bank Dunia untuk kategori negara pendapatan tinggi (US$ 12.695). Inilah kebangkitan terbesar Tiongkok, setelah pada akhir masa Dinasti Qing kerap di cap barat sebagai sebagai Orang Sakit dari Timur (亞洲 病夫; Yazhou bingfu)!

Meski begitu, beberapa sentimen negatif juga turut mewarnai perjalanannya, seperti (1) masalah sensor internet yang telah ditingkatkan secara signifikan sejak Xi menjabat, (2) serta masalah pelanggaran HAM lewat kamp2 konsentrasi etnis Uyghur di Xinjiang.

Hasil kongres yang kembali memilih Xi Jinping untuk berada di pucuk kepemimpinan juga telah diprediksi sebelumnya oleh banyak pihak, termasuk pihak barat. Xi sudah sejak lama digadang2 kembali duduk sebagai Sekjen PKT di periode ketiganya.

Hal ini dimungkinkan, karena pada Kongres Rakyat Nasional 2018, anggota parlemen PKT telah mengubah konstitusi yang menghapus batasan 2 periode masa jabatan presiden Tiongkok.

Tiongkok Secara Terbuka Menentang Kemerdekaan Taiwan

Sebagaimana diketahui, Kongres PKT ke-20 telah usai digelar pada 16-23 oktober 2023. Selain pemilihan sekjen PKT yang baru, pada pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan lain, yakni kongres sepakat mengamandemen piagam yang berisi penolakan Taiwan terpisah dan memerdekakan diri.

Berdasarkan salinan amandemen konstitusi partai yang dikutip media Xinhua, Tiongkok dengan tegas menentang dan menghalangi upaya kemerdekaan Taiwan. Partai Komunis Tiongkok juga akan memasukkan hal ini ke dalam Undang2.

Tiongkok memandang Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai bagian dari wilayahnya, dan berjanji suatu hari akan mengambilnya dengan paksa jika diperlukan.

Tampak pulau Taiwan yang dikepung pasukan Tiongkok dari 6 sisi (area zona merah) pada latihan tempur yang digelar pada 4-7 Agustus silam. Nama operasi ini dinamakan “Dragon Surrounds Taiwan”.

Ketegangan Taiwan dan Tiongkok meningkat ketika Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, mengunjungi pulau tersebut pada 2 Agustus 2022. Tindakan ini mendorong Tiongkok kala itu untuk meluncurkan latihan militer secara besar2an, dengan mengepung Taiwan dari 6 sisi sebagai simulasi perang apabila terjadi.

Sebelumnya pada pidato pembukaan kongres PKT 16 Oktober lalu, Xi menegaskan kembali bahwa Tiongkok tidak akan pernah meninggalkan opsi untuk menggunakan kekuatan militer, guna mencapai reunifikasi dengan Taiwan.

Sepertinya ini adalah janji dari Xi, apabila dia dipilih kembali untuk ke-3 kalinya, karena 6 presiden sebelumnya gagal untuk menjalankan misi ini. Jika benar, maka perang saudara akan benar2 terjadi, karena leluhur orang Taiwan mayoritas berasal dari propinsi Fujian, Tiongkok (lihat gambar).

Konklusi : 

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sistem pemerintahan komunis atau demokrasi liberal, yang sama2 mempunyai plus minusnya sendiri, selama warganya berhasil disejahterahkan dan hidup makmur.

Sekalipun Tiongkok kembali ke sistem perdinastian, yang pernah dijalankan selama ribuan tahun yang lalu. Bedanya dengan yang sekarang adalah, Xi tidak memiliki putra yang bisa diwariskan posisinya…

Artinya Xi benar2 bekerja untuk rakyat. Dia dianggap tidak ada kepentingan untuk membangun dinastinya sendiri. Itulah kenapa sosok kasim begitu dipercaya pada jaman kekaisaran Tiongkok dulu, untuk memegang posisi2 penting di istana.

Masih lebih baik daripada partai2 politik di tanah air, yang sibuk mencalonkan anak2 nya sebagai pengganti orang tuanya, bukan?

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?