Last Updated on 4 February 2021 by Herman Tan

Setelah merayakan tahun baru masehi di 1 Januari, masyarakat Tionghoa juga sebentar lagi akan segera merayakan sincia, atau tahun baru Imlek.

Orang2 Tionghoa di seluruh dunia memanfaatkan momen malam Imlek untuk berkumpul bersama keluarga. Orang2 yang bekerja atau belajar di luar kota atau luar negeri pun biasanya kembali untuk momen spesial ini.

Makanan di malam Imlek biasanya merupakan makanan2 yang mewah dan lezat. Di atas meja tersedia berbagai jenis makanan, mulai dari ayam, bebek, babi, ikan, sup, sayur, salad, dan lainnya. Tapi ada beberapa jenis makanan yang biasanya tidak pernah terlewatkan.

Berikut ini 8 makanan khas Imlek yang sering disajikan warga Tionghoa di Indonesia.

1. Kue Keranjang

Kue keranjang merupakan hadiah yang paling umum diberikan saat tahun baru Imlek

Kemunculan kue keranjang di toko-toko dan pasar adalah tanda bahwa Imlek sudah dekat. Makanan ini biasanya menjadi hantaran wajib untuk sanak saudara dan kolega.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa kue keranjang bermakna ‘menutup langit agar tidak hujan’, maksudnya untuk mencegah agar tidak terjadi hal-hal buruk. Kue keranjang, atau Niangao (年糕), juga bermakna ‘tahun mendatang yang lebih baik’.

Karena maknanya yang dalam, maka kue ini menjadi makanan utama saat Imlek. Di Tiongkok, ada semacam kebiasaan untuk menyantap kue keranjang terlebih dulu disaat malam tahun baru, untuk mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan. Setelah itu kue ini dimakan, baru menyantap menu makanan lainnya.

Hantaran hadiah berupa kue keranjang juga memiliki makna lain. Kue keranjang yang lengket, bermakna mempererat persaudaraan, bentuknya yang bulat melambangkan persaudaraan tanpa akhir, dan teksturnya yang ulet menggambarkan kegigihan serta ketekunan untuk meraih tujuan.

Baca juga : Resep Membuat Kue Keranjang (Nian Gao) Khas Imlek

2. Siu Mie atau Mie Panjang

Mie yang disantap bersama keluar pada saat momen Imlek

Seperti yang banyak diketahui, makna dari makanan mie ini adalah umur panjang. Namun, ada makna lain yang terkandung, yakni kebahagiaan dan rejeki yang berlimpah! Banyak warga Tionghoa percaya bahwa saat Imlek, mie harus dimakan seluruhnya, dari ujung ke ujung agar harapan tersebut terwujud.

Karena itu, memakan mie sebaiknya menggunakan sumpit agar mie tidak putus.

Biasanya, mie dicampur dengan berbagai lauk yang lain, seperti potongan daging ayam, babi, cumi, udang, dan sebagainya, agar rasanya lebih nikmat. Biasanya, siu mie dihidangkan saat makan malam di malam perayaan tahun baru.

Sebelum makan, akan dipanjatkan harapan dan doa-doa terlebih dahulu agar tahun depan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Inilah 9 Festival Budaya Tionghoa Yang Masih Terus Dilakukan

Baca juga7 Hidangan Wajib di Tahun Baru Imlek : Hidangan Keberuntungan dan Maknanya

3. Salad Yu Sheng

Pekikan Huat ah! suka diteriakkan masyarakat Tionghoa Malaysia dan Singapore ketika sedang meyumpit mie atau Yu Sheng ini. Kalian tahu apa artinya?

Yu Sheng biasanya menjadi makanan pembuka. Makanan ini berupa salad warna warni karena merupakan kombinasi berbagai sayuran dan ikan segar. Sajian khas Imlek ini berasal dari Singapura, sekitar tahun 1960-an. Yu Sheng dibuat dengan campuran bumbu air lemon, garam, merica, dan minyak kacang manis.

Yu Sheng bermakna ‘peruntungan’. Cara makannya disebut dengan Lo Hei. Menurut kebiasaan, Lo Hei adalah prosesi mengaduk saus, ikan, serta sayuran, dengan cara diangkat tinggi-tinggi di atas piring. Makin tinggi Yu Sheng terangkat, dipercayai peruntungan pada tahun yang baru juga makin baik.

Yu Sheng diaduk berbarengan oleh orang yang duduk satu meja, disertai ucapan2 selamat tahun baru.

4. Ikan (Khususnya Ikan Bandeng)

Menu ikan adalah salah satu ‘menu wajib’ dalam perayaan Imlek

Menu lain yang wajib ada di meja makan saat Imlek adalah ikan bandeng. Ikan Bandeng dianggap sebagai lambang rejeki dan bisnis yang lancar. Karena hal tersebut, menyajikan ikan bandeng saat Imlek harus secara utuh!

Ikan yang disajikan saat Imlek memang tidak melulu ikan bandeng. Ikan (鱼, Yú), pelafalannya sama dengan kelimpahan (余, Yú). Karena itu, ikan dianggap sebagai simbol rejeki dan kemakmuran. Pilihan ikan bandeng ini lebih khas dengan warga Tionghoa Indonesia, dibanding masyarakat Tionghoa perantauan di Negara lain.

Ada ungkapan yang biasa diucapkan ketika Imlek, yang berbunyi 年年有余 (Nian Nian You Yu), yang berarti “selalu ada lebih dari tahun ke tahun”. Diharapkan dengan adanya sajian menu ikan (鱼), tahun ini kita bisa mempunyai penghasilan dan kebahagiaan yang berlebih.

5. Manisan atau Permen

Tray of happiness, atau disebut juga candy box, berisi bermacam-macam manisan.

Saat Imlek, manisan disajikan dalam baki atau tempat makanan berbetuk segi delapan, yang juga sering disebut tray of happiness, atau baki kebahagiaan.

Karena tempatnya ada 8, maka ada 8 jenis manisan yang mengandung arti masing-masing. Menurut penulis IDN Times, makna dari ke-8 manisan tersebut adalah :

1. Manisan melon, melambangkan kesehatan dan perkembangan hidup.
2. Jeruk kumquat, melambangkan kemakmuran dan emas.
3. Kelapa kering atau kelapa segar, melambangkan persatuan dan persahabatan.
4. Kelengkeng, melambangkan banyak anak.

5. Biji teratai, melambangkan kesuburan.
6. Buah leci, melambangkan ikatan keluarga yang kuat.
7. Kacang tanah, melambangkan doa agar panjang umur.
8. dan Semangka merah, melambangkan kebahagiaan dan kejujuran.

Baca juga : Inilah 5 Makanan Pembawa Keberuntungan Saat Imlek

Baca Juga :  8 Menu Hidangan Tiongkok Populer Yang Patut Anda Coba

6. Jiaozi atau Pangsit

Jiaozi, atau Suikiaw, mewakili sajian dimsum dalam menu Imlek

Di Indonesia, Jiaozi disebut juga Kuo Tie, sering ditemukan dalam sajian dimsum. Jiaozi juga sering disebut dengan ‘yuan bao‘, atau roti uang. Bentuk dari pangsit ini memang dibuat menyerupai uang Tiongkok di masa lampau.

Sesuai dengan namanya, tentu saja makanan ini bermakna harapan akan kelancaran rejeki dan keberhasilan usaha di tahun mendatang dengan ‘memakan uang‘.

Menurut Departemen Antropologi Universitas California Selatan, jiaozi mulai muncul pada jaman Dinasti Song (960-1279 M), ketika uang kertas mulai dicetak. Uang kertas ini disebut ‘jiaozi’. Dari sumber yang sama, jiaozi disebut memiliki makna ‘tengah malam’ atau ‘akhir dan awal waktu’.

7. Sup Hisit, atau Sup Sirip Ikan

Sup sirip ikan biasanya ada pada setiap acara2 besar masyarakat Tionghoa, termasuk di pesta perkawinan

Sup sirip ikan sudah terkenal sejak jaman kekaisaran Tiongkok. Makanan ini memiliki ‘prestise’ yang tinggi karena semakin langka ikannya, semakin mahal pula harganya.

Salah satu contohnya adalah sup sirip ikan hiu. Pada jaman dulu, hanya Kaisar yang sanggup membeli sup sirip ikan hiu. Namun, akhir-akhir ini, banyak kontroversi mengenai memakan sirip ikan hiu. BPOM telah jelas mengumumkan bahwa kandungan merkuri dalam sirip hiu berbahaya bagi kesehatan.

Akibatnya bagi konsumen adalah kelainan syaraf, dan bagi ibu hamil bisa menyebabkan bayi cacat. Namun, tidak perlu khawatir. Ada berbagai pilihan ikan yang lain, yang lebih sehat untuk dikonsumsi.

8. Olahan Daging Babi

Daging babi masak asam manis

Menu daging babi merupakan salah satu ‘makanan wajib’ bagi semua masyarakat Tionghoa 🙂

Olahannya macam2, mulai dari babi bakar yang dipotong tipis2, babi asam manis, babi masak cuka, babi kecap, babi panggang/babi guling (apalagi bagian kulit babinya itu yang kriuk-kriuk), dan sebagainya. Tapi konsumsi yang wajar, karena kadar kolesterol daging babi cukup tinggi. Imbangi dengan makan sayur & buah!

Pilihan makanan-makanan di atas, selain memiliki filosofi yang dalam, juga bercita rasa istimewa dan cocok sebagai hidangan di hari spesial. Maka dari itu, menu ini sangat cocok digunakan sebagai nama makanan di tahun baru Imlek.

Baca juga : Resep Daging Babi Asam Manis

By Nabilla Khudori

Saya seorang Head of Business Development di sebuah startup. Dengan menulis, saya dapat belajar dan berbagi pengalaman dengan khalayak. Memahami budaya Tionghoa menarik bagi saya yang lahir dan besar di lingkungan yang plural. Hal ini juga menjadikan saya memiliki banyak referensi mengenai budaya dan adat Tionghoa. Meskipun begitu, saya merasa masih harus belajar lebih untuk memahami budaya Tionghoa itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO!