Last Updated on 26 August 2018 by Herman Tan

Waktu itu saya semester satu. Di satu malam kami habis makan-makan. Kebetulan udara di luar cukup sejuk dan nyaman, jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan sepanjang jalur bus menuju kampus. Pas sampai di depan aula Daren, tiba-tiba sebuah bus jurusan 260 melaju dengan kecepatan tinggi melewati kami. Pada saat kami hendak memaki, terdengar suara kucing mengeong lemah.

Ternyata ada kucing di sisi seberang. Setelah dilihat lebih dekat, pemandangannya sungguh kasihan sekali …

Seekor kucing terserempet oleh bus di sisi. Usus di sebelah kirinya pun sudah keluar. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya keempat kakinya menggapai-gapai langit, seolah-olah ingin mendapatkan udara untuk terakhir kalinya. Mulutnya tidak henti-hentinya mengeong.

Pada saat ini, teman saya (yang pernah menjadi pendeta Tao itu) berteriak, “Jangan lihat mata kucingnya! Jangan terlihat oleh dia juga! Cepat menyingkir!”

Teman kami itu menyuruh kami anggap gak pernah melihat kucing itu dan berjalan.

Pada saat kami meninggalkan tempat situ, dari arah kampus datang dua mahasiswi. Sepertinya mereka tidak menyadari ada kucing yang tertabrak, sehingga berjalan mendekat ke situ. Salah satunya malah berjongkok melihat kucing itu.

Pada saat si perempuan itu berjongkok sebenarnya kami sudah merasa akan terjadi sesuatu. Dan benar saja, beberapa saat kemudian si perempuan itu menjerit pilu. Salah satu teman kami (yang dari jurusan jurnalistik) tiba-tiba berlari ke arahnya dan menariknya menghindar dari tempat itu.

Belakangan saya baru tahu kalau mereka itu kenalan, sama-sama anak UKM Sastra Jepang. Si anak perempuan itu pun jatuh pingsan. Temannya yang satu lagi membawanya kembali ke asrama. Teman kami pun cerita alasan dia menyuruh kami menyingkir karena pada saat itu ada kemungkinan roh sedang mencari badan pengganti.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kucing merupakan makhluk yang mengandung unsur Yin yang sangat kentara. Pada saat kucing masih hidup, roh-roh di dunia sana bisa meminjamkan tubuh kucing untuk mengunjungi dunia sini.

Itu sebabnya mengapa ketika proses perkabungan orang Tionghoa, pada malam hari harus dijaga jenazahnya.

Kalau sampai kucing mendekati, dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh roh-roh gentayangan untuk menggunakan tubuh jenazah untuk bertukar arwah.

Kemungkinan lain lebih mengerikan lagi. Biasanya arwah-arwah yang meninggal dengan tidak wajar (bunuh diri, kecelakaan) tidak bisa bereinkarnasi. Tidak semua arwah ini memiliki kemampuan untuk menjelajah di dunia manusia (ataupun membuat keanehan di dunia manusia).

Jadi, karena arwah ini tidak bisa sendiri mencari pengganti, dia harus meminjam tubuh kucing untuk mencari pengganti. Dan satu-satunya cara untuk mengganti badan adalah dengan membunuh kucing perantara tersebut. Kemudian memanfaatkan mata kucing, roh jahat ini akan menembus ke target tubuh penggantinya.

Korban biasanya tidak akan langsung meninggal. Melainkan perlahan-lahan jiwa/roh korban diporak-porandakan sehingga membuat dia kehilangan konsentrasi dan kesadaran. Setelah waktu yang tepat tiba, sang korban akan meninggal dengan tidak wajar dan tujuan sang roh jahat itu pun tercapai.

Mengapa teman kami itu merasa kucing itu seperti roh jahat sedang mencari pengganti? Soalnya lokasi insiden terjadi di samping aula Daren. Tempat sini memang dikenal banyak roh dan arwah. Hampir setiap tahun ada mahasiswa yang meninggal tidak wajar (lompat bunuh diri), jadi kemungkinannya sangat tinggi.

Dan lagipula, postur kucing itu saat berjuang, tidak peduli bagaimanapun dia berusaha bergerak, sepertinya terpaku di satu titik seolah-olah ada kekuatan tidak terlihat yang menekan dia. Itu sebabnya terlihat lebih mencurigakan.

Setelah mendengar penjelasan teman kami itu, jadi merasa seram saja. Tanpa diduga, sehabis kuliah malam berikutnya, saya mendengar anak-anak asrama pada berdiskusi dengan serius. Ternyata semenjak insiden semalam itu, si mahasiswi itu pun menjadi seperti linglung dan tidak bisa berkonsentrasi.

Teman kami yang paham Tao itu pun menyarankan supaya si mahasiswi ini segera pulang ke rumah saja, lalu cari orang pintar untuk mengembalikan jiwanya lagi. Saya yang mendengar di sampingnya merasa sedikit merinding. Kok seram begitu yah?

Akhirnya dua teman asrama pergi mengantar dia. Saya sebetulnya ingin ikut pergi, cuma takut dicap “kepo”, akhirnya main Nintendo dengan teman yang lain.

Bersambung ke part 07

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Jangan jadi penulis dengkulan, yg bermodal Copas artikel Tionghoa.INFO