Last Updated on 24 August 2021 by Herman Tan

Marga Tionghoa merupakan marga yang digunakan orang Tionghoa. Marga (Hanzi: 姓氏, pinyin: xingshi) biasanya berupa satu karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang.

Ada pula marga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter marga seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, pinyin: fuxing). 

Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku2 minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Tionghoa. Marga dalam suku2 minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku2 minoritas tadi ke dalam Hanzi.

Penggunaan marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih.

A. Evolusi Nama Tionghoa

Di zaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya.

Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. Juga ada yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Pada jaman dinasti Shang, orang2 masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum jaman dinasti Han, biasanya nama Tionghoa hanya terdiri dari 2 karakter yang terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama.

Namun setelah Dinasti Han, orang2 mulai memiliki sebuah nama lengkap yang terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga dan 2 karakter nama pribadi yang terdiri dari 1 karakter nama generasi dan 1 karakter nama diri) selain daripada nama resmi mereka yang 2 karakter itu.

Sedangkan pada jaman dinasti Jin, orang2 baru memakai nama dengan 3 karakter seperti yang kita kenal sekarang. Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi penonjolan karakter seseorang.

Pada kasus2 yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari 3 karakter :

• 2 karakter marga (seperti Sima, Zhuge), 1 karakter generasi, dan 1 karakter nama diri. Contoh: Sima Xiangru, Zhuge Wuwei.

• 1 karakter marga dan 3 karakter nama. Contoh: Hong Tianguifu (anak dari Hong Xiuquan).

• Nama marga suku minoritas yang mengadopsi nama Tionghoa. Contoh : suku Manchu yang menguasai dinasti Qing menggunakan marga Aisin Gioro; kaisar dinasti Qing terakhir bernama Aisin Gioro Puyi (enam karakter).

Baca juga : Mau Punya Nama Mandarin? Simak 4 Cara Pemberian Nama Tionghoa Berikut

B. Tingkatan Marga

Di zaman dulu, marga2 tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga2 lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di China.

Ini dapat dilihat di zaman Dinasti Song, misalnya Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.

Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Munculnya berbagai macam marga antara lain karena :

1. Menggunakan lambang2 suku2 kuno, misalnya Ma (kuda), Long (naga), Shan (gunung), Yun (awan)
2. Menggunakan nama negara, misalnya: Qi, Lu, Wei, Song

3. Menggunakan daerah kekuasaan, misalnya: Zhao, yang mendapatkan daerah kekuasaan di kota Zhao.
4. Menggunakan gelar jabatan, misalnya: Sima (menteri Perang), Situ (menteri tanah dan rakyat), Sikong (menteri Pu)

5. Menggunakan nama pekerjaan, misalnya: Tao (keramik), Wu (dukun/tabib)
6. Menggunakan tanda dari tempat tinggal, misalnya: Ximen (gerbang barat), Liu (pohon yangliu), Chi (kolam)

Baca juga : Bai Jia Xing : Asal Usul Marga Tionghoa di Indonesia

C. Nama Tionghoa di Indonesia

Marga Tionghoa

“名不正则言不顺, 言不顺则事不成.” (Míng bù zhèngzé yán bù shùn, yán bù shùn zé shì bùchéng).

Pepatah Tiongkok diatas diungkapkan oleh Confucius, seorang cendekiawan. Arti oepatah diatas “Ketika nama seseorang tidak tepat, Maka kata2 seseorang tidak dapat diterima. Jika kata2 seseorang tidak diterima, maka seseorang tidak dapat mencapai apa pun”.

Pepatah ini mengungkapkan tentang pentingnya nama seseorang, karena itu adalah bagian yang paling mendasar dari identitas seseorang.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia walau telah berganti nama dan marga Indonesia, namun masih banyak yang tetap mempertahankan marga dan nama Tionghoa mereka; dimana masih digunakan sebagai panggilan pada acara2 tidak resmi, atau acar2 yang bersifat kekeluargaan.

Diperkirakan ada sekitar 300-an marga Tionghoa di Indonesia. Data di PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) mencatat ada sekitar 160 marga Tionghoa di Jakarta.

Marga Tionghoa di Indonesia mayoritas dilafalkan dalam dialek Hokkian (Minnan). Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas keturunan Tionghoa Indonesia adalah berasal dari Provinsi Fujian.

Di Singapura sendiri ada sekitar 320-an marga Tionghoa. Atas dasar ini, karena daerah asal suku Tionghoa di Indonesia relatif dekat dengan Singapura, maka dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah marga Tionghoa di Indonesia sendiri pasti melebihi 320 marga.

Marga yang lazim di kalangan Tionghoa Indonesia misalnya :

• Cia/Tjia (Hanzi: 謝, pinyin: Xie)
Gouw/Goh (Hanzi: 吳, pinyin: Wu)
• Kang/Kong (Hanzi: 江, pinyin: Jiang)

Lauw/Lau (Hanzi: 劉, pinyin: Liu)
Lee/Lie (Hanzi: 李, pinyin: Li)
Oey/Ng/Oei (Hanzi: 黃, pinyin: Huang)

Ong (Hanzi: 王, pinyin: Wang)
Tan (Hanzi: 陳, pinyin: Chen)
Tio/Thio/Theo/Teo (Hanzi: 張, pinyin: Zhang)
Lim (Hanzi: 林, pinyin: Lin)

Baca juga : Daftar Urutan Marga Tiongkok

Masih banyak lagi marga2 lain yang dapat ditemui. Sebagai info, pengguna marga tionghoa terbanyak di dunia adalah marga Li [], lalu diikuti marga Wang [] di tempat kedua dan marga Zhang [] di tempat ketiga.

Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan (romanisasi) yang tepat. Hal ini menyebabkan banyak marga yang pelafalannya sama dalam dialek Hokkian, sehingga kadang dianggap marga yang sama, padahal sesungguhnya tidak. Misalnya :

• Tio selain merujuk kepada marga Zhang (張) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Zhao (趙)
• Ang selain merujuk kepada marga Hong (洪) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Weng (翁)

Suku Tionghoa Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata2 masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal karakter Han, namun biasanya nama Tionghoa di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi.

Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama2 Tionghoa berdialek Hokkian lebih lazim dari pada dialek2 lainnya.

D. Daftar Marga Tionghoa yang di Indonesiakan

Tabel dibawah berdasarkan penulisan pinyin. Karakter yang menggunakan koma berarti ada lebih dari satu macam karakter untuk pinyin yang sama. Karakter dengan tanda garis miring berarti di sebelah kiri adalah Hanzi tradisional, dan di sebelah kanan Hanzi sederhana.

Nama Tionghoa → Ejaan Latin, Ejaan Hokkian, Ejaan Kanton, Ejaan Khek atau ejaan lainnya → Peng-Indonesiaan nama

1. 歐陽/欧阳 (Oūyáng); Auwjong = Ojong.
2. 安 (Ān); An = Anadra, Andy, Anita, Ananta.
3. 蔡 (Cài); Tjae, Tjoa= Cahyo, Cahyadi, Tjohara.
4. 程, 成 (Chéng); Seng = Sengani.

5. 陳/陈 (Chen); Tan, Tjhin = Tanto, Tanoto, Tanu, Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tandiono, Tanujaya, Tanuwijaya, Tanzil, Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanusudibyo, Tanoesoedibjo, Tanamal, Tandy, Tantra, Tanata, Intan.
6. 鄧/邓 (Deng); Teng = Tenggara, Tengger, Ateng.
7. 徐 (Xú); Hsu, Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Teochew, Hokkien), Tsui (Cantonese) = Dharmadjie, Christiadjie.
8. 胡 (Hú); Hu, Hoo, Aw, Auw (Teochew, Hokkien), Wu (Cantonese) = ?

9. 郭 (Guo); Kuo, Kwee, Kwik = Kartawiharja, Kusuma, Kusumo, Kumala.
10. 韓/韩 (Han); Han = Handjojo, Handaya, Handoyo, Handojo, Hantoro.
11. 何 (He); Ho = Honarto.
12. 洪 (Hong); Hung, Ang = Anggawarsito, Anggakusuma, Angela, Angkiat, Anggoro, Anggodo, Angkasa, Angsana.

13. 黄 (Huang); Oei, Oey, Oen, Bong = Wibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto, Willys, Wirya, Wiraatmadja , Winarto, Witoelar, Widodo, Wijonarko, Wijanarko, Oentomo.
14. 江 (Jiang); Ciang, Kang, Kong = Kangean.
15. 李 (Li); Li, Lie, Lee = Lijanto, Liman, Liedarto, Lieva.
16. 梁 (Liang); Nio = Liangani, Liando, Liandow, Liandouw, Niopo.

17. 林 (Lin); Liem, Lim = Halim, Salim, Limanto, Limantoro, Limianto, Limijanto, Liemena, Alim, Limawan, Liemantika, Liman.
18. 劉/刘 (Liu); Lau, Lauw = Mulawarman, Lawang, Lauwita, Lawanto, Lauwis.
19. 陸 (Lu); Liok, Liuk = Loekito, Loekman, Loekali.
20. 呂 (Lü); Loe, Lu = Loekito, Lukito, Lukita, Luna, Lukas, Loeksono.

21. 羅 (Luo); Ro, Loe, Lou, Lo, Luo = Lolang, Louris, Robert, Rowi, Robin, Rosiana, Rowanto, Rohani, Rohana, Samalo, Susilo.
22. 施 (Shi); Sie = Sidjaja, Sidharta, Sieputra.
23. 司徒 (Situ); Sieto, Szeto, Seto, Siehu, Suhu = Lutansieto, Suhuyanli.
24. 蘇/苏 (Su); Souw, So, Soe = Soekotjo, Soehadi, Sosro, Solihin, Soeganda, Suker, Suryo, Surya,Soerjo.

25. 王 (Wang); Ong, Wong, Bong = Ongko, Wangsadinata, Wangsa, Radja, Wongsojoyo, Ongkowijaya, Wijaya.
26. 温 (Wen); Oen, Boen, Woen = Benjamin, Bunjamin, Budiman, Gunawan, Basiroen, Bunda, Wendi, Unang, Wiguna.
27. 吴, 武, 伍, 烏 (Wu); Goh, Go, Gho, Gouw, Ng = Gono, Gondo, Sugondo, Gozali, Gossidhy, Gunawan, Govino, Gotama, Utama, Widargo, Wurianto, Sumargo, Prayogo, Yoga.
28. 許/许 (Xu); Kho, Khouw, Khoe = Kosasih, Komar, Kurnia, Kusnadi, Kholil, Kusumo, Komara, Koeswandi, Kodinata.

29. 謝 (Xie); Cia, Tjia =  Tjiawijaya, Tjahyadi, Sudarmadi, Ciawi.
30. 楊/杨 (Yang); Njoo, Nyoo, Njio, Injo, Inyo, Jo, Yo, Yong = Yongki, Yoso, Yohan, Yuwana, Yudha, Yosadi.
31. 葉/ 叶 (Ye); Yap, Jap = Japhar, Djapri, Yapari.
32. 曾 (Zeng); Tjan, Tsang = Tjandra, Chandra, Tjandrakusuma, Candrakusuma.

33. 張/张 (Zhang); Thio, Tio, Chang, Theo, Teo, Tjong = Canggih, Setyo, Setio, Sulistio, Sutiono, Santyoso.
34. 鄭/郑 (Zheng); Te, The = Tjokrorahardjo, Cokroraharjo, Tjokrowidjokso, Cokrowijokso.
35. 朱 (Zhū); Zhu = Zulkifri, Zuneng.

Buku Seratus Marga Tiongkok
Buku Seratus Marga Tiongkok. Sumber: catawiki.nl

Catatan :

1. Penulisan marga ditulis dengan huruf hanzi tradisional terlebih dahulu, baru diikuti hanzi sederhana dengan tanda pemisah garis miring (/).
2. Tanda koma (,) menandakan terdapat penulisan marga hanzi yang lain.

Pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka; dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim.

Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan, sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang2 dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Tionghoa sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa.

Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat China dengan Indonesia setelah peristiwa G30S/PKI.

Pada tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang2 Tionghoa demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa. Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri dan cemoohan dari kalangan anti Tionghoa.

Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang, dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya.

Cemoohan datang dari Organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang pada waktu itu mengumandangkan nada2 anti Tionghoa, yang menyatakan bahwa mengganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa.

Mereka juga menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRC (Republik Rakyat China) di Indonesia ke negara leluhurnya.

Kebijakan ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi, karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.

E. Catatan Seputar Marga Tionghoa (Contoh Kasus)

Ada satu contoh begini : Ada seseorang yang bertanya, mengatakan bahwa keluarganya menggunakan nama Tjan di depan. Jadi mulai dari nama kakek adalah Tjan, bapaknya Tjan, anaknya juga Tjan, dst. Ini bukan nama, sebab sangat tidak lazim nama orang tua disamakan dengan nama anak.

Tjan yang dimaksudkan disini kemungkinan adalah Marga Tjan (曾;Céng). Huruf Tionghoanya sama 曾tetapi diucapkannya bisa berbeda2 tergantung dialek. Cara menulis dalam huruf Latin juga beda2 sesuai ejaan yang digunakan.

Misalnya ‘Tjan’ ditulis demikian karena dalam ejaan Belanda yang menjajah Indonesia jaman dulu, bunyi ‘tj’ pada ‘tjan’ itu adalah ‘c’. Jadi kalau ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia (EYD) sekarang menjadi ‘Can’. Jadi tulisan ‘Tjan’ itu bukan baku, tapi karena ejaan lama Indonesia.

Makanya jika ada yang bertanya marga kita (terutama pemilik marga langka atau marga yang penyebutannya sama), sebaiknya sekalian ditulis huruf Tionghoa-nya.

Makanya sebagian orang bingung, mengapa marga dan namanya kalau dibaca orang yang berlainan bahasa, misalnya Mandarin, dialek Hakka, dialek Kanton, dialek Hokkian, dsb kok bisa jadi berlainan?

Begitulah sifaf huruf Mandarin, dibaca berbeda namun artinya tetap sama. Makanya harus berterima kasih kepada dinasti Qin, karena tanpa mereka yang memulai melakukan standarisasi, bisa jadi huruf yang digunakan oleh Tiongkok pada saat ini beraneka ragam, sama banyaknya dengan dialek suku yang mereka gunakan disana.

268 thoughts on “Daftar Marga Tionghoa di Indonesia yang Telah di Indonesiakan (di Romanisasi)”
  1. Saya baru baca ini artikel dan ketemu website Tionghoa.info. Saya belajar banyak sekali tentang traditsi Tionghoa. Thank you for your willingness to put this website so we can learn about our tradition. Keep up the good work! I will definitely come back to read more.
    Terima kasih.

  2. salam.mau cari urutan keturunan dari penamaan kedua bagaimana dan dimana.nama papa saya Liau shau bong dan saya liau jie long.kami menggunakan dialek hakka.terima kasih dan anak dari saya menggunakan nama ke dua nya apa?

  3. Selamat malam pk herman Tan..saya mau tanya pak ko di indonesia ini tidak ada yang bermarga (Gak) apakah saya keturan terakhir dari marga (Gak) terima kasih

  4. Selamat malam admin

    Mohon pencerahannya untuk penulisan nama marga dalam mandarin Sie Han Seng. Orang tua berasal dari Hokian.

  5. Saya mau tanya kalu untuk marga Bhe itu ada atau tidak ya? saya cari dimana-mana tidak ada hanzi untuk marga bhe.

  6. Kok marga “Tjung” gk ada ya?
    Klw marga “Tjung” sendiri berasal dari provinsi mana ya?
    xie2 bagi yg mw menjawab pertanyaan saya

  7. min mau nanya, nama cina saya kalo dipanggil biasa liem ji sen, tapi saya penasaran untuk penulisan yg benar dan hanzinya gmn ya? dalam khek. kalau nanya sama mama cmn dijawab “liem ji sen” tp cuman sekedar denger dan gatau penulisannya

  8. Salam Pak Herman Tan
    Mohon bantuannya
    Papa saya namanya Go Kian Hua
    Go disana itu marganya kalau dalam Mandarin apa ya? Apakah Wu atau Gao?
    Thx

    1. marganya sama seperti saya. Marga Go itu dalam mandarin 吴=wu. kalau gao=高,itu jadi marga nenek saya.

  9. Salam Pak Herman Tan,
    Mohon di bantu, penulisan nama mandarin mendiang mama saya (orang khek/bangka) Dengan nama Liu Lie Jan (Liu Lie Djan) dan mendiang papa saya (orang Belitung/Khek) dengan nama Cu Po Fong (Tju Po Fong), mendiang kakak saya Cu Hai Lun (Tju Hai Lun) dan nama saya sendiri Cu Han lun (Tju Han Lun), mohon di email ke handoko****@gmail.com

    1. Hi Handoko!
      Maaf saya pribadi tidak bisa bantu, karena saya tidak mengerti dialek Khek, apalagi hanya mengandalkan penulisan pinyin/berdasarkan cara pengucapan nya.
      Karena seperti kita ketahui bersama, ada beberapa kata mandarin yang memiliki bunyi yang sama, namun beda arti dan penulisan (karakter hanzi) nya.

  10. Salam hangat,
    Nama papa saya Tjung khui jau, semua kakak adik papa pakai marga dan nama tengah yg sama (khui).
    Sedangkan nama saya Tjung bun hok. Koko saya semua pakai marga dan nama tengah “bun”
    Tolong dibantung cara penulisan nama saya dalam huruf mandarin.
    Tolong kirim ke WA 08113020xx
    Lalu sebaiknya anak saya pakai nama tengah apa yg benar?
    Thanks atas bantuan teman2 semua

  11. Tjiong yoe khing ini nama kakek saya papah saya tjiong , tp saya gak tau marga saya apa nama saya sudah ke kenian jd saya cucunya jg bingung saya marga apa ko mohon bantuannya

    1. Datu Saya Namanya Chi Ee Wei..
      .
      Itu Artinya apayah. ??
      .
      Saya selaku keturunan ke empat apakah masih menyandang Marga Chi itu ??

  12. Mau numpang nanya kalau penulisan marga GO gimana? Tpi setelah konflik marga Go kami di rubah menjadi dumpapa, dan apakah kami masih bisa memberikan marga GO kpd anak cucu kami?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *