Last Updated on 5 May 2021 by Herman Tan

Sebelum hari pernikahan, biasanya dilakukan prosesi/acara tunangan atau Tinghun (订婚; Dinghun; got engaged) yang dilakukan oleh pihak mempelai pria.

Sebagian masyarakat Tionghoa beranggapan, bahwa hal ini sama saja dengan Dingjing (Tingjing), dan mereka lebih memilih untuk meringkasnya (menggabungkannya) karena kesibukan kerja dan biaya pernikahan.

Apalagi mengingat jaman sekarang yang lebih simpel, hal ini bisa dibicarakan atas kesepakatan keluarga kedua keluarga besar calon mempelai. Ini merupakan lanjutan dari artikel Tingjing (Dingqin), Prosesi Lamaran ala Tradisi Tionghoa (Wedding Proposal). Yuk simak ulasannya dibawah.

Apa Itu Tinghun (订婚; Dinghun)?

Nah, kalau Tingjing adalah acara LAMARAN, maka Tinghun inilah yang dinamakan acara PERTUNANGAN versi Tionghoa (lebih tepatnya orang2 Hokkian).

Ding Hun/Ting Hun (Dalam mandarin, huruf “D” dibaca “T”) sendiri, Ding 订 artinya “setuju, menetapkan”, sementara Hun 婚 artinya “menikah”; jadi secara harafiah artinya “menetapkan pernikahan” atau “menyetujui pernikahan” untuk segera dilaksanakan.

Lalu apa beda antara Lamaran dan Tunangan?

Kalau LAMARAN versi barat itu, prosesi/saat dimana sang pria melamar wanita “Will you marry me? Atau “Bersediakah kau menikah denganku?” hehe. Apabila sang wanita menerima lamaran tersebut, baru dilanjutkan pertemuan kedua keluarga besar masing2 pihak  untuk saling diperkenalkan.

Biasanya, pihak keluarga mempelai pria akan datang ke kediaman rumah mempelai wanita, atau kedua belah pihak melakukan perjanjian bertemu di sebuah restoran untuk perkenalan antar keluarga.

Inti pembicaraan dalam proses lamaran ini adalah permintaan ijin untuk meminang sang wanita. Kemudian penentuan waktu untuk kapan diadakan acara pertunangan dan pernikahan.

Nah, datang melamar ke rumah keluarga mempelai wanita kan engga mungkin hanya bermodal dengkul dan sandal, wkwk. Nanti bisa diusir keluarga calon mertua gan! Nah, dalam adat Tionghoa, harus ada barang2 hantaran (dalam box/baki) yang disediakan dengan baik.

Sementara PERTUNANGAN adalah sebuah acara resmi yang dilakukan oleh kedua pasangan dan keluarga besarnya masing2, dengan maksud melangsungkan komitmen ke arah pernikahan.

Pertunangan biasanya diadakan ketika mendekati Hari-H pernikahan. Pertunangan sendiri diikatkan melalui simbol, seperti cincin pertunangan atau kalung.

Dalam prosesi Tingjing, calon mempelai wanita akan dipakaikan kalung oleh Ibu dari calon mempelai pria. Sementara dalam prosesi Tinghun, sama seperti layaknya acara-acara pertunangan pada umumnya, calon mempelai wanita dan pria akan saling bertukar cincin.

Nah, pada saat hari Tinghun atau pertunangan, cincin ini akan dipakaikan di jari manis tangan kiri oleh masing2 mempelai, yang menandakan ikatan antar insan.

Tinghun, pertunangan orang Tionghoa
Prosesi Tinghun, atau acara pertunangan resmi orang Tionghoa

Baca juga : Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa

Meski begitu, ada juga pasangan yang memakai cincin tunangan di jari manis kanan. Ada juga yang karena alasan kidal (menulis dengan tangan kiri, jadi agak menyulitkan ketika cincin dikenakan di tangan kiri). Jadi, ada baiknya hal ini dibicarakan sebelumnya oleh pasangan.

Tradisi Tinghun atau acara pertunangan biasanya dilakukan tidak jauh dari hari pernikahan (Hari-H) yang telah ditetapkan. Tapi umumnya berkisar antara seminggu s/d sebulan. Karena itu, sebagian orang menganggap hal ini dianggap sebagai tradisi pre-weddingnya orang Tionghoa.

Jadi, acara tinghun ini intinya soal tukar cincin saja antar pempelai, yang disaksikan oleh keluarga besar kedua mempelai. Dalam acara inipun diadakan jamuan makan bersama, untuk saling mengenal dan meng-akrabkan kedua keluarga besar.

Karena itu banyak orang Tionghoa saat ini yang sudah menggabungkan, ataupun menyamakan antara prosesi Tingjing, Tinghun, dan Sangjit.

Tampak prosesi Dinghun (订婚) yang digabung dengan prosesi Sangjit, terdapat momen tukar cincin antar mempelai yang disaksikan oleh keluarga (foto : byric-kurniawan.blogspot.com)

Kalau pihak keluarga sebelumnya sudah melakukan Tingjing atau acara lamaran, sebenarnya sudah tidak perlu melakukan acara Tinghun atau prosesi acara tukar cincin lagi, karena ini akan dilakukan (diulangi, dan lebih disakralkan) pada acara Pemberkatan/Akad Nikah.

Menikah tanpa Tingjing atau Tinghun pun sebenarnya bukan masalah. Bisa saja hanya Sangjit, lalu kemudian menikah.

Apalagi barang2 seserahan dalam prosesi Tingjing pun kurang lebih sama dengan prosesi Sangjit (simbolis kebutuhan2 hidup pasangan ini nanti, seperti perhiasan, tas, sepatu, pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan makan, makanan kaleng, buah2an, lilin, arak, dsb).

Tingjing dapat dilakukan jauh2 hari sebelum pernikahan, antara 1 bulan s/d 1 tahun, sebagai tanda ikatan jadi (anak gadis orang sudah dilamar secara resmi, jadi pesaing harap mundur, heee). Sedangkan Tinghun biasanya dilakukan 1 minggu s/d 1 bulan sebelum menikah.

Prosesi Tinghun ini pun biasanya hanya dilakukan oleh orang2 suku Hokkian (propinsi Fujian dan sekitarnya, termasuk Taiwan dan masy. Tionghoa perantauan di Malaysia, Singapore, dan Indonesia).

Sama seperti Tingjing, tradisi Tingjun ini pun bisa dibuat sederhana atau semeriah, tergantung maunya gimana/enaknya saja antar keluarga mempelai. Umumnya, keluarga Tionghoa yang banyak duit mapan (wealthy family), akan melangsungkan acara ini di hotel atau restoran. Namun bisa juga dilangsungkan di kediaman mempelai wanita.

Baca juga : Tradisi Tea Pai Dalam Rangkaian Pernikahan Adat Tionghoa

Pertanyaan2 yang paling sering ditanyakan (Q n A) :

1. Pertanyaan : Apakah janda (sudah pernah menikah) harus melakukan acara Tinghun/Tingjing lagi jika ingin menikah? Atau bagaimana jika ada wanita yang putus sebelum pernikahan dikarenakan suatu dan lain hal, apakah harus melakukan prosesi ini lagi?

Jawab : Kembali lagi sesuai kesepakatan antar kedua belah pihak. Ada juga yang kembali melakukan semua tahapan prosesi, contoh kasus penyanyi Delon (yang putus dengan Yeslin Wang, cerai 2019), dimana tetap melakukan acara lamaran Tionghoa pada istri barunya. Namun hal ini dilakukan apabila istri barunya masih berstatus single.

2. Pertanyaan : Apakah proses Tingjing harus kalung? Bagaimana jika calon ibu mempelai pria yang ibunya sudah meninggal (siapa yang akan menggantikannya)?

Jawab : Mengenai perhiasan yang akan dijadikan tanda pengikat, bisa dibicarakan kedua mempelai saja. Bisa saja gelang, anting, atau pershiasan lainnya. Inti dari prosesi ini sebenarnya melambangkan “pengikatan” antar 2 insan.

Mengenai ibu mempelai pria yang sudah almarhumah, bisa diganti oleh kakak perempuan tertua dari mempelai pria, atau tante (kakak perempuan si ibu) sebagai yang dituakan.

Catatan! Istilah dan prosesi Tinghun dan Tingjing ini umumnya hanya dilakukan masyarakat Tionghoa orang2 Hokkian (suku Tionghoa mayoritas di Indonesia). Istilah dan prosesinya bisa berbeda dengan tradisi orang Kanton, orang Hakka, dan lainnya.

Baca juga : Tingjing (Dingqin), Prosesi Lamaran ala Tradisi Tionghoa (Wedding Proposal)

Semoga artikel ini membantu bagi pembaca yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan mengikuti tradisi Tionghoa!

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?