Last Updated on 11 April 2021 by Herman Tan

Bagi calon mempelai etnis Tionghoa, sering kali mengalami dilema, ketika akan merencanakan atau melangsungkan pernikahan, tiba2 datang berita duka : ORANGTUA MENINGGAL!

Suasana hati sudah tidak karuan. Berkabung ditengah kebahagiaan, jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah menunda pernikahan? Atau tetap melangsungkan pernikahan? Kalau ditunda, berapa lama? Apa benar harus sampai 3 tahun?

Apalagi bagi yang sudah terlanjur melakukan acara lamaran (a.k.a Sangjitan), foto2 prewedding, mem-booking ruangan gedung, catering untuk resepsi, menyiapkan baju pengantin, paket2 lain, dan segala tetek bengeknya.

Keluarga besar pun mulai berargumen. Tetap ngotot menyelenggarakan pesta pernikahan dianggap tidak berbakti (不孝) dan durhaka! Sementara lain kubu mungkin berpendapat tidak masalah, toh apalagi semua sudah direncanakan, dan sudah berjalan.

Apalagi yang sudah menetapkan hari-H, atau bahkan sudah terlanjur cetak dan sebar undangan. Masa mau batal? Apa kata tamu2 nanti? Beginilah kira2 yang dialami salah satu pembaca kami baru2 ini, Alexandra (nama samaran).

Pertanyaan :

Mohon panduannya, min. Saya dan calon suami sudah membicarakan pernikahan sejak 1,5 tahun yang lalu. Namun rencana ini belum pernah kami sampaikan kepada orangtua, karena hubungan jarak jauh dan Mama saya sakit parah. Mama saya akhirnya meninggal bulan Januari 2021 kemarin.

Keluarga dan kerabat ada yang bilang, secara adat Tionghoa, jika pernikahan tidak mau ditunda sampai tahun depan atau 3 tahun ke depan, pernikahan harus terjadi (tetap dilangsungkan) dalam kurun 100 hari kematian. Apa alasannya? Apakah ada kepercayaan adat yang membawa nasib buruk jika melanggar?

Xie-xie

Tanggapan :

Hi Alexandra,
Jika membaca seri artikel pernikahan Tionghoa kami, Anda juga mungkin akan menemukan pertanyaan2 serupa diatas di kolom komentar.

Pertama2 Saya pribadi mengucapkan turut berduka cita. 一路走好 (Yi Lu Zou Hao) untik Ibunda Anda. Yang mengalami kejadian seperti ini bukan hanya Anda. Setiap tahun pasti ada saja yang mengalaminya serupa.

Ini memang selalu menjadi dilema. Apalagi ucapan dari keluarga besar tidak bisa diabaikan begitu saja. Anda tidak bisa menutup mata dan telinga, karena mereka adalah orang2 terdekat Anda; saudara sedarah dan segaris keturunan.

1. Sebenarnya alasan kenapa seseorang harus berkabung 3 tahun adalah :

Karena konsep BAKTI () telah memainkan peran yang kuat dalam nilai2 budaya Tiongkok sejak jaman kuno.

Dalam ajaran KONFUSIANISME konservatif (tradisional), ada tradisi bakti dalam duka, di mana seorang anak harus mengesampingkan sementara apa pun yang sedang dilakukannya, ketika orang tuanya baru meninggal; dan harus berkabung selama 3 tahun!

Keluarga2 yang lebih tradisional (mengikuti adat Kong Hu Cu). bahkan tetap memakai potongan kain belacu sampai 3 tahun. Masa berkabung tidak diperlukan jika yang meninggal adalah anak, atau dan suami tidak diwajibkan untuk berkabung atas meninggalnya sang istri.

Jadi, angka 3 tahun itu sebenarnya karena mengikuti ajaran Konfusianisme (Kong Hu Cu), yang sudah menjadi standar nilai2 dan norma2 dalam masyarakat Tionghoa selama ini. Sebagai orang Tionghoa, sikap berbakti kepada orang tua sudah ditanamkan sejak kecil, dan dianggap sudah kodrat sang anaklah untuk mematuhinya.

2. Sementara kenapa harus melangsungkan pernikahan dalam 100 hari pasca kematian?

(1) Jika Anda sudah terlanjur membagikan hari-H (apalagi sudah sampai menyebar undangan), terlanjur mem-booking gedung/ruangan & catering, dan segala macam keterlanjuran2 lainnya, yang sayang jika dibatalkan.

Waktu dan tenaga yang tercurahkan menjadi sia2. Jadi mau tidak mau, ya jalan terus sudah. Mau apa lagi? Yang mati tidak bisa dibangunkan, yang hidup harus tetap melanjutkan kehidupan.

(2) Alasan lainnya adalah karena adanya kepercayaan orang Tionghoa, bahwa roh/arwah orang yang baru meninggal dikatakan MASIH ADA DI DUNIA SAMPAI 49 HARI (keyakinan kepercayaan lain 40 hari), bahkan hingga 100 HARI (setelah lewat 49 hari, roh dikatakan tidak akan bisa kembali, hingga hari ke-100 nya). Jadi diharapkan, almarhum/ah masih bisa “menyaksikan” pernikahan anaknya, meski dari alam sana 😥

(3) Alasan lainnya (lagi) adalah, apa pasangan Anda bersedia menunggu 3 tahun? Katakanlah Ya, lalu apa Anda sanggup menahan diri juga selama itu? Apakah ada garansi semua akan berjalan baik2 saja selama 3 tahun kedepan? Tau2 kena tikung lagi, heee.

Konklusi :

Karena alasan2 diataslah sehingga (menurut saya pribadi) keluar “tradisi baru”, dimana dalam 100 hari bisa melangsungkan pernikahan.

Namun sebenarnya tidak ada masalah jika Anda mau melangsungkan pernikahan, selang antara waktu antara 100 hari s/d 3 tahun tersebut. Paling baik adalah SAMPAI MELEWATKAN TAHUN TERSEBUT (berganti tahun). Ini lebih ke alasan psikologis. Apa mau pernikahan Anda terus dibayangi tahun kematian orang tua?

Mengenai apakah ada kepercayaan yang membawa nasib buruk jika melanggar hal diatas?

Sebenarya ditakutkan oleh Anda (dan orang2 lain dengan kasus serupa) adalah jika memaksakan pernikahan ditengah perkabungan, maka kesialan akan menimpa Anda dan keluarga baru Anda setelahnya.

Misalnya saja, tidak bisa memiliki keturunan, usaha bangkrut, karir jatuh, kena penyakit aneh/penyakit berat yang menghabiskan tabungan, atau aura suram yang terus menghinggapi seisi rumah, dsb.

Hal ini mungkin akan dianggap KARMA, atau rasa bersalah atas “perbuatan” yang telah Anda lakukan. Padahal tidak demikian. Orangtua mana yang tidak menginginkan kebahagiaan anaknya? Bahkan orangtua yang sudah di ranjang kematian pun masih berharap anaknya bisa segera menikah, dan tidak men-tangisi kepergiannya berlarut2.

生死有命 (Shengsi you ming). Takdir hidup mati seseorang sudah digariskan oleh yang DIATAS.
Semoga membantu.

By Herman Tan

One Smile Return to the East. Follow @tionghoainfo untuk info2 terbaru.

6 thoughts on “Orangtua Baru Meninggal, Apakah Bisa Menikah Dalam 100 Hari? Atau Harus Ditunda Setelah 3 Tahun?”
  1. Berarti, jika orang tua meninggal dan kita melangsungkan resepsi pernikahan setelah 100 hari dan kurang dari 1 tahun bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: eitss, mau apa nih?