Last Updated on 24 October 2019 by Herman Tan

Akhirnya kita tiba di sebuah masa. Masa dimana kita melihat wajah peradaban yang sangat berbeda jauh dari era sebelumnya.

Di era ini kita merasakan suatu kelimpahan yang belum pernah kita temui sebelumnya. Di era ini kita lebih khawatir akan bahaya kebanyakan makan, daripada bahaya kelaparan. Di era ini kita lebih akrab dengan apa yang terjadi di sosial media, dibanding apa yang terjadi di tempat tinggal kita.

Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat, begitulah tagline nya.

Di masa ini kita masing-masing juga mempunyai asisten yang pintar. Dia yang menyimpan nomor2 penting, yang pastinya nggak akan mampu kita ingat seluruhnya. Dia yang menghubungkan pertemanan kita di dunia maya. dia pula yang memilihkan rute terbaik di jalan; dan dia pulalah yang menentukan artikel apa yang cocok kita baca di mesin pencarian.

Artificial Intelligence adalah sahabat terbaik manusia di era ini. Entah apa jadinya kita tanpa mereka. Lalu apa yang harus kita kuatirkan?

Dilema Eksistensi Manusia

Manusia adalah makhluk spiritual, kita dilahirkan untuk mencari makna, tidak peduli di lingkungan seperti apapun, manusia butuh penjelasan akan eksistensi dirinya. Dan inilah salah satu tantangan terbesar era ini, dimana peran manusia sedikit demi sedikit mulai memudar wujudnya.

Kita bukan lagi spesies paling cerdas, karena AI (Artificial Intelligence) hampir bisa melakukan semua yang kita bisa, dengan presisi yang jauh lebih akurat.

Kita mulai merasakan kehampaan. Banyak remaja kita lebih rentan mengalami depresi dibanding era sebelumnya. kita juga mudah terpengaruh budaya hedonisme (keduniawian), dan bahkan paham radikal (intoleransi). Sehingga banyak yang terjerat narkoba dan pergaulan yang salah.

Sedangkan di sisi lain, industri spiritual, seperti yoga, relaksasi, klub meditasi, sampai senam tai chi, juga menemukan momentum kebangkitannya.

Ian Mitroff, Profesor dari Universitas Southern California, dan rekannya Elizabeth Denton, pernah menerbitkan sebuah laporan dalam A Spiritual Audit of Corporate Amerika, yang setelah mewawancarai hampir 100 eksekutif puncak perusahaan, tentang spiritualitas di tempat kerja.

Mereka menemukan bahwa perusahaan yang berhasil mengadopsi nilai2 spiritual dan mensinergikannya dengan visi misi perusahaan, seringkali membantu mereka meraih visi misi mereka tersebut.

Maka, jika ada perusahaan yang terkenal dengan profit oriented (orientasi keuntungan) saja mengakui keuntungan dari menerapkan nilai2 spiritual dalam perusahaan mereka, mengapa kita tidak?

Dao De Jing : Sebagai Filosofi Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Dalam ajaran Dao, digambarkan bahwa manusia tidak bisa terpisah dari perannya. Ajaran Dao menyatakan, sebagai seorang individu manusia juga bertanggung jawab dalam kemajuan lingkungan sekitarnya, juga peradaban di era dimana dia berada.

Dan disinilah relevannya ajaran ini di era kita sekarang; karena ajaran ini sangat sederhana, namun sangat efektif. Karena mereka menganggap, bahwa manusia yang terus mengasah kebijaksanaannya, secara otomatis ia akan berpengaruh positif, bukan saja pada lingkungannya, tapi juga pada peradabannya.

Dalam filosofi Dao, orang yang hidup bahagia akan mencapai kebijaksanaan secara bersamaan.

Era Industri 4.0 memang tidak mengajarkan tentang kebijaksanaan, Ia Cuma menunjukkan suatu era kelimpahan dan otomatisasi. Tapi ia menunjukkan, bahwa menjadi bahagia dan bijaksana bukan saja sangat baik untuk diri dan lingkungan kita, tapi sebuah survival tool yang harus kita pegang erat, seperti para prajurit di era masa lampau, yang memegang pedang dan panah.

Tentu dengan tujuan yang serupa, namun tak sama, agar kita lebih mampu menghadapi tantangan jaman.

Berikut ini salah satu penerapan filosofi Dao De Jing, yang bukan saja masih relevan, tapi wajib kita terapkan dalam kehidupan keseharian :

1. Hidup Seimbang dan Selalu Dekat Dengan Alam

”… Suara tinggi dan suara rendah memiliki keselarasan. Yang di depan dan yang di belakang saling mengikuti, bagaikan alam yang menciptakan segala benda dan segala makhluk dengan sewajarnya. Menghidupi segalanya, tetapi tidak menganggap sebagai miliknya.” (Dao De Jing 2)

Banyak dari kita yang setelah bermain media sosial, sering terpengaruh dengan debat yang seolah tidak ada habisnya. Lalu ikut ngamuk, dan akhirnya juga terjebak pada debat yang tidak berujung.

Banyak dari kita, yang juga setelah bermain game, lalu keasyikan. Akibatnya banyak pekerjaan yang terlantar, sampai lupa makan dan akhirnya kesehatan terganggu.

Atau banyak juga dari kita, yang terlalu terobsesi dengan jumlah follower dan subscriber, sampai lupa bahwa itu bukanlah syarat kebahagiaan yang sebenarnya?

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya …

Baca Juga :  Sistem Penanggalan Dalam Taoisme (Nongli, Huangdi Era)

Filosofi Dao mengajarkan pada kita, bahwa hidup seimbang dan selalu dekat dengan alam, adalah syarat mutlak untuk hidup bahagia! Jadi jika sering merasakan hal yang negatif, sederhana saja, coba pikirkan dengan lebih serius, apa yang tidak seimbang dari diri kita, dan apakah aktivitas fisik dan mental kita mendekatkan kita, atau sebenarnya malah menjauhkan diri kita dari alam?

Filosofi Dao menerangkan, bahwa manusia sudah diberi potensi yang cukup untuk hidup bahagia dan mencapai potensi tertingginya. Namun demikian, bukan berarti dia sempurna.

Seperti yang diungkapkan dalam sajak di atas, setiap manusia pasti memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Dalam setiap hal yang sedih, di satu sisi, pasti selalu ada hal yang menyenangkan di satu sisi lainnya. menurut filosofi Dao, itulah hakikat dari diri manusia.

Tugas manusia adalah melihat 2 sisi itu, dan jika ia mampu melihatnya, maka dapat dikatakan, dia memahami filosofi Dao; dan jika dia setelahnya mampu menyadari, bahwa semua yang ada di bumi ini bukanlah miliknya, maka dia dapat dikatakan telah mampu hidup dengan Dao.

2 syarat itu adalah jalan penting dalam filosofi Dao : untuk bahagia dengan utuh dan menjadi bijaksana.

Karena jika kita mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan lebih mampu untuk …

2. Bertindak dan Memiliki sebagaimana yang Kita Bisa

“…siapa yang memaksa akan gagal, dan siapa yang menguasai akan kehilangan. Dari itu, seorang budiman membuang segala sifat yang berlebihan, jauhkan kemewahan dan segala sesuatu yang melewati batas.” (Dao De Jing 29)

Kita sering dihadapkan pada  suatu dilema di layar gadget kita, dimana suatu tragedi kemanusiaan yang keji telah berlangsung di suatu tempat yang jauh dari tempat tinggal kita.

Kita juga sering menyaksikan peristiwa yang bikin kita susah tidur, seperti kasus kriminal, kasus pertengkaran para elit politik, sampai kekuatiran ekonomi dan hari yang akan datang.

Dalam filosofi Dao, sangat penting untuk menjaga pikiran kita dari hal yang di luar kontrol kita. Kita nggak boleh terpaku pada hal yang nggak bisa kita kendalikan, karena kita bukan manusia super yang bisa menyelesaikan konflik, di Negara yang bahkan kita hanya tahu namanya.

Kita juga bukan orang yang memiliki kuasa yang begitu besar, sehingga bisa menentukan jalannya Negara dan pemerintahannya dengan sekejap mata. Bahkan faktanya kita nggak mampu menahan diri ketika merasa lapar, kedinginan, mengantuk, dan sebagainya, apalagi menentukan persepsi orang lain pada diri kita.

Yang bisa kita kendalikan dengan lebih baik, adalah pikiran kita. Maka sangat penting untuk memiliki kontrol pikiran. Karena pikiran kitalah yang akan menentukan persepsi kita, dan akhirnya tindakan kita.

Maka, semakin jernih pikiran kita, maka akan semakin jernih pula persepsi kita. Semakin jernih pikiran kita, masalah apapun akan bisa kita lewati dengan tenang, dan akhirnya tindakan kita akan jauh lebih matang dan bijaksana.

Karena jika kita memiliki pribadi yang matang dan bijaksana, maka kita akan mampu untuk …

3. Menghadapi  Fake News dan Ujaran Kebencian

“Melakukan wei wuwei  dan bekerja tanpa pamrih… Membalas kebencian dengan kebaikan.” (Dao De Jing 63)

Wei wuwei cukup sulit dicarikan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Karena secara literal artinya adalah ”bertindak tanpa berbuat”. Cukup ambigu rasanya.

Namun kita bisa melihat contohnya seperti ini.

Dalam era modern ini, kita banyak sekali membaca berita yang nggak jelas sumbernya, dan nggak jarang realitanya sering sekali berbeda dari yang kita pikirkan. Nah, sekarang coba bayangkan jika kita melihat serangkaian berita yang mencemaskan, seperti misalnya ada meteor yang mendekati bumi, bayangkan pula di satu sisi akun2 di medsos melakukan propaganda kebenciannya.

Jika kita dihadapkan pada situasi seperti ini, kita dianjurkan oleh filosofi Dao untuk melakukan Wei Wuwei; bertindak tanpa berbuat.

Bagaimana caranya?

Padamkan segera tombol emosi di kepala kita. Mulai sekarang, cukup bayangkan yang kita lihat, bagaikan persoalan matematika yang terdiri dari deret angka. Kita nggak memiliki ketertarikan khusus pada angka disana, karena itu cuma angka. Yang perlu kita pecahkan adalah, bagaimana deret angka itu berjejer, bagaimana angka di depannya berubah, apa yang melatarbelakanginya?

Bagaimana kok bisa angka di depannya sama atau berubah lagi. Lalu apa kira-kira angka yang cocok mengisi titik-titik di kepala kita?

Kira-kira seperti itu, just observe.

Yoval Noah Harari dalam bukunya, 21 lessons for the 21st century, menyebutkan bahwa, semakin mampu kita mengenal emosi dan alur suatu peristiwa, kita akan menemukan kebijaksanaan yang sebelumnya tersembunyi dari diri kita. Karena realita yang sebenarnya, sering tertutupi emosi dan persepsi kita.

Baca Juga :  Inilah 10 Perbedaan Agama Buddha dan TAO

Berikutnya Yoval Noah Harari mengatakan,

”Kapanpun aku merasa emosi, aku selalu saja hanya terfokus pada subjek emosiku, bukannya sensor realitaku yang menyatakan kenapa aku harus emosi?

Hal terpenting yang aku sadari, adalah bahwa sumber terdalam dari kekuatiran dan penderitaanku, adalah pikiranku sendiri. Ketika sesuatu tidak terjadi sesuai keinginanku, pikiranku bereaksi menghasilkan kekuatiran dan penderitaan. Tapi kekuatiran dan penderitaan bukanlah kondisi objektif dunia luar.

Itu adalah hasil pikiranku sendiri. Belajar tentang hal ini, adalah langkah pertama menghentikan lebih banyak penderitaan.”

Jika kita menyadari hal ini, tentu kita akan lebih mudah siap dan mengerti tentang suatu peristiwa, seperti kita sadar bahwa kedatangan meteor bukanlah sesuatu yang baru. Kita bahkan bisa melihat beritanya hampir tiap minggu, dan kita bahkan bisa sering melihatnya di malam2 tertentu.

Seperti halnya ujaran kebencian, sama sekali bukan hal yang baru. Dan sebenarnya, kita hanya perlu mendamaikan diri kita, dan hal-hal itu nggak akan menciptakan kekuatirannya dan penderitaan dalam batin kita.

Karena semakin sedikit kekuatiran dan penderitaan dalam batin kita, semakin mudah kita dalam meraih …

4. Kesempatan Mempelajari Banyak Hal Dengan Mudah

“Tidak keluar pintu, (namun) dapat mengetahui masalah dunia. Tidak mengintip dari jendela, tapi dapat melihat hukum alam.”(Dao De Jing 47)

Felix Kjellberg, alias Pewdiepie, awalnya hanyalah seorang mahasiswa gabut yang bikin akun youtube, buat upload video dia waktu main game. Sekarang dia dikenal sebagai influencer paling terkenal di media sosial. Bahkan persaingannya dengan T-Series membuat banyak orang dari berbagai penjuru dunia ikut serta.

Rasanya dulu amat sulit membayangkan fenomena ini bisa terjadi, dimana mereka yang bukan rockstar, pemuka agama atau tokoh politik, bisa menggerakkan banyak orang untuk melakukan suatu aksi.

Raditya Dika yang introvert dan terlihat cupu, juga bisa menjadi influencer di kalangan anak muda, karena blog yang ditulisnya di internet dulu menjadi viral, dan sekarang dia dikenal sebagai salah satu orang paling kreatif di industri hiburan.

Dan ternyata sekarang kita banyak menemukan orang seperti mereka, menjadi para boss di Silicon Valley, seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, Sergey Brin atau Bill Gates.

Sekarang coba kita bayangkan bagaimana jadinya orang seperti mereka hidup 30-40 tahun lalu? Rasanya sangat sulit membayangkan mereka akan sesukses sekarang.

Dan itulah salah satu hal yang sangat menarik dari era kita, dimana kita bisa menemukan banyak orang, yang sebelumnya sering disebut sebagai “dibawah standar sosial”, menjadi orang yang sukses dan menjadi inspirasi banyak orang.

Karena di era ini, kesempatan mengembangkan bakat menjadi sangat luas dan seolah tanpa batas. Ingin menjadi chef handal? Tinggal klik, dari artikel sampai video tersedia banyak.

Ingin belajar coding? Tinggal klik, dan banyak komunitas sampai kursus online bermunculan.

Dengan berlimpahnya informasi dan sumber pengetahuan di internet, Kita bisa belajar apapun, dimanapun,dan kapanpun, bahkan hingga pengetahuan tingkat materi Perguruan Tinggi. Karena banyak institusi pendidikan kini memiliki visi dimana di masa depan, universitas terbaik tidak mengajar hanya ribuan siswa, melainkan jutaan.

Karena teknologi kita kini memungkinkan professor terbaik untuk mengajar seribu, atau bahkan puluhan ribu mahasiswa secara langsung.

Seperti yang diprakarsai salah satunya oleh Khan Academy. Kita bisa melihat program mereka di khanacademy.org

Maka era kita sekarang ini, adalah era dimana sajak Dao diatas bisa diterapkan secara literal. Kita tidak perlu mengeluarkan banyak biaya dan waktu untuk mengumpulkan sumber informasi seperti orang2 di jaman terdahulu, kita cuma perlu kemanuan.

Nah pertanyaannya, maukah kita memanfaatkan kesempatan ini? Dan kemauan dalam memanfaatkan kesempatan, seringkali tidak akan membawa hasil baik jika kita tidak memiliki …

5. Etika yang Baik, Adalah Syarat Mencapai Impian

“Aku mempunyai 3 mustika, yang aku pegang teduh dan mempertahankannya; pertama cinta kasih, kedua sikap hemat, dan ketiga tidak mendahului dunia.

Dengan sifat cinta kasih, maka ia selalu tabah.
Dengan berlaku hemat dan sederhana, ia dapat memperluas usahanya.
Dan tak berani mendahului orang-orang lain, maka menjadi alat yang besar gunanya.” (Dao De Jing 67)

Kebahagiaan adalah sesuatu yang baik, demikian pula kebijaksanaan. Karena kebahagiaan dan kebijaksanaan adalah sesuatu yang baik, maka untuk memperolehnya kita harus memiliki prinsip hidup yang baik. Masuk akal kan?

Baca Juga :  KARMA : Kaya Miskin Seseorang Saat Ini, Ditentukan Dari Kehidupan Masa Lalunya!

Dalam filosofi Dao, seseorang nggak boleh hidup tanpa prinsip kebaikan. Karena manusia memiliki keterkaitan dengan lingkungan sekitar dan peradabannya. Maka jika seorang manusia tidak baik, maka dia memberikan dampak buruk, bukan hanya pada dirinya, namun juga pada lingkungannya, serta jalannya peradabannya.

Dalam filosofi Dao, melakukan prinsip kebaikan adalah jalan hidup yang memerlukan keterampilan dan kesabaran untuk melatihnya secara terus menerus.

Seorang pelukis memerlukan banyak waktu, sebelum akhirnya dia mampu menciptakan maha karyanya, pemain musik juga memerlukan kesabaran untuk merangkai nada, sebelum karya terbaiknya bisa tercipta.

Maka demikian pula ajaran Dao, dia juga membutuhkan waktu dan kesabaran, karena banyak hal yang terjadi dalam satu waktu, seringkali berbeda dengan keinginan kita. Sangat mustahil kemungkinannya, jika kita mengharapkan hasil besar, lewat suatu kejadian yang sekonyong-konyong mengubah arah hidup kita menjadi lebih baik, dalam sekejap mata.

Maka dalam ajaran Dao, kita perlu tetap sabar, seperti para pelukis sebelum menciptakan maha karyanya, atau seperti para pemain musik sebelum menciptakan karya terbaiknya, karena semuanya memerlukan PROSES.

Dan karenanya, dalam filosofi Dao, para muridnya diajarkan untuk tidak melihat (hanya) melalui satu kejadian dalam hidup, melainkan melalui hidupnya secara keseluruhan.

Maka, apapun impian kamu di era yang seolah segala sesuatunya bisa tercipta secara instan ini, janganlah terkecoh. Tetaplah setia pada proses dan prinsip kebaikanmu. Karena itulah jalan yang terbaik yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan dan kebijaksanaan yang hakiki.

Untuk akhirnya nanti memudahkan kita dalam …

6. Membuka Diri Pada Perubahan dan Mengetahui Makna yang Tersembunyi

“Hapuskanlah dan buanglah istilah kesucian dan kebijaksanaan, supaya rakyat memperoleh faedah berlipat ganda.

Hapuskanlah dan buanglah istilah cinta kasih dan kebajikan, supaya rakyat dengan sewajarnya, kembali pada perilaku bakti dan saling mencintai.

Hapuskanlah dan buanglah segala akal muslihat dan nafsu keserakahan, dengan sendirinya pencuri dan perampok akan lenyap.” (Dao De Jing 19)

Dan inilah tujuan final yang objektif dari filosofi Dao.

Ajaran Dao sering sekali mengaitkan ajarannya, bagaikan aliran air. Ajaran kebaikan Dao sering dikaitkan dengan prinsip selalu mau mengalah, jujur, dan bahkan pencapaian pikiran manusia yang jernih dan tenang itu disandingkan dengan sifat air yang sejuk dan selalu mau meneduhkan.

Dan aliran sungai yang mengarah menuju lautan, dianggap sangat mirip dengan jalan hidup manusia, yang akan menuju sumbernya yang sejati.

Maka sebagaimana sungai yang harus mengalir, maka manusia juga harus terus mengalir. Dia tidak boleh diam, karena akan menjadi air genangan, yang lambat laun akan berbau busuk. Karenanya, para murid Dao nggak boleh hanya terus terpaku pada era Industri 4.0, tapi dia juga harus siap pada era Industri 5.0 dan seterusnya.

Seperti banyak perubahan yang kita lihat dari era ini dibanding era sebelumnya, kita juga harus siap pada perubahan, yang juga akan menggantikan apa yang kita ketahui dan apa yang terlanjur kita percayai dari era ini ke era berikutnya.

Mungkin di masa ini, kita menganggap industri startup adalah industri yang menjanjikan, tapi di era berikutnya, bisa saja industri ini sudah dianggap usang.

Mungkin di masa ini, era dimana big data dan analisisnya adalah sumber emas yang menjanjikan, tapi tidak lagi bagi era selanjutnya.

Maka kita harus siap membuang semua persepsi kita itu, dan memandang segala sesuatu dengan apa adanya. Seperti yang dikatakan dalam sajak di atas.

Kita harus siap membuang istilah kesucian dan kebijaksanaan, supaya masyarakat memperoleh faedah yang berlipat ganda.

Kita harus siap membuang istilah cinta kasih dan kebajikan, supaya rakyat dengan sewajarnya kembali pada perilaku bakti dan saling mencintai.

Kita harus siap membuang segala akal muslihat dan nafsu keserakahan, agar dengan sendirinya pencuri dan perampok akan lenyap.

Karena ditiap kebaikan dan kebahagiaan serta kebijaksanaan yang telah kita peroleh, sejatinya akan kita estafetkan pada generasi dan era berikutnya.

Dan sebagaimana layaknya tujuan final, maka tentu sangat tidak mudah untuk kembali pada prinsip “kebenaran yang sederhana” ini. Karena itu artinya kita bagaikan kembali ke titik awal. Tapi sebagaimana yang sudah kita pelajari, pada akhirnya kita memang tidak memiliki apa-apa, dan akan kembali ke titik yang sama.

Dan itu pula sebabnya kita akhiri perjalanan dalam artikel ini, dengan kembali ke poin 1 …

Penulis : David I Nainggolan

By Penulis Lepas Tionghoa

Kumpulan artikel yang berasal dari Penulis Lepas blog Tionghoa.INFO. Klik halaman 'Authors' untuk bergabung bersama kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!