Last Updated on 15 August 2020 by Herman Tan

Dinasti Qin (221-206 SM) atau Qin Chao 秦朝 adalah Dinasti pertama di Tiongkok, yang menyatukan seluruh wilayah daratan Tiongkok setelah menaklukan 6 Negara bagian (state), yakni Zhao 趙, Yan 燕, Han 韩, Wei 魏, Chu 楚, dan Qi 齊; serta meletakkan dasar fondasi pengelolaan Negara selama 15 tahun pemerintahan kekaisarannya.

Dinasti Qin didirikan oleh Ying Zheng, yang bergelar Kaisar Qin Shihuang. Keberhasilan proyek dan pencapaian pembangunan di jaman Dinasti Qin yang luar biasa ini, dibayangi oleh kehancuran budaya yang sangat besar dan hilangnya jutaan nyawa yang dipergunakan sebagai budak.

A. Fakta Singkat tentang Dinasti Qin

Patung prajurit Terakota yang seukuran aslinya

♦ Dinasti Qin adalah dinasti kekaisaran pertama yang menyatukan seluruh wilayah daratan Tiongkok dalam sejarah perdinastian.
Ibu kota : Xianyang, Xi’an, Shaanxi
♦ Ini adalah dinasti terpendek dalam sejarah Tiongkok, yang hanya berlangsung selama ±15 tahun.

Pendiri Dinasti Qin : Ying Zheng (贏政) yang bergelar Qin Shihuang (秦始皇)
♦ Situs sejarah yang paling terkenal adalah patung prajurit Terakota.

Baca juga : Sejarah Perjalanan Dinasti Qin; Dinasti Pertama Dalam Sejarah Tiongkok

Penguasa Negara Qin menaklukkan semua wilayah Negara bagian lain di sekitarnya, dengan tujuan agar kelak tidak ada ancaman yang timbul (menyerang Negara mereka) di kemudian hari. Namun sayangnya, perjalanan perdinastian mereka hanya berumur pendek, dari tahun 221 s/d 206 SM.

Negara Qin hanya membutuhkan waktu 9 tahun dalam serangkaian kampanye perangnya (dimulai pada tahun 230 hingga 221 SM) dalam menaklukan wilayah2 Negara sekitar. Qin juga menaklukkan wilayah dari bekas Kekaisaran Zhou. Kemudian Qin menaklukkan daerah2 terpencil di wilayah selatan Tiongkok hingga ke perbatasan Vietnam, dan ke utara hingga ke perbatasan Korea.

Tampak Peta 6 Negara pada tahun 260 SM (puncak kejayaan masing2 Negara, masa2 tenang), sebelum ditaklukan Negara Qin selang 230-221 SM.

Jika diperhatikan, luas Dinasti Qin kala itu baru ±2/3 dari wilayah Tiongkok saat ini, karena belum meliputi kerajaan2 kecil di wilayah selatan, seperti di Yunnan, Guangxi, Guandong, dan Fujian.

Penaklukan 6 Negara (state) oleh Negara Qin :

230 SM : Penaklukan kerajaan Han (韩) : Negara Han merupakan yang terlemah di antara 7 Negara bagian, dan sebelumnya telah menerima berbagai serangan oleh Negara Qin. Luasnya meliputi propinsi Henan dan sekitarnya saat ini.
228 SM : Menyerang kerajaan Zhao (趙) : Luasnya meliputi propinsi Mongolia Dalam, Hebei, Shanxi, dan Shaanxi saat ini.

225 SM : Penaklukan kerajaan Wei (魏) : Luasnya meliputi propinsi Henan, Hebei, Shanxi, dan Shandong saat ini.
223 SM : Penaklukan kerajaan Chu (楚) : Merupakan Negara yang paling sulit ditaklukan Qin, Luasnya meliputi propinsi Hubei, Hunan, Chongqing, Guizhou, Henan, Anhui, Jiangxi, Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai saat ini.

222 SM : Penaklukan kerajaan Yan (燕) dan wilayah Wuyue (吳) : Luasnya meliputi wilayah semenanjung Liaodong saat ini (Liaoning, Beijing, Jilin, dan Heilongjiang).
221 SM : Penaklukan kerajaan Qi (齊) : Luasnya meliputi propinsi Shandong dan sekitarnya saat ini.

Demikianlah Dinasti Qin memiliki wilayah kekaisaran terbesar pertama dalam sejarah perdinastian Tiongkok kala itu.

Masyarakat pada masa itu diatur dengan gaya kepemimpinan diktator, sampai2 setiap pembangkang yang menentang aturan Negara akan dibunuh, disiksa, atau dikirim untuk kerja paksa, dan sebagian besar gulungan2 literatur dihancurkan. Orang-orang diperbudak oleh perang dan proyek konstruksi besar.

Kekuasaan absolut yang diinginkan oleh sang Kaisar dan para pejabatnya sejatinya hanya akan menjatuhkan diri mereka sendiri, dimana dinasti dengan cepat berakhir dengan intrik pembunuhan, dan kebijakan bodoh, dan pemberontakan rakyat.

B. Proyek Konstruksi Hebat Dibangun : Tembok Besar dan Mausoleum Qin Shihuang

Dinasti Qin dikenal karena berbagai proyek konstruksi yang hebat. Proyek utama yang memperkuat Negara adalah pembangunan Kanal Wei yang selesai pada tahun 246 SM, dan proyek irigasi Dujiangyan yang selesai dibangun pada tahun 256 SM, yang memungkinkan irigasi di dataran Sichuan.

Patung prajurit Terakota

Mungkin karena pengalaman2 sukses inilah yang membuat penguasa kerajaan Qin membangun proyek yang lebih besar. Mereka menggunakan tenaga kerja dari jutaan budak untuk membuat Tembok Besar Awal dan kompleks makam Kaisar Qin, yang mencakup pembuatan ribuan patung prajurit terakota (patung seukuran manusia asli).

Baca juga : 7 Hal Mengenai Prajurit Terakota : Mengapa dan Bagaimana Mereka Dibuat?

Menurut catatan, Kaisar Qin Shi Huang bahkan mengasingkan anaknya sendiri yang akan menjadi pangeran, untuk bekerja pada proyek pembangunan tembok besar. Dikatakan bahwa 1 orang meninggal untuk setiap 1 kaki (30cm) tembok yang mereka bangun.

Kaisar menginginkan pembangunan tembok yang tinggi, sebagai benteng untuk mencegah serangan dari suku-suku di utara, seperti Xiongnu.

Sementara Mausoleum (kompleks makam) Qin sendiri adalah kompleks makam besar yang dibangun dekat kota Xi’an saat ini. Ini adalah makam yang dipersiapkan untuk sang Kaisar sendiri, jika mangkat suatu hari kelak.

Diketahui bahwa sebagian besar dari kompleks makam belum digali, dan hanya sebagian kecil saja yang terungkap. Bagian kecil yang telah ditemukan ini adalah kompleks Pasukan Terakota sangat mencengangkan. Sementara kompleks utama makam dari sang Kaisar sendiri belum ditemukan. Kenapa?

Kompleks makam Kaisar Qin terletak dibawah tanah, yang diletakkan pada puncak posisi piramida terbalik, bukan diatas tanah seperti kebanyakan makam-makam Kaisar yang lain.

Karena menurut catatan sejarawan Sima Qian (145-90 SM), kompleks utama dari makam sang Kaisar sendiri telah dilindungi untuk mencegah penjarahan. Di dalam makam telah dipasang banyak perangkap, salah satunya seperti peluncur panah dan tombak otomatis, yang akan terpicu apabila menekan atau menginjak sesuatu.

Selain itu, jalur/jalan untuk menuju kesana juga telah diblokir dengan 3 lapis pintu batu yang besar, dimana sisa pekerja yang masih melakukan finishing akhir juga ikut dimakamkan hidup2 di dalam, untuk mencegah bocornya informasi keluar. Karena alasan inilah, ilmuan Tiongkok pun tidak berani mempertaruhkan nyawa mereka, untuk menyentuh inti makam tersebut.

Baca juga : Rahasia Dibalik Makam Piramid Kaisar Pertama Tiongkok : Benarkah Terdapat Ribuan Ton Emas?

C. Kebijakan Kelembagaan

Kekaisaran Qin juga dikenal karena kebijakannya yang luas. Mereka melakukan standardisasi penulisan huruf, mata uang, dan satuan pengukuran (berat, panjang, jarak), serta membangun banyak infrastruktur yang membantu daerah2 agar bisa menjadi makmur nantinya.

Di bawah Perdana Menteri Li Si, sistem penulisan distandarisasi dengan memerintahkan semua orang untuk menulis dalam skrip / huruf yang sama dengan yang digunakan di Qin. Para penguasa ingin semua orang bisa memahami perintah mereka, dan agar para pejabat dari berbagai wilayah yang dianeksasi* bisa berkomunikasi satu sama lain.

Para pejabat dipilih berdasarkan kemampuan dan kesetiaan (loyalitas) mereka untuk mematuhi sang Kaisar. Mereka membangun filosofi mereka sendiri di wilayah kekuasaannya, dengan menghancurkan berbagai ide baru dan ilmu pengetahuan dari para cendekiawan serta ahli filsuf kala itu yang menentang.

Aliran Legalisme pun segera menonjol, sementara aliran Moisme (pengikut filsuf Mozi, sekolah filsafat terkenal dari jaman Negara2 Berperang) bersama dengan berbagai aliran pemikiran lainnya dihancurkan; bersama dengan para cendekiawan dan catatan2 (gulungan) filsuf mereka.

Bentuk awal dari kepercayaan Buddhisme pun ikut dihancurkan. Di masa kehancuran dan peletakan dasar kekaisaran ini, hanya Konfusianisme dan Daoisme saja yang bertahan sebagai agama, dan sebagai filosofi utama di China kala itu.

Sebagai info, aliran Konfusianisme yang diadopsi di era Han (202 SM – 220 M) setelah jatuhnya Dinasti Qin) sudah tercampur dengan aliran Legalisme. Para sarjana mengajarkan bahwa diperlukan seorang Kaisar yang kuat untuk memimpin kerajaan. Filsafat Mencius (Mengzi) menjadi standar aliran Konfusianisme bagi para penguasa Kekaisaran Han dan di era-era selanjutnya.

*Aneksasi (kbbi) : pengambilan dengan paksa tanah atau wilayah orang atau negara lain, untuk disatukan dengan tanah negara sendiri.

D. Cikal Bakal Dinasti Qin

1. Awal Mula Negara Qin

Ada sebuah catatan tertulis tentang sejarah kuno Qin, tetapi tidak diketahui apakah catatan itu akurat. Dikatakan bahwa Fei Zi ditunjuk untuk memerintah kota Qin di wilayah barat laut. Dia disebut sebagai pendiri Negara Qin, pada Periode Negara2 Berperang (Warring States period) tahun 475-221 SM.

Pada tahun 672, penguasa Qin mencoba memperluas wilayahnya ke timur. Qin awalnya tidak berusaha untuk menaklukkan negara2 lain, karena takut suku2 kecil di sekitar wilayah mereka akan menyerang, di kala pasukan besar/pasukan utama mereka pergi.

Patung reformis Shang Yang

2. Filsafat Legalisme Yang

Ketika Shang Yang 商鞅 (390-338 SM), atau Gongsun (nama asli) seorang filsuf kuno Tiongkok, yang kala itu sedang menjabat sebagai pejabat pengadilan pada tahun 361. Selama 2 dekade, dia membuat perubahan politik yang besar. Dia mendukung dan memerintah sesuai dengan seperangkat aturan ketat dan filosofi politik yang jelas .

Dia akhirnya terbunuh, tetapi filosofinya yang disebut Legalisme telah diadopsi oleh sistem pengadilan saat itu. Shang Yang memperkenalkan banyak reformasi besar pada pemerintah, dan merupakan seorang politisi yang revolusioner pada masanya. Beliau menetapkan arah bagi Negara Qin untuk menjadi lebih kuat secara militer, dan lebih kejam daripada negara2 lain.

Ada juga ikatan dan tanggung jawab keluarga yang diterima secara umum, seperti yang dianut oleh Konghucu. Shang Yang menghapus protokol dan moral. Dia ingin semua orang tunduk kepada pemerintah yang berkuasa, sebagai hukum yang paling utama, dan untuk menghancurkan musuh dengan kejam.

Dia juga ingin agar semua orang diperlakukan secara sama di bawah kekuasaan hukum yang berlaku. Di satu sisi, sistem hukum ini cukup adil dan meminimalisir tindakan sewenang2 para pejabat. Dia berpikir, bahwa setiap orang harus diperintah oleh aturan hukum yang sama, tidak peduli apakah mereka adalah anggota klan yang berkuasa, atau petani miskin sekalipun.

Di bawah Legalisme, oposisi politik juga tidak ditoleransi.

3. Peningkatan Infratruktur dan Militer

Untuk meningkatkan produksi, Yang memprivatisasi tanah, memberi penghargaan kepada para petani yang melebihi target panen, serta memperbudak para petani yang gagal memenuhi targetnya. Mereka menggunakan budak untuk berbagai proyek konstruksi, untuk menciptakan infrastruktur yang lebih baik.

Dia ingin memperbaiki sistem transportasi (jalan), sehingga pasukan bisa bergerak lebih mudah, dan untuk meningkatkan perdagangan lokal. Dia juga menyarankan untuk membentuk pasukan militer yang besar, dan produksi persenjataan terbaik. Teknologi kala itu sudah maju, sehingga peralatan dan senjata  yang terbuat dari besi menjadi umum di Negara Qin.

Negara Qin juga memiliki ratusan ribu tentara, yang terdiri dari pasukan kavaleri & infanteri yang banyak serta terorganisir. Dengan Negara yang telah berkembang menjadi kuat, membuat pasukan Qin yang besar bersiap untuk kampanye penaklukan.

Peta kekaisaran Dinasti Qin (221-206 SM)

4. Penaklukan dan Perluasan Militer

Pada tahun 269, seorang jenderal Zhao mengalahkan 2 pasukan besar Qin. Setelah ini, Fan Sui menjadi penasihat kepala penguasa Qin. Dia melembagakan kebijakan Legalisme yang dicetus Shang Yang, dan menganjurkan untuk menyerang negara-negara lain, serta membunuh orang-orang mereka untuk mengurangi populasi (ancaman).

Mereka mulai bersiap untuk penaklukan besar. Penguasa Qin memiliki keuntungan, karena wilayah mereka berada di ujung barat wilayah Negara-Negara Berperang, yang terlindung baik di balik gunung  dengan lintasan jalur yang bisa dipertahankan.

Terlindung dengan bentang alam yang baik di wilayah mereka, membuat mereka aman selama 1 generasi untuk fokus membangun pasukan, dan menyediakan ransum makanan (rantai pasokan yang baik, mulai dari ketersediaan lahan dan gudang beras) bagi ekspedisi mereka kelak, dan menambah cadangan emas (simpanan).

Mereka memaksa orang-orang untuk membangun Kanal Sungai Wei, Dujiangyan, jalan-jalan dan proyek-proyek lainnya. Qin Shihuang mulai memerintah Negara Qin pada tahun 246 SM, ketika dia berusia 13 tahun. Selama periode waktu yang singkat, pemerintahannya memulai kampanye untuk penaklukan, dengan menyerang wilayah negara2 lain.

Karena tidak siap, beberapa negara memilih menyerah sebelum bertempur.

Pada tahun 230 SM, Negara Han menyerah pada Qin. Tidak lama kemudian, mereka mengalahkan Negara Wei pada tahun 225 SM. Pada tahun 223 SM, mereka berhasil menaklukkan Negara Chu dengan telak, padahal Negara Chu sendiri memiliki pasukan yang besar dan wilayah yang luas, tetapi mereka terkejut dengan serangan mendadak.

Pada 222 SM, Qin menaklukkan Negara Yan dan Negara Zhao. Pada 221 SM, Qin menaklukkan Negara terakhir, Qi.

E. Awal Mula Kekaisaran Dinasti Qin

Dengan cara ini, hanya dalam waktu 9 tahun Negara Qin mengambil alih pemerintahan seluruh daratan wilayah China, dan mendirikan kekaisarannya yang baru. Raja Ying Zheng menyebut dirinya Qin Shi Huang, yang secara harafiah berarti “Kaisar dan Dewa pertama Kekaisaran Qin”.

Sentralisasi kekuasaan dan standardisasi di berbagai bangsa yang mereka taklukkan adalah prioritas mereka. Filsafat Legalisme Qin Shihuang, Shang Yang, membenarkan tindakan aturan ketat yang diambil pemerintah adalah untuk meningkatkan kekuatan kekaisaran, serta menjaga dominasi kaisar dan para pejabat agar tetap bertahan dipuncak.

Salah satu dekrit pertama Kekaisaran Qin adalah bahwa semua senjata harus diserahkan kepada mereka. Mereka memerintahkan bahwa setiap orang harus bertugas selama 1 tahun di ketentaraan (wajib militer). Dia memerintahkan penghancuran tembok2 pertahanan bekas perbatasan antar negara, dan pembangunan tembok besar pertama yang masif di utara.

Jenderal Meng Tian mensurvei geografi dan mengawasi pembangunan Tembok Besar, sebagai benteng di sepanjang perbatasan.

Pada tahun 214, untuk mengamankan perbatasan utara, sang Kaisar menunjuk Jenderal Meng Tian untuk memimpin pasukan sekitar 100.000 orang, untuk mengusir suku Xiongnu yang nomaden. Sebagai bagian dari strategi pertahanan melawan mereka, Meng Tian mensurvei keadaan geografi serta mengawasi pembangunan Tembok Besar dan benteng di sepanjang perbatasan.

Tembok besar yang dibangun di perbatasan wilayah utara memiliki panjang lebih dari 10.000 li, atau lebih dari 5.000 kilometer!

F. Akhir dari Kekaisaran Dinasti Qin

Semasa menjabat sebagai Kaisar, ada banyak upaya pembunuhan dalam hidupnya. Karena itu sang Kaisar membunuh banyak sarjana dan pejabat yang dicurigainya, serta memaksakan aturannya yang keras; sehingga hal ini membuat banyak orang yang membencinya.

Dia ingin hidup selamanya, dan dia mungkin telah meminum ramuan (yang sebenarnya terkandung zat beracun) yang diberikan oleh para imam Tao, untuk mencoba mendapatkan keabadian. Dia juga memerintahkan pembangunan kompleks Mausoleum Qin, di mana dia bisa tetap memerintah saat meninggal nanti.

Dia memiliki banyak Prajurit Terracotta yang dibuat (sesuai ukuran dan bentuk aslinya) untuk menjaganya di alam baka. Ketika Kaisar Qin Shihuang meninggal pada tahun 210, Li Si dan Zhao Gao menyembunyikan berita tentang kematiannya.

Baca juga : 10 Fakta Menakjubkan Yang Belum Anda Ketahui Tentang Pasukan Terakota

Mereka bermaksud untuk mengangkat putra sang Kaisar, Huhai, sebagai Kaisar Kedua, yang mereka anggap “mudah diatur”. Hu Hai akan dianugerahi gelar kaisar Qin Er Shi.

Dalam upaya meraih kekuasaan, intrik bunuh membunuh dalam lingkup istana pun tak terhindarkan.

Zhao Gao pun membunuh Li Si. Qin Er Shi juga membunuh anggota keluarganya yang laki-laki untuk mencegah upaya kudeta. Dia juga banyak mengeksekusi pejabat2 pemerintahan yang tidak mendukungnya, dalam upayanya untuk memperkuat pemerintahannya. Dia memerintahkan pengerjaan proyek dan kebijakan konstruksi yang bodoh, dan memaksa orang2 untuk mematuhinya.

Pada akhirnya, Zhao Gao (seorang kasim istana & seorang pejabat) memaksa Qin Er Shi untuk bunuh diri.

Keponakan Qin Er Shi yang bernama Ziying pun diatur sang kasim untuk menjadi Kaisar ketiga Dinasti Qin. Pada saat ini, telah terjadi banyak pemberontakan di seluruh penjuru negeri, dan banyak dari pejabat lokal mendeklarasikan diri mereka sebagai Raja (adipati) di wilayah mereka.

Sang Kaisar pun mencoba mempertahankan kekuasaannya, dengan mengakui kekuasaan mereka, sementara dia mencoba mempertahankan posisinya di wilayah2 yang masih dia kuasai.

Baca juga : 7 FAQ Terkait Pasukan Terakota dan Bagaimana Cara Mengunjungi Mereka

Pemberontakan yang lebih besar terhadapnya pun dimulai, dan Raja2 baru mulai bertempur. Diantara semua pemberontak, yang paling besar adalah dari wilayah Chu, di bawah pemimpin Liu Bang. Pada akhirnya Liu Bang pun mengalahkan Ziying, dan sang kaisar di eksekusi pancung pada tahun 207.

Kaisar Ziying tercatat hanya memerintah Qin yang telah terpecah belah selama 46 hari. Pada tahun 206, ibu kota Qin, Xianyang, diratakan oleh pasukan pemberontak lainnya, Xiang Yu.

Liubang (256-195 SM)

Ini adalah akhir dari Kekaisaran Qin. Liu Bang mengalahkan saingan utamanya dalam perang untuk menjadi kaisar dari kerajaan barunya, dengan mendirikan Dinasti Han, dan menjadi Kaisar Gaozu dari Han.

Baca juga : Dinasti Han, Dinasti Kekaisaran Terpanjang (Terlama) di Tiongkok

G. Legacy Dinasti Qin

Klan Dinasti Qin hanya bertahan selama 15 tahun, dan berakhir dengan berbagai intrik pembunuhan. Tetapi selama masa pemerintahannya yang singkat, mereka menghancurkan lebih dari 1/2 populasi manusia di China kala itu, dan melenyapkan sebagian besar budaya, sastra, dan pengetahuan dari era Dinasti Zhou.

Diperkirakan bahwa populasi turun dari sekitar 40 juta di sekitar awal masa pemerintahan mereka, menjadi sekitar 18 juta di akhir masa pemerintahannya.

Dalam menjalankan rencananya, mereka menyebabkan kesengsaraan dan kehancuran yang sangat besar bagi rakyatnya. Tetapi mereka berhasil membangun banyak infrastruktur, seperti jalan, kanal, dan Tembok Besar, yang menguntungkan kerajaan kemudian hari.

Mereka juga berhasil membakukan bahasa tertulis yang diprakarsai Li Si, menjadi bahasa yang umum digunakan untuk seluruh wilayah; dan hal ini tetap bertahan hingga dinasti2 sesudahnya, bahkan sampai di era modern ini. Dengan standarisasi huruf, mata uang, satuan pengukuran, bahkan hingga adat & tradisi, mereka telah meletakkan fondasi bagi kekaisaran2 di masa depan.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow Facebook & Twitter @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *